Sebenarnya yang anak kandung itu siapa Dirinya atau Anas,sungguh Heny tidak habis fikir kenapa bisa jadi seperti ini. Heny tidak bisa terima dengan apa yang sudah tertulis.
" Pa ini apa ya maksud nya?" tanya Heny tidak mau terburu-buru ambil kesimpulan karena harus tau dulu apa alasan sang Papa membuat keputusan sendiri.
" Apa itu belum jelas sayang coba kamu baca sekali lagi" ucap Arifin mengacak rambut di kepala Heny.
Tampa bertanya lagi Heny kembali membaca dengan seksama mungkin tadi salah baca jadi enggak ada salah nya mengulang agar lebih jelas fikir nya. Dada Heny turun naik saat membaca kata demi kata yang tertera bahwa Papa nya akan memberikan tujuh puluh persen saham untuk Anas dan dua persen untuk Heny selanjut nya satu persen lagi akan di sumbangkan ke panti asuhan dimana Almarhum ibu nya berasal.
Tangan Heny gemetar menahan gejolak amarah memang benar Ia tidak salah baca, kenapa Papa nya bisa lebih banyak memberi saham kepada Anas ketimbang dirinya yang jelas-jelas anak kandung.
" Maksud Papa apa sih ?" tanya Heny mulai tersulut Heny melempar map itu kembali ke atas meja kemudian bangkit.
Mendengar pertanyaan Heny, mata Arifin menyipit mengamati putri satu-satunya. Arifin hafal betul dengan sifat pembangkangan putri nya entah keturunan dari siapa hingga punya sifat sekeras batu.
Entah kenapa pula di dalam hati sangat yakin kalau pernikahan yang berlangsung pagi tadi semata-mata adalah rekayasa putri nya untuk mengelabui nya. Untung Arifin bukan sosok Ayah yang dengan gampang membentak apa lagi sampai menggunakan kekerasan Arifin diam terus menatap putri nya.
Bukan tidak tau pernikahan ini memang akal-akalan putri nya untung cepat tanggap dan mencari tau siapa sebenar nya calon menantu. setelah mencari tau siapa Anas, Arifin berkeinginan besar agar Anas benar-benar menjadi menantu sah dan suami satu-satunya untuk putri nya.
Bukan tampa Alasan Arifin berbuat demikian, memang selama ini Ia memantau pergaulan Heny lewat orang suruhannya, laporan memang belum sampai tahap ke seks bebas tapi itu semua tidak menutup kemungkinan bisa saja selama ini orang suruhan nya lalai hingga Heny luput dari pengawasan mereka.
Begitu tatap muka dengan Arifin entah kenapa nalurinya sebagai seorang Ayah begitu percaya kalau Arifin pasti bisa merubah sikap putri nya yang bar-bar. Arifin yakin Anas akan bisa mendidik Heny menjadi istri yang baik.
" Pah..eee..malah bengong apa itu maksud nya!?" sentak Heny sambil menggoyang lengan Arifin yang bertumpu pada paha.
Arifin tersenyum menanggapi ketidak sabaran putri nya, " nggak perlu Papa jelas kan. Kalau mau aset semua atas nama kamu cukup ikuti apa yang sudah papa syarat kan" jawab Arifin tegas dan santai.
Heny mendengus membuang nafas kasar hati nya begitu panas. Masak iya harus terjebak di jebakan yang Ia buat sendiri pasti Anas juga tidak akan mau. Tapi kalau tidak nurutin harus bagaimana kelanjutan hidup nya membayangkan hidup di jalanan tampa uang tampa brang branded Heny bergidik ngeri.
" Heny gak mau punya anak Pah" ucap nya berbalik pergi meninggal kan sang Papa yang sedang mengulum senyum kemenangan. sungguh persyaratan yang di buat papa nya membuat nya pusing sangat tidak masuk akal harus punya anak dari Anas. Sedang kan tidak ada cinta diantara Ia dan Anas.
Kalau tidak terpaksa Heny tidak akan mau menikah mana dengan laki-laki yang tampa sengaja ketemu. " Aaaaaakkk " teriak Heny dalam hati. Bukan kah anak itu harus lahir dari kedua orang yang saling mencintai jadi anak akan tumbuh jadi anak yang berbakti kelak "itu fikiran Heny.
