“Kita akan melakukan apa dengan bahan-bahan ini, boss?“ Tanya Deva bingung.
Pagi itu, Sam meminta Haris dan Deva pergi ke supermarket untuk membeli beberapa bahan membuat kue, sementara Sam sendiri melanjutkan makan.
Semua bahan sudah diletakkan di meja panjang yang sudah bersih di dapur. Haris saat itu sudah pergi lagi untuk membeli gas elpiji disuruh oleh Sam.
”Hmm? Mumpung lagi nggak ada kerjaan nih, mau bikinin anak-anak panti asuhan kue. Aku ingat banget dulu pas kecil nungguin bapak pulang dari kenduri, ada banyak kue-kue yang dibawa. Anak-anak panti asuhan tidak mungkin dapat yang seperti itu, kan? Aku hanya ingin sedikit berbagi, mumpung bisa masak.“
Dave hanya terdiam melihat Sam mulai bekerja membuat kue entah apa, Deva tentu tidak paham sama sekali. Dia hanya bisa masak mie instan dan membuat kopi sachetan.
”Deva, tolong ambilkan piring disana.“
”Bisa kau tolong bantu mengaduk ini?”
Deva hanya melakukan apa yang Sam suruh tanpa protes.
Haris akhirnya datang juga, tapi dia dimarahi oleh Sam, karena membeli gas elpiji yang biru, harusnya yang hijau.
“Tapi yang punya toko memarahiku, katanya aku datang dengan mobil mewah, tapi malah membeli gas hijau, katanya yang hijau hanya untuk rakyat miskin, jadi aku membeli yang biru saja, tidak mungkin aku membiarkanmu memasak dengan gas elpiji untuk rakyat miskin,” ucap Haris.
Sam menepuk dahinya, tidak percaya jika ada kejadian seperti itu. Bukan masalah gas hijau atau birunya, tapi yang biru itu besar, Sam hanya mau gas yang lebih kecil seperti yang hijau biasa dia pakai. Sam baru tahu jika gas hijau untuk rakyat miskin… tapi, sebelum ini Sam kan masih miskin, jadi tidak masalah dong.
“Ya udahlah, bisa masang gas nggak?” tanya Sam.
Haris menggeleng, Deva juga menggeleng.
Mau tidak mau Sam yang memasangnya sendiri. Sekitar jam sepuluh siang, semua kue sudah siap. Ada berbagai kue yang Sam buat, seperti brownies, roti gulung dan risoles.
Sam menyuruh Haris saja yang pergi ke panti asuhan dan memberi kue-kue itu pada anak-anak.
“Aku tidak percaya kamu menjadikan Haris bawahan mu, kamu lebih muda dari aku dan Haris, kan?“ Tanya Deva, setelah Haris pergi dengan mobilnya, membawa semua kotak-kotak berisi kue.
Sam dan Deva tinggal di rumah, kini mereka nongkrong di beranda depan rumah, dinaungi pohon rambutan besar milik bibi Mirna.
”Yah, aku juga nggak nyangka, sebelumnya Haris memukuliku hanya untuk bersenang-senang saja, aku sudah menanyakan langsung padanya. Dia bilang, karena tekanan di keluarganya sangat besar, makanya dia suka mengganggu yang lebih lemah dari dia. Kau dan aku hanya korban pelampiasan. Waktu itu, aku membalas Haris, mempermalukan dia dan menginjaknya, benar-benar menginjaknya dalam artian yang sebenarnya. Dan keesokan paginya dia sudah tunduk denganku dan ingin bekerja padaku. Karena dia sangat berguna, jadi aku menerimanya saja. Lihat saja, dia mau disuruh-suruh seperti itu, memudahkan pekerjaanku.“
Semakin dilihat, bagi Deva, Sam semakin mengagumkan. Dia sederhana, suka membantu orang, dan juga tulus.
Meski begitu, Deva masih tidak bisa terlalu memercayai dia, karena dia baru saja bertemu dengan Sam.
Sam menoleh pada Deva yang diam saja sambil memperhatikan dia, raut wajahnya yang serius membuat Sam merasa canggung.
”ke—kenapa kau melihatku seperti itu?“ Tanya Sam.
Deva menggeleng, ”nggak, aku cuma ingin tahu banyak tentangmu. Oh iya, apa aku diterima kerja? Tanpa kontrak?“
”Nanti kontrak akan dibuatkan setelah perusahaan selesai, ada seseorang yang membantuku, namanya Angel. Katakan saja berapa gaji yang kau inginkan.“
”Emang boleh request gaji?“ Tanya Deva tidak percaya.
