Shuvin berhasil menghindar, tapi pelakunya tidak. Batu kecil itu mendarat tepat di dada kanannya yang membuatnya jatuh dan ambruk seketika di balik semak belukar itu.
" Kena kau keparat!" Teriak Shuvin melengking.
"Pengawal, ada penyusup!!" Teriaknya histeris sambil berlari secepat kilat menuju semak-semak itu, tanpa sedikitpun rasa takut dalam dirinya.
Para pengawal langsung berlari, bahkan pria yang mengawasi Shuvin tadi sampai melongo dan langsung menyelonong begitu saja menghampiri mereka.
Shuvin dengan kasar menarik pria dibalik semak itu, tenaga tubuh kecil Shuvin membuat semua pria terbelalak tak percaya. Dengan satu tangan dia menarik pria besar yang terkapar sesak nafas di atas tanah.
"Dasar keparat, kau hampir membuatku mati!!" Kesal Shuvin.
"Tangkap dia, dan periksa, dia mencoba membunuhku tadi!" Ucap Shuvin penuh amarah.
Nafasnya terasa sesak, pandangannya mulai kabur dan kepalanya terasa sangat pusing.
"Loh... Nyonya.. Nyo-Nyonya!!" Teriak mereka panik kala melihat tubuh Shuvin mendarat kasar di atas tubuh seseorang yang tak lain adalah Duke Evan yang ada di kediaman sejak tadi.
Duke Evan dalam perjalan mengambil dokumen yang tertinggal, dia malah merasakan pergerakan aneh hingga Suara Shuvin membuatnya berlari dan menemukan Shuvin pingsan setelah terluka.
" Panggilkan tabib!" Titah sang Duke dengan tatapan tajam penuh intimidasi yang berhasil membuat siapapun bergidik ngeri saat menatap wajah itu.
Shuvin dilarikan ke kamar, sedang pelaku pemanah itu diikat dan dikurung dalam penjara bahwa tanah kediaman itu.
Duke berlari sekuat tenaga sambil membawa istrinya yang terkulai lemas dengan luka menganga di lengan kirinya.
" Shuvin bangun!"
"Bangunlah, cepat bangun!"
"Shuvin!!" Panggilnya berkali-kali sambil berlari dengan panik.
Entah apa yang menghantuinya, dia berlari begitu khawatir saat sang Duchess tak sadarkan diri. Yang lebih mengherankan, seisi kediaman itu mengikutinya di belakang. Tidak seperti seseorang yang membenci Shuvin, mereka terlihat khawatir pada wanita itu.
Shuvin diletakkan di atas pembaringan, tabib dengan cepat memeriksa kondisinya.
Tak butuh waktu lama, sang tabib telah menyelesaikan tugasnya dan memberi beberapa ramuan pada Shuvin.
"Apa yang terjadi? Apa dia terkena racun!?" Tanya Evan penuh harap bahkan sedikit berbinar.
"Sungguh memalukan, apa wajah Duke harus bersinar saat melihat istrinya dalam bahaya!?" ejek Lera dalam hati.
Dia berharap sesuatu yang besar terjadi pada Shuvin, jujur saja dia berharap wanita itu musnah saja dari muka bumi ini.
"Nyonya sudah kembali ke kondisi aman tuan, racunnya sangat kuat dan membunuh, ternyata tubuh nyonya memiliki tingkat resistensi yang tinggi terhadap racun,"
"Ini artinya racun apapun tidak akan mengancam nyawa nyonya," terang sang tabib.
"Nyonya pingsan karena syok juga... Ekhmm... Kekenyangan, beliau sedang tidur sekarang!" Tuturnya.
Pffthh...
Dibarisan luar, para pelayan dan pengawal yang mendengar ucapan tabib menahan tawa mereka setelah mendengar keadaan sang nyonya. cepat-cepat mereka undur diri dari sana sambil mengulum senyum
"Antarkan tabib keluar!" Ucap Duke sambil memijit pangkal hidungnya yang setinggi gapura kabupaten itu.
Dia bertolak pinggang sambil menghela nafas kesal, baru saja dia senang dengan berharap Shuvin terkena racun itu dan meregang nyawa atau setidaknya sakit-sakitan, tapi kenyataannya Shuvin malah selamat dan pingsan karena kekenyangan!
"Yang benar saja, sial!" Umpatnya kasar.
Dia menyadari sesuatu yang salah, dia menatap tangannya yang gemetar," ada apa denganmu, kenapa aku gemetar!? Harusnya aku senang dia celaka!" Ucapnya heran.
Pasalnya, setiap kali dia gemetar, itu menandakan tubuhnya sedang ketakutan, takut akan kehilangan orang di sisinya lagi sama seperti ketika dia kehilangan kasih sayang keluarga nya.
"Sial!" Umpatnya ke udara.
Dia mendengus kesal sambil menatap Shuvin yang tidur dengan sangat nyenyak setelah makan besar pagi tadi.
