Sepulang aku dari tempat kerja. Rumah sudah dalam keadaan sepi. Alex tertidur di atas sofa. Masih di posisi seperti foto yang ku terima tadi.
Aku pergi ke kamarku membersihkan diri dan berganti baju. Aku kembali ke ruang tamu dan alex masih tertidur. Huft. Bagaimana aku membawa Alex ke dalam kamar tidur. Merepotkan. Kenapa tadi dia tidak langsung saja tidur dikamar.
Aku sudah beberapa kali memanggilnya tapi tetap saja dia tidak bangun. Aku memutuskan untuk memapahnya sendiri ke kamar. Kemungkinan bisa, karena jarak dari ruang tamu dan kamar tidak terlalu jauh.
Saat aku mendudukan Alex, dia seperti bicara sesuatu. Tapi tidak jelas. Dia bicara lagi, aku ingin tau dia bicara apa.
"Ka...rrii.. nn" ucapnya pelan sekali.
Oh Karin. Dia mencari Karin. Padahal mereka baru saja bertemu, kenapa masih saja mencarinya.
Aku mencoba membangunkan alex, tapi yang ada malah badannya jatuh menindihku. Ah Sial.
"Alex, bangun dong. Aduh badan kamu berat banget nih. " ucapku ke Alex. Aku tidak tau dia mendengar atau tidak.
Tidak ada pergerakan dari Alex. Aku terus memanggil namanya dan mengoyangkan badannya. Akhirnya dia bergerak juga.
Dia mendongakkan kepalanya dan menatap mataku.
"Sandra" ucapnya pelan.
"Iya Lex, ayo bangun, kamu berat. " ucapku sambil mendorong badannya.
Tak tau apa yang terjadi sedetik kemudian.
Cup.
Ya bibir Alex mencium bibirku. Aku terkejut. Perasaanku tak karuan. Aku bingung. Takut. Dan juga senang.
Bibirnya terus menciumku. Tapi aku tidak membalasnya. Lalu lidah Alex memaksa membuka bibirku. Aku malah merapatkan bibirku erat-erat.
Aku tau Alex saat ini dalam kondisi mabuk, jadi dia berbuat hal ini tanpa sadar.
Alex belum juga menyerah, dia masih mencium bibirku dan memainkan lidahnya. Aku takut pertahananku akan runtuh. Tanpa diduga, Tangan Alex malah memasuki kaos oblongku. Sial. Harusnya gak kayak gini. Aku mau saja melakukan ini dengan Alex karena dia berhak. Aku Istri SAHnya. Tapi tidak dengan Alex dalam keadaan mabuk seperti ini. Aku ingin semua sadar. Dan itu keinginan kita berdua.
Aku mendorongnya sekuat tenaga. Sambil berteriak,
"Alex Mesum!!!"
Alex pun terjatuh ke belakang dan mengenai sandaran sofa. Alex perlahan mulai sadar.
"San, ada apa? kenapa kamu berteriak"tanya Alex bingung.
" Egak. Kamu itu dibangunin susah banget. Jadi aku teriak. Ya sudah, mending kamu tidur dikamar jangan di sofa nanti jatuh. Aku juga mau tidur. Capek." jawabku sambil berjalan ke arah pintu.
"Oh oke, thanks ya udah di bangunin" jawab alex
"Oke. aku tidur dulu ya. " pamitku seraya membuka pintu kamar lalu langsung ku kunci.
Kejadian tadi benar-benar tak pernah terbayangkan olehku. Jantungku rasanya berdebar. Aku tidak tau ini perasaan takut atau perasaan bahagia.
Keesokan Hari
Aku sudah melakukan rutinitas seperti biasa. Aku sudah menyiapkan teh panas untuk Alex. Pasti pagi ini kepalanya pusing dan perutnya juga gak nyaman.
Aku hari ini memasak ayam panggang, mumpung hari ini libur jadi aku bisa me time. Menikmati masakanku. Ah jadi laper.
Semua sudah tersaji di meja makan. Tapi Alex belum juga keluar dari kamar. Apa perlu aku bangunkan? Tapi aku takut dia bakal ngelakuin gitu lagi. Aku pun memutuskan membangunkan Alex hanya dengan mengetok pintu. Tidak masuk ke dalam kamar.
Tok.. tok. tok..
"Alex, kamu sudah bangun?" tanyaku sedikit berteriak.
Tidak ada jawaban, tapi aku dengar pergerakan dari dalam.
"Lex, kamu lagi mandi?"tanyaku lagi.
