Luna tidak menyangka jika berkumpul dengan sesama gadis akan terasa begitu menyenangkan. Bukan berarti gadis pengawal itu tidak pernah punya teman seorang gadis, mungkin saja Luna hanya rindu momen seperti saat ini. Apa lagi para anggota grup idol Navy juga bersikap baik padanya hingga membuatnya tidak perlu merasa canggung lagi karena semuanya bersikap santai.
Di tengah acara kumpul itu, tiba-tiba saja ponsel milik Luna bergetar menandakan panggilan masuk. Luna pun langsung meminta izin untuk menerima panggilan tersebut.
"Mianhae, permisi sebentar. Aku mau terima panggilan masuk," kata Luna
"Tidak masalah, Luna. Silakan," sahut Sofia
Luna pun bangkit dan beralih sedikit menjauh. Saat melihat layar ponsel miliknya, gadis itu tidak menyangka dengan nama dan nomor yang tertera dalam panggilan masuk itu. Namun, Luna tetap menerimanya meski pun merasa agak gugup.
Luna pun menggeser panel hijau pada layar ponsel dan mendekatkan ponsel ke telinga.
"Yeoboseyo, tuan ... Lee?"
"Benar, Luna ... ini aku, bagaimana kabarmu?"
"Jika yang anda maksud adalah kabar saya setelah acara semalam, saya baik-baik saja. Anda tidak perlu khawatir, lalu anda sendiri ... bagaimana?"
"Aku juga baik-baik saja, kuharap kau tidak mendapat kesulitan karena masalah semalam."
"Anda tenang saja karena semua baik-baik saja, saya juga mengharapkan hal yang sama bagi anda, tuan Lee."
"Meski pun tidak sepenuhnya, akulah yang menyebabkan masalah semalam, jadi aku akan berusaha menanganinya."
"Anda pasti bisa melakukan hal itu dengan baik. Maaf jika saya harus bertanya, ada perlu apa anda menghubungi saya?"
"Bukankah semalam aku bilang akan menghubungimu? Itu yang sedang kulakukan sekarang, menepati perkataanku."
"Saya mengerti, jadi anda ingin menjelaskan masalah semalam? Apa harus sekarang? Maksud saya, apa harus membahasnya dalam panggilan ini?"
"Tidak, sebenarnya aku ingin mengajakmu untuk bertemu. Apa kau bisa? Maksudku, apa kau punya waktu luang?"
"Mohon maaf, tuan Lee. Kalau sekarang saya tidak bisa. Lebih baik anda juga melihat kembali jadwal anda sendiri, saya tidak bisa jika itu harus mengacaukan kesibukan anda."
"Ternyata kau khawatir soal itu, kau masih saja perhatian pada orang lain, sama seperti sebelumnya. Namun, kau benar juga. Aku sudah ada janji besok, kalau kau tidak bisa hari ini ... bagaimana kalau lusa?"
"Saya akan melihat jadwal lebih dulu, kemungkinan memang bisa. Saya akan menghubungi anda jika sudah mendapat keputusan pasti untuk itu, bagaimana menurut anda?"
"Baiklah, Luna. Aku akan menunggumu mengabariku soal keputusan pasti darimu."
"Saya usahakan untuk mengabari anda secepat yang saya bisa."
"Tidak masalah, Luna. Ambillah waktu sebaik mungkin untuk itu."
"Saya mengerti. Tuan Lee, saya tidak menyangka jika anda benar-benar menghubungi saya seperti ini. Maksudnya bukan saya tidak percaya pada perkataan anda."
"Aku mengerti maksudmu, Luna. Aku memang masih menyimpan nomor kontakmu karena memang menyimpan kontak penting itu diperlukan. Buktinya saat ini aku jadi lebih mudah menghubungimu. Kau juga masih menyimpan kontakku, kan?"
"Benar, tuan Lee. Tentu saja, saya masih menyimpan kontak anda sampai saat ini."
"Itu bagus, senang mendengarnya."
"Baik, tuan Lee. Saya akan ingat untuk mengabari anda nanti, apa masih ada yang ingin anda sampaikan saat ini?"
"Sepertinya sudah cukup, aku akan menunggumu mengabariku dan terima kasih atas waktumu untuk panggilan dariku kali ini."
"Terima kasih kembali karena anda sudah repot-repot menghubungi saya seperti ini."
"Sama sekali tidak merepotkan."
"Mohon maaf, tuan Lee. Panggilannya akan saya tutup."
"Tentu, silakan."
