Keesokan harinya.
Luna bersiap untuk bertemu dengan Kepala Tim Ban sebentar lagi. Karena bukan termasuk urusan pekerjaan, gadis itu memilih untuk mengenakan pakaian semi casual semi formal dan rambutnya tertata rapi dengan ikat kuncir kuda. Karena orang yang ditemuinya merupakan atasan kerjanya, Luna tetap ingin terkesan baik dan terlihat sopan meski pun sedikit lebih santai.
Luna tidak perlu terburu-buru karena kali ini tempat janji temunya ada di sekitar rumahnya, meski begitu gadis itu tetap memilih waktu berangkat sedikit lebih awal karena tidak sopan untuk membuat orang lain terutama atasan kerjanya menunggu, apa lagi alasan janii temu kali ini adalah karena ingin membahas masalahnya.
Karena tempat janji temu sudah ditentukan oleh Kepala Tim Ban, Luna pun beranjak pergi. Karena tempatnya ada di sekitar rumah, gadis itu memilih untuk berjalan kaki agar bisa lebih santai.
Tempat yang dipilih adalah rumah makan sederhana dan Luna langsung masuk begitu sampai di sana. Tempat itu tampak masih sepi dan Kepala Tim Ban masih belum datang. Luna memilih meja yang ada di dekat jendela di urutan tengah pada barisan pintu masuk dan duduk di sana.
Saat itu orang dari rumah makan itu langsung menghampiri Luna.
"Nona, mau pesan apa?"
"Bibi, saya akan menunggu seseorang lebih dulu. Tolong sajikan air mineral saja untuk sekarang. Namun, saat orang yang saya tunggu datang, tolong langsung saja buatkan teh manis hangat untuk kami. Terima kasih," jawab Luna
"Saya mengerti." Pelayan tersebut pun menyediakan segelas air mineral untuk Luna selagi menunggu Kepala Tim Ban datang.
Tepat pada waktunya, Kepala Tim Ban pun datang dan karena tempat masih sepi, ia sangat mudah menemukan Luna di sana. Hingga Luna pun mempersilakannya untuk duduk berhadapan dengannya.
"Saya sudah meminta agar teh hangat langsung disajikan saat Anda datang. Mohon tunggu sebentar, Pak Kepala Tim," ujar Luna
"Kau melakukan persiapan dengan baik padahal akulah yang meninta untuk kau bertemu denganku di sini," kata Kepala Tim Ban
"Ini memang harus saya lakukan. Memang Anda yang meminta untuk bertemu, namun saya memang perlu bertemu dengan Anda. Anda sudah repot-repot datang karena peduli dan ingin membahas masalah saya. Tentu saja, saya harus bersikap baik ... " ucap Luna
"Kau memang selalu bersikap baik pada semua orang, Luna. Jangan meragukan dirimu sendiri," sahut Kepala Tim Ban
"Terima kasih atas penilaian baik dari Anda, Pak Kepala Tim," ucap Luna
Saat itulah dua cangkir teh disajikan di atas meja.
"Apa Nona masih menunggu orang lain lagi?"
"Tidak, Bibi. Yang saya tunggu sudah datang dan hanya satu orang," jawab Luna
"Apa Nona dan Tuan mau langsung memesan?"
"Bagaimana, Pak Kepala Tim? Apa yang ingin Anda pesan?" Luna menanyakan pendapat Kepala Tim Ban.
"Baiklah, kami akan langsung memesan ... " sahut Kepala Tim Ban. Luna pun mengambil daftar menu yang tersedia di atas meja tersebut dan mulai memesan bersama Kepala Tim Ban.
"Karena tempat kami belum lama buka di hari ini, mohon untuk menunggu karena kami baru mulai menyiapkan semuanya."
"Tidak masalah, Bibi. Kami akan menunggu sambil menikmati teh dan mengobrol," kata Luna
"Bahkan saat di tempat makan saja sikapmu sangat baik, Luna. Tidak perlu khawatirkan dirimu sendiri," ujar Kepala Tim Ban saat pelayan telah beralih untuk menyiapkan pesanan.
