Sesampai di rumah, Nada langsung pergi ke kamar mandi untuk mandi, membersihkan tubuhnya. Sementara Saga masih di teras rumah, membuka baju PDLnya yang sudah basah dan menyisakan kaos dalaman saja.
Saga pun pergi ke dapur, menyiapkan air panas untuk mandi Nada, ia berpikir kasihan kalau Nada mandi pakai air dingin padahal dia sudah kedinginan, makin menggigil entar itu anak.
"Nada kamu jangan mandi dulu ya, saya masakan air panas buat kamu mandi" pekik Saga dari luar pintu kamar mandi.
Sementara Nada yang di dalam kamar mandi pun salting karena mendapat perhatian dari Saga "aw, perhatian sekali om suami gue ini" ucapnya pelan sambil mengsaliting. "IYA OM" pekiknya menjawab ucapan Saga.
Akhirnya airnya mendidih, segera Saga mematikan kompor tersebut. Kaki jenjang pria itu berjalan perlahan, membawa panci yang berisi air panas itu ke depan pintu kamar mandi. "Nada buka pintunya, air panasnya udah siap ni"
Dengan ragu Nada membuka pintu kamar mandi itu, bukan gimana, Nada sudah membuka seluruh pakaiannya karena basah dan tubuhnya kini hanya berbalut handuk. Kini pintu sudah terbuka lebar.
Saga menelan salivanya susah payah, lalu memalingkan wajahnya tidak berani menatap tubuh sang istri yang begitu memikat imannya. "Ini, air panasnya" Saga menyerahkan panci yang ada di tangan Saga pada Nada, masih tidak melihat ke arah Nada.
Nada hanya menatap panci air panas itu yang penuh dengan air dengan asap yang mengepul. Ia meringis.
Karena Nada tak segera mengambil panci yang berisi air panas itu Saga bertanya "Kuat gak kamu?" Masih memalingkan wajahnya.
Nada cengengesan "hehehe, gak kuat Om"
"Ya uda minggir, saya biar masuk"
Nada pun minggir ke pojok kamar mandi, ia mengencangkan handuk yang ia kenakan supaya tidak lepas. Kan malu kalau tiba-tiba melorot. Bisa makin ngereog iman Om Saga.
"Udah, sekarang kamu mandi, cepetan mandinya saya juga mau mandi." Saga pun buru-buru keluar takut kalau dia akan melahap gadis tersebut.
____________________
Saga pergi ke tempat tambal ban mobil, mengambil ban mobil yang ia tinggal di tempat tambal ban mobil dan juga mobil yang ia tinggal di pinggir jalan. Nada tadinya merengek minta ikut, tapi karena sudah malam, Saga menyuruhnya tinggal, dan dia mengajak Dirga untuk ikut bersamanya.
Dan setelah ia kembali, Saga melihat Nada yang sudah tertidur di ranjangnya, Saga pun menggelar matrasnya untuk tidur, ia membaringkan tubuhnya di atas matras tersebut. Baru mulai memejamkan matanya, Saga mendengar Nada mengigau.
"Mama... Nada sakit, Mama... Nada ikut mama... Mama..." igauan Nada membuat hati Saga sakit mendengarnya, betapa rindu gadis itu akan sosok ibu yang tak pernah ia lihat sejak dari lahir.
Saga mendekati Nada yang tengah mengigau tersebut, ia mencoba membangunkannya, saat baru menyentuh pipi gadis itu, Saga kaget karena suhu tubuh Nada yang terasa sangat panas. Ternyata dia sedang demam karena kehujanan tadi sore.
"Nada!! Nada!!" Saga memukul pelan pipi istrinya, tapi belum mau membuka mata.
"Nada bangun!!" pekiknya.
Nada pun membuka matanya perlahan, ia merasakan sakit di kepalanya yang cukup hebat. "Om kepala aku sakit banget" lirihnya terdengar parau.
"Ayo kita kedokter" ajak Saga, ia khawatir akan kesehatan istrinya.
"Udah malam Om, besok pagi aja"
"Kamu sakitnya sekarang, bukan besok pagi! Jangan ngeyel kamu!" Saga dengan segera mengangkat istrinya itu dengan gaya bride style.
Sepontan Nada melingkarkan tangannya di leher suaminya. Jantungnya berdebar kencang, "sakit setiap hari gak papa deh, kalau setiap hari di gendong begini sama Om Saga" batinnya.
Cih, modus lu Nada.
Saga mendudukkannya di bangku dalam mobil, memacu laju kecepatan mobil itu, untuk segera sampai ke rumah sakit.
Mereka akhirnya tiba di rumah sakit.
"Aduh Om kepala Nada sakit banget" rengek Nada modus, supaya di gendong lagi oleh Saga. Walaupun ya memang sakit sih, tapi kan supaya bisa di gendong lagi sama Saga. Pumpung ada kesempatan, di manfaatin.
