Derald yang begitu khawatir terhadap Raya, langsung memutuskan untuk mendatangi apartemen milik Raya. Derald memang sudah memerintahkan seseorang untuk terus menjaga istrinya jadi Derald tahu saat ini Raya ada di mana.
Suara bel terus berbunyi, namun Raya yang ada di dalam sana tidak mempunyai niat sama sekali untuk membuka, sehingga membuat Derald semakin gelisah. Derald juga tahu, apa yang terjadi di kediaman Raya, sebab Derald memperkerjakan seseorang agar bisa mengawasi apa yang terjadi di sana.
"Raya.." Teriak Derald namun tidak ada jawaban. Sehingga Derald memutuskan untuk memanggil tenaga ahli agar bisa membuka pintu apartemen tersebut.
Saat pintu sudah terbuka. Derald melarang siapapun untuk masuk. Hanya dirinya, ya, hanya dia yang boleh masuk. Selebihnya hanya boleh menunggu di depan pintu apartemen.
"Raya." Panggil Derald seraya menghampiri Raya dan langsung memeluk tubuh Raya dengan begitu erat. "Please, apapun yang terjadi jangan memilih untuk mengakhiri hidupmu. Ada aku, ada aku yang menyayangimu." Kata Derald hingga membuat Raya membulatkan mata secara sempurna.
"Apapun yang kau inginkan aku berikan. Mobil, rumah perusahaan semuanya. Asal jangan akhiri hidupmu."
Raya mendorong tubuh Derald lalu menatap wajah Derald yang saat ini sudah terlihat begitu panik. Lalu Raya tertawa, menertawai Derald yang menurutnya begitu sangat to*lol.
"Dari mana kau tahu aku ada di sini?" Tanya Raya yang mampu membuat Derald sulit untuk menjawab.
"Dan juga, apa? Apa aku tidak salah dengar? Rumah, mobil, dan perusahaan?" Raya kembali tertawa saat mengingat Derald yang ingin memberikan semuanya. Dan bagaimana bisa pria yang hanya memiliki motor buntut itu begitu percaya diri untuk memberikan semuanya. "Derald jangan berani berkata jika kau tidak punya. Dan juga, siapa yang ingin mengakhiri hidup? Orang hanya ingin menikmati angin malam." Kata Raya seraya kembali masuk ke dalam apartemen. Ya, tadi Raya berdiri tepat di balkon kamar, sambil berpegangan di pengaman dan melihat ke arah bawah. Jadi siapapun yang melihat dari arah belakang pasti akan mengirah Raya akan melompat.
"Raya aku.. " Kalimat Derald menggantung kala Raya berucap.
"Mari akhiri pernikahan ini."
Derald tentu langsung kaget dengan ucapan Raya yang ingin mengakhiri pernikahan ini. Padahal perjanjian mereka tertulis dua bulan lamanya, dan ini. Pernikahan mereka masih menginjak dua minggu.
"Kau lupa dengan perjanjian kita?" Derald memilih duduk di kursi seraya berhadapan dengan Raya.
"Persetan dengan perjanjian jika tidak ada cinta di dalam pernikahan ini."
"Cukup diam. Dan terima cintaku, itu sudah cukup bukan?" Derald lalu memilih berdiri karena ingin menyudahi perbincangan yang ia benci.
"Tapi Derald."
"Tidak ada tapi. Ikuti isi perjanjian itu." Kata Derald. "Dan juga, jangan melakukan hal konyol. Ada aku tempatmu untuk bersandar."
Derald pergi meninggalkan Raya yang termenung menatap kepergian Derald.
"Tunggu, kenapa dia berbicara seperti itu? Apa dia Derald yang aku kenal selama dua minggu ini?" Gumam Raya. "Tunggu, siapa dia sebenarnya?"
Raya lalu berlari keluar dari apartemen dan mendapati hampir semua pria menundukkan kepala saat Derald hendak masuk ke dalam mobil.
"Siapa dia sebenarya?" Ingin sekali Raya memotret apa yang ia lihat, namun sayang karena terburu-buru jadi tidak sempat mengambil ponsel di kamar apartemennya.
Raya langsung buru-buru berlari menuju kamar apartemennya mengambil ponsel dan langsung menghubungi Derald. Tidak butuh waktu lama, Derald langsung menjawab panggilan.
"Dimana?" tanya Raya.
"Di jalan. Kenapa?"
Raya terdiam. "Tidak! Aku tidak boleh gegabah." Batin Raya.
"Aku ingin pulang, apa bisa kau menjemputku? Maaf merepotkan."
"Tunggulah sebentar."
Raya terus berjalan mondar mandir menunggu kedatangan Derald dan saat pintu terbuka Raya langsung menghampri Derald.
"Ayo kita pulang." Ajak Raya dan menarik tangan Derald.
Sesampainya di basemen. Raya tidak melihat mobil yang tadi di naiki oleh Derald, kini hanya ada motor metic yang selalu di pakai Derald untuk mengantarnya kemana pun. Raya langsung menatap Derald dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Ada apa? Ayo, katakan mau pulang." Derald lalu memasang helm di kepala Raya.
"Dia pasti sedang menyamar." Batin Raya saat motor sudah berjalan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
Ririn Nursisminingsih
mkanya raya jg sombong...coba aja hidup apa adanya
2024-10-18
0
🏘⃝Aⁿᵘ3⃣🔰π¹¹™🍒⃞⃟🦅🔵
Lom up kak?
2024-05-14
0
Rytha Itha
lagiii lagii agii😁
2024-05-13
0