Setelah melihat tangan Elgara yang perlahan bergerak-gerak Maudy jadi sangat bahagia, ia yakin kalau Elgara benar-benar akan segera bangkit dari koma nya.
"Astaga, suamiku apa kau mendengarkan aku? Tangan nya bergerak, aku harus segera memberitahu mama," Maudy yang panik segera keluar dari kamar ia menemui bi Yani bi Tuti untuk mengatakan hal tersebut.
"Yani! Tuti!" pangil nya ke sana ke mari.
Tuti dan Yani yang mendengar suara panik Maudy segera pergi dari dapur dan menghampiri Maudy.
"Ada apa nyonya? Ada apa?" tanya mereka bersamaan.
"Anu, mas Elgara, dia menggerakkan tangan nya, cepat bantu aku telpon mama dan suruh mama bawa dokter ke sini," ucap Maudy terlihat sangat bahagia.
"Baik nyonya, tenang dan jaga saja tuan muda di kamar, kami akan segera menghubungi nyonya Mulia dan dokter," ucap Tuti dan juga Yani.
Maudy pun kembali ke kamar, dia duduk di samping tempat tidur sambil mengengam erat tangan Elgara, berharap kalau Elgara benar-benar akan segera membuka mata nya.
Selang tiga puluh menit kemudian.
Mama Mulia pun tiba bersamaan dengan dokter yang biasanya merawat Elgara.
"Semuanya mohon tunggu di luar ya, aku akan memeriksa keadaan tuan muda," jelas dokter laki-laki tersebut kepada mama Mulia dan Maudy.
"Apa aku tidak boleh masuk saja?" tanya mama Mulia yang sangat bahagia dan penasaran apakah benar putra semata wayangnya akan segera membuka mata kembali dan melihat dunia.
"Sabar nyonya, aku butuh konsentrasi untuk memeriksa keadaan nya," ucap sang dokter.
Mama Mulia dan Maudy pun akhirnya menunggu di depan pintu kamar sambil berharap kalau Elgara akan benar-benar bangun.
"Maudy kau tidak salah lihat kan sayang?" ucap mama Mulia sambil memegang kedua pundak Maudy.
"Iya ma, aku sama sekali tidak salah lihat, tangan suamiku benar-benar bergerak dia pasti akan segera bangun ma," ucap Maudy begitu yakin.
"Benarkah? Ya Tuhan aku sangat bahagia," ucap mama Mulia yang kemudian memeluk Maudy dengan erat.
Lama menunggu, dokter yang memeriksa keadaan Elgara pun akhirnya keluar dari dalam kamar.
Ia menatap Maudy dan mama Mulia secara bergantian.
"Dok, bagaimana? Bagaimana keadaan anak saya? Dia sudah bangun kan?" tanya mama Mulia kepada sang dokter.
"Nyonya, saya ingin bicara sebentar, ayo masuk ke dalam kamar bersama saya," ucap dokter tersebut sambil memegang pergelangan tangan mama Mulia.
"Ada apa? Apakah aku sudah boleh masuk sekarang juga?" tanya Maudy sambil menujuk dirinya sendiri.
Sang dokter mengelengkan kepala dan kemudian membawa mama Mulia masuk ke dalam kamar lalu mengunci pintu kamar tersebut.
"Astaga Elgara!" ucap mama Mulia sambil menutup mulut nya yang mengaga karena kaget yang luar biasa.
"Shtttt!" ujar sang dokter sambil menempelkan jari telunjuk ke bibir nya.
Mama Mulia berlari ke ranjang Elgara dan langsung memeluk erat Putra nya yang kini sedang duduk dalam keadaan sehat serta seluruh alat yang ada di tubuhnya sebelumnya telah terlepas secara sempurna.
Tak ada yang berubah Elgara terlihat sangat sehat.
Tangis mama Mulia pecah rasa bahagia yang luar biasa menusuk ke dalam hatinya, tak pernah ia duga hari ini akan tiba secepat mungkin karena Elgara kini telah sadar dari koma nya.
"Putra ku akhirnya kau benar-benar membuka mata mu," ucap mama Mulia dengan wajah basah dengan air mata ia terus memeluk Elgara.
