Perempuan tua itu segera berlari ke arah tempat ritual nya, memeriksa semua barang yang ada disana. Seluruh barang pemujaan nya hancur berserakan, seperti sebuah kapal yang pecah dihantam badai. Matanya langsung berputar cepat mencari sesuatu yang masih bisa digunakan.
Di sudut ruang goa ini, ada sebuah kuali berisi air nampak masih utuh. Melihat itu, Nyai Carang Aking cepat meraup segenggam bunga yang ada di dekatnya dan bergegas menuju ke arah kuali besar berisi air itu. Cepat ia menaburkan segenggam bunga di tangannya pada air dalam kuali besar.
"Oh Aji ku Ajian Kaca Benggala...
Tunjukkan pada ku, Balairung Istana Kambang Putih!! "
Perlahan mulai nampak gambar Prabu Airlangga yang sedang menerima pengobatan dari Mpu Barada. Melihat itu, Nyai Carang Aking Sang Penyihir Hitam dari Gunung Wilis menggeram murka.
"Mpu Barada, rupanya kau yang merusak pekerjaan ku!! Heeemmmmpppphhhh...
Baik..! Baik..!! Kau ingin menjajal kemampuan ku, Barada! Tunggu saja sebentar lagi.. ", ucap Nyai Carang Aking sembari mengepal erat-erat.
Perempuan tua itu langsung melesat keluar dari dalam ruang goa di lereng barat Gunung Wilis.
Tak jauh dari goa ini, sebuah arca Batari Durga berdiri tegak penuh dengan sesajen dan bebungaan. Ada kesan angker dari arca setinggi setengah tombak ini.
Sesampainya di depan arca Batari Durga, Nyai Carang Aking langsung duduk bersila. Mulutnya komat-kamit merapal mantra puja Batari Durga sedangkan matanya terpejam rapat.
Anglo tanah liat yang berisi arang membara, langsung di taburi kemenyan. Asap putih berbau harum kemenyan pun segera mengepul, menyebar di sekitar tempat itu. Tak lama kemudian....
Zzzzzrrrrrrrrttttttthhhh!!!!
Dua gugus cahaya merah kehitaman muncul di belakang arca lalu berubah wujud menjadi dua makhluk aneh. Satu berkepala anjing sedangkan satu lagi memiliki tanduk yang melengkung ke depan seperti tanduk seekor domba.
Dua makhluk menyeramkan ini adalah makhluk prewangan yang biasanya di suruh oleh Nyai Carang Aking untuk membunuh orang yang ia inginkan. Nyai Carang Aking Sang Penyihir Hitam dari Gunung Wilis cepat membuka mata nya dan menatap kedua makhluk gaib itu tajam.
"Kalasruti, Kalamara....!!!
Habisi Mpu Barada dan Prabu Airlangga untuk ku sekarang juga!! ", perintah Nyai Carang Aking cepat.
Dua makhluk gaib itu dengan patuh menghormat pada Nyai Carang Aking. Setelah itu kedua nya berubah wujud menjadi dua bola api berasap hitam yang seketika itu juga terbang ke arah Utara.
Setelah keduanya pergi, Nyai Carang Aking menjentikkan jari jemari tangannya dan di dalam kepulan asap putih kemenyan muncul gambar keadaan di Istana Kambang Putih.
Prabu Airlangga yang sedang duduk di Balairung Istana Kambang Putih menghela nafas lega setelah luka dalam nya sembuh lewat pertolongan Mpu Barada gurunya. Sedangkan Mpu Barada sendiri langsung menghembuskan nafas panjang lalu menyeka keringat yang membasahi dahinya yang mulai keriput.
"Siapa sebenarnya orang yang mengirimkan teluh ini Guru?", tanya Prabu Airlangga segera.
" Kau sedang dalam masa perjuangan untuk mengembalikan kekuasaan Kerajaan Medang seperti semula, Nakmas Prabu.