Luna menjauhkan ponsel dari telinganya dan menyentuh panel merah untuk mengakhiri panggilan, lalu menghela nafas panjang. Gadis itu tidak menyangka akan merasa sangat gugup hanya karena bicara dengan sang idola meski pun hanya dalam sambungan panggilan, lalu bagaimana saat ia bertemu langsung dengan idola tampannya nanti? Hanya dengan membayangkannya, Luna pikir akan jatuh pingsan.
Ya, tuan Lee yang Luna maksud memang adalah Lee Damian. Luna memang selalu menggunakan bahasa formal saat bicara dengan idolanya, tak hanya itu karena sebenarnya Lee Damian memiliki usia yang lebih dewasa dari pada dirinya dan hanya seorang rekan target misi pekerjaan yang telah lalu, alias orang yang mendapat pengawalan Luna dalam hal pekerjaan yang waktunya telah berlalu.
"Lee Damian sungguh masih menyimpan nomor kontakku, mendengarnya saja sudah membuat detak jantungku jadi kacau," gumam pelan Luna
"Sudah begitu, menyimpan kontak penting itu diperlukan, katanya. Dia juga bilang, itu bagus, senang mendengarnya ... Saat kubilang masih menyimpan nomor kontak miliknya Apa baginya aku ini sosok yang penting hingga dia bilang seperti itu? Tidak, aku tidak boleh terlalu percaya diri dan merasa senang seperti ini. Mungkin maksud Damian adalah penting saat dia bisa memanfaatkan kontakku untuk menghubungiku saat ada masalah seperti saat ini. Ini hanya kepentingan urusan kerja, aku harus ingat itu baik-baik ... " batin Luna
Selalu saja seperti ini, Luna dengan mudahnya menyangkal firasat dan perasaan meski pun itu hal yang diinginkan olehnya. Biasanya orang lain hanya akan menyangkal sesuatu yang tidak diinginkan karena merupakan hal buruk yang tidak menyenangkan, berbeda dengan Luna. Gadis itu juga akan menyangkal hal yang menyenangkan baginya demi menjaga rasionalitasnya agar dirinya tidak memiliki harapan yang terlampau jauh dan berlebihan.
Kali ini lagi-lagi Luna menyangkal hal seperti itu bersamaan kemungkinan tidak menyenangkan agar hatinya tidak terluka karena sebenarnya gadis itu menduga bahwa dalam masalah saat ini Lee Damian hanya memanfaatkan sosoknya demi terbebas dari hal buruk seperti skandal perselingkuhan yang sedang menyerangnya.
Namun, Luna tidak mau mematut diri dengan kemungkinan yang sudah pasti akan menyakiti hatinya itu. Baginya hal penyangkalan seperti ini adalah kemampuan diri agar batin tidak mengalami guncangan seperti stress atau bahkan sampai depresi.
"Luna Eonni, kembalilah ke sini juga kau sudah selesai menerima panggilan!" seru Hanina yang langsung menyadarkan Luna dari lamunannya.
"Benar, aku sudah selesai ... " kata Luna yang segera tersadar dari lamunan memilukan.
Luna pun melangkah kembali bergabung bersama para anggota grup Navy.
"Luna Eonni, sepertinya panggilan masuk tadi sangat penting. Siapa itu?" tanya Harika
"Ya, memang penting. Tadi itu rekan kerjaku," jawab Luna
"Luna, apa kau punya masalah?" tanya Serena
"Tidak, tadi hanya mengabari beberapa hal yang agak penting," jelas Luna
"Jangan ragu untuk bercerita pada kami lagi jika Luna Eonni punya masalah," kata Tanaya
"Tentu saja, akan kuingat baik-baik. Gomawo," ucap Luna
Luna pun kembali tersenyum seperti biasa.
---
"Padahal semalam kami bertemu, tapi aku sudah tidak sabar meneleponnya hari ini dan baru akan bertemu lagi lusa. Harusnya aku telepon nanti agar aku tidak mudah merasa rindu padanya seperti ini. Kuharap saat lusa bertemu itu akan berlangsung lama dan menyenangkan. Lagi pula dia sudah bilang akan mengabariku tentang keputusannya, kuharap saat itu bisa mengobrol sedikit lagi dengannya ... Luna," gumam seseorang yang menyebut sebuah nama dari kejauhan yang baru saja sempat berseberangan dalam sambungan panggilan dengan seorang gadis.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Aerik_chan
1 iklan buatmu kak...semangat!!
2024-03-15
1
Elisabeth Ratna Susanti
kalau suka ngomong aja langsung
2024-03-12
1
Terra Chi
Episode berikutnya sudah terbit, ya
2024-03-08
0