Setelah bertemu anak dan ibu tadi, hati Shuvin menjadi tidak tenang. Dia mengelilingi seperempat bagian desa dan menemukan orang kesusahan di berbagai sudut. Padahal pemandangan desa itu sangatlah menakjubkan, tapi apa gunanya pemandangan indah kalau rakyatnya miskin dan diteror ketakutan akan perang setiap hari.
Flashback end...
...****************...
Shuvin tiba di area perbatasan yang dijaga ketat oleh pasukan ksatria militer dari wilayah Lala Land. Terlihat jelas area itu dipenuhi ketegangan setiap saat. Pasalnya gerbang perbatasan Lala Land berhadapan langsung dengan gerbang perbatasan Kerajaan Maltis tepatnya dataran Kiros yang dikenal dengan bangsa bar bar dan keras kepala.
Pasukan yang sedang berjaga dikejutkan dengan kehadiran sang Duchess bersama dengan Tristan, kepala Ksatria yang memimpin pasukan itu.
"Beri salam pada Duchess of Lala Land!" Seru ajudan Tristan.
"Salam kemakmuran Lala Land, selamat datang Duchess!" Seru mereka kompak.
Shuvin mengangkat tangannya pertanda dia mengerti, "tidak perlu buat pengumuman akan kedatanganku ke barak ini, atau kalian melakukannya dengan niat aku dibunuh negara tetangga!?" Ucap Shuvin dengan nada dingin.
Tristan dan pasukannya terhenyak, semuanya tak menyangka akan mendengar jawaban sarkas itu keluar dari Duchess yang dikenal haus akan pujian itu.
"Maaf atas kecerobohan kami Duchess," ucap Tristan.
Shuvin mengangkat tangannya tak peduli, dia melangkah menuju tembok perbatasan, menatap dan menganalisa kekuatan perbatasan itu hingga dia melangkah ke gerbang pembatas yang jika dibuka akan bertatap muka secara langsung dengan pasukan negara Maltis.
Shuvin naik ke atas benteng lalu melemparkan pandangannya ke arah benteng lawan yang jaraknya sekitar sepanjang lapangan sepak bola modern jauhnya.
"Jadi itu negeri Maltis?" Ucapnya sambil menatap tajam negeri yang tidak pernah akur dengan negaranya itu.
Syuuutt ...
Ctak!!
"Nyonya awas!"
"Aku tahu!" Shuvin menghindari sebuah anak panah yang melesat tepat di samping kepalanya. Salah sedikit saja, anak panah itu akan langsung menembus otak Shuvin.
Gadis itu menatap benda itu, sebuah kertas diselipkan di sana.
Dengan cepat Shuvin membuka dan membaca isi kertas itu.
"Nona manis yang di sana, salam kenal, aku adalah pangeran mahkota Kerajaan Maltis, apakah negerimu kekurangan pria sampai harus mengundang seorang wanita lemah untuk mengawasi perbatasan? Hahahah... Jika iya, maka senang bertemu denganmu, aku akan pastikan negeri kalian hancur dan akan menjadikanmu selirku!" Pesan nya dalam surat itu.
Shuvin berdecih dan menatap kertas itu dengan tatapan sinis dan sepele.
Dengan terang-terangan dia merobek kertas itu, mengangkatnya tinggi-tinggi ke atas lalu membuangnya begitu saja hingga ditiup oleh angin.
Dia bisa saja membakarnya dengan sihir apinya, tapi dia memilih merahasiakan kekuatannya dari lawan.
"Berikat teropong itu padaku!" Ucap Shuvin sambil tersenyum sinis.
Shuvin meneropong jauh ke benteng perbatasan. Benar saja, ada seorang pria berwajah rupawan dengan tubuh tegap tanpa busana atas di sana. Dia memamerkan otot perutnya yang indah pada Shuvin sambil tertawa cengengesan saat tahu Shuvin mengawasinya.
"Berikan kertas," ucap Shuvin pada Tristan yang baru kali ini dijadikan bawahan oleh seseorang, bahkan diperintah seperti itu.
Dengan wajah jengkel Tristan memberikannya pada Shuvin. Wanita itu menulis sesuatu di sana, wajahnya tampak berbinar saat menulis di atas kertas itu.
"Tristan, apa kau tahu kelemahan pria yang suka memamerkan otot tubuhnya?" Tanya Shuvin.
"Tentu saja tidak ada nyonya, jika seorang pria memamerkan tubuhnya, artinya dia merasa percaya diri dengan dirinya," balas Tristan.
Tapi Shuvin menggelengkan kepalanya sambil terkekeh," no Tristan, jangan terlalu pede.." ucap Shuvin.
"Apa itu pede?" Tanya Tristan bingung.
"Jangan terlalu percaya diri maksud ku, kelemahan pria mesum itu adalah dirinya sendiri, tapi harus seorang wanita yang mengatakannya," ucap Shuvin sambil menarik busur dan...
