Bab.10

Seorang pemuda remaja tengah terbangun dari tidurnya. Tiba-tiba ia melihat sosok Aisyah dalam mimpi. Keringat dingin membasahi pelipisnya.

" Aisyah," ucapnya kemudian tangan itu menghapus keringatnya.

Dia mengingat-ingat kembali mimpi yang membuatnya tiba-tiba menjadi takut.

Sorot mata gadis tersebut nampak tajam dan Aryan melihat tatapan kebencian.

Aryan bangkit dari tempat tidurnya lalu beranjak ke kamar mandi mengguyur seluruh tubuh di tengah malam. Sejenak ia memejamkan mata menetralkan perasaannya.

Lima belas menit di dalam kamar mandi, Aryan keluar lalu mengambil pakaian dalam lemari. Tangannya menyentuh kain yang pernah dibeli bersama dengan sahabatnya. Mengusap lembut kain sutra tersebut dan  tanpa disadari sebuah senyuman tersungging di bibir tipisnya.

" Ini hanyalah sebuah kenangan darinya," lirihnya sambil meletakkan kembali pakaian tersebut.

Tanpa memakan waktu banyak ia sudah selesai memakai piyama lalu kembali menikmati tidurnya yang sempat terusik karena sebuah mimpi.

Kini mata Aryan tidak bisa terpejam, ia masih memikirkan mimpi itu yang seperti nyata. Ada sebuah rasa yang melandanya hingga dirinya tidak bisa tenang.

Aryan membolak-balikan badan berusaha memejamkan mata, hasilnya tetap nihil.

Tepat pukul empat pagi mata Aryan baru bisa terpejam dan terlelap. Sebelumnya ia sangat tersiksa dengan kondisinya seperti itu.

" Aryan, "suara dari mama tercinta memanggil pemuda tersebut, hingga sayup-sayup terdengar suara berkumandang Adzan. Aryan mengabaikan semua suara yang mengusiknya sejak tadi. Saat ini ia tidak ingin diganggu oleh siapa pun.

Nandini menggeleng kecil di depan kamar putranya. Sejak tadi ia mengetuk pintu tapi belum ada pergerakan sama sekali dari sang putra.

" Ini udah pagi, Aryan. Nanti kamu telah, gimana?" sahut Nandini dari luar.

Panggilan Nandini masih tidak dihiraukan oleh Aryan, giginya gemelatuk menahan kekesalan.

" Bi, tolong ambilkan kunci cadangan kamar Aryan!" titahnya.

Dengan tergopoh-gopoh Bu Marni pergi mengambil kunci tersebut. Langkahnya terhenti ketika netranya menangkap sosok gadis yang tengah duduk di luar menunggu seseorang dengan seragam abu-abu.

Bu Marni menghampirinya dan bertanya," cari siapa, Non?" tanyanya Ramah.

Gadis itu menoleh dengan seulas senyum di wajah.

" Ada Aryan, bi ?" tanya gadis itu.

"Oh..eh, ada tapi belum bersiap-siap." ucapnya gugup.

Entah kenapa melihat perempuan itu, ia kembali teringat pada putrinya.

" Sebentar, ya!" Bibi panggil nak Aryan." serunya kemudian dengan tergesa-gesa masuk ke dalam.

" Bibi kok lama, " ucap Nandini seraya mengambil kunci tersebut dari tangan Bu Marni.

" M-m itu nyonya, di luar ada teman nak, Aryan yang sedang menunggunya.

Nandini mengerutkan kening mendengar penuturannya. Dengan cepat tangannya membuka pintu dan betapa terkejutnya dia melihat putranya masih terlelap di bawah selimut.

"Astaghfirullah!" Ya .. ampun, Aryan." ucapnya begitu geram.

Nandini menarik selimut yang membalut tubuh kekar sang putra lalu mengomel tak karuan.

" Bangun!" Kamu udah terlambat. Bagaimana bisa kamu kuliah di luar negeri jika bangun pagi saja makin malas." omelnya dengan suara melengking di telinga Aryan.

Pemuda remaja tersebut terusik dari tidurnya mendengar ocehan sang mama. Baru saj ia menikmati tidur malah diganggu oleh mamanya.

" Udah jam berapa, Mah?" tanyanya tanpa rasa bersalah.

Nandini makin mendelik penuh kekesalan mendengar sikap santai Aryan. Ia keluar tanpa menjawab pertanyaan receh putranya setelah menyiapkan pakaian.

" Lain kali siapkan sendiri pakaianmu !" Kamu harus belajar mandiri walau hal sekecil apa pun. Paham?" ucapnya sebelum keluar dari kamar sang putra.

