Mayor Rendi kembali memejamkan matanya. "Lanjutkan pijatanmu," perintah Mayor Rendi.
"Siap, Yor," sahut Sasa.
Sasa langsung berdiri di belakang Mayor Rendi dan mulai memijat kepalanya. "Astaga, sempurna sekali ciptaan-Mu Ya, Allah," batin Sasa.
"Mas-masku yang tampan, lebih baik sekarang kalian mandi dulu habis itu kita makan malam bersama," ucap Chika.
"Kami memang mau mandi kok," sahut Rafka.
Rezki, Rafka, dan Agam pun bangkit dari duduk mereka dan mereka melangkahkan kaki mereka dengan gontai menuju kamar masing-masing. Sementara itu, Mayor Rendi justru semakin keenakan mendapatkan pijitan dari Sasa.
"Chika, aku punya tebak-tebakan," ucap Sasa.
"Apa, Kak?" tanya Chika.
"Bahasa Inggrisnya Ayah itu, Rendi bukan sih?"
"Daddy, Kak, bukan Rendi," sahut Chika.
"Kalau nama merk minyak telon, My Rendi bukan?" ucap Sasa kembali.
"Ya Allah, itu My Baby Kak," sahut Chika dengan raut wajah kesalnya.
Mayor Rendi membuka matanya dan menatap Sasa dengan tatapan kesal. "Yor, ketawa dong kalau enggak, senyum kek dikit, aku sudah mikir itu supaya Mayor ketawa," ucap Sasa.
"Mau ketawa bagaimana, garing banget," ketus Mayor Rendi.
"Ya, tapi seenggaknya hargai usaha aku, Yor. Pura-pura senyum gitu," ucap Sasa dengan raut wajah yang cemberut.
"Jangankan aku, Chika saja tidak ketawa dan itu artinya lawakan kamu garing," sahut Mayor Rendi.
Sasa kembali cemberut, dia pun melanjutkan pijitannya. "Sudah, kamu boleh pergi," ucap Mayor Rendi.
"Siap."
Sasa pun dengan cepat pergi dan kembali menyiapkan untuk makan malam. Waktu makan malam pun tiba, kelima anak Bapak Wibowo sudah berada di meja makan untuk makan malam bersama hanya Bapak Wibowo yang tidak ada dan memilih makan di kamarnya. Seperti biasa, Sasa akan berdiri di samping meja makan bersama pekerja dapur lainnya takut ada yang dibutuhkan.
"Kak Sasa, ayo makan bareng bersama kami," ajak Chika.
"Tidak, terima kasih aku sudah makan tadi di belakang," sahut Sasa dengan senyumannya.
"Besok kamu ikut denganku," ucap Mayor Rendi dingin.
"Mau ke mana Yor? mau ajak aku ngedate, ya?" sahut Sasa dengan senyumannya.
Mayor Rendi menatap tajam Sasa dan itu membuat Sasa takut. "Siap, salah."
Sasa pun kembali pada posisinya dan langsung melakukan push up membuat semuanya tertawa melihat kelakuan Sasa. Bahkan Mayor Rendi sampai menutup mulutnya untuk menutupi tawanya.
"Kalau mau ketawa, ketawa saja Bang gak usah ditutup-tutupi," celetuk Chika.
Seketika Mayor Rendi terdiam dan menghentikan tawanya. "Siapa juga yang tertawa," sahut Mayor Rendi dengan raut wajah kembali datar.
Rezki, Rafka, dan Agam pun ikut tersenyum tidak bisa dipungkiri kalau Sasa adalah gadis yang unik dan mereka juga menganggap Sasa sebagai hiburan di kala mereka merasa lelah. "Sudah, Yor," ucap Sasa.
"Pokoknya pagi-pagi kamu harus sudah siap, aku mau ngegym dan kamu harus jagain aku dari para wanita liar diluaran sana," ucap Mayor Rendi.
"Lah, kok malah aku yang harus jagain Mayor? memangnya aku bisa apa? kan Mayor bisa bawa ajudan juga," sahut Sasa.
"Jangan banyak protes, aku bisa menghadapi siapa pun tapi tidak dengan para wanita. Aku sudah sangat malas jika mereka datang dan meminta foto bahkan video. Apalagi kalau sampai pegang-pegang, jadi kalau ada kamu mereka punya lawan yang spadan," sahut Mayor Rendi.
"Oh, oke kalau urusan melawan mereka Mayor serahkan kepadaku," ucap Sasa dengan bangganya.
"Hati-hati Sa, cegil Abang sangat mengerikan dan menyeramkan bahkan lebih menyeramkan daripada setan," ucap Rafka.
"Iyakah Mas? berarti Mayor mau menumbalkan aku dong," ucap Sasa dengan wajah polosnya.