Tiba-tiba Alex membuka pintu dan keluar hanya memakai celana kolor tanpa baju. Ya Tuhan, Ujian apa lagi ini. Bagaimana aku bisa menikmati ayam panggangku kalau ada dada berpetak-petak dihadapanku.
Aku hanya melongo dan menelan ludah. Sedangkan Alex sudah hampir sampai dapur. Aku akhirnya tersadar dan sedikit berlari waktu ke dapur.
"San, ini ada lalapannya gak? "tanya Alex sambil berbinar melihat menu masakan pagi ini.
"Nah itu, aku lupa beli kemangi. Cuma ada timun sama kacang panjang. Kamu mau? " jawabku sambil membuka kulkas.
"Boleh deh." jawan Alex singkat.
Aku langsung mengambil Timun, mengupas lalu kucuci dan ku iris-iris. Saat akan memberikan Timun bel rumah berbunyi.
Ting.. Tong...
Alex dan aku saling tatap.
"Kami ada janji pagi ini? tanyaku pada Alex
Alex hanya menggeleng.
"Mungkin mama sama papa". jawabku lagi.
"Udah aku buka aja, biar cepet tau. Mana udah pengen makan banget lagi. " omel Alex.
Aku hanya duduk menunggu di meja makan. Kenapa setiap kali mau sarapan, ada aja tamu yang datang. Padahal lagi laper-lapernya ini.
Alex kembali dengan wajah santai. Dan dibelakangnya ada Aldo yang melambaikan tangan sambil tersenyum padaku.
"Wih, lagi makan enak nih. Gabung boleh dong, boleh lah pasti. hahaha. San, tolong ambilin piring dong." pinta Aldo sambil senyum senyum gak jelas.
Aku pun berdiri sambil menatapnya tajam. Merusak selera makan bener nih Aldo. Pagi-pagi udah setor muka aja.
Kami makan dengan khidmad, karena memang masakanku Luar biasa. Enak banget. Aku lihat Alex dan Aldo juga pada nambah nasi dan Lauk. Yah, abis deh jatah makan siangku.
Aku membawa piring kotor ke wastafel.
"San, kopi susu dong satu. Thanks ya." ucap Aldo dengan enaknya.
Aku menoleh padanya. Memberikan tatapan setajam pisau dapur.
"Pleaseee san, yah.. yah.. " jawab aldo dengan tangan memohon.
Oh Tuhan, Acara liburku, me time ku bakalan berantakan. Kacau. Ah tidak sesuai ekpektasi.
"Bentar bentar, kenapa kalian malah bersantai disini? Gak pada kerja? udah mau jamnya loh? " tanyaku juga modusku untuk mengusir mereka.
"Aku ambil cuti hari ini, tau nih kalau kampret." jawab alex sambil menyenggol Aldo.
"Gue juga cuti, capek pengen istirahat aja san."jawab Aldo santai.
"Kenapa juga kalian ambil cuti pas aku juga cuti. Sengaja ya?! " tanyaku sebal.
Yang ada mereka malah mengambil kopi masing-masing dan pindah ke ruang tamu. Sudah bisa di tebak bagaimana hariku.
Saat Alex sedang menerima telp dikamarnya, Aldo mendekatiku. Aku yang masih trauma tiba-tiba langsung menjauh darinya.
"Loe kenapa sih malah jauhan gitu, gue mau ngomong sama lor biar gak kedengeran Alex. "ucap Aldi berbisik.
"Ada apaan sih. "jawabku ga berminat.
"Loe udah terima foto dari gue kan? fotonya Alex? " tanya Aldo.
"Hah?! itu elo do? gue kira Karin. " jawabku terkejut.
"Bukan itu gue, Tapi Karin ada juga, san. " jawab Aldo berbisik sambil lihat ke arah pintu kamar Alex.
"Maksudnya gimana sih. Sumpah, aku ga ngerti. "jawabku bingung.
"Jadi gini san..."
Klek.
Aku dan Aldo bersamaan menoleh ke asal suara. Ternyata Alex sudah keluar. Dan melihat ke arah kami dengan wajah yang lumayan memerah.
"Kalian lagi ngapain?!" Teriak Alex kepada kami.
Aku bingung. Kenapa Alex bertanya seperti itu sedangkan aku dan Aldo tidak berbuat apa2.
Tapi setelah aku sadar, ternyata posisi tubuhku dan Aldo bisa membuat orang lain salah paham.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 77 Episodes
Comments