Bibir Shuvin menyeringai, tapi entah kenapa rasanya terlalu sakit di hatinya. Dia bisa merasakan penderitaan pemilik tubuh karena perasaan itu kini miliknya.
"Hey, apa kalian akan berkeliling atau liburan!?" Shuvin duduk di pinggir jendela dengan kedua kaki menggantung di udara. Gaun tipisnya tertiup angin, rambut silvernya yang panjang melambai-lambai.
Duke Evan, Gray dan Kepala pelayan alias butler Juan menoleh dengan tatapan terkejut.
"Tuan, nyonya bangun secepat itu!" Ucap Gray tak percaya.
Evan hanya mengernyitkan keningnya sambil menatap datar pada Shuvin. Dia bahkan tidak marah saat gadis itu memanjat ke pinggir jendela dan berdiri di sana. Salah sedikit saja, gadis itu hanya tinggal nama.
"Pergilah, bukankah kau mengatakan aku harus merenung dan tinggal di desa ini? Aku akan menurut dan tidak mempermalukan mu suamiku!" Ucap Shuvin sambil melambai dengan senyuman manis, kedua matanya menyipit, pipi chubbynya terangkat, sangat mempesona.
Evan sampai terhenyak, "setan apa yang merasukinya?" Pikirnya. Padahal beberapa waktu lalu ketika Evan membuat keputusan itu, Shuvin merengek, marah dan menangis histeris karenanya. Tapi sekarang, Shuvin malah dengan santainya melambaikan tangan dan mengantar kepergian suaminya.
"Terserah, mau kau mati di sini, bukan urusanku!" Ucapnya dengan kasar.
Jleb!
Hati Shuvin terasa sakit dan pedih. Sepertinya perasaan nya pada sang Duke sudah sangat dalam. Tapi Duke selalu berharap dia mati.
"Ahh.... Aku juga tidak membutuhkan pria yang membayar prajurit untuk membunuhku, oh iya, racun dalam anggur itu tidak sanggup membunuhku Evan, pikirkanlah cara lain yang lebih baik!" Ucap Shuvin sambil melangkah ke sana kemari di atas tiang penyangga yang ukurannya hanya sebesar telapak kaki Shuvin.
Degh!!
Evan terdiam dengan wajah cengo, dia sontak melemparkan pandangannya pada Shuvin," dia tahu!?" Ucapnya dalam hati.
"Tapi, racun? Racun apa maksud nya!?" Ucap Evan sambil menatap Gray.
"Saya tidak mengerti tuan!" Balas Gray menunduk.
Gray meremat jemarinya, sambil mengeraskan rahangnya, dia melirik sinis ke arah Shuvin terlebih pada Evan.
"Bagaimana ia bisa tahu!?" Ucap Gray dalam hati.
Sebelum nya, Evan membayar prajurit untuk melukai Shuvin agar pernikahan mereka batal tapi rencana itu gagal karena Shuvin menghilang sebelum pesta. Tetapi racun yang dimaksud Shuvin bukanlah rencananya, membuatnya sampai bingung tapi tak melanjutkan rasa penasarannya.
"Semua itu karena dosamu yang besar, pasti banyak yang ingin dirimu mati Shuvin!" Ucap Evan sebelum dia masuk ke dalam kereta.
"Termasuk dirimu bukan? Suamiku? Atau kau... Gray!" Ucapnya dengan lantang sambil berdiri tanpa berpegangan pada jendela, menunjuk keduanya bergantian.
Swoosshhhh....
Angin dingin bertiup kencang, membuat tubuh Shuvin gemetar kedinginan. Kedua kakinya bergetar, membuatnya oleng dan kehilangan keseimbangannya.
Dia bergerak ke kanan dan kiri, sambil menatap tumpuan kakinya yang tiba-tiba terasa oleng.
"Nyo-Nyonya!!"
"Shuvin hati-hati!!!" Pekik Evan yang sontak berlari mendekati bangunan dengan wajah panik.
Shuvin kehilangan keseimbangannya," waduh, mati aku!"
"Bye bye dunia Pulu-pulu!!" Teriaknya.
Tetapi reaksi tubuhnya berkata lain. Shuvin melompat dengan sigap dan cepat, menumpu telapak kakinya pada tiang rumah lalu...
Hap!!
Dia mendarat sempurna di atas halaman setelah hampir meregang nyawa karena terjatuh dari lantai dua.
"Fyuuhhh.... Matinya di cancel dulu, hhahhhahahahaha..." celetuk gadis itu sambil tertawa bahagia, entah dengan siapa dia berbicara, tapi wajahnya nampak sumringah.
Shuvin memiliki kemampuan bela diri yang hebat, sebelum didiagnosa mengidap kanker, dia adalah siswa berprestasi yang ikut dalam ekskul taekwondo dan boxing. Tak disangka, pemilik tubuh itu juga memiliki kemampuan yang sama, kemampuan hebat dalam seni beladiri.
"Huh..."
"Sepertinya, gadis ini adalah diriku di masa lalu!" Ucapnya menyimpulkan.
Sebab kesamaan karakter, fisik terutama, suara, dan bakat sangat tidak masuk akal. Bagaimana bisa seseorang bisa persis sama seperti itu?
Tiba-tiba kepala Shuvin berdengung, dia memekik hebat sambil menekan kepalanya, dia sampai berjongkok saking sakitnya.
Dia melihat sesuatu, sosok perempuan, dirinya!
"Apa ini!??" Ucap Shuvin termangu.
