Saat tiba di rumah sakit Brian langsung berteriak memanggil Dokter,"Dokter!!,tolong mama saya!!".
Dokter datang dengan beberapa perawat dan tenaga medis lainnya,menyambut kedatangan Brian dan Nyonya Tamara yang tergeletak di pembaringan pasien dengan keadaan memilukan.
"tuan harap tenang,semoga kami bisa menyelamatkan Nyonya",ucap salah seorang Dokter yang menangani Nyonya Tamara.
Nyonya Tamara segera Di bawa ke ruang instalasi gawat darurat zona merah khusus untuk pasien yang kritis dan harus di lakukan penanganan segera.
lampu berwarna merah di atas pintu,telah di nyalakan artinya Dokter mulai menangani pasien dengan keadaan kritis,mereka memeriksa peluru yang masih bersarang di dada Nyonya Tamara,dokter memberi isyarat pada perawat untuk memberikannya gunting dan peralatan operasi lainnya,seorang perawat membawa berkas untuk di tanda tangani oleh Brian.
para perawat yang mendampingi segera memasang alat pernapasan dan pendeteksi jantung.
Tit.tit.tit.tiiiiiit
belum sempat dokter membuat tindakan,detak jantung Nyonya Tamara terhenti, Dokter panik mereka berusaha membuat jantung Nyonya Tamara kembali berdetak normal,setelah beberapa saat semua tim yang berusaha terlihat lemah sambil menggeleng satu sama lain.
melihat dari kejauhan Brian sudah tahu apa yang akan dia dengar,Brian juga menggeleng berkali-kali,dia mundur beberapa langkah saat Dokter mendatanginya, tubuhnya terhenyak dinding,Brian sangat histeris,dia tidak bisa menerima kenyataan ini.
Brian segera menghentikan bibir dokter yang akan berbicara,"jangan katakan Dokter!!",Brian menutup telinganya,dia tak sanggup mendengar berita buruk tentang mamanya,orang yang telah melahirkannya.
Napas Brian memburu,dia meninggalkan Dokter yang menunduk sedih, Dokter dokter tidak perlu lagi berkata apapun,Brian sudah mengetahui jika ibunya sudah tiada.
"mama!!, bangun ma",Brian mengguncang tubuh yang telah terbujur kaku itu,perawat menarik selimut putih untuk menutup seluruh tubuh beserta wajah Nyonya Tamara yang terlihat sangat damai.
Brian terisak,dia sangat histeris dan tak bisa menerima kenyataan,Arion dan Max melihat para perawat mendorong tubuh yang tertutup dengan kain putih,di susul Brian yang mengikuti ranjang yang di dorong oleh dua orang perawat menuju kamar jenazah,mereka segera menghampiri Brian.
"ada apa Brian,kenapa menangis,katakan padaku",Arion mengguncang bahu Brian yang berderai airmata.
Brian menatap Arion dengan iba,"mama di tembak Jona,mama telah tiada",Brian menunjuk ke arah tubuh yang semakin menjauh yang di dorong oleh perawat.
Max menggeleng lemah,dia juga tak menyangka begitu kejamnya tuan Jona membunuh istrinya sendiri.
"ini semua gara-gara istrimu kak,kau selalu membela istrimu,membuatnya larut dalam jurang kesalahan dan dosa,sebagai Seorang suami kau harus bersikap tegas mendidik istrimu bukan malah membiarkannya berbuat sesuka hati,kau memang laki-laki brengsek bodoh!!,aku menyesal telah menjadi adik sepupu orang bodoh sepertimu",Brian menepis tangan Arion yang berusaha menenangkannya.
Arion berusaha mengejar Brian "Brian maafkan aku,tapi Kakek juga telah tiada, Kakek terkena serangan jantung saat mengetahui ayah dan ibuku di bunuh oleh papamu dan Tara",Arion menunduk,dia memeluk Brian yang mematung, tangis Brian semakin pecah saat mendengar Kakek juga telah tiada di hari yang sama mereka kehilangan dua anggota keluarga sekaligus karena Jona.
Brian sangat terkejut,ternyata sang ayah bukan hanya membunuh ibunya,tapi juga membunuh orang tua Arion,kenapa dia di takdirkan menjadi anak seorang pecundang yang sangat kejam,Brian bertambah syok saat melihat tubuh Kakek telah di masukkan ke dalam peti mati,Arion dan Brian segera membawa jenazah Kakek dan ibu Brian kembali ke kediaman mereka untuk di lakukan prosesi penguburan jenazah,mereka langsung meminta agar pendeta segera menguburkan ibu dan Kakek di hari itu juga,tidak ada lagi yang perlu di ratapi.
Mereka telah tiba di rumah,di susul oleh dua peti jenazah yang masuk beriringan di halaman rumah,sahabat Brian dan rekan yang mengenal Nyonya Tamara dan tuan Wilson segera datang silih berganti,mereka memenuhi halaman rumah untuk mengantarkan Nyonya Tamara dan tuan Wilson ke peristirahatan terakhir mereka.
denis juga tampak hadir di acara pemakaman tersebut setelah beberapa jam keluar sejak tuan Wilson di nyatakan meninggal,dia merangkul tubuh Brian mengucapkan turut berduka cita atas meninggalnya Nyonya Tamara dan tuan Wilson.
