Episode 7 Week End

Malam ini Sasa menunggu kepulangan empat pria tampan, namun sudah hampir larut malam mereka belum juga datang. Sasa sudah terkantuk-kantuk di atas sofa hingga akhirnya saking tidak kuat menahan ngantuk, Sasa pun tertidur di sofa. Setengah jam berlalu, rombongan Mayor Rendi sampai di rumah kali ini Bapak Wibowo pun ikut pulang dikarenakan besok adalah week end.

"Astaga, anak itu ngapain tidur di sofa," batin Mayor Rendi.

Bapak Wibowo tidak melihat Sasa karena posisi kamar beliau tidak melewati ruangan itu. Perlahan Mayor Rendi menghampiri Sasa lalu menendang sofa membuat Sasa kaget dan langsung terbangun.

"Astaga, ada apa Yor? apa ada gempa?" celetuk Sasa dengan paniknya.

"Ngapain kamu tidur di sini?" tanya Mayor Rendi dingin.

"Aku menunggu kalian pulang," sahut Sasa.

"Ngapain nungguin kami? jam pulang kami itu tidak menentukan, jadi kamu tidak usah menunggu kami," tegas Mayor Rendi.

"Siap, Mayor. Lain kali aku tidak akan menunggu," sahut Sasa.

"Sana tidur."

"Siap." Sasa pun akhirnya masuk ke dalam kamarnya.

Mayor Rendi masuk ke dalam ruangan kerja, dia memang orangnya seperti itu pada saat saudara-saudaranya tidur, dia malah sibuk mengerjakan jadwal-jadwal yang akan Bapak datangi hari senin nanti. Mayor Rendi memang sangat bertanggung jawab kalau mengenai pekerjaan. Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 02.00 dini hari.

"Ah, rasanya aku haus sekali," gumam Sasa.

Sasa bangun dan keluar dari kamarnya untuk mengambil air minum. Dia melewati ruangan kerja Mayor Rendi dan terlihat lampunya masih menyala. "Lah, kok lampunya masih nyala? apa Mayor masih kerja?" gumam Sasa.

Perlahan Sasa mulai melangkahkan kakinya lalu mendekat ke arah pintu. "Buka gak, ya?" batin Sasa.

Sasa sangat takut Mayor marah, kalau dia buka pintu. Tapi dia juga penasaran, ada siapa di dalam Mayor atau orang lain. Dengan ragu-ragu, akhirnya Sasa pun memberanikan diri untuk membuka pintu itu dan benar saja Mayor Rendi sudah tertidur di atas kursinya.

"Astaga, kenapa dia tidur di sana?" batin Sasa.

Dengan mengendap-endap, Sasa pun masuk ke dalam ruangan itu lalu menyimpan gelas yang dia bawa. Sasa celingukan mencari sesuatu, hingga akhirnya dia pun menemukan sebuah selimut. Sasa mengambil selimut itu dan berniat menutupi tubuh Mayor dengan selimut itu.

Baru saja selimut itu menyentuh tubuh Mayor, tiba-tiba tangan Mayor mencengkram tangan Sasa membuat Sasa kaget. "Allahuakbar!" pekik Sasa.

"Mau ngapain kamu?" tegas Mayor Rendi.

"Ma-maaf Yor, aku cuma mau selimutin Mayor doang gak mau macam-macam kok, sumpah," sahut Sasa gugup.

Mayor Rendi menatap Sasa dengan tajam. "Jangan coba-coba menyentuhku, aku paling tidak suka disentuh," ucap Mayor Rendi dingin.

"Maaf."

"Kalau kamu salah, ucapannya jangan maaf tapi kamu bilang SIAP SALAH," ucap Mayor Rendi mencontohkan.

"Si-siap salah," gugup Sasa.

"Yang tegas!"

"SIAP SALAH!" tegas Sasa.

"Bagus, push up sepuluh kali!" perintah Mayor Rendi.

"Hah, kok push up?"

"Jangan membantah, lakukan saja!"

Sasa pun akhirnya menurut dan melakukan push up sebanyak sepuluh kali. Setelah itu, Sasa kembali berdiri dengan napas yang terengah-engah. "Baru sepuluh kali saja sudah lemas seperti itu, fisik kamu buruk sekali pasti kamu jarang olahraga," sinis Mayor Rendi.

"Bukan jarang lagi, aku memang tidak pernah olahraga," sahut Sasa.

"Kalau begitu, mulai besok kamu harus bangun pagi-pagi dan ikut olahraga bersamaku," perintah Mayor Rendi.

"Hah...."

Mayor Rendi mengambil selimutnya dan pergi meninggalkan Sasa yang masih terdiam itu. "Mampus, ah seandainya tadi aku gak nekad masuk sini mungkin aku masih aman," gerutu Sasa.

Sasa mengambil gelasnya dan segera menuju dapur, dia minum sampai beberapa gelas saking lelahnya. "Busyet, dini hari seperti ini sudah keringatan," gumam Sasa.

***

Keesokan harinya....

Sasa seperti biasa bangun pagi-pagi sekali, dia mengikat rambutnya karena pagi ini dia akan berolahraga seperti yang dikatakan oleh Mayor Rendi. Sesampainya di halaman samping, ternyata sudah ada Rezki, Rafka, dan juga Agam. "Pagi, Sasa!" sapa Agam.

"Pagi, Mas."

"Kamu mau ikut latihan juga?" tanya Rezki.

"Iya Mas, aku disuruh Mayor untuk ikut latihan," sahut Sasa.

Seketika Rezki, Rafka, dan Agam menatap Mayor Rendi dengan tatapan tidak percaya. "Ngapain kalian tatap aku seperti itu?" tanya Mayor Rendi dingin.

"Sejak kapan Abang mengajak orang untuk ikut latihan?" ucap Rafka bingung.

"Aku ingin dia jadi wanita kuat tidak lembek seperti itu, karena aku mau jadikan dia sebagai pengawal pribadi Chika dan kalau jadi pengawal berarti harus jago beladiri," sahut Mayor Rendi.

Ketiga adiknya hanya saling pandang satu sama lain, mereka tidak mengerti dengan cara berpikir Abang mereka itu dan mereka hanya bisa menurut saja. Mereka pun mulai berlatih termasuk Sasa yang sama sekali tidak bisa apa-apa dan beberapa kali harus kena hukuman dari Mayor Rendi. Sasa mendelikan matanya ke arah Mayor karena merasa kesal selalu mendapat hukuman dari Mayor Rendi.

"Ayo semangat Kak Sasa!" teriak Chika.

Sasa menoleh, ternyata Chika sedang memperhatikannya bersama Bapak Wibowo.

"Loh, ternyata ada Bapak," ucap Sasa.

"Ini kan week end jadi Bapak pulang," sahut Chika.

"Semangat berlatihnya." Bapak Wibowo memberikan semangat kepada Sasa.

"Kalau Bapak yang memberi semangat, aku jadi kuat kembali. Ayo, Yor kita latihan lagi," ucap Sasa penuh semangat.

Mereka kembali latihan, hingga beberapa saat latihan selesai. Sasa melihat Rafka pergi lapangan yang ada di belakang rumah, karena Sasa orangnya kepo dia pun berlari kecil mengikuti Rafka. Betapa terkejutnya Sasa saat melihat ada banyak sekali kuda di sana bahkan Sasa sangat kagum karena di halaman belakang sungguh sangat luas.

"Mamas mau ngapain?" teriak Sasa.

"Loh, ngapain kamu ikut?" tanya Rafka.

"Aku penasaran lihat Mamas ke sini, jadi aku ikutin saja," sahut Sasa cengengesan.

"Aku mau latihan kuda, kamu mau coba?" ucap Rafka.

"Enggak ah takut."

"Ngapain takut, ayo aku ajarin kamu naik kuda." Rafka menarik tangan Sasa dan membawanya ke sebuah kandang kuda.

"Ini namanya Rossi, kuda kesayangan aku. Dia kuda blasteran dari Australia," ucap Rafka sembari mengelus Rossi.

"Widih, gede banget."

"Kamu mau coba menunggangi Rossi?"

"Memang boleh, Mas?"

"Boleh dong, tapi kamu harus pakai peralatannya dulu. Pelindung kepala sama sepatu khusus." Rafka menyuruh seseorang untuk mengambilkan peralatannya.

Rafka memakaikan pelindung kepala dan sepatu khusus kepada Sasa, lalu Rafka membantu Sasa untuk naik ke atas kuda. "Mas, pegangin ya, jangan dilepas," ucap Sasa panik.

"Iya."

Sasa naik di atas kuda, sedangkan Rafka menuntun Rossi dengan pelan. Awalnya Sasa takut, namun semakin ke sini ternyata sangat seru dan menyenangkan. Week end di rumah Bapak Presiden ternyata sangat menyenangkan, bahkan suasananya pun tidak kaku dan canggung bahkan orang-orangnya sangat asyik dan santai.

Terpopuler

Comments

꧁❧❤️⃟Wᵃf ʜꙷɪᷧɑⷮɑͧтᷡʰᵉᵉʳᵅ❦꧂

꧁❧❤️⃟Wᵃf ʜꙷɪᷧɑⷮɑͧтᷡʰᵉᵉʳᵅ❦꧂

mayor gk pandang bulu kalau memberikan hukuman ya pagi" buta saja sasa di hukum pushup

2024-07-18

1

ᴄʜɪᴀ

ᴄʜɪᴀ

bengek nih mayor masa sasa di suruh push up sih

2024-07-12

1

ᴄʜɪᴀ

ᴄʜɪᴀ

apa gak capek gak istirahat pula sih mayor

2024-07-12

1

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!