Sudah barang tentu sikap mu ini akan menyinggung banyak orang yang merasa tersakiti. Atau bahkan mungkin orang yang belum kau sentuh pun juga bisa menyakiti mu karena takut kehilangan kekuasaan atas wilayah yang mereka duduki. Jadi sulit sekali untuk menentukan siapa pelaku pengirim teluh ini.
Kau harus sering-sering melakukan puja puji pada Sang Penguasa Alam Semesta dan terus menggunakan mantra pengendali Rajah Kalacakra di tubuh mu. Dengan begitu, semua ilmu hitam yang mungkin kau temui, tak akan sanggup untuk menembus dan melukai jiwa dan raga mu ", tutur bijak Mpu Barada sembari tersenyum tipis.
Belum sempat Prabu Airlangga menanggapi omongan Sang guru, cuping telinga Mpu Barada mendengar sesuatu sedang menuju ke arah mereka. Dia langsung menoleh ke arah Prabu Airlangga.
" Nakmas Prabu, cepat lantunkan mantra pengendali Rajah Kalacakra mu sekarang!
Ada yang sedang menuju kemari!! "
Prabu Airlangga mengangguk cepat dan segera merapal mantra pengendali Rajah Kalacakra di punggung kiri nya. Dia tidak mau apa yang baru saja ia alami terulang kembali. Cahaya kuning keemasan kembali menyelubungi seluruh tubuh Prabu Airlangga, sedangkan Mpu Barada terus memutar tasbih biji genitri di tangan kanan nya.
Dan benar saja, dua bola api berasap hitam dari arah barat daya langsung melayang cepat ke arah Mpu Barada dan Prabu Airlangga.
Whhhuuuuuuuugggghhhh!
Whhhuuuuuuuugggghhhh!
Dengan sigap, Prabu Airlangga cepat melompat menghindari begitu juga dengan Mpu Barada. Namun bola api berasap hitam itu kembali menyerang mereka. Akibatnya Prabu Airlangga dan Mpu Barada harus berjumpalitan kesana kemari untuk menyelamatkan diri.
Tak ingin direpotkan dengan dua bola api berasap hitam ini, Mpu Barada langsung melemparkan tasbih biji genitri di tangan kanannya. Tasbih berwarna coklat keemasan ini langsung melesat memapak pergerakan dua bola api berasap hitam ini.
Blllaaaaaaaaaaaaammmmmm!!!
Ledakan dahsyat mengguncang Balairung Istana Kambang Putih. Dua bola api berasap hitam itu langsung jatuh terpental ke lantai setelah berbenturan dengan tasbih biji genitri milik Mpu Barada. Sedangkan benda milik Mpu Barada itu mencelat ke arah pemiliknya yang dengan sigap segera menangkapnya.
Dua bola api berasap hitam itu kemudian berubah wujud menjadi Kalamara dan Kalasruti, dua siluman yang berasal dari Gunung Lawu.
"Siluman siluman Gunung Lawu!!
Berani-beraninya kalian muncul di sini untuk mengacaukan takdir Dewata?! Kalian harus dimusnahkan!! ", bentak Mpu Barada keras.
Huhhhhh..
" Apa kau pikir kami takut menghadapi mu, Pertapa Tua?!!
Nyai Ratu Dewi Selasih junjungan kami penguasa Kerajaan Siluman Gunung Lawu, memerintahkan kepada kami untuk mengabdi pada Nyai Carang Aking Sang Penyihir Hitam dari Gunung Wilis. Jika kau berani membunuh kami, Nyai Ratu Dewi Selasih tidak akan membiarkan nya hahahaha.. ", ucap Kalasruti penuh dengan kesombongan.
" Para penghuni neraka jahanam!!
Kesombongan mu akan berakhir disini. Aku akan mengurus Nyai Carang Aking setelah ini. Tapi sebelum itu, kalian harus aku musnahkan!! ", Mpu Barada segera merapal mantra. Kejap mata berikutnya, tasbih biji genitri milik Mpu Barada membesar. Oleh Mpu Barada, tasbih itu dilemparkan ke atas Kalasruti dan Kalamara.