Brian berdiri di depan kuburan Kakek, Nyonya Tamara,ayah dan ibu Arion yang berjejer rapi,Brian menoleh pada Arion yang berdiri di sampingnya.
"Kakak,tolong serahkan Jona padaku, Kakak tak perlu berbuat apa pun mengotori tangan Kakak,biarkan aku yang membalas kejahatannya,aku adalah putranya,,untuk menghormati ke empat orang yang telah tiada karena Jona,aku bersumpah akan membunuhnya menggunakan tanganku sendiri".
Arion terdiam sejenak sambil menatap makam ayah dan ibunya.
"baiklah,aku serahkan Jona padamu",Arion menepuk bahu Brian.
"dan juga Tara",ucap Brian pada Arion yang mematung, Max dan Denis hanya terdiam menatap Arion mereka tahu Arion tidak akan memiliki dendam meski Tara mempunyai kesalahan yang tidak bisa di maafkan.
saat ini hanya ada Arion, Max Denis dan Brian yang masih berdiri di depan makam tersebut,para pelayat telah pergi satu persatu meninggalkan makam,Arion meletakan buket bunga pada makam orang tuanya.
setelah itu dia berdiri menuju kearah Max dan Denis berada, "ayo kita pergi,sepertinya sudah mulai gerimis",ajak Arion pada kedua sahabatnya.
dia juga menoleh pada Brian yang masih setia menatap makam sang mama, "Brian apa kau masih ingin di sini?,sepertinya sebentar lagi akan turun hujan".
Brian menggeleng "aku masih ingin di sini,kalian pergilah".
Mereka mengangguk,"jika ada sesuatu hubungi kami",ucap Denis,mereka menuju mobil yang terparkir.
"dari mana kau menemukan mayat pengganti Kakek?",bisik Arion.
Denis mengerutkan kening "apa kau masih tidak bisa mengenal sahabat mu ini?".
"ya tentu saja kami sangat mengenalmu,tapi kebetulan sekali,ada orang meninggal yang perawakannya sama dengan Kakek,lalu dimana Kakek saat ini?",tanya Max
"di rumah impian, Kakek memintaku untuk mengantarnya kesana,dia akan tinggal bersama Elena, hanya disana Kakek dan Elena bisa aman",terang Denis.
Arion mengangguk "kalian pergilah ke rumah impian,aku akan pulang kerumah sebentar setelah itu aku akan menemui Kakek kesana".
Denis dan Max segera masuk ke dalam mobil mereka meninggalkan Arion yang masih berdiri di samping mobilnya,dia juga melihat Brian dari kejauhan,Arion tersenyum getir,"ini seperti mimpi",dia memakai kembali kacamata hitam dan segera pergi menuju kediamannya dengan Tara.
Saat tiba di kediamannya Arion segera masuk untuk mencari keberadaan Tara,ternyata Tara telah menunggu kepulangan Arion,dia segera berhamburan memeluk Arion "dari mana saja?".
Biasanya Arion senang membalas pelukan Tara dengan erat,namun Arion hanya membiarkan Tara tanpa membalas pelukannya.
Tara sangat paham dengan raut wajah Arion,dia telah melakukan kesalahan membuat Nyonya Tamara di tembak oleh Brian,Tara tidak tahu Arion mengetahui hal yang lebih menyakitkan lagi,dia tidak tahu rahasianya dan tuan Jona telah terbongkar .
"Brian salah paham",dia mendongak ke wajah Arion yang tinggi,dia ingin melihat ekspresi wajah Arion.
"Tara aku akan mengabulkan permintaanmu",Arion menatap wajah Tara,mata Arion sangat bersih dan bersinar Tara tidak pernah memandang mata itu,mata yang selalu melihatnya memberikan cinta yang tulus,mata yang selalu menatap kepergiannya,mata yang selalu memberi harapan yang berakhir dengan sendu.
Tara tergagap,"apa maksudmu?".
Arion tak menatap wajah Tara dia membuang muka sambil melihat ke arah jendela.
"kita akan bercerai",suara Arion sedikit tercekat saat mengucapkan kata cerai.
mata Tara berkaca-kaca selama ini Arion tidak pernah mengucapkan kata cerai padanya tapi kenapa Arion tiba-tiba mengucapkan kata itu,selama ini Tara selalu melakukan kesalahan tapi Arion akan menganggap itu adalah hal yang biasa,
"kemarin kau meminta lagi agar kita bercerai,baiklah aku akan mengabulkan permintaanmu,aku akan menyerahkan segalanya pada pengacara",ucap Arion tenang,tidak ada lagi airmata kesedihan.
Tara tak bisa berucap,bukankah selama ini Tara menginginkan hal ini terjadi,kenapa Tara seolah-olah terkejut dan tak bisa menerima kata cerai dari Arion?.
Sedangkan Arion diam menunggu apa yang di ucapkan oleh Tara,dia melihat ke arah jendela, hujan kian semakin lebat,tidak ada sedikit pun cuaca yang menunjukkan hujan akan segera berakhir,semua ini seakan menjadi gambaran apa yang akan terjadi selanjutnya pada pernikahan Tara dan Arion.
Hingga beberapa saat mereka sama-sama terdiam mematung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments