Episode 6 Asisten Pribadi Pria-pria Tampan

"Kak Sasa lucu juga, ya," ucap Chika dengan tawanya.

"Oh iya, kenapa Bapak tidak pernah pulang ke sini?" tanya Sasa.

"Memangnya kamu pikir Bapak pegawai kantoran yang bisa pulang setiap hari? Bapak pulang ke sini jika week end saja karena kalau hari-hari biasa Bapak harus stay di gedung putih," sahut Rafka.

"Pijatan kamu enak juga, mulai sekarang kerja kamu pijitin aku saja," ucap Rezki.

"Aku juga mau dong di pijitin," timpal Rafka.

"Ya sudah, mulai sekarang kamu jadi Asisten pribadi kita saja," ucap Agam.

"Oh iya, kamu dikasih ponsel ya, sama Chika?" tanya Rezki.

"Iya, Mas. Aku jadi tahu ternyata kalian adalah anak Bapak Wibowo pantas saja rumah ini banyak pengawalnya. Aku juga jadi tahu para fansnya Mayor ternyata gila-gila," sahut Sasa.

"Makanya fans dia disebut cegil karena mereka bar-bar dan gila," ledek Agam.

"Memangnya apa yang membuat para wanita tergila-gila sama Mayor? wajahnya saja dingin banget sedingin kutub utara dan selatan, tidak pernah senyum, keningnya berkerut terus, beda sama Mas-mas yang lain selalu full senyum, apa jangan-jangan Mayor anak pungut Bapak," celetuk Sasa.

Seketika bantal melayang ke wajah Sasa membuat Sasa terjungkal untung tidak sampai jatuh ke lantai. "Jangan sembarangan kamu kalau ngomong," geram Mayor Rendi.

"Astaga, galak banget," kesal Sasa.

Sedangkan keempat adiknya memilih diam, mereka sudah tahu bagaimana karakter Abangnya. Mayor Rendi tidak bisa diajak bercanda, dia paling susah untuk tertawa. Mayor Rendi pun bangkit dari duduknya dan memilih pergi ke kamarnya.

"Bang Rendi memang seperti itu karakternya Kak, jadi kakak jangan sakit hati ya," ucap Chika.

"Ah santai saja, aku mah orangnya santai tidak gampang baperan," sahut Sasa dengan senyumannya.

Setelah selesai memijat Rezki, Sasa pun berpindah kepada Rafka lalu terakhir Agam. "Terima kasih ya, Sa. Pijatan kamu mantap," puji Agam.

"Sama-sama, Mas."

Ketiga pria tampan itu pun masuk ke dalam kamar masing-masing, sedangkan Sasa dan Chika masih berada di sana. "Kak, apa kakak punya pacar?" tanya Chika.

"Boro-boro, aku sudah jomblo sejak 5 tahun lalu," sahut Sasa.

"Busyet, lama banget."

"Mau pacaran bagaimana, aku dikurung bagaikan burung dalam sangkar, melihat matahari saja aku jarang," ucap Sasa.

"Kasihan sekali."

"Jangankan kamu, aku saja merasa kasihan sama diri aku sendiri," sahut Sasa.

"Tenang saja, ada aku yang nasibnya sama kaya kakak," timpal Chika.

"Loh, kamu itu kan anak Presiden, pasti banyaklah yang mau sama kamu bahkan pasti Bapak juga bisa jodohkan kamu sama anak orang penting di negara ini," ucap Sasa.

"Kalau aku sih maunya sama orang biasa, gak mau sama anak orang penting soalnya malas pasti tersorot terus dan itu sangat menyebalkan," keluh Chika.

"Kalau aku malah sebaliknya, aku ingin punya pasangan anak orang kaya supaya kehidupan ku terjamin," ucap Sasa dengan kekehannya.

"Ya sudah, kalau begitu kita barteran saja. Kakak cariin aku cowok orang biasa dan nanti aku cariin kakak cowok orang kaya, bagaimana?" tawar Chika.

"Oke, deal." Kedua gadis cantik itu bersalaman satu sama lain.

***

Keesokan harinya....

Setelah ada deklarasi menjadikan Sasa asisten pribadi, Sasa menjadi sibuk menyiapkan keperluan para pangeran Palapa.

"Sa, ambilkan aku sepatu yang warna hitam," ucap Rezki.

"Baik, Mas."

"Sa, penampilanku bagaimana?" tanya Rafka.

Sasa memperhatikan penampilan Rafka. "Bentar, kayanya kurang rapi rambutnya." Sasa mengambil sisir dan mulai merapikan rambut Rafka.

"Sa, jam tangan ini cocok gak?" tanya Agam.

"Cocok Mas."

Walaupun Sasa seorang TKW, tapi kalau masalah fashion dia tidak terlalu kaku karena dia juga sering lihat penampilan majikannya waktu di negara Formoza bahkan Sasa sering diberikan majalah fashion oleh majikannya untuk memilih baju yang bagus. Mayor Rendi hanya bisa memperhatikan ketiga saudaranya dengan wajah dinginnya.