" Nyonya, kenapa tidak mengatakan pada nak Aryan jika ada yang menunggunya?" sahut Bu Marni.

"Biarkan aja temannya menunggu sampai bosan, Bi." ucap Nandini mengabaikan ucapan Marni.

Nandini tahu bahwa seseorang yang dimaksud Bu Marni adalah Zahra kekasih putranya. Ada perasaan tak rela jika gadis itu yang menemani puranya kelak. Nandini bisa membaca karakter perempuan tersebut. Ia tidak menyukai perempuan k4sar dan mulut pedas bila berucap.

Dengan secepat kilat Aryan telah selesai berpakaian dan bersiap-siap berangkat ke sekolah.

" Makan dulu, Sayang! " sahut Nandini sedikit berteriak.

" Aryan makan di sekolah, Mah. " ucapnya kemudian pergi dengan terburu-buru.

Langkah Aryan terhenti ketika melihat seseorang tengah duduk sendirian di luar. Ia memperhatikan dengan seksama dan terkejut dia. "Zahra," gumamnya masih melihat perempuan itu.

" Sejak kapan kamu ada di sini?" tegurnya.

Zahra menoleh dan melihat wajah tampan kekasihnya.

" Sejak tadi, aku bertanya pada p3mb4ntumu dan dia bilang kamu belum bersiap-siap."ucapnya lugas.

Aryan mengangguk dan mengajak Zahra ikut bersamanya ke sekolah berboncengan.

Di jalan kedua sejoli yang dimabuk cinta kini menikmati suasana di pagi itu. Zahra tanpa sungkan m3lingk4rkan tang4nnya pada kekasihnya. Sedangkan Aryan m3mbi4rkan

begitu saja dan sengaja memperlambat laju motor yang dikendarainya.

" Apa benar Aisyah berhenti sekolah, Yan?"

sahutnya dan seketika tubuh Aryan menegang mendengar nama itu.

Mimpinya semalam membuat dirinya kepikiran terus dengan sahabatnya sendiri.

" Aku tidak tahu," ucapnya seolah tanpa peduli. Walau hatinya bergemuruh berkata lain.

"Pangeran dan putri telah tiba," ucap salah satu geng Aryan setelah melihat keduanya sampai di sekolah.

Aryan melirik temannya sebentar kemudian berlalu meninggalkannya dengan menggandeng tangan kekasihnya. Sebagian siswa mencebir melihat kedekatan keduanya makin lengket kayak pranko.

Adryan melihat mereka berdua tertegun sejenak, ingin menanyakan tentang Aisyah ada keraguan dalam dirinya. Aryan terlalu angkuh menurutnya dan selama ia dekat dengan Aisyah, Aryan terlihat sinis padanya. Terkadang Adriyan berpikir bahwa Aryan menyukai Aisyah tapi hal itu tidak dibenarkan karena Aryan memiliki kekasih primadona di sekolah tersebut.

" Aisyah benar-benar pindah atau berhenti sekolah?" ucap salah satu siswa dan Aryan masih bisa mendengarnya.

Kehilangan seorang sahabat seperti Aisyah membuat dirinya hampa. Entah perasaan apa, Aryan berusaha menepisnya dan ingin melupakan wanita yang pernah selalu bersamanya.

***

Sementara di rumah megah Abraham, Bu Marni masih memikirkan sikap aneh belakangan ini putra majikannya.

Ia merasa bahwa Aryan mengetahui sesuatu mengenai kehamilan putrinya Aisyah. Sepandai-pandainya Aryan mengelak, Bu Marni bisa melihat kebohongan di wajah Aryan. Bertahun-tahun ia tinggal di rumah itu dan bahkan ikut merawat putra majikannya. Ia sangat tahu watak putra majikannya,  dan sangat sulit jika Aryan ingin membohonginya.

Bu Marni mencari cara agar Aryan bisa mengatakan semua padanya." Tapi bagaimana caranya?" ucapnya seraya berpikir keras.

" Ada apa, Bi?" tanya Nandini ketika melihatnya seperti tengah memikirkan sesuatu.

"M-m tidak ada kok nyonya," ucapnya gugup dengan dada berdegup kencang.

" Bagaimana kabar Aisyah, Bi?" tanyanya.

Sejak Aisyah pulang ke desa, rumah itu seperti sunyi. Tidak ada celoteh atau pertengkaran antara Aryan dan Aisyah yang membuat rumah megah itu ramai. Nandini pun sangat merindukan gadis cantik itu. Baginya tanpa Aisyah di rumah itu rasanya hambar, sepi. Sedangkan Aryan hanya berdiam diri di kamar semenjak Aisyah pergi.

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!