Gadis yang memiliki wajah yang sama dengannya tersenyum lembut sekali. Oh.. ingin rasanya Shuvin memuji, tapi bukankah ini sama saja memuji dirinya sendiri?
"Akhirnya kamu menyadarinya, mulai detik ini semua akan berlanjut di tanganmu, aku adalah kamu, kamu adalah aku,"
"Semoga kamu menemukan kebahagiaan mu Shuvin, karena di masa depan, aku juga akan melakukan hal yang sama!" Ucapnya sambil tersenyum lembut sebelum dia menghilang dibalik sinar terang bak ledakan cahaya itu.
"Arrkhhh.... Sial!"
"Heh... Kembaranku, cecan manis, sini dulu, jangan langsung nyelonong ae!!" Teriaknya kencang. Dia masih butuh penjelasan detail, tapi perempuan itu sudah menghilang dengan senyuman semanis gulali yang bikin Shuvin diabetes.
"Nyonya!"
"Nyonya, anda baik-baik saja!?" Suara Baroness Michelle menyeruak di telinga Shuvin, membuatnya segera berdiri sambil memegangi kepalanya yang sakitnya sangat menyebalkan.
"Sial, rasanya seperti kepalaku dibor dengan bor listrik!" Umpatnya di depan semua orang yang menatapnya dengan panik, terutama Duke Evan.
"Shuvin!!" Teriak pria itu melengking sampai membuat telinganya Shuvin berdengung.
Gadis itu menoleh dengan tatapan tajam, alisnya berkedut kesal karena suara teriakan Evan.
"Aku nggak budeg Evan gila!!" Kesalnya sambil mendorong Evan menjauh darinya.
Evan dan semua yang ada di sana terdiam melongo tak percaya dengan apa yang sedang mereka saksikan saat ini. Shuvin yang ada di depan mata mereka benar-benar aneh!
Dan bahasa itu, bahasa apa yang sedang dia gunakan saat ini!? Apa itu bahasa bangsa asing !? Tapi bangsa apa!?
"Huh.... Menjauh dariku!" Ucapnya dengan gamblang setelah membuat semua orang khawatir atas tindakannya yang gila dan ekstrim.
"Kau!!" Evan menatap Shuvin sambil memelototinya dan mengeraskan rahangnya. Perempuan itu benar-benar semakin menguras kesabarannya.
"Kita pergi!" Ucapnya dengan kesal.
"Dan kau!" Dia menunjuk Shuvin dengan wajah geram,"kau harus tinggal di sini sampai aku setuju kau kembali ke mansion utama!" Tegasnya.
Shuvin hanya menyeringai, jika mengingat perasaan pemilik tubuh yang sebenarnya, hati Shuvin ikut terasa sakit. Perempuan itu hanya butuh kasih sayang dan orang yang mengerti dirinya, tapi karena semua orang bahkan suaminya sendiri menjerumuskannya dalam kegelapan, mau tidak mau dia berubah menjadi karakter Villain yang sesungguhnya.
"Salam Lala Land Duke of Lala Land, Dewa Kemakmuran menjagamu!" Ucap Shuvin memberi salam lalu pergi dari sana tanpa mengatakan apapun lagi.
Rahang Evan hampir terjatuh ke bawah, inikah istrinya yang sebenarnya? Tapi kenapa Shuvin berubah secepat itu!?
"Apa lagi yang dia rencanakan kali ini, dasar perempuan sialan!" Umpatnya dalam hati. Dia melangkah dengan tegas, tanpa menoleh istrinya. Dia tidak peduli.
Tetapi sedetik kemudian langkahnya berhenti, dia merasakan kegelisahan aneh di dalam dadanya untuk sesaat, seolah kepergiannya kali ini akan membawa bencana bagi istrinya.
Evan membulatkan tekadnya, dia tidak boleh ragu lagi, jika ingin segala urusannya berjalan lancar, maka Shuvin harus tetap tinggal di Green Village agar tidak melakukan kerusuhan tidak berarti di ibukota wilayah kekuasaannya.
"Ada apa denganku!? Perasaanku tidak enak," batinnya heran.
"Gray, kita berangkat, "ucapnya dari dalam kereta kuda.
"Baik tuan!" Balas Gray yang menaiki kuda miliknya sendiri.
Gray menatap sekilas ke arah kamar sang nyonya, kepalanya miring sedikit sambil menatap ruangan itu, " Hanya perasaanku, atau wanita jalang itu sudah tahu semuanya?" Batin Gray.
Sementara itu, di dalam bangunan, Shuvin tampak menatap Gray dari kejauhan. Dalam ingatannya, Gray bukanlah sosok yang bisa dipercaya. Kenapa begitu? Mungkinkah Gray pengkhianat?
"Tertangkap kau pria berengsek!" Ucapnya sambil menggenggam sebuah pin berkilau milik keluarga bangsawan yang dia temukan di dalam kamarnya bersama sebungkus bubuk putih dalam kantung kulit hewan yang adalah racun, juga bulu hewan pengerat yang dia kumpulkan dari makanan yang dia konsumsi selama ini.
Racun yang digunakan untuk melenyapkan Shuvin dari muka bumi ini.
"Evan.... Lihat saja akan ku buat kalian menyesal!" Gumamnya seraya mencengkram benda-benda aneh itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
Oi Min
ternyata Shuvin bukan gadis bodoh dan lemah....... bagus2..... dia hrs lbh kuat, pintar, berani dan jga cerdik utk bsa hidup di dunia yg penuh dg intrik ini
2024-08-10
1
Sea Moon
next kk
semangat
2024-03-25
0
Evita Mala
kurang thor lg seru2 ny in
2024-03-25
0