Dan benar saja, Saga menggendong istrinya lagi ala bride style. Memasuki rumah sakit, Nada langsung ditangani dokter dengan sigap di UGD.
"Adiknya gak papa kok mas, cuma demam biasa dan juga terkena flu. Biasalah masa pancaroba begini jadi harus atur pola makan dan rajin berolahraga." Tutur dokter wanita itu pada Saga dengan senyuman genitnya sambil memberikan resep obat pada perawat yang bersamanya untuk mengambilkan obat yang telah ia resepkan.
"Habis kehujanan dia dok" ucap Saga.
Dokter itu tersenyum manis, semanis-manisnya.
Pasti nih calon dokter ganjen dah.
"Cepet sembuh ya dek" tambahnya lagi, sok perhatian.
Nah kan bener.
Nada yang mendengar dirinya di panggil adik oleh dokter wanita itu, memelototkan matanya. Dikira Nada adiknya Saga kali ya. Mulai ada perempuan gatel yang menggoda suaminya. Seketika ia merasa jijik dengan dokter wanita itu "iya" jawab Nada singkatnya.
"Adiknya cantik ya mas, sama kayak masnya yang juga ganteng" tuturnya pada Saga yang mengira Saga dan Nada adalah bersaudara.
Tadi dikira ponakan sama Om nya, sekarang malah di kira adik–kakak. Hadeh, begini ye nikah sama beda usia yang terpaut jauh.
"Iya dok" Saga mengiyakan saja apa yang di katakan oleh dokter wanita tersebut. Membuat Nada menggelengkan kepalanya tak percaya. Ia ingin mencoba berbicara, tapi dokter tersebut tak henti-hentinya berbicara. "Kapan si obatnya Dateng?" batin Nada.
"Masnya tentara ya?" tebak dokter itu, melihat badan tegap, kekar, serta wajah tegas milik Saga begitu memperlihatkan bahwa ia adalah seorang tentara.
"Iya dok"
"Tamtama? Atau Bintara?"
"Perwira dok"
"dok, dok. Anjing kali ah dog" gerutu Nada pelan.
Sumpah Nada rasanya ingin menjambak dokter ganjen tersebut.
"Boleh minta nomor WhatsAppnya siapa tau bisa jadi teman?"
Wah mulai kelewatan, seketika Nada membelalakkan matanya. Nada menatap Saga dengan mata yang terlihat sudah akan copot. Nada pun membuka mulutnya karena sudah tidak tahan mendengar dokter ganjen itu meminta nomor WhatsApp suaminya. "Maaf ya dok, dari tadi saya lihat dokter menggoda laki-laki yang sudah memiliki istri. Yang dokter bilang adeknya ini," Nada menunjuk dirinya sendiri, "itu istrinya". Ucapnya penuh penekanan.
Dokter tersebut pun terkejut bukan main, ia mendelikkan matanya, menatap Saga untuk meminta kepastian dengan apa yang di katakan oleh Nada. Saga pun tersenyum "iya dok, dia istri saya"
Deg!
Dokter itu seketika memejamkan matanya ia terlalu malu, menggoda suami orang bahkan di depan istrinya sendiri "kenapa mbaknya dari tadi diam aja?"
"Lah dari tadi saya gak di beri kesempatan buat ngomong sama dokter. Yang sedari tadi menggoda suami saya gak pakek berhenti lagi" ucap Nada. "Saya tau dok, saya ini imut-imut, masih muda, masih kenyes-kenyes. Tapi ya mbok di pastikan dulu saya ini siapa?, jangan berasumsi sendiri" lanjutnya lagi.
Saga hanya tertawa mendengar penuturan Nada yang membuat dokter itu malu setengah mati.
"Maaf mbak" cicit dokter yang sudah terlalu malu.
Suster memberikan obat pada Saga. Sementara Nada masih diam tidak mau mengajak Saga bicara, saat Saga bertanya Nada pun hanya menjawab seadanya dan seperlunya.
Di dalam mobil pun Nada masih tetap diam, tidak seperti biasanya. Bukan lantaran hanya karena sakit. Tapi juga lagi ngambek dengan suaminya.
Bisa-bisanya Saga hanya mengiyakan perkataan dokter itu kalau dia adalah adiknya. Sumpah, sakit demam yang di derita saat ini berubah menjadi darah tinggi.
...Orang tampangnya begini siapa yang kagak oleng cobak?...
...Nah loh si Nada sampai keluar tanduknya😂...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Astri
hahhahah
2024-01-22
1
Astri
suka banget ceritanya merakyat banget
2024-01-22
1
Dennoona
iya Adek ketemu gede 😄
2024-01-18
2