" Kalau kamu menolak maka papa akan coret nama kamu dan alihkan kepanti asuhan seluruh nya " ucap Arifin dengan tenang tapi mampu menghentikan langkah Heny.
Heny mematung langkah nya terhenti tampa sadar menggigit bibir bawah nya, kalau dengar dari ucapan papa nya tentu kali ini tidak main-main apalagi sampai syarat tertulis dan pasti di ketahui pihak pengacara keluarga.
Setelah diam sejenak Heny melanjut kan langkah, tempat tidur berbaring saat ini sangat Heny perlukan agar fikiran nya tidak buntu.
Arifin bersorak menangan dalam hati, sungguh kali ini Arifin ingin Heny lebih terarah. Sebagai orang tua tunggal tentu mempunyai rasa takut apa lagi menyangkut putri semata wayang, Mengingat dulu-dulu Arifin juga merasa salah karena terlalu memanjakan dan menuruti hingga putri nya jadi tidak terkendali dalam pergaulan.
Memang Heny belum sampai tahap terjerumus, tapi melihat lingkungan pergaulan Heny bukan tidak mungkin lama-lama kelamaan Heny akan terseret arus pergaulan bebas seperti beberapa teman Heny yang Arifin kenal sempat menjadi sugar baby teman sejawat nya.
Dengan kasar Heny memutar kenop pintu, brak...huh..lirih geram Heny saat masuk lupa kalau ada orang dalam kamar.
" Apaan Sih..brisik amat" oceh Anas yang masih terbaring di balik sofa.
Heny terlonjak huff...berulangkali mengelus dada kenapa bisa lupa kalau ada suami jadi-jadian nya. " Heh nggak usah nyolot kamar kamar Gue mau pintu nya Gue banting mau Gue rontokin terserah Gue lah " hardik Heny.
" CK..hehehe . " Arifin tertawa lalu kembali melanjut kan tidur malas melayani Heny yang sejak awal sudah Ia cap sebagai cewek gila.
Heny mengabaikan Anas dengan sengaja melewati nya, mau Anas tertawa mau nangis Heny nggak peduli syarat yang di ajukan sang papa sangat mengganggu fikiran nya.
Dengan sengaja Heny melempar diri di atas pembaringan, " huhh..Papa kejaaaaaamm " teriak Heny sengaja menjerit di balik bantal agar suaranya tidak keluar.
Pukul tiga pagi. Samar-samar Heny mendengar suara orang teriak-teriak memanggil ibu sambil terisak, Heny membuka mata dan memasang telinga agar suara itu lebih jelas.
" Ibuuuuu...huuuuhhuu...ibu bawa Aku Buuuukk.." teriakan tertahan itu semakin jelas. Heny duduk setelah nyawa nya kumpul utuh.
Dari atas tempat tidur Heny melihat jelas tangan Arifin menggapai-gapai ke udara seperti sedang memanggil seseorang. " dasar pengganggu " gumam Heny lalu turun dari ranjang.
Dengan langkah perlahan Heny mendekati sofa tempat Anas terbaring tidur, " anjriiiit nyesel Gue main nikah-nikahan " ucap nya dengan suara kecil.
Melihat kening Anas berkeringat, tampa sadar Heny meletakan punggung tangan untuk memastikan suhu tubuh Anas. " greebb..." tampa di sangka Anas menangkap tangan Heny membuat Heny melotot ingin segera menarik tangan nya.
Anas menarik tangan Heny tampa membuka mata, " Ibuuuuu bawa Anas ya Buk.." ucap Anas masih tergugu menangis tampa membuka mata.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 125 Episodes
Comments
Amelia
makanya mending nikah beneran😀😀
2024-05-09
2
zin
Hadiiiir 🥰
2024-02-26
1
Jumli
hahahaha 🤣
itu sedih, kok aku bacanya malah lucu sih🤣🤣
si heny di kira ibunya tuh
mantap Thor👍👍👍
2024-02-21
1