Dengan wajah kesal Duke melemparkan bokongnya ke atas kasur, dia melonggarkan ikatan di lehernya, lengan bajunya dia gulung ke atas menampakkan ototnya yang indah.
"Hari yang penuh kejutan Shuvin, kau berhasil menghancurkanku perlahan-lahan, setiap hari!" Ucapnya penuh kekesalan.
Di saat yang sama, Gray si pendekar kepercayaan Duke tiba dengan sebuah informasi di tangannya.
"Duke, anak panah ini berasal dari kamp militer!"
"Kualitasnya sangat jauh berbeda dengan anak panah yang dijual dipasaran, jangan-jangan musuh perbatasan sudah menyusup ke desa ini" ucap Gray dengan panik.
"Bukankah kita harus melenyapkan desa ini jika itu terjadi!?" ucap Gray dengan nada provokasi.
Evan menatap panah itu lalu menatap Shuvin bergantian. Dalam pikir nya terbersit pikiran ingin menusuk perut Shuvin dengan menggunakan ujung anak busur itu.
"Sial!"
"Apa yang sedang ku pikirkan!" Umpatnya dengan tatapan psikopat yang membuat Gray bergidik ngeri.
"Di mana orang itu!?" Tanya Evan dengan nada datar.
"Di penjara bawah Tanah tuan, "
"Dan..." Gray menggantung ucapannya.
"Katakan!"
"Emm.... Sepertinya, ada yang aneh dengan nyonya, dia seperti orang yang berbeda..." Gray menjelaskan apa yang terjadi hari ini di kediaman.
Semua kejanggalan yang ditunjukkan Shuvin yang berhasil membuat semua orang tercengang. Bahkan Evan yang mendengarnya sendiri sampai melongo tak percaya.
Evan melemparkan tatapan tajam di bawah alis tebalnya pada sang Duchess.
"Berubah? Hah!"
"Tidak mungkin wanita jahat ini berubah!" Ucapnya tidak percaya. Dia mengibaskan jasnya, lalu pergi dari sana dengan wajah dingin.
Duke Evan sangat membenci istrinya sendiri, bahkan kebenciannya terlihat jelas di wajahnya. Dia bahkan sudah menentukan penerusnya agar dirinya tidak perlu menyentuh Duchess untuk melahirkan penerus.
Gray melirik Duchess sebelum dia pergi, terbersit sebuah senyuman misterius di wajahnya sebelum dia menghilang di balik pintu kamar itu.
"Puhhh... Hahh!!!"
"Hah...sialan!" Shuvin menghirup udara dengan rakus lalu duduk di atas kasur dengan nafas tersendat-sendat. Dia tidak tidur!
Dia mendengar semuanya, mendengar dan melihat bagaimana kebencian sang Duke begitu dalam padanya.
Air mata kembali mengalir, mungkin reaksi tubuh pemilik yang haus akan kasih sayang tapi tidak seorangpun mengerti.
"Sialan, Duke sialan!" Umpatnya sambil memukuli bantal yang dia peluk.
Shuvin menepuk wajahnya, ini saatnya menunjukkan pada mereka, kalau dirinya sudah berubah.
"Wahhh... Shuvin, kita memiliki banyak musuh!"
"Anak panah dari kemiliteran ya? Bahkan saat melihat ku jatuh, pria berengsek itu tidak marah dan tidak menghukum penjaga yang tidak menjagaku dengan benar!"
"Dia dengan santainya menatap anak busur itu dengan niat menusukku?" Bibir Shuvin miring, dia tersenyum jahat.
Jika sang Duke tidak membutuhkannya, maka dia pun tidak membutuhkan pria itu.
"Busur kemiliteran?" Pikirnya. Dia berpikir keras, jika sampai busur kemiliteran dari pihak lawan tiba ke kediaman ini, maka artinya Duke mengantarkan istrinya sendiri kepada maut.
"Wahh... Hahaha... Jadi dia ingin membunuhku di desa ini? Pantas saja dia bersikeras memintaku tinggal d sini, di tempat berbahaya ini!"
"Tanpa tahu siapa pemilik tubuh asli ini!?" Shuvin bermonolog sendiri. Dia menertawakan dunia kejam yang harus dilalui oleh Shuvin, baik dirinya maupun pemilik tubuh terdahulu.
Lama dia berdiam diri di kamar. Tak seorangpun masuk untuk memeriksanya, dapat dia mengerti kalau orang-orang di kediaman itu masih belum percaya padanya.
Saat dia duduk di sana, dia mendengar suara kereta kuda yang baru saja tiba. Cepat-cepat kedua kakinya beranjak menuju jendela, dibukanya tingkap itu dengan lebar untuk melihat siapa yang tiba.
Ternyata bukan tamu, melainkan Duke sedang membawa semua barang pribadinya untuk pergi dari kediaman itu, meninggalkan Duchess sendirian.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
Sea Moon
next Thor
semangat
2024-03-25
1