"Saya hanya nerasa harus selalu menjaga sikap. Omong-omong, rupanya Anda tahu tempat makan daerah ini dari mana, Pak Kepala Tim?" tanya Luna
"Aku lumayan tahu daerah ini karena ada kerabatku yang tinggal di sekitar sini. Maaf karena kau sudah datang lebih dulu dan harus menungguku, harusnya aku bisa datang lebih awal saat aku yang meminta kita bertemu," ungkap Kepala Tim Ban
"Tidak masalah soal itu, tempat ini lebih dekat dengan rumah saya jadi saya bisa sampai lebih dulu. Lagi pula, saya tidak bisa membiarkan Anda yang menunggu saya, sudah lebih baik saya yang menunggu. Anda pun datang tepat waktu dan saya juga belum lama datang saat Anda sampai tadi," ujar Luna
"Oke, selagi menunggu pesanan siap, lebih baik kau mulai ceritakan masalahmu padaku. Apa yang terjadi kemarin?" tanya Kepala Tim Ban.
Luna mengangguk kecil dan mulai menceritakan masalah yang sedang dialami olehnya saat ini hingga bagaimana perasaannya saat masalah mulai berdatangan mengusik pikirannya.
Luna tidak ragu untuk bercerita, namun merasa gugup saat menunggu respon Kepala Tim Ban soal masalahnya itu.
"Yang benar saja! Bukankah kalau pihak mereka sudah membuat keputusan seperti itu artinya kau tidak punya pilihan untuk menolak meski pun diberi waktu untuk berpikir? Waktu yang diberikan padamu hanya sebagai dalih dan mereka hanya ingin agar kau memantapkan diri untuk menerima keputusan yang sudah mereka tetapkan," ujar Kepala Tim Ban yang sudah memahami situasi dari cerita Luna.
"Anda benar, saya juga merasa seperti itu. Karena itulah saya merasa masalah ini semakin rumit," kata Luna
"Lalu, bagaimana dengan dirimu sendiri, Luna?" tanya Kepala Tim Ban
"Saya merasa bingung, Pak Kepala Tim," jawab Luna setelah diam sejenak dan kembali terdiam setelah memberi jawaban.
Saat itulah pesanan datang dan disajikan di atas meja.
"Maaf jika mengganggu. Selamat menikmati."
"Tidak masalah, Bibi. Terima kasih," ucap Luna dan pelayan pun meninggalkannya kembali berdua dengan Kepala Tim Ban.
"Sebenarnya apa alasanmu merasa bingung, Luna? Apa kau ingin menolak, tapi ragu dan takut pada pihak mereka yang besar secara keseluruhan hingga akhirnya merasa bingung? Atau kau justru ingin menerima tawaran dan keputusan mereka, tapi tidak sepenuhnya yakin hingga akhirnya merasa bingung?" tanya Kepala Tim Ban
"Sepertinya Anda memang sangat memahami saya, Pak Kepala Tim. Harusnya saya tidak merasa seperti ini," jawab Luna seraya menghela nafas pelan.
"Pikirkan masalahmu ini baik-baik, Luna. Jika kau memilih untuk menerima keputusan itu, bukankah artinya itu seolah hanya pernikahan bisnis di mata mereka? Kau juga masih belum jelas tentang perasaan kalian berdua, kan?" tanya Kepala Tim Ban
Luna merasa saat inilah waktu baginya untuk jujur soal perasaannya. Namun, gadis itu takut dengan respon Kepala Tim Ban karena bagaimana pun juga ia pernah bekerja sebagai pengawal grup yang beranggotakan Lee Damian dan meniliki perasaan pribadi dengan target misi pengawalan adalah hal yang dilarang neski pun itu telah berlalu karena kontrak kerja terkait itu sudah berakhir.
Pada akhirnya, Kepala Tim Ban menyarankan agar keduanya mulai makan agar bisa sedikit lebih santai saat bicara masalah rumit seperti ini. Luna yang merasa tidak boleh mengabaikan dan menyia-nyiakan makanan terlalu lama pun setuju untuk mulai makan sambil terus membahas masalah yang dialami olehnya kali ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 85 Episodes
Comments
Elisabeth Ratna Susanti
like 👍
2024-03-16
1
Terra Chi
Episode berikutnya sudah terbit, yaa
2024-03-12
0
icaica
luna jd gegana
2024-03-12
1