Sesampainya di gedung putih, Paspampres dengan sigap menyambut kedatangan Bapak Presiden.
"Busyet, yang ngawal tadi saja sudah puluhan sekarang di sini juga sudah banyak pengawal, begini toh kehidupan Presiden," batin Sasa takjub.
"Sini, kopernya biar aku bawa," tawar Rafka.
"Tidak apa-apa Pak, saya masih kuat kok bawa sendiri," tolak Sasa.
"Jangan panggil Pak dong, memangnya wajah aku sudah terlihat Bapak-bapak," ucap Rafka.
"Maaf, tapi kan Bapak pengawal Bapak Presiden masa iya aku panggil Akang," goda Sasa.
Sesampainya di dalam gedung putih, Mayor Rendi menyuruh Sasa untuk menunggu sebentar karena dia dan yang lainnya ingin berbicara dengan Bapak Wibowo.
"Pak, gadis itu lebih baik tinggal di rumah Palapa saja. Kita tidak tahu siapa dia, jangan sampai mudah percaya kepada orang. Kalau kita biarkan dia tinggal di sini, takutnya banyak rahasia yang bocor bagaimana pun kita harus waspada," ucap Mayor Rendi dingin.
"Kali ini aku setuju sama Mayor, takutnya dia penyusup yang nyamar," timpal Rezki.
"Kalau menurut kalian seperti itu, Bapak ikut saja. Yang penting kalian jangan biarkan dia pergi sendirian karena Bapak lihat, dia gadis baik-baik. Pekerjakan saja dia di rumah Palapa, terserah dia mau kerja apa," ucap Bapak Wibowo.
"Baik, kalau begitu kami izin pamit pulang ke Palapa. Bapak harus istirahat karena besok kegiatan kita semakin padat," ucap Mayor Rendi dingin.
"Iya, salam buat Chika," ucap Bapak Wibowo.
Keempat pria tampan itu pun pamit dan keluar dari ruangan Bapak Wibowo. Sebenarnya, keempat pria tampan itu merupakan putra dari Bapak Wibowo dan saking sayangnya mereka kepada Bapaknya, mereka meminta untuk menjadi ajudan Bapaknya sendiri. Sebenarnya Bapak Wibowo sudah mempunyai Paspampres untuk menjaganya tapi beliau juga tidak melarang anak-anaknya untuk ikut menjaga dirinya.
"Ayo ikut!" Mayor Rendi memerintahkan Sasa untuk mengikutinya.
Sasa tidak mau banyak bicara, dia pun mengikuti keempat pria tampan itu lalu masuk ke sebuah mobil.
"Loh Pak, kalian mau bawa aku ke mana? tolong jangan bunuh aku, aku masih ingin hidup mana aku belum menikah lagi, nanti kalau kalian bunuh aku bisa-bisa aku jadi arwah penasaran," ucap Sasa dengan polosnya.
"Apaan sih, siapa juga yang mau membunuh kamu? kami hanya akan membawa kamu ke rumah karena kalau di sini, tidak sembarang orang bisa masuk dan bekerja," sahut Agam.
"Ini gedung putih, tempat tinggalnya Presiden dan aturannya tidak boleh membawa orang asing masuk ke dalam gedung karena itu sangat berbahaya," sambung Rafka.
"Sumpah Demi Allah, aku bukan penjahat Pak. Sumpah deh, aku berani kaya kalau aku bohong," celetuk Sasa.
Mayor Rendi geleng-geleng kepala, sedangkan ketiga adiknya justru tertawa dengan cara bicara Sasa yang menurut mereka lucu. Keempat pria tampan itu pun akhirnya membawa Sasa ke rumah pribadi mereka. Sasa belum tahu jika keempat pria itu sebenarnya putra Presiden.
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya mereka pun sampai di rumah Palapa. "Wow, rumahnya besar sekali," batin Sasa.
"Ayo keluar," ucap Agam.
Sasa lagi-lagi dibuat melongo dengan banyaknya pengawal di rumah itu. "Sebenarnya kalian itu siapa? kenapa pengawal kalian banyak sekali? bukanya kalian juga pengawal Bapak ya, kok bisa sih seorang pengawal dikawal juga," cerocos Sasa.
"Gak usah bawel, aku paling tidak suka dengan wanita bawel," ketus Mayor Rendi.
"Ya Allah, Pak Mayor itu ada masalah apa sih sama aku? kayanya julid banget deh dari tadi, bawaannya emosi kalau bicara sama aku," keluh Sasa.
"Karena melihat wajah kamu membuat aku selalu emosi," sahut Mayor Rendi.
"Emosinya kenapa? kita kan baru bertemu tadi siang, gak saling kenal juga kenapa Pak Mayor harus emosi lihat aku?" ucap Sasa.
Mayor Rendi menatap Sasa dengan tajam dan ketiga adiknya tahu dengan arti tatapan itu. "Sasa, ayo ikut. Aku mau tunjukan kamar kamu," ucap Rafka.
"Baik, Pak."
Sasa pun mengikuti langkah Rafka, Sasa tampak celingukan ke kanan dan ke kiri. Bagaimana tidak, rumah itu bak istana banyak ruangan dan sudah dipastikan Sasa harus menghapal setiap ruangan kalau tidak, Sasa bisa tersesat di rumah itu.
"Astaga, rumahnya luas banget kalau aku tersesat bagaimana, Pak," ucap Sasa.
"Makanya kamu harus hapal. Oh iya, satu lagi kalau di rumah kamu panggil Mamas saja karena aku biasa dipanggil Mamas," ucap Rafka.
"Oh oke, Mas."
"Nah, ini kamar kamu. Kata Bapak, kamu boleh bekerja apa pun yang kamu mau, ingat Bapak itu suka sama orang yang jujur jadi kamu harus bekerja dengan baik jika kamu mau tinggal di sini," jelas Rafka.
"Yaelah Mas, CCTV ada di mana-mana jadi bagaimana aku mau macam-macam," sahut Sasa.
"Satu lagi, kamu jangan pernah menyentuh barang-barang Mayor tanpa seizin dia karena kalau tidak, dia bakalan ngamuk dan kalau sudah ngamuk, dia bisa makan kamu," goda Rafka.
"Allahuakbar, serem banget Mas."
"Makanya kamu harus nurut, lihat kan wajahnya saja kaya jemuran sudah kering, kusut pula," ledek Rafka.
"Heem, menyeramkan," sahut Sasa bergidik ngeri.
"Ya sudah, kamu istirahat saja mulai besok kamu bekerja."
"Siap Mas, Terima kasih Mas."
Rafka pun pergi meninggalkan Sasa dan ikut berkumpul bersama saudara-saudaranya yang lain.
"Chika sudah tidur?" tanya Mayor Rendi.
"Kayanya sudah tidur tuh bocil," sahut Rezki.
"Ya sudah, kalian istirahat saja sana besok kita harus berangkat pagi-pagi soalnya jadwal Bapak padat," ucap Mayor Rendi.
"Kita pasti istirahat, tapi Abang juga harus istirahat jangan terlalu diporsir tenaganya nanti malah sakit," sahut Agam.
"Abang tentara, fisik Abang jauh lebih bagus daripada kalian jadi jangan pikirkan Abang," sahut Mayor Rendi dingin.
"Ya sudah, kita istirahat dulu ya, Bang," ucap Rafka.
Ketiga pria tampan itu pun pergi ke kamar masing-masing. Pekerjaan Mayor Rendi memang yang paling capek diantara ketiga saudaranya, dia benar-benar menjaga fisik Bapaknya walaupun sudah ada Paspampres tapi dia tetap menjaga Bapaknya dengan sangat ketat. Dia tidak mau terjadi apa-apa kepada Bapaknya, meskipun terkesan dingin tapi dia sangat menyayangi keluarganya bahkan dia rela pasang badan demi keselamatan Bapak dan adik-adiknya.
***
Keesokan harinya...
Sasa sudah bangun sejak subuh, dia sudah mandi dan berganti baju. Dia keluar dari kamarnya dan mulai mengingat-ingat jalan untuk mencari di mana dapur, hingga dia pun bertabrakan dengan Chika.
"Aduh maaf Nona, saya tidak sengaja," ucap Sasa.
"Kamu siapa?" tanya Chika.
"Ah, iya saya pembantu baru di sini," sahut Sasa dengan senyumannya.
"Pembantu baru?" Chika terlihat sangat bingung.
"Tadi malam Mas yang bawa dia, mulai sekarang dia bekerja di sini." Rezki menuruni anak tangga.
"Oh gitu," sahut Chika.
Sasa pun pamit untuk mulai bekerja, namun Sasa bingung harus mengerjakan apa karena semua pekerjaan sudah ada yang handle masing-masing.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
𖤍ᴹᴿˢ᭄°Riyantiʰⁱᵃᵗ 🦋ιиɑ͜͡✦ᴳ᯳ᷢ
aku baca nya sambil bayangin pak gemoy dan para printilan nya yang sempet viral 🤣🤣🙏🏻
2024-07-07
4
❤️⃟Wᵃf🧸🍒🍾⃝ͩɴᷞαͧуᷠαͣ❣️ 📴
ya Allah sasa bisa nya kamu godain anak presiden 🤣🤣 kamu pasti syok nanti kalau yang kamu godain teryata anak presiden 🤣
2024-07-06
1
✍️⃞⃟𝑹𝑨🤎ᴹᴿˢ᭄мαмι.Ɱυɳιαɾ HIAT
sasa di kelilingi cogan weh beruntung nya pak mayor jangan galak galak nanti suka loh sama sasa🤣
2024-07-06
1