Keesokan harinya.
Saat waktu telah menjelang sore hari, Luna bersiap untuk pergi mengunjungi rumah Pamannya sebagai wali dan satu-satunya keluarga yang juga tinggal di negara asing itu bersamanya.
Luna sudah siap dengan pakaian casual semi formalnya dengan bingkisan sederhana yang akan dibawa olehnya. Saat beranjak ke luar dari rumahnya, gadis itu segera menghubungi Pamannya.
"Halo, paman Andy."
"Luna, senang saat tahu kau menghubungi paman. Bagaimana kabarmu?"
"Aku baik, paman. Bagaimana dengan paman dan keluarga?"
"Kami baik-baik saja, Luna. Tidak perlu khawatir."
"Apa paman ada di rumah sekarang? Aku ingin datang berkunjung karena hari ini kebetulan tidak ada jadwal kerja, apa bisa?"
"Tentu saja, paman ada di rumah. Paman senang jika kau datang karena memang ingin melihatmu."
"Baik, paman. Aku sedang bersiap sekarang, aku tutup dulu panggilannya. Sampai jumpa, paman."
"Sampai jumpa, Luna. Berhati-hatilah."
"Aku mengerti, paman."
Luna menghela nafas panjang saat mengakhiri panggilan dengan Pamannya dan berharap semua berjalan baik saat ia datang ke rumah Pamannya untuk membicarakan masalah yang sedang dialami olehnya saat ini.
Begitu sampai, Paman Andy langsung menyambut Luna dengan hangat dan mempersilakan gadis itu masuk ke dalam rumah.
"Sudah lama tidak melihatmu secara langsung karena kau sibuk bekerja di sini, Paman senang melihatmu baik-baik saja," ujar Paman Andy
"Terima kasih, Paman. Maaf karena hanya ini yang bisa kubawa ke sini," ucap Luna saat memberi paket parsel buah pada Paman Andy dan saat itulah Bibi Inez datang menghampiri.
"Luna, sudah datang. Ayo, masuk ... " kata Bibi Inez, istri Paman Andy.
"Padahal kau tidak perlu membawa apa pun, Luna. Jadi merepotkanmu saja," ujar Paman Andy memberi paket parsel buah pemberian dari Luna pada sang istri agar bisa langsung disajikan.
"Itu tidak seberapa, Paman. Awalnya aku merasa bingung ingin membawa apa saat berkunjung ke sini, tapi kalau aku bertanya dulu pasti Paman bilang seperti barusan. Jadi, aku hanya membawa buah dan bunga," ucap Luna
Saat itu Luna langsung memasuki rumah Paman Andy dan mengikuti Bibi Inez menuju dapur. Jika Bibi Inez langsung menyajikan paket parsel buah, Luna pun merangkai bunga ke dalam vas. Gadis itu mengambil sebuah vas dan mengisinya dengan air, lalu memasukkan serangkaian bunga yang dibawa olehnya ke dalam vas tersebut.
Luna memang masih mengingat setiap letak di rumah Paman Andy karena pada awalnya gadis itu pernah tinggal di sana sebelum akhirnya pindah ke rumah sendiri setelah beberapa kali menerima upah kerjanya sebagai pengawal.
Paman Andy pun membiarkan Luna mengelilingi rumahnya seperti saat keponakannya itu masih tinggal bersama di sana dan menunggu di ruang tamu sambil duduk di sofa.
Luna dan Bibi Inez pun menghampiri Paman Andy di ruang tamu. Luna meletakkan vas bunga di atas meja ruang tamu dan Bibi Inez meletakkan buah-buahan yang telah disajikan di atas piring pada meja ruang tamu pula.
"Duduklah, Luna. Ke marilah, biar Paman lihat baik-baik, apa kau punya di tubuhmu?" tanya Paman Andy
"Apa maksud Paman dengan luka?" tanya balik Luna saat ikut duduk di dekat Paman Andy.
"Kau bekerja di bidang yang berbahaya dengan menjadi seorang pengawal, kau mungkin saja mendapat luka saat sedang bekerja, jadi biar Paman periksa dulu ... " jelas Paman Andy
"Tenanglah, Paman. Aku sungguh baik-baik saja, tidak perlu khawatir. Aku memilih pekerjaan ini karena merasa percaya diri meski pun memang berbahaya. Percayalah padaku, Paman, Bibi ... " ujar Luna
"Tentu saja, Paman selalu percaya dan mendukungmu, Luna," kata Paman Andy
"Pamanmu memang terkadang jadi sedikit berlebihan, Luna. Harap kau maklumi saja," ujar Bibi Inez
"Aku mengerti, Bibi. Omong-omong, anak-anak mana?" Luna bertanya soal tiga anak Paman Andy dan Bibi Inez.