"Kalian itu kenapa sih? dari dulu perasaan kalian bisa berpenampilan sendiri tidak perlu minta pendapat dari orang lain," ketus Mayor Rendi.

"Gak apa-apa, penampilan itu kan orang lain yang lihat. Pakaian yang menurut kita bagus belum tentu bagus juga di mata orang lain jadi kalau kita minta pendapat dari Sasa, kita jadi percaya diri," sahut Rafka.

"Ada yang Mayor butuhkan? nanti biar aku ambilkan," tawar Sasa.

"Tidak perlu, aku bisa sendiri," sahut Mayor Rendi dingin.

"Oh, oke." Sasa tidak terlalu memikirkan Mayor Rendi.

Semuanya sudah siap dan rapi, setelah sarapan mereka pun segera berangkat menuju gedung putih. Sasa segera masuk ke dalam kamarnya, dan Sasa mulai membuka ponselnya kembali. Dia membuka berita di negara Formoza dan berapa terkejutnya dia saat melihat berita viral yang memperlihatkan mantan majikannya yang sedang mencari keberadaan dirinya.

"Astaga, dia nyariin aku. Semoga dia tidak akan bisa menemukanku," batin Sasa.

Sasa mulai menyalakan TV, dilihatnya di TV ada Bapak Presiden yang sedang dikawal oleh Paspampres dan juga anak-anaknya. Perhatian Sasa mulai tertuju kepada Mayor Rendi dan Sasa memperhatikannya dengan sangat teliti.

"Wow, dilihat-lihat Mayor memang tampan sih, cuma raut wajahnya saja yang selalu dingin dan menyebalkan," batin Sasa.

Mayor Rendi memang tidak bisa di abaikan, apalagi di sana terlihat Mayor Rendi menggunakan baju loreng membuat Mayor Rendi semakin gagah dan keren. "Ya Allah, keren banget apalagi kalau sudah memakai baju loreng, ketampanannya sepuluh kali lipat," batin Sasa kembali.

Sasa tidak sadar kalau dari tadi dia memuji Mayor Rendi terus, bahkan bibirnya tidak henti-hentinya tersenyum kala wajah Mayor Rendi tersorot kamera. Sementara itu, di gedung putih semuanya sedang persiapan berangkat menuju kota Apel karena hari ini Bapak Presiden ada kunjungan untuk peresmian pembuatan jalan tol. Keempat putranya dengan setia mendampingi Bapak Presiden, walaupun ketiga adiknya bukan dari kalangan Abdi negara tapi Rendi selalu mengajarkan adik-adiknya dalam hal kewaspadaan.

"Bang, jangan sampai lengah karena pasti di sana akan banyak orang yang sudah menunggu kedatangan Bapak," ucap Rezki.

"Kamu tidak perlu mengajariku, fokus saja kepada kerjaanmu," sahut Mayor Rendi dingin.

"Baik, siap salah," jawab Rezki.

Rezki langsung terdiam, dia mengaku salah karena sudah menasehati Abangnya yang sudah jelas-jelas tidak usah diragukan lagi kinerjanya. Sesampainya di kota Apel, benar saja orang-orang sudah berdesakan menunggu kedatangan Bapak Presiden bahkan sebelumnya tim sniper sudah bersiap-siap di tempatnya masing-masing untuk menjaga keselamatan Sang Presiden. Mayor Rendi dan ketiga saudaranya pun sudah sigap menjaga ketat fisik Bapak Presiden.

"Kalian harus fokus, jangan melamun!" tegas Mayor Rendi.

"Siap, laksanakan!" sahut ketiganya bersamaan.

Mayor Rendi memang orangnya tegas, dia tidak pandang bulu siapa pun orangnya jika sudah membuat kesalahan, maka dia tidak segan-segan untuk menegur bahkan memarahinya.

Terpopuler

Comments

ᴄʜɪᴀ

ᴄʜɪᴀ

sasa makanya kamu diem aja di situ jangan keluar supaya mantan bos kamu gak menemukan mu

2024-07-12

1

꧁❧❤️⃟Wᵃf ʜꙷɪᷧɑⷮɑͧтᷡʰᵉᵉʳᵅ❦꧂

꧁❧❤️⃟Wᵃf ʜꙷɪᷧɑⷮɑͧтᷡʰᵉᵉʳᵅ❦꧂

si mayor belum butuh penilaian dari sasa besok saat butuhh bantuan sasa pasti paling bucin dan susah lepas dari sasa

2024-07-06

1

ηαуα🥀𖤍ᴹᴿ᭄ᴰᵁᴼʙᷣʏͧᴛᷤᴀͧᴀͪ☠

ηαуα🥀𖤍ᴹᴿ᭄ᴰᵁᴼʙᷣʏͧᴛᷤᴀͧᴀͪ☠

cemburu itu si mayor sama yang lain Sa kamu lebih perhatian ke yang lain daripada ke dia🤣🤣🤣 dia juga mau di perhatiin 🙈🙈🙈🤣

2024-07-06

1

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!