Episode 2 Kembali Ke Negara Zambrud

"Siapa dia?" tanya Bapak Wibowo.

"Tidak tahu, Pak," sahut Rezki.

"Bapak, tolong saya! saya mau pulang ke Negara Zambrud, saya TKW, Pak!" teriak Sasa.

Sasa sudah kembali dijegal oleh Paspampres tapi dia tidak patah semangat.

" Lepaskan dia dan suruh dia ke sini." Bapak Wibowo memerintahkan Mayor Rendi untuk membawa Sasa.

Mayor Rendi menganggukkan kepalanya dan memberi kode kepada Paspampres supaya membawa Sasa menemui Bapak.

"Ayo ikut, tapi janji kamu jangan macam-macam sama Bapak," ucap Paspampres.

"Oke, aku janji Pak tidak akan macam-macam," sahut Sasa bahagia.

Sasa pun dibawa untuk menemui Bapak Wibowo. "Selamat siang Bapak? apa benar Bapak Presiden Negara Zambrud?" tanya Sasa polos membuat semua orang melongo.

"Katanya kamu berasal dari Negara Zambrud tapi kenapa kamu tidak mengenal saya?" tanya Bapak Wibowo.

"Maaf Bapak, ceritanya panjang nanti saya cerita tapi bisakah sekarang saya ikut pulang ke Negara Zambrud bersama Bapak?" ucap Sasa.

"Berani sekali kamu bicara seperti itu kepada Bapak Presiden, sungguh tidak sopan!" bentak Mayor Rendi.

"Apaan sih, aku sedang bicara sama Bapak Presiden kenapa kamu yang jadi sewot," kesal Sasa.

"Nona, lebih baik sekarang anda bicara saja karena waktu kami tidak banyak. Kami bukan pengangguran yang hanya akan mendengarkan curhatan anda," ucap Rezki tegas.

"Bapak tolong, saya ingin pulang. Saya sudah 5 tahun di sini dan saya merasa tersiksa karena majikan saya tidak pernah membiarkan saya keluar rumah, tolong saya Pak, saya mohon," ucap Sasa dengan mata yang berkaca-kaca.

Bapak Wibowo menatap satu persatu ajudannya, mereka memberikan kode dengan menggelengkan kepala secara bersamaan tapi Bapak adalah orang baik, apa lagi ini menyangkut rakyatnya sendiri.

"Baiklah, kamu masuk ke mobil yang di belakang," ucap Bapak Wibowo.

"Serius, Pak?" tanya Sasa tidak percaya.

"Iya."

Sasa dengan bahagianya berlari mengambil koper lalu menggeretnya menuju mobil yang diperintahkan oleh Bapak Wibowo. Saking semangatnya, Sasa tidak melihat kaki Mayor Rendi yang tergilas oleh roda kopernya. Mayor Rendi hanya bisa mengeraskan rahangnya merasakan kakinya sedikit ngilu.

"Astaga," batin Mayor Rendi dengan kesalnya.

Paspampres yang berjumlah puluhan itu tidak bisa menghentikan Sasa karena memang Bapak Presiden sendiri yang membiarkan wanita itu untuk masuk ke salah satu mobil.

"Tunggu!"

Sasa terdiam. "Ada apa, Pak?" tanya Sasa.

"Aku periksa dulu kopernya."

"Gak ada apa-apa kok, Pak. Aku bukan teroris," sahut Sasa.

Mayor Rendi langsung mengambil koper Sasa dan memeriksanya dengan seksama, dan ternyata memang tidak ada apa-apa. Lalu Mayor Rendi memeriksa dompet Sasa dan melihat KTPnya, tiba-tiba Mayor Rendi mengerutkan keningnya dan melihat ke arah Sasa.

"Ini KTP kamu?" tanyanya.

"Iya."

"Kok fotonya beda?"

"Ah, aku lupa Pak. Bentar, ya." Sasa melepaskan wig, kacamata, serta tompel yang dia tempel di pipinya itu.

Rezki, Rafka, dan Agam langsung melongo begitu pun dengan Mayor Rendi.

"Maaf Pak, aku terpaksa menyamar karena tidak mau nyawaku terancam," ucap Sasa.

"Maksudnya?" tanya Mayor Rendi.

"Ceritanya panjang Pak, nanti saja aku cerita jika sudah sampai di Zambrud," sahut Sasa.

"Agam, kamu kawal gadis ini," perintah Mayor Rendi.

"Siap."

Mereka pun akhirnya kembali ke Negara Zambrud. Sasa benar-benar tidak percaya jika dia akan diselamatkan langsung oleh Bapak Presidennya. Di dalam pesawat, Sasa mulai menceritakan apa yang selama ini dia alami.

"Awal datang ke Negara Formoza, ketua agen aku mengatakan kalau aku harus menyamar karena menurut dia aku mempunyai wajah yang cantik takutnya aku jadi bahan pelecehan oleh orang-orang di sana. Lalu aku pun memutuskan untuk menyamar dan syukurnya aku mempunyai majikan yang sangat baik," jelas Sasa.

"Kalau majikan kamu baik, kenapa kamu sampai mau kabur?" tanya Mayor Rendi dingin.

