“Haish, siapa sih yang punya Signature ini, nggak ada sambutan hangat, malah dihina sama mbak-mbak penerima tamu, padahal mbaknya juga mirip orang kampung.” Sam yang sudah sampai di depan pintu apartemennya masih saja mendumel.
“Harusnya tadi aku hajar aja dia,” sahut Haris.
“Nggak boleh kasar sama cewek,” timpal Raihan.
“Cewek cowok kan sama aja brengseknya, kenapa cewek harus dipersiapkan? Bukannya kita harus memperlakukan orang sama rata? Kan para perempuan memperjuangkan hak yang sama.” ucap Deva.
Haris mengangguk setuju, “bener tuh.”
“Meski perempuan memperjuangkan hak gituan, tetep aja laki perempuan beda banget, mereka nggak bisa dikasari, ya bayangin aja ibu kalian dihajar laki, pasti marah kan?” sahut Raihan.
Haris dan Deva yang tidak memiliki ibu yang baik hanya diam, kurang relate dengan ucapan Raihan yang memiliki ibu super baik dan lemah lembut di dunia.
“Bener kata Raihan, udah kebuka nih, yok masuk!“ Ucap Sam.
Sam berdecak kagum segera setelah memasuki apartemennya sendiri. Semuanya serba mewah, dia sampai heboh sendiri.
”Balkonnya luas banget! Bisa pesta disini kita!“ Teriak Sam dari balkon yang memang cukup luas dan didesain agar bisa digunakan untuk berpesta.
”Sam! Woy, ada orang nyariin!“ teriak Raihan dari ruang tamu.
Sam pun segera masuk kembali, sambil mendumel dalam hati, 'emang siapa sih yang nyariin dia?'
”Selamat sore, apa anda benar pemilik apartemen ini?“ tanya seorang pria yang mengenakan setelan jas lengkap, di kanan kiri dia terdapat dua bodyguard berbadan besar-besar seperti Haris.
”Apalagi ini? Anda siapa?“ Tanya Sam dengan nada malas, karena dia tidak ada mood lagi untuk berdebat, dia ingin segera beres-beres dan istirahat. Ayolah.
Lama-lama jika dia diganggu terus, akan dia beli Signature, lalu dia pecat semua pegawai dan diganti yang baru.
Memangnya dosa besar jika pindahan memakai kardus Indomie? Sam kan belum sempat membeli tas besar atau koper, dia hanya ingin cepat pindah saja.
”Saya adalah orang yang bertanggung jawab di apartemen ini, dan menurut pegawai saya, anda sangat mencurigakan.“ ucap pria itu.
Sam mendekat pada pria itu, ”mencurigakan? Cepat periksa kalo gitu, lihat wajahku, mencurigakan apa enggak? Haris, ambilin dokumen yang tadi cepat, biar dia tahu aku bohong atau enggak!“
Pria itu hanya terdiam setelah menatap wajah Sam, dia tidak melihat kecurigaan di wajah Sam, yang ada hanya wajah lelah dan ingin semuanya segera selesai.
”Tuh Bang, lihat dokumennya dengan jelas, atas nama Samuel kan? Itu namaku, harusnya kalian seneng apartemen kalian dibeli, malah mencurigai orang seenaknya, pasti Abang ini dikasih tahu mbak-mbak yang di depan kan? Ya ampun, emang kalian selalu mencurigai orang meski udah jelas orang itu yang punya apartemen?“
Pria itu mengembalikan dokumen milik Sam, lalu membungkuk bersama dua yang lain.
”Maafkan kami tuan karena telah mengganggu, kami akan menegur pegawai kami.“
”Iya iya nggak apa-apa, nggak perlu ditegur juga, dipecat aja, dia udah ngatain aku kampungan juga— meskipun emang orang kampung sih, tapi ya nggak etis banget lah— hmmp!“
Raihan buru-buru membekap mulut Sam sebelum mengoceh banyak hal dan memutus rejeki orang.
”Hahaha, maafkan teman saya, anda sekalian boleh pergi.“
Sam melepas tangan Raihan setelah orang-orang itu pergi begitu saja, ”apa-apaan sih Han!“
”Ya kamu apa-apaan! Kalo mbak yang tadi dipecat gimana?“ Tanya Raihan.
”Ya bukan urusanku Han.“
”Kamu nggak inget apa kalo nyari kerjaan itu susah? Kan kasihan dia, kalo dia kerja buat keluarga dia gimana?“ Raihan masih bersikeras terhadap pendiriannya.
