"kalau kau hanya ingin mengajakku bertengkar, sebaiknya jangan datang ke kamarku!" Ucap Shuvin dengan nada kesal.
Evan diam, dia menatap tidak nyaman pada Aaron yang entah bagaimana bisa di kediaman mereka, mana berduaan pula dengan istrinya.
" Kau... Kenapa kau datang ke sini!? Bukankah kau ingin menyerang kami lagi!?" Protes Evan yang seketika itu mengalihkan pembicaraan.
Aaron berdiri, dia tersenyum mengejek Evan," Nyonya Duchess yang mengundangku, dan lagi aku menyelamatkan nyawanya, tidak seperti seseorang yang meninggalkan istrinya sendirian di desa perbatasan yang penuh dengan bahaya," ejeknya seraya menertawakan kebodohan Evan selama ini.
"Kalau begitu!" Aaron menatap Shuvin sambil mengedipkan sebelah matanya," aku pasti akan menepati janjiku my love," godanya.
" Mulai besok, my love dapat melihat perdamaian antar kota yang sudah kita rencanakan!" Ucap Aaron seraya mengecup punggung tangan Shuvin dengan romantis.
Shuvin hampir saja tertawa terbahak-bahak. Entah apa yang dipikirkan bocah itu, tapi dia senang dengan kelakuan absurd Aaron yang sangat menghiburnya.
"Aku menantikannya!" Ucap Shuvin dengan nada yang sama.
Aaron tersenyum," ahh seandainya my love masih sendiri, aku pasti akan membawamu menjadi putri mahkota di kerajaan ku, tapi sayang tidak ada kesempatan, " ucapnya memancing amarah pria tampan yang tengah meradang di ujung sana menatap drama romansa dua sejoli itu.
"Ahhh... Kau benar, seandainya saja aku bebas, suamiku tidak mencintaiku tapi mengikatku dalam pernikahan, tak apa Aaron, selama aku bisa melayani rakyatku dengan benar!" Balas Shuvin mengikuti permainan Aaron.
Aaron tersenyum, jujur saja dia sedang menahan tawa sekarang. Apalagi melihat wajah masam yang ditunjukkan Evan pada mereka.
Aaron memeluk Shuvin," kak, aktingmu bagus hahahahahah... Aku ingin tertawa, perutku sudah keram!!" Bisiknya.
"Pffthh... Aku juga hahahahah... Kembalilah hari ini, sampai bertemu besok, aku menantikan kerjasama kita!" Bisiknya.
Keduanya saling memandang satu sama lain, seolah tak ingin dipisahkan. Aaron masih menggenggam tangan Shuvin bahkan enggan melepasnya.
"Ekhmm... Apa masih ada urusan di tempat ku yang mulia putra mahkota!?"
"Bukankah anda harus memikirkan pernikahan anda dengan putri kerajaan York!" Tukas Evan menyinggung jodoh yang sedang diperbincangkan seluruh dunia saat ini.
Shuvin terkejut, tapi Aaron tetap bersikap tenang," Aaron?" Tanya Shuvin terkejut.
Dia jelas tahu apa tujuan kerajaan York melakukan itu. Sungguh sebuah keputusan yang menyakitkan bahkan bagi Aaron.
"Tidak apa, aku bisa menangani nya," balas Aaron sambil tersenyum manis.
Shuvin menggenggam tangan Aaron khawatir," kenapa kau tidak bilang ? Apa yang akan terjadi? Aaron... Kau tidak boleh!" Ucap Shuvin.
Aaron mengusap punggung tangan wanita itu," tenang saja, aku ini seorang Aaron yang hebat, tidak akan kalah dengan kerajaan kecil itu," ucapnya sambil tersenyum.
Shuvin tidak bisa tenang. Kerajaan York tidak bisa dianggap remeh, jika putra mahkota kerajaan Maltis menikahi putri kerajaan York maka hanya ada dua kemungkinan, Maltis dikendalikan oleh York atau York dikendalikan oleh Maltis!
Aaron pergi setelah berbincang cukup panjang dengan Shuvin. Seperti biasa, hatinya yang selalu sesak dan gelap penuh kesedihan selalu lega setelah berbincang dengan wanita yang kini dia akui sebagai kakaknya itu.
"Akhirnya Bu... Akhirnya ada yang menatapku seperti engkau menatapku sebelum kau pergi, tatapan khawatir itu, tatapan sedih itu, dan tatapan penuh kasih itu, hatiku bisa merasakannya kembali!" Ucap Aaron sambil memandang langit.
Kedua pelupuk matanya sampai berlinang air mata. Perasaannya berkecamuk, rasa lega dan rasa rindu akan sosok Ibunda yang sangat dia sayangi akhirnya terpuaskan setelah bertemu Shuvin.
"Ahhh seandainya aku bertemu denganmu lebih dulu, aku pasti akan sangat bahagia," batinnya.
Aaron dengan kawalan anak buahnya juga pasukan ksatria Lala Land meninggalkan desa perbatasan itu. Pria penuh bakat juga kuat itu telah menemukan jalannya dan menemukan tujuan besarnya untuk menaklukkan negeri York!
"Pernikahan politik memang penting, tapi hubungan baik dengan Lala Land lebih penting, ada seseorang yang harus ku lindungi di kerajaan ini!" Ucapnya penuh semangat dengan tatapan liar bak serigala mengamuk yang siap menerjang musuhnya.