Syuuuutttt!!!!!
Anak panah itu melesat begitu kencang dan kuat menembus angin hingga mendarat tepat di bawah selangkangan pangeran mahkota negeri Maltis.
" Arrkhhhhhhh... Sialan, kau hampir menghancurkan belalai panjangku!!!!" Suara teriakan yang sangat kencang terdengar bahkan sampai ke benteng Lala Land.
"Pffthhh bahahahahhahahahah.... Rasakan itu, loser!" Ucap Shuvin dengan tawa jahil di wajahnya.
" Tristan, berjagalah di sini, aku akan kembali sendirian, jika ada masalah segera laporkan pada tuanmu, seperti kau melaporkan perjalananku sebelumnya pada Evan!" Ucap Shuvin dengan nada menyindir.
Glek!!
Tristan menenggak salivanya dengan kasar, demikian ajudan dan anak buah yang ada di sana. Duchess yang mereka lihat hari ini sangat berbeda dengan Duchess cengeng, manja dan kejam yang mereka temui sebelum pernikahan.
" Apa dia benar-benar Duchess!?" Ucap Han, ajudan Tristan, pria bermata satu itu.
" Kita menghadapi dua Duke sekarang, tadi itu mengejutkan, bagaimana bisa dia menembakkan anak panah dengan kecepatan super itu!?" Ucap Tristan tak percaya.
Sementara itu, di benteng negeri Maltis, Pangeran Mahkota Aaron Mikael Maltis tercengang tak percaya menatap anak panah yang tertancap tepat di bawah selangkangannya. Kedua kakinya sampai gemetar saking takutnya.
Diambilnya anak panah itu sambil mengumpat.
" Arrkhh sialan, beraninya dia!!!" Kesal Aaron.
Dibukanya lipatan kertas itu dan dibacanya pesan dari Shuvin.
" Hay yang mulia pangeran mahkota Aaron yang tidak setampan Duke Evan, negeri kami tidak kekurangan pria, bahkan kelebihan tenaga sampai perempuan pun punya bakat dalam perang, tidak seperti kalian yang hanya menggunakan perempuan untuk pelampiasan nafsu busuk, ohh iya... Kau cukup mesum ya, tapi perutmu itu sangat jelek, masa iya seorang putra mahkota hanya punya otot sekecil itu? Aku yakin belalaimu juga tak sehebat itu sampai kau memarkan dada kecilmu pada seorang perempuan biasa!"
"Salam damai, negeri kami punya banyak kenari dan cokelat, jika ingin, kirimkan surat perdamaian, kita bisa bicarakan bisnis kita nanti," pesan Shuvin menohok dan sarkas di saat yang sama.
Mata Pangeran Aaron membulat sempurna, baru kali ini dia dihina separah itu sampai membuatnya menatap tubuhnya berulang kali
"Kecil!? Milikku kecil ? dadaku kecil!? ototku kecil!? Wahhh... Memangnya sehebat apa otot bangsawan di sana!!"
" Arrkhhhh dasar perempuan sialan!!" Pekik nya histeris, tidak terima dirinya dihina dan direndahkan seorang wanita.
"Hey kau, apa kau pernah melihat perawakan pasukan mereka hah!? Apa mereka sehebat itu!?"? Tanyanya pada ajudannya, Isaac.
" Jujur saja, mereka memang hebat tuan, terutama sang Duke, dia terkenal dengan otot tubuhnya yang indah bak seni pahat, bahkan gadis di negeri kita ditaklukkan pesona pria sialan itu!" Terang Isaac.
Brakk!! Brakk! Brakk!!!
Wajah sang pangeran memerah, dia memukuli dinding sampai berkali kali saking kesalnya dengan penjelasan sang ajudan.
" Arkhhh... Persetan dengan perang, aku harus melatih tubuhku dan membuktikan pada perempuan sialan itu, kalau pria di negeri Maltis juga tak kalah hebat, bahkan lebih hebat!!" Kesalnya.
Dengan wajah kesal pria itu pergi dari sana setelah dipermalukan oleh seorang wanita tak dikenal.
"Tuan, sepertinya mereka menawarkan kerjasama, bukankah kita butuh pasokan cokelat yang besar untuk festival tahunan? Kali ini festival diurus oleh anda, bagaimana kalau kita pikirkan tawarannya barusan!" Ucap ajudannya memberi saran.
Aaron terdiam sejenak, masih mendengus kesal tapi tugasnya juga menunggu diselesaikan," nanti, akan ku pikirkan dahulu!" Ucapnya sambil menghela nafas kasar lalu masuk ke dalam benteng begitu saja.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments
Dede Mila
pas lagi baca 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2024-11-24
0
Narimah Ahmad
🤭🤭🤭🤔🤔🤔
2024-06-19
0
Ririn Santi
hahaha .....
hancur...hancur hatiku...😁😁😁😁
2024-05-04
0