Sore pun tiba, Chika sudah bersiap-siap bersama Sasa. Mereka ingin jalan-jalan, kedua gadis cantik itu tampak semangat berbeda dengan ketiga Masnya yang terlihat sangat khawatir. "Pokoknya kalian jangan lama-lama karena Mas tidak mau Abang sampai ngamuk," cemas Rezki.
"Siap Mas," sahut Chika.
Ketiga Mas Chika hanya mengkhawatirkan Mayor Rendi yang takut ngamuk karena kalau masalah Bapak, biasanya Bapak akan istirahat di kamarnya seharian jadi aman tidak akan tahu.
"Sebelum makan malam, kalian harus pulang. Itu juga kalau kalian masih punya rasa kasihan sama kita," keluh Rafka.
"Memangnya kenapa, Mas? seseram itulah Mayor sampai-sampai kalian takut?" tanya Sasa bingung.
"Beuhhh...kamu belum tahu, kalau dia sudah ngamuk piring pun bisa masuk ke dalam perut kita," sahut Agam.
"Astaga, memangnya Mayor dukun santet juga, ya? kok bisa-bisanya dia masukin piring ke perut Mas Agam?" Sasa terlihat polos dan bingung, padahal Agam hanya bercanda saja.
"Sudah-sudah, buruan kita pergi, Kak." Chika menarik tangan Sasa.
"Mas, kita berangkat dulu," ucap Sasa.
Kedua gadis cantik itu pergi dengan dikawal oleh beberapa pengawal. Sedangkan ketiga kakak Chika begitu sangat khawatir jika tiba-tiba Mayor Rendi keluar dari ruangan kerjanya dan menanyakan keberadaan adik bungsu mereka.
"Mudah-mudahan Abang tidak keluar dulu dari ruangan kerjanya," harap Rafka.
"Syukur-syukur kalau dia keluar pas jam makan malam nanti dan Chika keburu pulang," sambung Rezki.
"Aku gak bisa bayangin kalau Abang tahu, bisa-bisa kita di gantung," timpal Rafka.
Mayor Rendi memang pria yang tegas, apalagi urusan adik-adiknya. Dia sangat disiplin, selama ini Bapak memberikan amanat kepada dirinya untuk menjaga adik-adiknya karena Bapak sadar jika ia tidak bisa memantau keadaan anak-anaknya dengan pekerjaan yang luar biasa padatnya. Rezki dan yang lainnya merupakan adik penurut, dan sangat takut jika melihat Abang mereka marah.
"Wah, jadi begini suasana kota," ucap Sasa kagum.
"Kasihan sekali kakak, pasti dulu kakak di sana sangat menderita ya," ucap Chika.
"Menderita sekali Chika, bayangin saja selama 5 tahun aku dikurung di dalam rumah tanpa ponsel dan juga TV. Walaupun majikan aku baik dan semua kebutuhan aku terpenuhi, tapi kalau dikurung seperti itu ya, sama juga bohong," sahut Sasa.
Chika menyunggingkan senyumannya, dia bahagia melihat Sasa tersenyum lebar seperti itu. Hingga tidak lama kemudian, mereka pun sampai di sebuah Mall terbesar di kota itu dan para pengawal pun sigap menjaga keduanya. Chika menggandeng tangan Sasa, dan mulai berjalan-jalan di dalam Mall tersebut.
"Ya Allah Chika, aku berasa tuan putri jalan-jalan dikawal sama pengawal," ucap Sasa.
"Kakak tahu, awalnya aku risih dikawal seperti ini karena teman-teman aku gak berani deketin aku tapi aku sadar, kalau aku adalah anak presiden jadi mau tidak mau ya, harus nurut demi keselamatan aku juga," sahut Chika.
"Iya lah, kamu kan bukan anak sembarangan," timpal Sasa.
Chika mengajak Sasa untuk masuk ke sebuah toko baju dan membeli beberapa baju bahkan Chika juga membelikan Sasa baju juga. Mereka berdua sangat bahagia dan saking bahagianya mereka sampai lupa waktu. Mayor Rendi mulai merentangkan kedua tangannya.
"Astaga, sudah gelap," batin Mayor Rendi.
"Chika ke mana, jam segini belum pulang?" gumam Rafka.
"Anak itu, dibilang jangan lama-lama, cari penyakit saja," gerutu Rezki.
Rezki mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi Chika, namun tidak ada jawaban sama sekali. Rezki pun memutuskan untuk mengirimkan pesan kepada Chika.
✉️ "Dek, kamu masih di mana ini sudah gelap bentar lagi Abang keluar." Rezki terlihat sangat khawatir.
✉️ "Iya, bentar lagi Mas." Chika membalas pesan dari Rezki.
"Bagaimana?" tanya Rafka.
"Katanya sebentar lagi," sahut Rezki.
"Dasar ya, anak itu." Rafka kesal dan akhirnya dia pun ikut mengirimkan pesan.
✉️ "Masih di mana? buruan pulang, Dek."
✉️ "Kenapa, Mas Rafka kangen ya, sama aku," goda Chika.
✉️ "Idih najis. Buruan pulang, kamu mau dimarahin Abang? karena nantinya bukan kamu saja yang dapat semprotan, kita juga kena."
