Episode 20 Bertemu Mr.Chen

Chika memasang wajah yang cemberut, dia merasa kesal kepada kakak-kakaknya yang sangat posesif seperti itu. "Kalau kalian posesif seperti ini, aku gak akan punya teman," rengek Chika.

"Hai bocil, selama ini kamu temenan sama perempuan, kita fine-fine saja kecuali kalau sama laki-laki. Mas tahu ya, mana laki-laki yang benar dan kagak," ucap Rafka.

"Mamas terlalu negatif thinking sama orang, padahal kan Mas belum pernah bertemu dengan Noy," kesal Chika.

"Makanya nanti hari minggu bawa dia ke sini, biar Abang yang ospek dia," tegas Mayor Rendi.

"Sudahkah, mendingan Adek fokus dulu sama pendidikan jangan mikirin pacaran. Mas belum sanggup melihat kamu pacaran, belum bisa ikhlas memberikan kamu kepada pria lain," ucap Rezki.

"Iya, sama Mas juga. Biarlah Mas Rafka saja yang pacaran dulu sama Helen, kamu mah jangan. Lihat tuh, Bang Rendi saja kakak tertua kita belum punya gebetan masa kamu yang masih bocil sudah pacaran saja, kasihan dong Dek nanti Bang Rendi bisa-bisa semakin trauma dan gak mau punya gebetan," ucap Agam.

"Iya, Mas juga pacaran sama Helen sembunyi-sembunyi takut Abang marah," sambung Rafka keceplosan.

Mayor Rendi yang mendengar ocehan adik-adiknya, merasa sangat kesal. "Agam, Rafka, hari minggu Abang tunggu kalian ditempat latihan, kita sparing boxing," ucap Mayor Rendi sembari melengos masuk ke dalam rumah.

"Loh-loh, kita cuma bercanda Loh, Bang!" teriak Rafka panik.

"Ampun Bang, kita cuma bercanda," timpal Agam.

Mayor Rendi tidak mendengarkan teriakan adik-adiknya, sedangkan Sasa merasa sangat bersalah kepada Chika. "Mampus kalian, emang enak," ledek Rezki yang ikut pergi menyusul Mayor Rendi.

"Chika, maafin aku, ya. Gara-gara aku, kakak-kakak kamu jadi marah," sesal Sasa.

"Tidak apa-apa Kak, ini semua bukan salah kakak kok jadi kakak santai saja," sahut Chika dengan senyumannya.

"Sudah-sudah, sekarang bubar dan masuk kamar masing-masing. Ingat Dek, hari minggu kamu harus bawa cowok ingusan itu ke sini," ucap Rafka.

"Enggak, enak saja. Bisa-bisa Noy babak belur jadi mainan kalian," kesal Chika.

"Awas saja kalau kamu tidak bawa dia ke sini, kita tidak mau ya, jadi pelampiasan abang. Kamu juga tahu kan, kita bisa dengan mudahnya menemukan dan menyeret anak ingusan itu untuk datang ke sini. Jadi kamu tinggal pilih saja, bawa dia dengan suka rela atau kita yang menyeretnya," ancam Agam.

"Ih, kalian memang menyebalkan," kesal Chika.

Rafka dan Agam pergi menuju kamar masing-masing. Sedangkan Sasa berusaha menenangkan Chika yang saat ini terlihat sangat kesal.

***

Keesokan harinya....

Pagi-pagi sekali semua orang sudah berangkat, bahkan Sasa pun baru saja selesai mandi dan bersiap-siap membantu membuat sarapan.

"Loh, Bapak sudah berangkat?" tanya Sasa kepada Lino.

"Iya, pagi ini Bapak ada undangan ke Singapura dan berlanjut ke nanti ke Bali," sahut Lino.

"Padat banget jadwal Bapak," ucap Sasa.

"Iyalah, Bapak kan kepala negara pasti sibuk banget," sahut Lino.

Sasa mulai membantu menyiapkan sarapan untuk Chika. Chika menuruni anak tangga dengan bernyanyi-nyanyi riang membuat Sasa mengerutkan keningnya. "Kamu kok bahagia sekali, bukanya tadi malam kamu terlihat kesal karena dimarahi kakak-kakakmu?" ucap Sasa.

"Hari ini Bapak sama kakak-kakakku kan sudah pergi dan kemungkinan mereka akan pulang hari sabtu, jadi seminggu full aku bisa jalan sama Noy dengan tenang," bisik Chika.

"Astaga, kamu jangan macam-macam Chika karena aku tidak mau ya, sampai kamu kenapa-napa," ucap Chika.

"Tenang saja Kak, aku tidak akan kenapa-napa, Noy cowok yang baik kok," sahut Chika.

