"Begini saja, Elena sebaiknya tinggal di rumah impian",ucap Kakek.
"rumah impian?",ucap tiga orang secara bersamaan.
Mereka terdiam memikirkan ini, rumah impian adalah rumah peninggalan milik ibu Arion, pada saat itu rumah impian sedang dibangun oleh ibu Arion nyonya Madonna Esme,namun tragedi nahas menimpa ayah Arion dan ibunya meninggal karena kecelakaan,Arion yang tahu rumah yang di impikan oleh mendiang ibunya itu, dia melanjutkan pembangunan hingga saat ini rumah tersebut berdiri dengan megah degan hamparan bunga dan taman di sekeliling nya,tak jauh dari rumah impian terdapat air terjun yang selalu mengalir dari mata air yang ada di atas pegunungan,pemandangan di sana terlihat sangat bagus,danau luas dan udara yang sejuk membuat siapa pun betah tinggal di sana.
Arion menggeleng,"tidak,aku tidak akan membiarkan orang lain tinggal di rumah itu",selain Kakek dan dua sahabatnya tidak ada yang tahu tentang rumah impian tersebut,termasuk Tara dan tuan Jona juga tidak pernah tahu Arion memiliki rumah impian.
"tidak apa-apa tuan aku akan mencari tempat tinggal sendiri di sini,kalian telah bersusah payah membawaku ke sini,aku harus pergi",keadaan Elena memang lebih baik daripada saat mereka menemukannya di hutan tadi,namun ini sudah sangat malam,ke mana Elena akan pergi,bukan tidak mungkin mereka menemukan Elena sendirian di jalan.
saat Elena Hendak turun dari ranjang Arion langsung menahannya "aku akan mengizinkanmu tinggal di situ,tetapi kau harus membantu bibi Fu dan paman Daw bekerja di sana sebagai pembantu yang mengurus rumah beserta taman di sekeliling rumah impian",sebelah tangan Arion Manarik pergelangan Elena yang sangat keras kepala.
Dengan senang hati Elena menyetujui syarat yang di ajukan oleh Arion dia lebih baik jadi pembantu daripada makan dan minum gratis, Elena bukan tipe gadis yang senang memanfaatkan orang lain,dia juga sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah,memasak mengemas rumah mencuci pakaian, "baiklah tuan aku setuju,aku akan bekerja di rumah tuan".
Kakek,Denis dan Max tidak setuju "Arion kau ini memang gila",ucap Denis dia sangat tidak tahan dengan sikap Arion pada Elena yang sangat ketus dan dingin.
Kakak melirik jam tangannya "ini sudah tepat tengah malam,sebaiknya kita pergi dari sini,tidak apa-apa aku akan menggaji Elena seratus juta sebulan".
"aku juga akan memberi gaji padanya seratus juta",ucap Max.
Denis pasti tidak mau kalah dengan Max.
"aku seratus Lima puluh juta".
"tidak Tuan,aku hanya butuh tempat tinggal dan makan", Elena menggeleng,dia tidak butuh uang,yang penting dia bisa aman dan kebutuhannya tercukupi.
Arion mengerutkan kening,sepertinya kedua temannya ini sangat tertarik pada Elena,matanya berpindah pada Elena,memang pantas Denis dan Max menyukai Elena,dia lemah lembut dan sopan,wajah Elena juga bercahaya seperti rembulan,tidak ada yang tidak terkesima bila melihat gadis itu,mungkin efek di kurung bertahun-tahun kulit Elena tak tersentuh oleh sinar matahari membuatnya jadi seputih salju, Elena memang sangat sangat cantik.
Arion menggeleng kepalanya jangan sampai dia juga ikut gila seperti Max dan Denis,dia mengedipkan kedua matanya agar hilang dari fikiran kotor yang sedang bersarang di kepala.
"ada apa Yon,apa kepala mu mau di cek juga?",tanya Kakek dia tahu apa yang sedang Arion fikirkan.
"hum tidak ada,ayo lekaslah,kita harus cepat tiba di rumah impian",Arion segera meninggal kan mereka yang tengah menurunkan Elena dari pembaringan,terlihat dari kejauhan Elena bejalan di rangkul oleh Denis dan Max di sisi kiri dan kanan lengannya.
Arion segera menyambar kursi roda yang tersandar di dinding rumah sakit,"CK bodoh" Arion melirik ke arah Denis dan Max,mereka hanya bisa nyengir seperti kuda, karena tidak pernah sakit Denis lupa jika orang yang sulit berjalan harus memakai kursi roda.