✉️ "Iya Mas, bentar lagi pulang," sahut Chika.
"Kenapa?" tanya Sasa.
"Ini, Mas-mas aku nyuruh pulang, rempong banget mereka," kesal Chika.
"Astaga, sudah maghrib dan bentar lagi masuk waktu makan malam lebih baik sekarang kita pulang, Mayor pasti ngamuk ini," ucap Sasa panik.
"Oke, sebentar lagi soalnya aku mau main satu lagi permainan." Chika kembali menarik tangan Sasa dan Sasa hanya bisa pasrah.
Mayor Rendi melihat jam dinding dan waktu menunjukan pukul 18.00 sore dan sebentar lagi masuk waktu makan malam. Dia merapikan meja kerjanya dan mulai keluar dari ruangan kerjanya. Dia mengernyitkan keningnya saat melihat ketiga adiknya berdiri di depan jendela dengan raut wajah tegang.
"Kalian lagi ngapain di sana?" tanya Mayor Rendi.
Seketika ketiganya menoleh, terlihat sekali wajah gugup dan tegang. "Mampus kita," bisik Agam.
"Kenapa wajah kalian pucat seperti itu?" tanya Mayor Rendi penuh selidik.
"Ah, tida ada apa-apa, Bang," sahut Rafka gugup.
"Chika mana?" tanya Mayor Rendi.
"A-ada di kam-arnya," sahut Rezki terbata-bata.
Mayor Rendi menatap satu persatu adiknya itu, ada sesuatu yang adik-adiknya sembunyikan dan dia tahu itu karena insting tentaranya tidak bisa dibohongi.
"Jujur, Abang tidak suka sama orang yang bohong!" tegas Mayor Rendi.
Ketiganya menundukkan kepalanya sembari saling sikit satu sama lain seperti anak kecil yang takut dimarahi oleh orang tuanya. Mayor Rendi semakin curiga dan wajahnya sudah terlihat sangat menyeramkan.
"Tidak ada yang mau jawab?" ucap Mayor Rendi.
"Ini Bang, Chika dari tadi sore pergi membeli pakan ikan dan sampai sekarang belum pulang," sahut Agam dengan ragu-ragu.
"Apa? sama siapa? kenapa kalian biarkan dia pergi?" Mayor Rendi memberondong ketiganya dengan pertanyaan.
"Dengan Sasa, tapi tetap dikawal kok, Bang," sahut Rafka.
"Kalian memang tidak bisa dipercaya, menjaga satu orang saja tidak bisa. Seharusnya kalian larang, soal beli pakan ikan kalian bisa suruh orang kenapa mesti Chika yang harus pergi!" bentak Mayor Rendi.
"Kami sudah larang tapi dia tetap kekeh katanya sembari membeli sesuatu," sahut Rezki.
Mayor Rendi mengusap wajahnya dengan kasar. "Apa kalian sudah menghubungi dia dan suruh dia pulang?" tanya Mayor Rendi.
"Sudah Bang, katanya sebentar lagi," sahut Rafka.
Mayor Rendi sangat kesal, dia mengeluarkan ponselnya dan dengan cepat menghubungi Chika. Chika yang sedang asyik bermain, melihat ponselnya yang berdering itu. "Astaga."
"Kenapa?" tanya Sasa.
"Bang Rendi nelepon," lirih Chika.
"Tuh kan, aku bilang juga apa."
"Bagaimana ini, Kak?" rengek Chika.
"Angkat saja daripada Mayor semakin marah," ucap Sasa.
Akhirnya dengan ragu-ragu, Chika pun mengangkat telepon dari Abangnya itu. 📞"Halo, Bang!"
📞"Lupa pulang atau bagaimana?" ucap Mayor Rendi dingin.
📞"Maaf Bang, ini Chika mau pulang kok," sahut Chika ketakutan.
📞"Tidak usah pulang sekalian."
📞"Chika pulang sekarang Bang, jangan marah," rengek Chika.
📞"Setengah jam tidak sampai rumah, jangan harap kamu bisa masuk!" tegas Mayor Rendi.
Dia pun dengan cepat memutuskan sambungan teleponnya dan segera pergi meninggalkan ketiga adiknya.
"Mampus, tuh bocil suka bener bikin masalah," kesal Agam.
"Giliran Abang yang nyuruh pulang dia nurut, tapi giliran kita yang nyuruh pulang, malah bercanda terus," kesal Rezki.
Sementara itu, Chika dan Sasa dengan cepat berlari dan keluar dari Mall. Chika terlihat sangat ketakutan, karena Abang dia yang satu itu tidak pernah main-main dalam ucapannya. Bahkan Sasa pun ikut panik dan khawatir, dia tidak bisa membayangkan melihat wajah Mayor yang pasti sangat menyeramkan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
꧁❧❤️⃟Wᵃf ʜꙷɪᷧɑⷮɑͧтᷡʰᵉᵉʳᵅ❦꧂
yg bikin ulah chika nanti yg terima kemarahan pasti semua abangnya juga ini
2024-07-18
1
ᴄʜɪᴀ
chika cari masalah nih gk kasihan sama abang nya yang nanti buat mayor marah
2024-07-12
1
Bunda Elsa Caca
nurut banget sama Bang Rendi
2024-05-16
1