RW 12

Perlahan Derald membuka mata. Raya langsung menghampiri dan berdiri tepat di samping brangkar Derald.

"Bo*doh! Kenapa kau melawan dua orang sekaligus" kata Raya dengan ciri khasnya. Bicara dengan nada ketus. Walau sebenarnya saat ini ia benar-benar khawatir.

"Lalu, jika aku tidak menolongmu, maka siapa yang akan menolongmu?"

"Merepotkan!" Ungkap Raya lalu duduk di sofa dengan menumpukkan kedua kakinya.

Derald tersenyum. Tentu! Di balik sifat Raya yang cuek terdapat wajah yang saat ini benar-benar terlihat khawatir. Namun, Derald bisa tahu, karena saat ini Raya sibuk menggigit kuku jari ibu telunjuknya.

"Pulanglah istirahat." Kata Derald.

"Apa? Istirahat? Bagaimana bisa aku istirahat kalau kau sendiri disini? Siapa yang akan menjagamu? Siapa yang akan membayar biaya rumah sakitmu?"

"Terima kasih sudah perduli."

"Jangan kepedan. Aku cuman kasihan pada diriku. Kenapa harus menikah dengan pria yang tidak punya apa apa dan tidak punya siapa siapa. Kau sudah membuatku repot!" Ucap Raya dan segera berlalu dari kamar inap Derald sebelum Derald mengetahui jika sebenarnya ia benar-benar merasa khawatir. Lagi dan lagi Derald tersenyum karena setidaknya, ia bisa melihat jika ternyata Raya kini sudah mulai sedikit perduli padanya.

...🌱🌱🌱🌱🌱...

"Apa? Siapa yang bayar?" Tanya Raya, saat ingin melunasi biaya rumah sakit dan ternyata sudah di bayar lunas. Raya tentu heran kamar yang ia ambil adalah kamar VIP dan satu lorong ia booking agar tidak ada yang bisa mendekat ke arah kamar inap Derald. Dan ini, saat ia hendak melunasi semuanya ternyata sudah lunas.

"Kami tidak tahu siapa. Tapi dia seorang pria." Jawab salah satu bagian stap rumah sakit.

"Baiklah, berikan bukti pelunasan padaku."

Raya lalu masuk ke dalam kamar inap Derald lalu menatap tajam pada Derald sehingga membuat Derald kebingungan sendiri.

"Ada apa? Apa ada yang salah?" Tanya Derald.

"Hm tidak." Jawab Raya sambil menggelengkan kepalanya.

Ya, ia berfikir mungkin saja ada orang baik di luar sana yang mau membayar biaya perawatan karena jika di pikir-pikir tidak mungkin Derald bisa membayar semua biaya perawatan dan kamar satu lorong. Punya mobil saja tidak, rumah saja subsidi, dan pasti tidak mungkin Derald bisa mampu membayar.

"Ada apa?" Tanya Derald kembali.

"Aku marah. Bisa-bisanya orang menganggapku tidak mampu membayar biaya rumah sakit ini. Dia pikir aku ini miskin, sampai berani membayarnya."

"Kenapa? Apa sudah lunas?"

"Si*al. Siapapun yang sudah membayarnya dia sudah menyinggung perasaanku. Dia pikir aku ini wanita mis*kin. Belum tahu dia kalau aku ini Raya. Rich women." Ucapnya dengan bangga hingga membuat Derald tertawa. "Kenapa tertawa? Kau mengejekku?"

"Berarti ada yang lebih kaya darimu."

Raya menatap tajam pada Derald.

"Baguslah kalau begitu, setidaknya kau tidak berutang uang padaku. Karena hutang mobilmu pun saja belum lunas."

Drama rumah sakit telah usai. Di balik sikap tegas dari Raya ternyata ia benar-benar perduli pada Derald. Selama lebih dari dua hari Raya tidak pergi bekerja. Ia tetap fokus menjaga dan merawat Derald dengan segenap hati. Ya, walau kadang ia tetap selalu membanggakan dirinya dan selalu menyanjung-nyanjung dirinya sendiri. Tapi justru itulah yang membuat Derald semakin suka dengan Raya.

...🌱🌱🌱🌱🌱...

Raya kembali mendatangai Adam's company untuk bertemu dengan pimpinan utama agar bisa kembali menjalankan kerja sama. Namun tetap saja kedatangannya kali ini tetap sia-sia. Karena sang pemilik perusahaan sedang tidak berada di tempat. Raya memukul stir mobil karena merasa sangat kesal.

"Tidak tidak tahu siapa aku. Dia pikir aku akan menyerah?" Gumamnya, lalu kemudian mata Raya tertuju pada mobil yang baru saja berhenti tepat di depan perusahaan.

"Cican?"

Raya langsung keluar dari mobil dan berjalan cepat menghampiri Cican.

"Mbah kunti." Ucap Cican kaget saat tangannya sudah di tarik oleh Raya.

"Cepat!" Raya menarik Cican sehingga Cican mengikuti langkah kaki Raya. Hingga Raya membuka pintu mobil dan menyuruh Cican agar segara masuk.

Brankkk...

Bunyi suara pintu mobil yang tertutup begitu keras sehingga membuat Cican yang sedang duduk di dalam mobil langsung terperanjat kaget dan mengusap da*danya.

"Katakan, siapa pemilik purusahaan ini. Tidak! Maksudku, dimana dia tinggal, dan berikan nomor ponselnya atau emailnya atau apapun itu yang berhubungan dengan dirinya." Tanya Raya dan Cican masih sibuk mengusap da*danya. "Jawab!" Sentak Raya sambil menatap horor pada Cican.

Cican menoleh dan tentunya takut melihat tatapan tajam yang Raya berikan.

"Bagaimana aku menjawab jika pertanyaanmu banyak sekali."

Raya menutup mata sesaat karena merasa kesal dengan pria yang terlihat begitu lemot ini.

"Berikan kartu pengenal pemilik perusahaan ini."

Belum menjawab, perut Cican lebih dulu berbunyi meminta agar segera di isi.

"Aku tidak bisa konsentrasi jika perutku belum terisi."

Lagi, Raya benar-benar di buat kesal dengan tingkah Cican.

Terpopuler

Comments

꧁♥𝑨𝒇𝒚𝒂~𝑻𝒂𝒏™✯꧂

꧁♥𝑨𝒇𝒚𝒂~𝑻𝒂𝒏™✯꧂

hahahaha pasti Raya kaget terus pengsan apabila mendapat tahu siapa pemilik perusahaan Adam's Company yg sebenarnya....

2024-05-09

0

Apriyanti

Apriyanti

nanti kaget kamu raya
lanjut thor

2024-05-07

0

dian Ningsih

dian Ningsih

klo udah tau siapa pemilik perusahaan,, dan orang kaya yg melebihi kekayaannya raya,, (kesombongan d bayar lunas dengan sock terapi 🤣🤣🤣)terkejut bukan main.....

2024-05-07

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!