Sasa hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Setelah Chika berangkat kuliah, Sasa pun masuk ke dalam kamarnya karena merasa ada sesuatu yang aneh, dan ternyata memang benar Sasa sedang datang bulan. "Astaga pembalut aku tinggal satu," gumam Sasa.

Sasa segera menghubungi Chika siapa tahu dia punya stok pembalut namun Chika pun tidak punya karena sudah habis dipakai dan belum belanja lagi. "Aku bisa izin keluar gak ya, untuk beli pembalut," gumam Chika.

Sasa pun turun dan menemui Lino karena Lino adalah salah satu pengawal yang lumayan dekat dengannya. "Mas Lino, aku boleh izin keluar gak sebentar?" ucap Sasa.

"Mau ke mana?" tanya Lino.

"Mau ke mini market beli pembalut," bisik Sasa.

"Ya sudah, biar aku yang antar soalnya kalau kamu sendiri yang keluar gak bakalan diizinin," sahut Lino.

"Terima kasih, Mas."

Lino pun mengantar Sasa ke mini market. "Mas, tunggu saja di sini, aku sebentar kok gak bakalan lama," ucap Sasa.

"Oke."

Sasa dengan cepat keluar dari dalam mobil dan segera masuk ke dalam mini market. Sasa tidak mau lama-lama, dia pun segera ke mencari pembalut. Pada saat dia sedang asyik memilih pembalut, tiba-tiba sebuah tangan menyentuh pundak Sasa. Sasa kaget dan menoleh ke arah belakang, tapi betapa terkejutnya Sasa saat melihat siapa yang berdiri di belakangnya itu.

"Mr.Chen." Sasa menjatuhkan barang-barangnya, bahkan tangannya sudah mulai bergetar.

"Akhirnya saya bisa menemukanmu," ucap Mr. Chen dengan senyuman menyeringai.

"Ma-af, an-da si-siapa? sa-ya ti-dak ke-nal an-da, mung-kin an-da sa-lah ora-ng," sahut Sasa terbata.

"Saya sudah tahu penyamaranmu Sasa, dulu waktu di negara saya kamu merubah penampilan kamu tapi sayang penyamaranmu bisa saya kenali karena saya sudah melihat foto di KTP kamu," ucap Mr.Chen.

Mr.Chen mencengkram tangan Sasa. "Lepaskan, aku harus pergi," ucap Sasa berusaha melepaskan tangannya.

"Tidak, saya tidak akan melepaskanmu lagi, kali ini kamu harus ikut dengan saya karena kamu adalah milik saya," ucap Mr.Chen.

Sasa benar-benar merasa ketakutan, tapi tidak lama kemudian Lino datang dan melepaskan tangan Mr.Chen.Awalnya Lino merasa curiga karena Sasa begitu sangat lama, hingga Lino memutuskan untuk menyusul Sasa masuk ke dalam mini market itu. Dan benar saja, Lino melihat orang asing sedang menarik tangan Sasa.

"Siapa kamu?" tanya Lino.

Sasa segera menghempaskan tangan Mr.Chen dan berlari ke belakang tubuh Lino. Mr.Chen tidak banyak bicara, dia pun langsung melengos meninggalkan Lino dan Sasa membuat keduanya merasa sangat aneh. Tapi sebelum pergi, Mr.Chen sempat menatap tajam ke arah Sasa seolah-olah dia melayangkan ancaman lewat tatapan.

"Siapa dia? apa kamu kenal orang itu?" tanya Lino.

"Nanti aku ceritakan di rumah, lebih baik sekarang kita harus cepat-cepat pulang," ucap Sasa.

Sasa pun mengambil beberapa pembalut dan segera membayarnya di kasir. Dia benar-benar ketakutan dan ingin cepat-cepat pulang ke rumah Palapa. Tanpa mereka sadari, ternyata Mr.Chen dari tadi mengikuti mereka.

"Oh, jadi Sasa dilindungi oleh seorang presiden, hebat juga dia bisa meminta perlindungan kepada kepala negara," gumam Mr.Chen.

Terpopuler

Comments

꧁❧❤️⃟Wᵃf ʜꙷɪᷧɑⷮɑͧтᷡʰᵉᵉʳᵅ❦꧂

꧁❧❤️⃟Wᵃf ʜꙷɪᷧɑⷮɑͧтᷡʰᵉᵉʳᵅ❦꧂

pasti Mr.chen akan mendatangi rumah presiden karena dia tau yg melindungi sasa keluarga presiden

2024-07-19

1

ᴄʜɪᴀ

ᴄʜɪᴀ

nah loh chika kamu pilih yang mana tuh🤭

2024-07-14

1

☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔

☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔

duh asem riweh deh jadinya kenapa sih tuh orang harus ketemu lagi sama Sasa ...hadeh ngeselin

2024-06-03

1

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!