Setelah memakai pakaian seadanya, Maudy segera keluar dari kamar untuk makan malam, seperti yang di perintahkan oleh pelayan nya tadi.
Terpampang jelas meja makan minimalis yang cukup besar dengan begitu banyak makanan di atasnya.
"Wahhh, semua makanan nya benar-benar terlihat sangat lezat, bagaimana aku bisa mengatakan kalau aku sangat bahagia, semua ini adalah makanan yang belum pernah aku makan," batin Maudy sedikit miris dirinya belum pernah sama sekali mencicipi makanan mewah seperti yang di sajikan para pelayan di rumah Elgara suaminya.
"Nyonya muda, kenapa tidak makan? Mengapa hanya menatap makanan nya saja?" tanya salah satu pelayan kepada Maudy.
"Emm, aku bingung mau makan yang mana dulu," ujar nya polos.
"Makan lah yang paling nyonya suka," ucap mereka sambil tersenyum.
Mereka cukup gemas dengan Maudy yang terlihat kebingungan untuk makan yang mana karena memang mereka menyiapkan banyak makanan seperti yang di suruh oleh mama Mulia.
"Hmm, baik lah," ucap Maudy yang kemudian memulai makan malam.
Ia merasa menjadi ratu saat ini, di layani dengan baik di berikan makan yang cukup di kelaurga Mulia, biasa nya di rumah kelaurga papa Anan, Maudy hanya bisa makan setelah mereka selesai makan dan itupun hanya sisa dari makanan mereka.
"Kenapa kalian hanya diam dan melihat ku makan? Kalian tidak maka?" ucap Maudy lagi kini matanya menatap dua orang pelayan yang melihat nya makan.
Kedua pelayan itu saling pandang satu sama lain." Kami?" tanya mereka.
"Iya, ayo duduk dan makan lah bersama ku, aku merasa tidak bisa menghabiskan makan ini semua kalian harus makan bersama dengan ku," ucap Maudy sambil tersenyum ramah di sela-sela ia mengunyah makanan.
"Nyonya muda, kami di sini hanya lah pelayan biasa, tidak baik bagi kami untuk makan di meja makan bersama dengan tuan rumah, kami bisa makan di dapur setelah nyonya selesai makan," ucap salah satu pelayan menjelaskan.
Maudy tiba-tiba terdiam, ia berhenti mengunyah makanan nya, ia kembali mengingat di mana dirinya dulu tidak pernah di ajak makan bersama dengan kelaurga angkat nya, ia juga selalu makan malam sendiri di dapur itupun makan tempe,tahu dan juga sambal atau mie.
"Jadi selama ini mereka memang memangap ku sebagai pembantu? Bukan anak angkat mereka," batin Maudy dengan mata yang berkaca-kaca.
Tiba-tiba ponsel salah satu pelayan berdering, pelayan tersebut segera pergi ke dapur untuk mengangkat panggilan tersebut.
"Permisi nyonya, saya angkat telpon dulu," ucap salah satu pelayan.
Namun Maudy masih larut dalam pikiran nya tidak ada sepatah katapun dia hanya diam dan matanya berkaca-kaca seperti sudah siap untuk menumpahkan bulir bening itu ke pipi nya.
Sementara itu di dapur.
Call on.
"Hallo Nyonya Mulia, ada apa nyonya?" tanya pelayan itu sambil menempelkan ponsel ke kuping nya.
"Aku lihat Maudy cukup kesepian jika dia makan sendiri, mulai sekarang iyakan saja apa yang dia katakan, aku mengawasi kalian jangan sampai buat menantu ku menangis," ucap mama Mulia di sebrang telpon.
"Ah iya nyonya ia, saya paham nyonya," jawab pelayan tersebut dengan rasa takut.
Tut ...
Tut ...
Tut ...
Call off.
Setelah mendapat jawaban dari pelayan nya, mama Mulia segera mematikan telepon secara sepihak.
Seluruh sudut ruang di rumah itu terdapat cctv yang terhubung dengan laptop mama Mulia karena itu ia bisa memantau Maudy agar tetap bisa ia jaga ia benar-benar menyayangi Maudy.
Setelah selesai mengangkat telpon, pelayan tersebut kembali ke ruang makan dan melihat temannya sedang membujuk Maudy yang sedang menangis.
"Astaga ada apa ini?" tanya nya kepada temannya.