Sam mengangguk, ”bukannya emang harusnya gitu, ya? Aku punya temen yang pinter banget, perusahaan dia nanyain berapa gaji yang dia mau, dan benar-benar dikasih segitu. Tapi dia — ah, seharusnya aku nggak cerita.“
Teman yang dimaksud adalah teman Sam yang mencuri televisi.
Padahal dia lebih dulu mendapatkan kerjaan bagus dengan gaji sesuai yang dia inginkan. Tapi karena judi slot gila itu, berapapun uang tidak pernah memuaskan dia.
Sam bersyukur dia sudah pergi dari kehidupannya.
”Apa temanmu itu mengkhianati mu?“ Tanya Deva.
Sam menghela nafas berat, ”yah begitulah, ayo kita ngomongin pekerjaan aja Deva. Apa perusahaan yang memecatmu?“
”Hmm, sebenarnya perusahaan itu sangat besar dan bagus. Fasilitas sangat bagus, kami diberi makan siang gratis yang enak-enak. Tapi aku kebetulan berada dibawah atasan yang buruk saja. Orang itu katanya sudah sering diperingati oleh petinggi perusahaan, tapi tetap saja tidak berubah. Kamu tahu The Royalty? Perusahaan besar yang memiliki berbagai bisnis dibawahnya, termasuk Destiny entertainment yang baru-baru ini terkenal, dan masih banyak lagi.“
Sam tentu saja mengetahui The Royalty, pemilik Gekron itu, Alycia Adhitama, masih bagian keluarga The Royalty.
Sam yang tidak ada kerjaan iseng mencari tahu tentang supir kaya raya itu, ayahnya Alycia, Farelino, ternyata dia masih menantu keluarga pemilik The Royalty.
”Boss? Apa anda masih mendengarkan saya?“ Deva melambaikan tangannya di depan hidung Sam, karena Sam tiba-tiba terdiam seakan sedang melakukan sesuatu.
”Hmm? Oh, maaf… aku mendengarmu. Aku hanya berpikir, kalau kita membeli saham The Royalty, butuh uang berapa?“ Tanya Sam.
Deva berpikir sejenak, ”mungkin sekitar ratusan miliar hanya untuk satu persen saja, itu perusahaan yang sangat besar dan anak cabangnya ada dimana-mana.“
Sam tersenyum lebar, membuat Deva semakin heran. Dan ucapan Sam selanjutnya hampir saja membuat Deva jantungan.
”Ayo kita beli sahamnya! Lima persen aja deh, jangan banyak-banyak.“
”Boss, jangan ngawur ah… bukannya anda ingin membuka perusahaan investasi? Anda butuh banyak modal dan—“
Sam menyimpan mulut Deva dengan risoles, ”jangan banyak bicara, aku tahu apa yang aku lakukan, dan bahkan jika mengeluarkan uang satu triliun, aku masih bisa.“
Deva hanya diam dan mengunyah risolesnya, dia agak tidak percaya, karena jika Sam punya uang sebanyak itu, tidak mungkin kan jika dia masih saja tinggal di rumah sewaan yang kecil di perumahan kecil pula.
Tapi, Deva memilih untuk mengalah saja.
”Baiklah, akan ku bantu… tunggu sebentar.“
Sam menunggu Deva sambil memakan kue buatannya, dan juga minum es kelapa muda yang segar.
”Boss! Ada orang yang menjual saham The Royalty, tiga persen saja, tapi harganya 310 miliar boss, gimana?“
Sam langsung duduk dengan tegak, ”beneran? Kalo gitu sikat aja!“
”Tapi menurutku ini harganya terlalu mahal boss.“
Sam tersenyum lebar sambil menepuk bahu Deva, ”semakin banyak uang dikeluarkan, itu semakin baik Deva, jangan khawatirkan tentang uang.“
”Anda ini sedang serius?“
”Tidak, aku sedang melawak, tentu saja aku serius! Cepat beli sebelum keduluan orang lain!“
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 95 Episodes
Comments
S H 10
hehehe langsung sikat dehh..
/Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
2025-01-20
0
Gabutdramon
hadeh, bau baunya itu dari mc novel lain 😒
2024-10-17
0
Gabutdramon
ehlah sudah kayak masih mau yang hijau
2024-10-17
0