Elena hanya menunduk saat mereka mendorongnya dia merasa malu,padahal mereka bukanlah keluarga atau kerabat Elena,tetapi mereka menjaga Elena seperti adik sendiri, Max dan Denis juga bergantian mendorong Elena,ingin rasanya kakek mencekik dua orang yang selalu saja bertengkar namun mereka masih sahabat baik dan saling menyayangi.
"biar aku saja,lihatlah tubuh Elena terguncang,kau mendorongnya terlalu laju Max",Denis mengambil alih kursi roda tersebut dia mendorong Elena dengan pelan dan hati-hati,namun pada saat dia lengah kursi roda yang di tumpangi Elena malah melindas kaki Arion.
"kau!!?",darah Arion mendidih sambil menahan rasa sakit di kakinya Arion segera mengambil alih kursi roda tersebut,dia menggendong Elena agar cepat tiba di depan lobi.
Elena tidak menatap wajah Arion dia tahu Arion sejak awal tidak suka padanya,dengan raut wajah suram Elena terpaksa mencengkram bahu Arion yang sedang menggendongnya.
"wahh,menang Banyak si brengsek itu",Denis dan Max segera menyusul kakek dan Arion yang meninggalkan mereka berdua.
Suasana di rumah sakit sangat sepi,tidak banyak orang yang keluar masuk di rumah sakit swasta milik Denis itu,karena hanya orang-orang berduit yang mampu membayar administrasi rumah sakit milik Denis, mobil-mobil yang terparkir di depan pun tidak ada mobil yang kelas biasa,semuanya mobil berharga milyaran.
Denis juga membuat aturan ketat,tidak ada yang yang boleh masuk ke dalam jika bukan keluarga dekat yang masih dalam satu kartu keluarga,jadi bisa di pastikan rumah sakit Denis sangat aman dari pengintai ataupun orang-orang yang akan berbuat jahat.
setibanya di rumah impian,mereka segera membawa Elena masuk ke dalam rumah, Elena sangat takjub dengan suasana di rumah impian yang sangat indah dan asri,meski malam hari Elena tahu tempat itu sangat indah dan nyaman,dia tidak sabar menunggu waktu pagi untuk melihat pemandangan di sekitar rumah impian.
Max dan Denis segera menuju dapur,mereka sangat kelaparan,karena pekerja di rumah impian hanya bekerja saat siang hari mereka terpaksa memasak sendiri,ada mi instan dan telur di dalam kabinet dapur,mereka masak bersama meski di selingi dengan pertengkaran,sedangkan Kakek dan Arion hanya membiarkan kebisingan yang terjadi di Antara dua orang tersebut,Arion sama sekali tidak berniat untuk melerai mereka.
"lebih baik masak mi instan daripada masak sayur dan perdangingan,pasti rasanya akan hambar dan terbuang",mereka menyajikan makanan di atas meja,karena lapar semuanya menyantap mi instan dengan lahap.
"rasanya tidak buruk",ucap Max dia baru kali ini makan mi instan seumur hidupnya.
"untung saja ada petunjuk di belakang kemasan",ucap Denis sambil menyendok mi instan ke dalam mulutnya, Kakek,Arion dan Elena juga menyantap makanan yang di masak oleh kedua bujang tersebut.
"Elena setelah ini kau harus beristirahat,semua harus beristirahat,hari ini sangat panjang petualangan kita", Kakek meneguk segelas air putih,dia kembali duduk menunggu yang lain selesai makan.
Elena mengangguk,mereka semua masuk ke dalam kamar masing-masing, Elena berjalan perlahan sambil meringis kesakitan,letak kamarnya yang berada di atas membuat Elena sangat kesulitan untuk menuju lift Elena harus di papah oleh Kakak.
Arion hanya diam tak berniat untuk menolong Elena,dia menuju kamarnya sedangkan Kakek mengantar Elena ke dalam kamar.
"hum,nak Elena apa Kakek boleh bertanya kepadamu?".tanya Kakek ragu,namun rasa penasarannya tidak bisa di tahan.
Elena melirik ke arah Kakek dia mengangguk, menunggu Kakek memberi pertanyaan selanjutnya.
"siapa nama Kakekmu?", Kakek duduk di atas kursi yang tersedia di dalam kamar itu,sedangkan Elena duduk di atas ranjangnya.
"hum, Kakek bernama Jhon Shirley",mata Elena berkaca-kaca bila menyebut nama Jhon Shirley Kakeknya.
Tar..
Terasa bagai hantaman petir di siang hari tubuh Kakek terasa melayang,jantungnya berdegup lebih kencang dari pada sebelumnya,"Elena,kau...kau adalah cucu sahabatku,bagaimana ini semua bisa terjadi?".
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments
ari sachio
enakny jd denis....g pernah sakit...
2024-02-28
0