Rafka sangat panik. "Paskal...Paskal!" teriak Rafka.
"Iya, ada apa Mas?" tanya Paskal dengan napas ngos-ngosan.
"Kenapa kaki Rossi bisa berdarah dan terluka seperti itu?" geram Rafka.
"Astaga Mas, saya tidak tahu karena perasaan pas Rossi jatuh, dia tidak apa-apa," sahut Paskal.
"Apa, jatuh? jatuh kenapa?" tanya Rafka semakin emosi.
Paskal kaget, dia tadi sudah berjanji dengan Agam untuk tidak bercerita kepada Rafka. "Jawab Paskal, kenapa Rossi sampai jatuh?" bentak Rafka.
"Anu...tadi, Mas Agam menunggangi Rossi dan sepertinya Rossi kesal hingga akhirnya Rossi dan Mas Agam pun jatuh," sahut Paskal dengan menundukkan kepalanya.
"Kurang ajar, dasar ya anak itu. Pantas saja siku sama lututnya berdarah, mana dia berani berbohong lagi sama aku," geram Rafka.
"Kamu panggil dokter hewan dan obati Rossi, aku mau buat perhitungan dulu sama si Agam."
"Baik, Mas."
Rafka benar-benar sangat emosi kepada Agam karena sudah membuat hewan kesayangannya terluka seperti itu. Sementara di lain tempat, Rezki dan Chika sudah masuk ke dalam kamar masing-masing, Sasa pun sudah pergi entah ke mana, sedangkan Agam ketiduran di sofa. Rafka berjalan cepat dan wajahnya sangat merah padam menahan emosi.
"Bangun, kamu." Rafka menarik paksa kerahasiaan baju Agam membuat Agam kaget.
"Ada apa sih, Mas?" tanya Agam panik.
"Berani sekali kamu buat Rossi terluka, siapa yang suruh kamu menyentuh Rossi?" bentak Rafka.
"Astaga, santai Mas. Rossi cuma luka ringan kok, sebentar lagi juga sembuh," sahut Agam.
"Enteng sekali kamu bicara seperti itu!" Rafka langsung memukul Agam membuat Agam tersungkur ke lantai.
"Mas, kamu berani mukul aku hanya gara-gara seekor kuda?" ucap Agam tidak percaya.
"Seekor kuda kamu bilang? kamu kan tahu, kalau Rossi adalah hewan kesayanganku bahkan aku menyayangi dia melebihi diriku sendiri. Sekarang aku tanya, bagaimana kalau Boti aku buat terluka, kamu bakalan marah gak?" bentak Rafka.
Agam langsung bangkit dan menghampiri Rafka. "Jangan bawa-bawa Boti, kalau sampai kamu ngapa-ngapain Boti, aku jamin akan membuat perhitungan sama kamu, Mas!" bentak Agam.
Tiba-tiba Boti datang, Rafka yang sedang emosi hendak menangkap Boti namun Agam dengan cepat menarik tubuh Rafka. "Sedikit saja Mas menyentuh Boti, aku akan buat Rossi terluka lagi melebihi sekarang," ancam Agam.
Rafka semakin emosi, dia berbalik dan kembali memukul Agam. "Kamu juga tidak mau melihat kucing sialan itu terluka, apa lagi aku yang sudah mengurus Rossi sejak kecil!" bentak Rafka.
Agam ikut tersulut emosi dan dia pun berbalik memukul Rafka. Lama-kelamaan, perseteruan antara dua saudara itu semakin menjadi-jadi dan perang saudara pun tidak bisa terhindarkan lagi. Sasa yang sedang melipat pakaian sembari menggosok, merasa kaget mendengar suara Agam dan Rafka.
"Suara apa itu?" gumam Sasa.
Sasa dengan cepat menuju ruangan tengah, betapa terkejutnya Sasa saat melihat Rafka dan Agam sedang duel satu sama lain. Bahkan wajah keduanya sudah babak belur. "Astaga, kalian kenapa?" teriak Sasa.
Sasa segera menghampiri keduanya dan berusaha memisahkan Rafka dan Agam. "Mas Rafka, Mas Agam sudah, kenapa kalian berkelahi?" Sasa memegang tubuh Rafka dari belakang dan berusaha memisahkan keduanya.
"Chika, Mas Rezki, tolong!" teriak Sasa.
Para Paspampres berada di luar rumah, mereka tidak bisa sembarangan masuk ke dalam rumah kecuali ada yang memanggil. Chika segera keluar dari kamarnya saat mendengar teriakan Sasa. Berbeda dengan Rezki yang asyik rebahan di atas ranjangnya sembari mendengarkan musik menggunakan earphone.
"Ya Allah Mas Rafka, Mas Agam, ada apa?" Chika segera memegang tubuh Agam.
"Pokoknya aku bakalan tangkap si Boti dan membuat dia terluka," geram Rafka.
"Awas saja kalau kamu berani melukai Boti, sampai kapan pun aku gak bakalan maafin kamu, Mas," sahut Agam.
"Terus bagaimana nasib Rossi yang kamu buat terluka, dasar egois!" teriak Rafka.
"Mas Rezki, tolongin!" teriak Chika.
Kebetulan sekali Lino baru saja masuk dan melihat ketegangan antara Rafka dan Agam. "Ada apa ini?" tanya Lino panik.
"Yaelah, di rumah ini banyak orang tapi gak ada satu pun yang mendengar teriakan aku," kesal Chika.
"Maaf Nona, memang kalau keluar tidak terdengar," sahut Lino merasa bersalah.
"Tolong kamu panggilkan Mas Rezki," ucap Chika.
"Baik."
Lino pun dengan cepat berlari ke lantai dua untuk memanggil Rezki. Rezki berlari dengan paniknya, hingga Rezki pun dibuat terkejut dengan wajah kedua saudaranya yang sama-sama babak belur.
"Astaga kalian kenapa?" tanya Rezki.
"Gak tahu nih Mas, mereka tiba-tiba saja saling tonjok satu sama lain," sahut Chika.
Rafka duduk ditemani Sasa, begitu pun dengan Agam yang duduk ditemani Chika. Keduanya duduk bersebrangan dan saling menatap satu sama lain dengan tatapan marah. "Kalian benar-benar ya, bagaimana kalau Abang dan Bapak tahu bisa-bisa kalian tambah bonyok tuh wajah ditambahin sama Abang. Lagian kenapa sih pada berkelahi seperti itu?" tanya Rezki.
"Orang sialan itu sudah membuat kaki Rossi terluka dan sekarang Rossi gak bisa jalan," ucap Rafka penuh emosi sembari menunjuk ke arah Agam.
"Aku gak sengaja Mas, lagian kudanya saja yang bego katanya gagah dan kuat tapi baru segitu sudah jatuh," sahut Agam membela diri.
"Apa kamu bilang?" Rafka bangkit dari duduknya dan hendak menyerang Agam lagi tapi Rezki dengan sigap menahan Rafka.
"Duduk kamu!"
"Aku gak terima dia sudah menghina Rossi, Mas," geram Rafka.
"Duduk, Mas bilang!" bentak Rezki.
Dengan penuh emosi akhirnya Rafka pun menurut. "Kamu juga Agam, kenapa bisa sampai membuat Rossi terluka? sudah tahu Rossi itu kuda kesayangan Mas mu!" bentak Rezki.
"Kamu ngaku saja, apa yang sudah membuat Rossi kesal sehingga dia ngamuk dan hilang kendali?" tanya Rafka penuh emosi.
"Aku tidak melakukan apa-apa, tadi aku hanya mukulin dia saja supaya jalannya lebih cepat," sahut Agam dengan santainya.
"An***g, kurang ajar. Bisa-bisanya kamu pukulin Rossi." Rafka semakin emosi, Sasa dan Rezki memegang tubuh Rafka.
Napas Rafka naik turun menahan emosi, dia pun meminta Sasa dan Rezki untuk melepaskannya. Rafka menendang kursi dan pergi ke halaman belakang dengan emosi yang benar-benar sudah sangat memuncak. Rezki menatap Agam dengan sangat tajam dan itu membuat Agam menundukkan kepalanya.
"Masuk kamar dan obati luka kamu," ucap Rezki.
Tanpa bicara sepatah kata pun, Agam akhirnya pergi dan masuk ke dalam kamarnya. "Ada-ada saja kelakuan mereka. Dek, kamu jangan ngadu sama Abang dan Bapak terutama sama Abang karena kalau Abang sampai tahu, habis mereka berdua," ucap Rezki.
"Baik, Mas."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
꧁❧❤️⃟Wᵃf ʜꙷɪᷧɑⷮɑͧтᷡʰᵉᵉʳᵅ❦꧂
dua" nya mempunyai hewan kesayangan harusnya agam sadar dan harus tau jika hewan kesayangan mereka luka pasti pemiliknya akan emosi
2024-07-18
1
ᴄʜɪᴀ
astaghfirullah gara gara hewan kesayangan jadi berduel sampai babak belur🤦🤦🤦🤭
2024-07-14
1
ꪶꫝNOVI HI
gara gara kuda terjadi perang dunia🤭
2024-05-19
1