"Aku juga tidak tau nyonya muda tiba-tiba menangis," ucap pelayan Tuti.
"Tuti barusan nyonya Mulia menelpon dia bilang kita harus menuruti apa yang nyonya muda katakan dan jangan sampai membuat dia kesepian," ucap pelayan Yani menjelaskan.
"Hiksss, hiksss," tangis Maudy yang larut dalam bayangan masa lalu nya.
"Nyonya maaf,maaf kan kami kalau begitu kami mau makan malam bersama nyong, ayo kita makan kami akan menemani nyonya maka ," bujuk Yani khawatir akan membuat Maudy semakin menangis.
Seketika Maudy teridam dan menatap Yani dan Tuti secara bergiliran.
"Benar kah kalian mau makan dengan ku? Kalau begitu cepat duduk dan ayo makan malam bersama," ucap Maudy kembali tersenyum.
Tuti dan Yani seketika lega, mereka mengelus dada masing-masing jika ini terjadi lagi habislah mereka oleh mama Mulia yang galak.
Meskipun sedikit cangung namun mereka bahagia karena ternyata masih nada istri dari seorang pewaris tunggal yang begitu polos dan tidak sombong seperti Maudy rasanya baru sehari bekerja di rumah itu mereka sudah sangat nyaman karena nyonya rumah seperti Maudy.
Setelah selesai makan Maudy segera berdiri dan membantu para pelayan untuk membereskan meja makan, tidak peduli seberapa kekeh Tuti dan Yani melarang nya untuk membantu namun dia tetap membantu.
"Terima kasih banyak nyonya, kalau begitu sekarang kembali lah ke kamar nyonya pasti sangat lelah," ucap Tuti kepada Maudy.
"Baik, kalau begitu aku kembali ke kamar untuk menemani suamiku," ucap Maudy dengan wajah ceria.
Ia bergegas pergi dari dapur dan kembali ke dalam kamar mereka.
"Nyonya Maudy cukup baik ya," ucap Tuti sambil mencuci piring.
"Iya, aku dengar dia di perlakukan buruk oleh keluarga angkatnya makanya dia sangat mudah sedih namun dia menutupi semua itu dengan keceriaan nya," ucap Yani sambil merapikan sisa makanan.
Begitu lah perbincangan mereka tentang Maudy.
Sementara itu di kamar, Maudy duduk di kursi yang berada di samping tempat tidur Elgara, ia kembali menatap suaminya yang terbujur kaku dan tidak ada respon itu.
Maudy menatap infus yang menetes setiap detik.
Ia juga menatap selang makanan yang ada di hidung sang suami.
"Kasian sekali suamiku, tidak bisa makan karena sedang tidur panjang," ucap nya polos ia sesekali mengelus wajah mulus putih dan sangat tampan milik Elgara.
Orang yang sedang koma memang tidak bisa makan atau menelan makanan dan obat mereka sendiri, tapi untungnya ada teknologi bernama nasogastric tube,atau bisa di sebut juga dengan selang nasogastrik. Dalam dunia medis nasogastric tube merupakan tabung plastik tipis yang akan di masukkan melalui lubang hidung, kerongkongan atau perut.
Begitulah cara Elgara tetap bisa hidup.
"Kasian Maudy, dia harus menikah dengan putraku yang entah kapan bangun nya," batin mama Mulia yang sedari tadi masih memantau Maudy.
Jam menujukkan pukul sepuluh malam, Maudy sudah beberapa kali menguap ia kemudian merapikan pakaian Elgara yang sedikit berantakan kemudian menyelimuti dengan kain se dada.
"Selamat malam suamiku, aku tidur di sofa ya, kau tidur saja di ranjang sendiri aku tidak ingin tidur bersama bukan karena aku tidak suka dengan mu namun aku adalah monyet yang kalau tidur bisa menendang apa saja aku tidak ingin menyakiti mu," lirih Maudy sambil tersenyum.
Ia kemudian mengambil selimut dan juga bantal pergi ke sofa yang ada di dalam kamar tak jauh dari ranjang lalu bersiap-siap untuk memejamkan mata.
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️
hhhhhhhh si maudi klo tidur berarti GK beraturan yaaaa 🤣🤣🤣 senyaman nya aja deh 🤣🤗🤗
2024-07-06
0
fee2
ya ampun maudy tidurnya pasti rusuh ya.....
2024-06-30
0
YuniSetyowati 1999
maraton bacanya 😁
2024-06-29
2