Saat dia melewati lorong kediaman, dia berpapasan dengan Dasha, pelayan pribadi Shuvin yang terlihat sangat lembut dan cantik.
"Kenapa aku tidak merasakan langkahnya, gadis ini bisa menghilangkan jejaknya, siapa dia!?" pikir Aaron seraya melirik Dasha.
Sementara itu, di kamarnya, Shuvin hanya diam, dia tak mau menyapa Evan yang baru saja tiba tapi sudah mengajaknya bertengkar.
Shuvin memilih untuk kembali terlelap mengingat tubuhnya terasa begitu sakit karena pekerjaan yang menumpuk beberapa hari ini.
Sang Duke seperti anak anjing yang ketakutan.
Dia tidak membuka suara bahkan tak memanggil Shuvin lagi setelah Aaron pergi. Dengan langkah pelan dia mendekati Shuvin dan duduk di bibir kasur.
Tangannya dia taruh di kening wanita itu, dapat dia rasakan suhu tubuh Shuvin yang tinggi.
"Apa yang sudah kau lalui selama ini?" Batinnya penuh penyesalan.
Dia duduk di sana tanpa berbicara, hanya menatap wajah Shuvin sampai akhirnya dia bisa mendengar suara dengkuran halus pertanda istrinya sudah terlelap dengan tenang.
Evan mengusap lembut surai perak sang istri, wajah cantik dan lembut itu, bagaimana bisa dia mengabaikan Shuvin tanpa tahu kebenarannya?
Shuvin mengorbankan dirinya dan pernikahannya demi menyelamatkan Evan dari jebakan putra mahkota kerajaan Chester. Tapi Evan malah berpikir bahwa Shuvin hendak mencelakainya.
Berkali kali Evan melakukan hal berbahaya yang hampir saja merenggut nyawa istrinya, apalagi saat ini, Shuvin dipaksa tinggal di perbatasan yang sewaktu-waktu dapat terjadi pemberontakan dan perang yang mengancam jiwa.
Tatapannya tampak sendu.
Bukan tanpa alasan Evan memiliki sifat kejam dan keji itu.
Dia telah bertemu dengan bermacam-macam manusia dan kebanyakan dari mereka selalu menusuknya dari belakang.
Termasuk mendiang Duke dan Duchess sebelumnya, ayah dan ibu kandung Evan yang mendorongnya ke jurang maut. Mendidiknya dengan keras sejak kecil, dengan sengaja mengucilkan dan membencinya untuk mengubahnya menjadi manusia keras hati dan dingin seperti saat ini.
Tujuan mereka adalah untuk menciptakan boneka wilayah kekuasaan Lala Land yang bisa mereka kendalikan karena kakak Evan tidak bisa melakukannya.
Tapi sayangnya, semua itu hanya angan semata, karena mereka meregang nyawa dalam perang antar wilayah dua belas tahun lalu.
Tanpa Duke sadari dia terlelap di samping istrinya dengan perasaan sakit. Hati yang setiap hari hancur mengingat betapa keras dan betapa kejamnya kehidupan yang dia jalani.
Membuatnya selalu was was dan ketakutan bahkan dalam tidurnya. Dadanya terasa sesak, dia seolah tak bisa bernafas, mimpi kejam itu selalu menghampirinya begitu dia memejamkan mata.
Buliran kristal bening mengalir dari kedua pelupuk matanya.
"Aku hanya ingin hidup bahagia... Aku tidak butuh gelar dan kekuasaan, aku hanya ingin merasakan sedikit saja rasanya bahagia... Akhhh...." Duke menangis dan merintih kesakitan di bawah alam sadarnya.
Tapi Shuvin yang ada di sampingnya seketika tersentak kala merasakan getaran hebat dari tubuh pria itu.
Shuvin terbangun, dia mendengar gumaman lirih, bahkan ranjang itu sampai gemetar karena mimpi Evan.
Shuvin menatap nanar ke wajah tampan yang penuh dengan penderitaan itu. Hati Shuvin sakit, seolah dicabik-cabik oleh cakar tajam.
Tangan Shuvin bergetar, diusapnya lembut pipi sang Duke yang terlihat sangat menderita. Seketika Shuvin mengingat dirinya yang dulu selalu menangis dalam kesesakan bahkan ketika dia baru saja terlelap.
"Kenapa? Apa yang kau alami Duke? Kenapa rasanya dadaku yang sesak? Hiks hiks hik.... Hatiku sakit melihatmu seperti ini...apa yang terjadi??" Ucap Shuvin yang bisa merasakan kesedihan, kesepian dan kesendirian yang menjerat pria itu.
"Tenanglah Evan... Tenanglah..... Aku di sini... Aku di sini, disampingmu," ucapnya pelan sambil memeluk Evan dalam rengkuhan tubuhnya yang ramping.
Dia memeluk pria itu erat-erat, seolah sedang memeluk anaknya sendiri. Hingga akhirnya Shuvin ikut terlelap bersama suaminya di bawah sinar purnama yang bersinar indah.
Kilat cahaya yang begitu indah ditemani ribuan kunang-kunang melingkupi pasangan pemimpin wilayah Lala Land itu. Alam bergemuruh, hutan bergerak lembut di bawah rayuan sang angin yang nakal, membawa mimpi bagi keduanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
Hana Agustina
Thor keren banget karyamu ..
2024-03-30
0
Evita Mala
thanks ya thor
udh up bnyak skli
krn novelmu lgi seru2ny jd klw up ny sdkit itu bkin greget
2024-03-26
0