Tasbih biji genitri pun segera berputar-putar cepat, menurunkan tirai cahaya kuning keemasan yang langsung mengurung dua anak buah Nyai Carang Aking Sang Penyihir Hitam.
Seketika, Kalamara dan Kalasruti tak mampu berdiri tegak. Kedua nya langsung jatuh berlutut. Seluruh lubang di tubuh mereka mengeluarkan darah hijau kehitaman.
Hoooooaaaaaaarrrrrrggggghhh!!!
Kalasruti dan Kalamara meraung-raung kesakitan. Mereka berteriak minta ampun akan tetapi Mpu Barada seperti nya tidak membiarkan mereka untuk ada lebih lama lagi. Tangan pertapa tua itu cepat membentuk sikap mudra di depan dada. Dan..
Blllaaaaaaaaaaaaammmmmm!!!
Tubuh Kalasruti dan Kalamara meledak dan hancur menjadi debu hitam. Tak berapa lama kemudian, angin kencang berhembus entah darimana yang segera menyapu debu hitam itu hingga lenyap tak bersisa.
Musnahnya Kalasruti dan Kalamara langsung membuat Nyai Carang Aking terpental dari tempat duduknya. Sesaat sebelum Kalasruti dan Kalamara dimusnahkan oleh Mpu Barada, dia mendengar jelas ancaman dari lelaki tua ini. Sambil menyeka darah yang keluar dari mulutnya, dia langsung bangkit.
"Satu-satunya tempat yang aman untuk ku sekarang hanya Istana Siluman Gunung Lawu. Aku harus kesana sekarang juga", ujar Nyai Carang Aking sembari manggut-manggut. Perempuan tua itu langsung merapal mantra ilmu menghilang nya. Sebentar saja, asap hitam menutupi nya dan Nyai Carang Aking sudah menghilang dari tempat itu.
Setelah memusnahkan Kalamara dan Kalasruti, Mpu Barada segera mendekati Prabu Airlangga.
"Nakmas Prabu, sebaiknya kau ikut aku ke Gunung Lawu. Kalamara dan Kalasruti adalah panglima kerajaan siluman Gunung Lawu. Jika sampai Nyai Ratu Dewi Selasih mengacau rencana besar mu untuk menyatukan kembali Tanah Jawadwipa hanya karena dua anak buahnya, maka cita-cita mu akan sulit untuk di wujudkan", tutur Mpu Barada segera.
"Tapi bagaimana dengan wilayah Wuratan ini, Guru? Saya masih harus meyakinkan para penguasa daerah di wilayah Wuratan untuk tunduk sepenuhnya pada Medang", Prabu Airlangga menoleh ke arah para perwira prajurit yang ada tak jauh dari tempat nya berdiri. Mendengar ucapan ini, Mpu Barada tersenyum simpul.
"Serahkan saja pada pimpinan prajurit mu, Nakmas Prabu.. Aku yakin mereka bisa melaksanakan nya dengan cepat", kata Mpu Barada segera. Prabu Airlangga pun menoleh ke arah para pengikutnya dan mereka kompak mengangguk cepat.
" Baiklah guru, murid patuh perintah Guru..
Namun jujur saja saya masih bingung dengan keinginan guru sebenarnya ke Gunung Lawu. Apa yang akan kita lakukan dengan Kerajaan siluman disana? ", Prabu Airlangga menatap wajah sepuh Mpu Barada seolah ingin mencari jawaban di wajahnya.
Mpu Barada menghela nafas panjang sebelum berkata,
"Kita akan membuat sebuah perjanjian dengan mereka.
Sebuah perjanjian keramat.. "
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 80 Episodes
Comments
Irfan Cha'oelz
Makhluk peliharaannya pake Google maps kali ya, tak perlu dikasih tau tempatnya, langsung otw ke TKP🤭🤣🤣🤣😁
2024-08-09
0
andymartyn
sudah habis
2024-05-27
2
Doest
tambah lagi kang ebez...
2024-05-25
1