"Mereka masih sekolah dan akan pulang lebih lama karena ada kelas les tambahan," jawab Bibi Inez
"Begitu rupanya. Paman, Bibi, sebenarnya aku datang ke sini karena ada sesuatu yang ingin kubicarakan juga mau meminta bantuan dan pendapat dari Paman dan Bibi," ujar Luna
"Ada apa, Luna? Apa kau punya masalah?" tanya Paman Andy
"Kami berdua akan mendengarkanmu, Luna. Kau bicara saja dulu," kata Bibi Inez
"Bisa dibilang ini masalah pekerjaan, tapi sepertinya lebih dari itu hingga aku merasa ini rumit. Seperti yang Paman dan Bibi tahu, aku bekerja sebagai seorang pengawal. Perusahaan tempatku bekerja akan mengirim seorang atau lebih pengawal untuk memberi pengawalan pada perusahaan lain," ucap Luna yang mulai menceritakan masalah yang kini sedang dialami olehnya.
"Belakangan ini aku lebih sering mengawal artis atau idol dari suatu agency dan ada seorang idol yang kontrak pengawalannya sudah berakhir ... dia bahkan meminta bantuan pihak agency-nya dengan alasan ingin mengajakku menikah. Paman, Bibi, aku harus bagaimana menanggapi hal ini?" tanya Luna melanjutkan.
"Kenapa kau merasa bingung dengan hal baik seperti ini, Luna? Apa yang membuat hal ini jadi rumit bagimu?" tanya balik Paman Andy
"Hal ini terjadi padaku terlalu cepat dan secara tiba-tiba, aku jadi merasa tidak yakin ... " jawab Luna
"Sepertinya Bibi bisa mengerti perasaanmu, Luna," ujar Bibi Inez
"Paman, Bibi, tolong bantu aku. Bagaimana pendapat Paman dan Bibi tentang hal ini?" tanya Luna
"Menurut Paman ini hal baik, Luna. Bagaimana pun kau juga sudah memasuki usia siap untuk menikah. Namun, keputusan tetap ada di tanganmu," jawab Paman Andy
"Pamanmu benar, Luna. Kau jangan merasa terbebani lebih awal karena hal seperti ini. Coba katakan dulu, apa yang kau rasakan tentang hal ini?" tanya Bibi Inez
"Sebenarnya aku merasa tertarik dan senang karena aku menyukai idol itu, tapi aku juga merasa bingung karena tidak tahu alasannya menginginkan pernikahan denganku sebagai pasangannya. Dia dan pihak agency-nya hanya menyebut penawaran pernikahan ini dan memberikan waktu padaku untuk memikirkannya. Mereka bahkan tidak memberi tahu berapa lama waktu untukku memikirkan hal ini seolah hanya ingin mendesakku untuk mau tidak mau jadi menerima keputusan ini," ungkap Luna mengenai perasaannya saat ini.
"Kau benar juga, Luna. Pernikahan bukan soal main-main, kau harus memikirkannya baik-baik," ujar Paman Andy
"Luna, apa kau sudah menceritakan hal ini pada ayah dan ibumu?" tanya Bibi Inez
"Masih belum, Bibi. Seperti saat aku merasa tidak enak menceritakan masalah ini pada Paman dan Bibi, aku tidak ingin membuat ibu dan ayah jadi kepikiran jika aku menghubungi mereka tentang hal ini. Sekarang aku sedang berada jauh dengan mereka, aku tidak ingin ibu dan ayah jadi gelisah atau bahkan stress karena aku dengan hal ini," jelas Luna
"Apa kau ingin kami yang menghubungi ayah dan ibumu untuk menceritakan hal ini? Bagaimana pun juga orangtuamu harus tahu soal ini, kan?" tanya Paman Andy
"Paman benar. Mohon bantuan Paman untuk hal ini. Kalau boleh aku minta, saat Paman menghubungi ayah untuk mengabari hal ini, pastikan ibu juga ikut mendengarkan bersama ayah," jawab Luna saat meminta bantuan.
"Paman mengerti, Luna. Kau tenang saja, Paman akan membantumu ... " kata Paman Andy
"Jangan terlalu khawatir, Luna. Semua pasti akan baik-baik saja," sahut Bibi Inez
"Terima kasih, Paman, Bibi ... " ucap Luna
"Tidak masalah, Luna. Kita adalah keluarga, kau tidak perlu merasa tidak enak dengan kami," ujar Paman Andy
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
neng ade
jika Luna dan Lee punya perasaan yg sama tentu nya pernikahan mereka akan baik2 aja..
2024-03-29
1
icaica
masalahny emg rumit sih
2024-03-19
1
Terra Chi
Episode berikutnya sudah terbit, yaa
2024-03-17
1