"Dia memang sangat baik, dia royal bahkan aku diberikan gaji di atas rata-rata, namun aku tidak tahu kalau dia menyukaiku dan menurutku terlalu posesif. Dia sampai melarangku untuk keluar rumah, tidak boleh melihat TV, dan tidak boleh memegang ponsel juga. Dia ingin aku terus berada di samping dia dan tidak membiarkan aku pulang ke Negara aku sendiri. Maka dari itu, aku sama sekali tidak tahu siapa Presiden Negaraku sekarang, maaf ya, Pak," ucap Sasa dengan wajah sedihnya.

"Dia sangat menyukaimu padahal penampilanmu selama ini sedang menyamar?" tanya Mayor Rendi.

"Iya, betul Pak," sahut Sasa.

"Definisi cinta tidak memandang fisik, hebat pria itu," ucap Agam.

"Iya Pak, namun sayangnya aku tidak tertarik justru aku malah takut," sahut Sasa.

"Kamu tinggal di mana?" tanya Bapak Wibowo.

"Saya tidak punya tempat tinggal Pak, kedua orang tua saya sudah meninggal. Saya anak yatim piatu, makanya dulu pas disakiti pria aku langsung nekad saja pergi menjadi TKW karena aku sudah tidak punya sandaran siapa-siapa lagi," sahut Sasa dengan deraian air matanya.

"Terus sekarang kamu mau pulang, mau ke mana? apa mau saya kasih modal untuk biaya usaha kamu?" saran Bapak Wibowo.

"Tidak Bapak, kalau bisa saya mau ikut Bapak saja soalnya kalau saya hidup diluaran takut banyak yang nyari saya. Apalagi saat ini saya juga sedang kabur, sudah pasti majikan saya akan nyari ke sana," rengek Sasa.

"Astaga, kamu tahu tidak kalau beliau adalah Presiden Negara kita? mana boleh kamu bicara tidak sopan seperti ini!" bentak Mayor Rendi.

Bapak Wibowo mengangkat tangannya untuk supaya Mayor Rendi tidak memarahi Sasa.

"Maafkan saya Pak karena saya sudah lancang, tapi untuk saat ini hanya Bapak yang bisa menolong saya. Saya bisa melakukan apa pun, mengepel, cuci baju, cuci piring, beres-beres, masak, bahkan jadi tukang kebun pun saya bisa, Pak," ucap Sasa.

"Kamu itu sudah beruntung sekarang bisa pulang bersama Presiden, seharusnya kamu bersyukur bukannya malah minta lebih!" bentak Mayor Rendi.

Bapak Wibowo terdiam, dia pun memijat keningnya membuat Mayor Rendi dan ketiga Asprinya panik. "Pindahkan gadis ini, jangan duduk di sini," tegas Mayor Rendi.

"Siap, Mayor." Rezki pun akhirnya membawa Sasa untuk pindah tempat duduk.

"Bapak tidak apa-apa?" tanya Mayor Rendi cemas.

Bapak Wibowo kembali mengangkat tangannya, pertanda kalau beliau baik-baik saja. Mayor Rendi pun memilih diam dan tidak mau mengganggu Bapak Wibowo dulu. Mayor Rendi terlihat sangat kesal, bisa-bisanya gadis itu membuat masalah dengan Bapak Presiden.

Setelah beberapa jam terbang, akhirnya mereka sampai di Negara Zambrud. Kebetulan saat itu sudah malam, dan Bapak Wibowo pun memutuskan untuk mengizinkan Sasa ikut dengannya ke Gedung Putih dengan catatan Sasa tidak boleh membuat onar karena itu akan sangat mempengaruhi kehidupan Bapak sebagai kepala Negara.

*

*

*

Cerita ini hanya fiktif belaka ya, jangan dibuat serius karena kalau di dunia nyata tidak akan ada orang seperti Sasa yang dengan mudah bisa ikut kepada Bapak Presiden🙏🙏

Terpopuler

Comments

𖤍ᴹᴿˢ᭄°Riyantiʰⁱᵃᵗ 🦋ιиɑ͜͡✦ᴳ᯳ᷢ

𖤍ᴹᴿˢ᭄°Riyantiʰⁱᵃᵗ 🦋ιиɑ͜͡✦ᴳ᯳ᷢ

sukurlah Sasa akhir nya bisa ikutan pulang juga kenegara nya

2024-07-07

4

❤️⃟Wᵃf🧸🍒🍾⃝ͩɴᷞαͧуᷠαͣ❣️ 📴

❤️⃟Wᵃf🧸🍒🍾⃝ͩɴᷞαͧуᷠαͣ❣️ 📴

akhirnya usaha kamu berhasil sasa kamu bisa kembali lagi ke negaramu zambrud 😍

2024-07-06

1

✍️⃞⃟𝑹𝑨🤎ᴹᴿˢ᭄мαмι.Ɱυɳιαɾ HIAT

✍️⃞⃟𝑹𝑨🤎ᴹᴿˢ᭄мαмι.Ɱυɳιαɾ HIAT

ajudan nya galak galak serem beruntung nya sasa bisa pulang ke negara nya aman terkendali ikut pak presiden

2024-07-06

1

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!