"Ma, pelan kan suara mu, aku tidak ingin istri ku mendengar nya," ucap Elgara sambil membalas pelukan sang Mama.
Mama Mulia seketika melepaskan pelukan dan menatap Elgara dengan tatapan bingung, dia juga kemudian menatap dokter yang tersenyum di sebelah mereka.
"Maksudnya? Bukan kah baik jika Maudy sekarang di panggil ke sini? Dia sangat ingin melihat mu sadar," Ucap sang mama.
"Nyonya, saya ikut bahagia, tak di sangka akhirnya tuan muda akan bangun, ini benar-benar keajaiban yang luar biasa, aku pikir ini karena ketulusan nona muda," ucap sang dokter ikut nimbrung.
"Lalu kenapa Maudy harus menunggu di luar? Bukan kah bagus dia di ajak masuk ke dalam?"Lagi-lagi mama Mulia bertanya.
"Ma, bagaimana jika dia tidak menyukai aku dan akan pergi setelah aku bangun? Aku belum siap untuk bertemu dengan nya ma, aku sangat gugup," ucap Elgara sambil memegang tangan sang mama.
Ternyata itulah alasan nya, Elgara meminta dokter membawa sang mama masuk terlebih dahulu karena gugup dan takut untuk langsung bertemu Maudy sekarang.
"Apa? Jadi kau gugup ingin bertemu istri mu sendiri? Dia sudah hampir dua bulan merawat mu tanpa rasa gugup," jelas mama Mulia mencoba meyakinkan Elgara kalau istri nya orang yang baik.
"Tetap saja aku ingin mengenalnya terlebih dahulu," ujar Elgara menatap sang mama dengan tatapan gelisah.
Mama Mulia terdiam beberapa saat dan kemudian membisikkan sesuatu ke telinga Elgara.
Dan ide itu di terima Elgara dengan baik, sang mama meminta selama dua puluh empat jam Elgara pura-pura masih dalam keadaan koma agar Elgara tau bagaimana sifat Maudy yang merawat nya dengan sepenuh hati.
Sang dokter juga menyetujui hal tersebut dan mereka pun benar-benar kembali berpura-pura kalau Elgara itu masih belum bangun dari koma nya sampai pagi besok.
Sementara itu Maudy menunggu di depan pintu kamar dengan sangat gelisah ia bahkan bolak-balik.
Beberapa menit kemudian dokter dan mama Mulia pun keluar dari kamar dan menghampiri Maudy.
"Ma, bagaimana?" tanya Maudy dengan mata berbinar-binar.
Mama Mulia mengelengkan kepala dan memperlihatkan ke dalam kamar kalau Elgara masih terbaring di atas tempat tidur.
Senyum yang semula terukir di bibir Maudy seketika sirna begitu saja.
"Kenapa ma? Kenapa belum sadar?" tanya nya lagi dengan air mata yang mulai mengalir.
"Mama tidak tau, dokter bilang kau hanya salah lihat, Elgara tidak pernah bergerak," jelas mama Mulia sambil memegang pundak Maudy.
Seketika Maudy lemah dan terduduk di depan pintu kamar, ia tidak percaya kalau dirinya bisa salah lihat, padahal ia dengan jelas memegang tangan Elgara yang bergerak tadi pagi.
Sang dokter dan mama Mulia saling pandang, mereka tidak tega namun mereka harus menahan nya hanya selama dua puluh empat jam saja.
"Tidak mungkin aku salah lihat," lirih Maudy yang melemah air mata nya jatuh tak tertahankan.
Mama Mulia membantu nya untuk berdiri kembali sambil menasehati Maudy.
"Sudah lah sayang, kau mungkin hanya tak sabar ingin melihat Elgara segera bangun makanya kau salah melihat," ujar mama Mulia yang saat ini hatinya bergejolak dengan kebahagiaan bahwa putra semata wayangnya telah bangun.
Namun mama Mulia harus menahan rasa bahagia itu dan berpura-pura tetap terlihat sedih di hadapan Maudy.
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Sri mulyanah Mulya
tdk bersyukur kalau benar koma lagi gimana kasian maudy
2024-06-29
0
Yunerty Blessa
kasian Maudy di prank.... sampai pengsan
2024-06-27
2
Sumini Ningsih
yah kasihan maudy diprank
2024-04-03
0