"Kalau mereka bisa berhenti menggangguku, apa salahnya jika aku menumbalkanmu," ucap Mayor Rendi dingin.
"Astaga Mayor, ternyata isi otakmu selama ini ingin menumbalkanku? sungguh sangat kejam dirimu." Sasa memperlihatkan wajah sedihnya yang justru menjadi bahan candaan buat semuanya.
"Semangat Kak, aku yakin para cegil akan takut sama Kakak." Chika memberikan semangat kepada Sasa.
***
Keesokan harinya....
Sasa sudah rapi dengan pakaian santai, atasan kaos putih polos dan dipadu padankan dengan celana jeans berwarna biru tua. Hari ini seperti perintah dari Mayor Rendi, dia akan menemani Mayor ke gym. Sasa mengikat rambutnya dan menggunakan topi juga, Mayor Rendi sedikit melirik Sasa.
"Bawa tas aku." Mayor Rendi memberikan tas kepada Sasa membuat Sasa seketika oleng.
"Buset, ini isinya apa Yor? berat banget," keluh Sasa.
"Jangan banyak ngeluh, aku tidak suka sama cewek manja dan lembek," tegas Mayor Rendi.
Sasa terlihat kesusahan membawa tas Mayor Rendi, namun Mayor malah berjalan dengan santainya membuat Sasa kesal. Kali ini Mayor Rendi menggunakan mobil pribadinya dengan didampingi sopir pribadi dan satu ajudan pribadinya. Selama dalam perjalanan, tidak ada pembicaraan sama sekali membuat Sasa jenuh.
"Pak sopir dan Pak ajudan, memangnya kalian tidak jenuh ya, selama ini satu mobil sama Mayor? diam-diaman kaya gini, kaya yang sariawan," ucap Sasa.
Sopir pribadi dan ajudan pribadi Mayor Rendi hanya tersenyum, mereka tidak berani menjawab pertanyaan Sasa. Iya kali mereka jawab, bisa-bisa mereka babak belur kena hukuman. Sasa duduk di samping Mayor Rendi dan Mayor Rendi hanya sibuk dengan ponselnya sendiri.
"Berapa nomor ponsel kamu?" Mayor Rendi tiba-tiba bicara kepada Sasa.
"Alhamdulillah, akhirnya aku diajak ngobrol juga sama Mayor," ucap Sasa.
"Buruan minta nomor kamu," ketus Mayor Rendi.
"Sabar Yor, jangan marah-marah terus nanti darah tinggi loh," ledek Sasa.
Mayor Rendi segera menuliskan nomor ponsel Sasa. Tidak membutuhkan waktu lama, mereka pun sampai di tempat gym yang biasa Mayor Rendi datangi. Di luar nalar, sudah banyak cegil yang menunggu kedatangan Mayor Rendi karena mereka tahu kalau hari ini Mayor Rendi akan datang.
"Anjir, kenapa mereka sudah berkumpul kaya gitu? kita balik lagi gak usah jadi gymnya," ucap Mayor Rendi.
"Apaan, pengecut," ledek Sasa.
"Pengecut? maksud kamu apa?" kesal Mayor Rendi.
"Sudah keluar saja, tenang ada aku yang jagain Mayor," ucap Sasa dengan percaya dirinya.
"Yakin, kamu bakalan jagain aku dari sentuhan mereka?" tanya Mayor Rendi meyakinkan.
"Tenang saja, Mayor percaya deh sama aku," sahut Sasa.
Awalnya Mayor Rendi ragu-ragu, tapi melihat wajah meyakinkan Sasa membuat dia berusaha mempercayai gadis cantik itu. "Ya sudah, kita keluar," ucap Mayor Rendi.
Sopir dan ajudan pribadi Mayor Rendi segera keluar dari dalam mobil dan menjaga Mayor Rendi.
"Mayooooorrrr!"
"Mayooooorrrr!"
Teriakan para wanita menggelegar, Sasa berjalan di depan Mayor Rendi dan Mayor Rendi memegang pundak Sasa. Mayor Rendi yang sangat gagah, tahan banting, dan tidak takut oleh siapa pun ternyata bisa lembek juga. Dia akan kalah jika berhadapan dengan para wanita apalagi menghadapi ras terkuat dimuka bumi ini yaitu emak-emak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
꧁❧❤️⃟Wᵃf ʜꙷɪᷧɑⷮɑͧтᷡʰᵉᵉʳᵅ❦꧂
mayor nya masih malu chik untuk memperlihatkan senyum nya
2024-07-18
1
ᴄʜɪᴀ
dih gak mau mengakui kalo sudah tertawa🤣🤭
2024-07-14
1
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
jadi pengawal pribadi nih ceritanya ya 🤣
2024-05-22
1