RW 10

"Nona Raya." Sapa Andre saat masuk ke dalam ruangan sambil membawa tab di tangan kanannya. Raya melihat sekilas lalu kembali fokus pada berkas yang kini ada di hadapannya. "Adam's company tidak menyetujui kerja sama dengan perusahaan anda nona." Ucap Andre sambil berdiri tepat di hadapan Raya dan meletakkan tab di atas meja. Raya lalu melihat isi tab di mana email yang bertuliskan penolakan untuk bekerja sama.

"What? Bukannya perusahaan Adam's sudah tertarik dengan desain kita? Lalu di mana letak kesalahannya?" Raya melihat isi email yang tidak menjelaskan kenapa penolakan terjadi padahal Raya benar-benar sangat berharap pada kerja sama perusahaan besar itu.

"Barusan saya sudah mencari tahu. Dan ternyata pimpinan perusahaan yang menolak. Karena tidak ingin bekerja sama dengan perusahaan yang di pimpin oleh wanita."

GUBRAK.....

Raya memukul meja dengan kedua tangannya dengan mata yang menatap tajam. Sungguh ia tidak percaya dengan alasan yang sangat tidak masuk di akal. Apakah salah jika wanita yang memimpin?

"Tidak masuk di akal." Ucapnya lalu meraih tasnya. Dan berlalu keluar dari ruangan. "Sekarang juga kita ke perusahaan Adam's. Aku ingin bertemu langsung dengan pimpinannya yang melihat aku begitu rendah."

Raya mengatur nafas dengan kedua tangan yang di kepal. Emosi? Tentu! Siapa yang tidak emosi jika proyek yang sudah ada di depan mata harus gagal karena alasan yang sangat tidak masuk di akal. Belum lagi, semua perusahaan pasti ingin bergabung dengan Adam's company. Mengingat perusahaan tersebut adalah perusahaan terbesar di kota dan sudah memiliki anak cabang di setiap kota besar.

...🌱🌱🌱🌱🌱...

Sungguh Raya di buat emosi. Bagaimana tidak? Kehadirannya di Adam's company di tolak mentah-mentah. Dengan alasan jika pimpinan perusahaan sedang tidak ada di tempat.

"Andre, cari tahu tentang pemilik perusahaan ini." Kata Raya sambil duduk di sofa dengan kedua kaki yang bertumpuk.

"Maaf nona. Saya sudah mencari tahu sejak kita mengajukan kerja sama. Dan sampai saat ini saya belum mendapatkan informasi apapun."

"Apa?" Raya heran.

"Betul nyonya. Dan juga, tentang identitas pemilik perusahaan sangat tertutup sehingga bahkan banyak pegawainya pun tidak pernah melihat langsung sang pemilik perusahaan."

"What?" Raya berdiri. Sungguh ia benar benar emosi. Mendengar penjelasan Andre.

Raya berjalan mondar mandir bak sebuah setrika yang sangat sibuk merapikan pakaian. Ia harus segerah mengencerkan otaknya untuk berpikir bagaimana caranya agar bisa bertemu secara langsung dengan pimpinan perusahaan.

"Dia!" Raya melihat Cican yang berjalan masuk mendekat ke arah lift sehingga membuat Raya berlari mengikuti Cican. "Hey! Tunggu! Kau, yang suka makan." Teriak Raya sehingga membuat Cican menghentikan langkah kakinya.

"Mbah kunti." Kata Cican.

Raya lalu berditi tepat di samping Cican dengan kedua tangan yang di lipat di depan da*da. "Kau bekerja di sini?" Tanya Raya tanpa menatap Cican sama sekali.

"Hm. Kenapa?"

"Kau tahu siapa pemilik perusahaan ini?"

"Hm. Kenapa?"

Rata langsung menatap Cican. "Kau mau makan apa? Biar aku traktir. Tapi syaratnya kau harus memberitahuku siapa pemilik perusahaan ini dan di mana ia tinggal, bagaimana caraku bisa bertemu dan juga kalau perlu berikan aku nomor ponselnya."

Cican terdiam sejenak lalu tertawa terbahak bahak di depan Raya, sehingga membuat Raya menatap bingung pada pria yang saat ini ada di sampingnya.

"Lucu? Aneh!"

"Bukankah kau sudah punya nomor ponselnya? Telpon sendiri saja." Kata Cican sehingga Raya menaikkan satu alisnya. "Oh ya, pemilik perusahaan ini orangnya sangat tertutup, jadi jangan harap kau bisa bekerja sama kecuali kau bisa meluluhkan hatinya." Cican langsung masuk ke dalam lift.

"Hey pria suka makan. Apa maksudmu? Kapan aku memiliki nomor ponsel pemilik perusahaan ini?"

"Dia suamimu. Pria yang mencintaimu." Jawab Cican namun tidak dapat di dengar oleh Raya karena pintu lift sudag tertutup.

...🌱🌱🌱🌱🌱...

"Istrimu datang." Kata Cican saat sudah masuk ke dalam ruangan Derald. "Kau tidak ingin menemuinya?" Tanya Cican lalu duduk di sofa.

"Untuk?" Tanya balik Derald.

"Kau tidak melihat wajahnya. Wao sangat menyeramkan. Dia benar-benar jelmaan kunti. Aku saja sampai merinding berdiri di sampingnya."

"Sembarang kau."

"Kenapa di batalkan? Lihatlah dia pasti akan mengamuk. Sudah aku bayangkan seorang Derald akan remuk di tangan mba kunti."

PLAK....

Pulpen mendarat tepat di depan da*da Cican.

"Jaga ucapanmu. Dis istriku bukan seperti yang kau ucapkan."

"Tapi benar. Dia sangat menakutkan. Aku lihat sendiri. Dia sangat marah. Bagaimana ini? Dia pasti akan berusaha mencarimu. Maksudku mencari pemilik perusahaan ini."

"Biarkan. Toh suatu saat dia pasti akan tahu juga."

"Aneh! Mencintai tapi caranya aneh!" Gumam Cican namun masih dapat di dengar oleh Derald sehingga Cican langsung tersenyum kaku saat Derald sudah melayangkan tatapan dinginnya.

Terpopuler

Comments

dian Ningsih

dian Ningsih

kesongbongmu itu bakal jd bomerang neng raya... hati"...

2024-05-02

0

🏘⃝Aⁿᵘ3⃣🔰π¹¹™🍒⃞⃟🦅🔵

🏘⃝Aⁿᵘ3⃣🔰π¹¹™🍒⃞⃟🦅🔵

seruu kak.. aku suka ceritanya

2024-05-01

0

Mariana Riana

Mariana Riana

tu kan..suami mu sendiri raya..eh mom..apa Gerald ini cucu nya arza ya??

2024-05-01

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!