Sam sendiri orangnya cukup kerjas kepala, ”ya kalo dia tahu nyari kerjaan susah, harusnya lebih hati-hati dalam bersikap, nggak boleh seenaknya sendiri, nuduh orang dengan tuduhan nggak jelas, setiap pekerjaan ada konsekuensinya, kalo dimanja terus hidupnya, nanti dia yang ada makin sombong dan nggak tahu apa salahnya.“
”Tapi ya udah dong, jangan diungkit terus, kasihan.“
”Kasihan? Dia udah jelas-jelas salah, masih kamu kasihani?“
Akhirnya Haris dan Deva melerai Sam dan Raihan.
Deva susah payah menarik tubuh Sam yang meski kurus ternyata kuat juga.
”Udah dong debatnya, lagian mbak tadi dipecat atau enggak itu keputusan perusahaan, bukan keputusan kita. Menurutku Raihan juga nggak boleh gitu, jangan mentang-mentang dia wanita, yang lemah, kita harus tutup mata akan kesalahannya, karena manusia brengsek nggak pandang gender, kalo didiemin emang bakal ngelunjak. Tapi sekali lagi ku tekankan, kita nggak berhak atas dia, semuanya urusan perusahaan yang bisa memutuskan dia dipecat atau enggaknya, jadi udahan ya debatnya,“ ucap Deva, berharap Sam dan Raihan berhenti membicarakan hal tidak berguna.
”Iya deh, maaf ya Sam, aku salah.“
”Iya, aku juga salah. Maaf Han.“
Deva tersenyum, ”nah gitu dong… ayo kita beres-beres dulu, biar cepat selesai.“
Tanpa mereka ketahui, mbak resepsionis sudah dipecat karena pria yang tadi mendatangi Sam adalah putra dari pemilik Signature. Setelah melihat nama Sam, yang dia tahu memiliki saham di The Royalty, dia marah besar dan merasa bodoh telah mengikuti ucapan resepsionis. Untung saja dia belum melakukan hal yang tidak diinginkan pada Sam.
Namanya Carl Zein, dia masih berada di jajaran atas pemuda yang memiliki aset miliaran di negara itu. Meski dia belum pernah melihat nama Samuel berada di daftar itu, dia yakin sekali Sam memiliki aset yang jauh lebih banyak dari dirinya.
”Samuel Anggoro, coba cari tahu apa saja tentang dia, siapa saja orang yang bersama dengannya, cepat!“ Perintah Carl pada salah satu anak buahnya.
”Saya akan segera melakukannya, tuan muda!“
Setelah anak buahnya pergi mencaritahu, Carl menyeringai, ”Samuel Anggoro… dia mungkin bisa membantuku, dia harus ku dapatkan.“ desisnya, sambil mengangkat salah satu bidak catur berwarna emas yang ada di hadapannya.
Dia mengangkat bidak raja, lalu memutar-mutar bidak itu ditangannya. Kemudian dia menyenggol bidak raja perak dan meletakkan raja emas disana.
”The Royalty harus menjadi milikku, bagaimana pun caranya.“ gumamnya.
”KAKAK!“
Carl mendongak, menatap adiknya yang sedang berjalan ke arahnya. Adiknya yang cantik seperti peri, sangat bersinar di tengah ruangan yang mewah tersebut. Dia seperti peri kecil berambut pirang panjang, wajah cantiknya begitu luar biasa dengan atau tanpa make-up.
”Felicia, apa yang kau lakukan disini? Kau bilang akan pergi bersama Angel untuk melihat anak-anak panti asuhan?“
Felicia mengangguk semangat, ”iya! Aku sudah melihatnya, mereka semua sangat lucu dan manis, aku bilang, aku akan membantu lima miliar dan Angel sangat senang. Aku juga senang melihat anak-anak itu bahagia, karena anak-anak tidak bersalah.“
Selain cantik, adiknya ini memiliki hati yang sangat baik.
”Karena sudah selesai, aku ingin kamu menemaniku untuk menyapa seseorang, salah satu pegawai kita membuatnya tidak nyaman, kamu kan?“
”Apa kita akan minta maaf padanya?“
Carl mengangguk, ”benar, dia kelihatan marah karena sudah dihina pegawai kita, pegawainya sudah dipecat sih.“
”Kalau begitu, aku akan menemani kakak!“
Carl tersenyum lebar, ”terimakasih, kita berangkat nanti malam.“
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
S H 10
Tegas amat Sam.. memang benar kata sam tu.. semakin manja semakin tinggi angkuhnya nanti..
/Panic//Panic//Panic//Panic//Panic/
2025-01-20
0
Rest Area
BIKIN PINTER DIKIT DONG... JANGAN BODOH BODOH BANGET... TAIK
2024-10-30
0
Gabutdramon
sudah kuduga kroni dari novel sebelumnya. dah ah aku stop baca karya dari author ini.
2024-10-17
0