Raya yang sudah membaringkan tubuhnya terlebih dahulu di atas tempat tidur. Membuat seka di antara dirinya dengan mengambil bantal guling dan di letakkan di tengah tempat tidur agar dirinya bisa terhindar dari sentuhan Derald.
"Ingat batasanmu!" Ketus Raya sambil berbaring menatap langit-langit kamar.
Derald tidak menjawab, ia hanya diam dan langsung naik ke atas tempat tidur, sehingga membuat Raya menoleh dengan tatapan siap membun*uh.
"Kau dengar kan?"
"Hm."
Tatapan Raya semakin tajam kala Derald hanya menjawab dengan kata 'hm'.
"Awas saja kalau kau berani menyentuh atau melewati batas. Maka aku akan..." Kalimat Raya terhenti.
"Tidurlah, besok kita sama-sama akan bekerja." Kata Derald dengan mata yang terpejam dan langsung membelakangi tubuh Raya.
Raya sampai membulatkan matanya dan membuka mulunya menganga melihat tingkah Derald yang sangat berbeda dengan pria lain di luar sana. Jika pria lain di luar sana yang saat ini sudah bersama dengan dirinya, mungkin saja Raya sudah di terjang habis-habisan. Tapi ini, justru pria yang sudah berstatus menjadi suaminya ini justru tidur dan membelakangi dirinya.
"Aneh!" Gumam Raya dan juga membelakangi tubuh Derald. Keduanya saling membelakangi saat ini. Dan, Raya tentu dia sangat sulit untuk tidur. Bukam karena luas kamar yang sempit, melainkan ini pengalaman pertama baginya tidur di satu ruangan dengan pria dan bahkan berbagi tempat tidur.
"Apa yang aku harapkan!" Batin Raya sambil menggelengkan kepalanya.
Derald, dia hanya tersenyum tipis merasakan tingkah Raya yang terus saja bergerak sehingga membuat Derald semakin sulit untuk tertidur.
Satu jam berlalu.
Derald membuka matanya dan membalikan posisi menghadap langit-langit kamar. Ia tersenyum saat melihat tangan Raya yang melingkar sempurna di tubuhnya. Dan juga, kaki Raya pun melingkar di tubuhnya. Kini Derald sudaj seperti bantal guling yang nyaman bagi Raya.
"Raya." Ucap Derald dengan tersenyum, bagaimana tidak. Perempuan yang tadinya sudah membuat jarak sejauh mungkin kini datang dengan sendirinya tanpa menyisahkan jarak sama sekali.
Dan, laki-laki mana yang bisa menolak melihat wanita cantik dan sexi jika tidur di sampingnya. Namun, Derald membuanh jauh perasaan itu. Perlahan ia melepaskan tangan dan kaki Raya yang memeluk tubuhnya. Ia lalu merapikan rambut Raya yang menutupi wajah cantiknya. Melihat wajah Raya saja sungguh membuat Derald begitu bahagia.
...🌱🌱🌱🌱🌱...
"Tidak! Aku tidak mau naik ini." Tolak keras Raya saat melihat motor metic yang berada di depan rumah.
Setelah mereka berdua sarapan, kini Derald mengajak Raya untuk berangkat ke tempat kerja bersama menggunakan sepeda motor metic. Namun, Raya menolak dengan keras karena malu dan juga belum pernah merasakan naik motor sejak ia lahir.
"Ya sudah, jalan kaki saja." Kata Derald yang mampu membuat Raya menatap tajam. "Sudah bagus naik motor dari pada jalan." Lanjutnya, lalu kemudiam Derald naik ke atas motor dan membunyikan motornya. Dan tanpa di duga-duga Raya pun naik dengan memasang wajah yang datar. Tentu Derald hanya mampu tersenyum dalam hati. "Pakai ini dulu, biar tidak di tilang polisi." Ucapnya sambil memasangkan helm di kepala Raya. "Pegang yang kuat, aku sudah mau jalan."
Raya yang memang belum pernah merasakan naik motor. Ia langsung memejamkan matanya dengan tangan yang sudah memegang erat pinggang Derald. Tentu Raya merasa sangat takut. Namun ketakutan Raya sirna, saat motor terus berjalan. Raya bisa merasakan naik motor begitu berbeda dengan kendaraan yang selama ini ia gunakan.
"Bagaimana seru?" tanya Derald dan tidak mendapatkan jawaban.
Kini motor telah tiba di dekat perusahaan milik Raya. Raya langsuny turun tanpa menoleh atau berucap kata sepatapun.
"Raya." Panggil Derald sehingga membuat Raya menghentikan langkah kakinya.
"Apa!"
Derald melangkah lebih mendekat.
"Awas! Jangan dekat-dekat. Aku tidak mau orang salah paham." Ucap Raya.
Dan Derald langsung melepas kaitan helm di bawah dagu Raya. Dan memperbaiki rambut Raya yang sedikit berantakan. Gerakan spontan Derald membuat Raya tentu terus menatap wajah tampan Derald dengan jarak yang begitu dekat.
"Ada apa denganku?" Batin Raya, saat menyadari jika jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Aku pergi dulu. Jangan lupa, makan siang biar penyakit maag mu tidak kambuh." Kata Derald dan berlalu dari sana.
Raya tentu masih menatap kepergian Derald. Lalu Raya, memegang da*danya. "Apa ini? Apa aku sakit?" Gumamnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments
🕸️
hayo loo... Raya.. ada apakah gerangan yang mulai kau rasakan..
lanjut kk thor... makin seru nih😘
2024-04-25
0
Mariana Riana
emang km lg sakit raya..tp sakit km ini beda..sakit Krn km mulai jatuh cinta sm derald..hati2 dengan jantungmu raya..bakalan makin kenceng berdenyut klu km tau pas km lg tidur km pluk2 tu derald😂😂
lanjut kak🥰
2024-04-25
1
Rifa Endro
ya sakit, sakit jantung
2024-04-24
0