Adatama Guntara tentu tersenyum saat tahu jika proyek kembali berjalan seperti semula. Ya, di balik apa yang Raya kerjakan tentu ada Adatama yang selalu memetik hasil dan tentu hasil dari proyek ini nilainya sangat fantastik.
Jika Adatama tersenyum bahagia, berbeda dengan Sabrina. Tentu ia harus memutar balikkan otaknya agar bagaimana bisa sang anaklah yang mengambil andil dan tentunya sang anaklah yang harusnya kelak menjadi pemimpin perusahaan menggantikan Adatama, bukan Rayasi.
"Bagaimana pun caranya. Aku harus membuat keduanya berpecah bela." Gumam Sabrina sambil duduk di hadapan suami dengan kaki yang menyilang betumpuk.
"Sayang, bagaimana jika Raya kembali tinggal di rumah ini." Kata Sabrina, hingga membuat Adatama diam sambil berpikir.
"Sayang, kasihan Raya jika harus tinggal di rumah sempit itu." Bujuk Sabrina dengan wajah di buat sedih.
Aneh bukan? Dulu Sabrina lah yang paling ingin mengusir Raya dari rumah ini, tapi justru sekarang? Sabrina lah yang kembali ingin memanggil Raya agar tinggal kembali bersama. Bukan tanpa alasan, tentu Sabrina ingin mengawasi Raya lebih leluasa lagi.
Adatama masih diam dan berpikir.
Raya pun datang, berjalan dengan langkah tegap dengan tatapan tajam. Raya meletakkan berkas di atas meja.
"Lihat, bahkan aku bisa kembali bekerja sama dengan Adam's company." Kata Raya dengan tegas dan tentu dengan bangga. Karena bisa membuktikan jika dirinya mampu walau dia perempuan.
"Dan untukmu yang bukan ibuku. Jangan pernah memaksaku untuk tinggal di rumah ini. Karena aku baru sadar, jika sebenarnya tempatku bukan di sini, walau sebenarnya semua ini milik almarhum ibuku." Katanya dengan tegas dan berlalu dari sana.
"Rayasi." Panggil Adatama dengan lantang hingga membuat Raya menghentikan langkah kakinya. "Tinggalkan pria miskin itu, dan fokuslah pada proyek ini. Dan satu lagi, rebut hati pemilik perusahaan Adam's company agar mau menikah denganmu."
Tentu perkataan Adatama membuat Raya syok dan membulatkan matanya.
"Maksud ayah?" Tanya Raya tanpa memberitahu siapa sebenarnya pria yang saat ini sudah menjadi suaminya. Ya, walau masih sebatas hitam di atas putih tanpa ada cinta dari Raya.
"Kembali ke rumah ini. Tinggalkan pria mis*kin itu. Dan rebutlah hati pemilik Adam's company."
Raya menarik sudut bibirnya membuat seutas senyum devilnya.
"Apa bayaran jika aku berhasil menjadi istri dari Adam's company?" Tantang Raya hingga membuat Sabrina kaget.
Ya, walau sampai saat ini belum ada yang tahu bagaimana rupa sang pemilik perusahaan, tapi siapapun pria di luar sana pasti akan bisa jatuh cinta pada Raya yang nota benenya memiliki wajah yang cantik dengan body yang sangat sempurna.
"Apapun akan ayah turuti."
Raya langsung menatap tajam Sabrina, lalu beralih menatap wajah sang ayah.
"Ceraikan wanita itu." Pinta Raya yang mampu membuat Adatama dan Sabrina melotot sempurna dan melihat ke arah Raya.
Raya pun tersenyum senang dan berlalu dari sana.
••••••
Di sepanjang jalan Raya terus berpikir tentang pintanya pada sang ayah, apakah sang ayah mampu menuruti keinginannya. Jika memang iya, berarti selama ini sang ayah tidak terlalu cinta pada Sabrina. Seutas senyum kembali mengembang di wajah Raya saat membayangkan Sabrina pergi jauh melangkahkan kaki keluar dari rumahnya. Namun, sedetik kemudian senyum Raya hilang saat pikirannya kembali tertuju pada perkataan sang ayah "rebutlah hati pemilik Adam's company." Yang artinya ada sesuatu yang ayahnya sembunyikan, dan ada sesuatu yang Derald sembunyikan, kenapa harus menutup identitas, dan sang ayah pun tidak tahu jika yang menikah dengan dirinya adalah pemilik Adam's company, bukan pria mis*kin seperti yang mereka tuduhkan.
Taxi pun tiba. Kini Raya berjalan masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan mobil sport yang berwarna kuning yang sudah terparkir rapih di depan rumah kecil mereka.
"Kau sudah pulang? Kau tidak lihat mobil yang kau impikan sudah ada, jadi pernikahan kita tetap berlanjut."
"Hm." Jawab Raya dengan enteng sambil melepaskan tas, dan meletakkan di atas meja makan. Raya lalu menuang air minum dan meminumnya hingga tangkas.
"Kau tidak tanya kenapa aku memberimu mobil itu?"
"Untuk apa? Kau kan Derald Adam. Bahkan dunia ini pun mampu kau berikan jika aku meminta bukan?"
Derald terdiam. Perkataan Raya memang benar adanya.
Raya menatap tajam pada Derald.
"Jika mengatakan pada ayah siapa kau sebenarnya apakah ayah akan menuruti keinginanaku?" Batin Raya.
"Ada apa, apa ada masalah?"
"Perkenalkan aku dengan keluargamu." Pinta Raya yang membuat Derald terdiam.
NOTE :
Assalamu'alaikum reader setia. Maaf tidak bisa up tiap hari, tapi di usahakan. Karena autor lagi sibuk kerja juga.
Tetap stay dan jangan lupa komen, like dan vote. Autor bakalan bagi pulsa 20 untuk 5 orang reader setia.
Terima kasih. 🥰🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
Mariana Riana
bagus raya..jangan mau kena jebakan bunglon..dia baik ada maksud tertentu sm km
2024-06-06
1
Mariana Riana
dasar bunglon😂😂blm tau dia suami raya horang sultan
2024-06-06
1
🏘⃝Aⁿᵘ3⃣🔰π¹¹™🍒⃞⃟🦅🔵
udah berapa hari kak
2024-06-03
0