"Ajhussi rasa oppa-oppa"

Akhirnya waktu bertemu pun tiba, Nada meminta Tasya mengantarkannya ke restoran yang di katakan papanya tadi pagi.

"Gue kok deg-degan ya sya" Nada memegangi dadanya yang tidak karuan entah karena takut di marahi oleh Lingga karena pakai baju super seksi atau akan menolak perjodohan ini.

"Takut di omeli papa lo?" tebak Tasya.

Nada mengangguk.

"Tadikan lo bilang sendiri, urusan di omeli itu belakangan. Yang penting perjodohan lo ini batal dulu."

"Iya si."

Tasya mengambil sesuatu di jok belakang "kalau lo malu, pakai blazer ini. Entar kalau udah sampai dalam jangan lupa lo lepas" Tasya memberikan blazer panjang miliknya yang selalu ia bawa pada Nada. Jaga-jaga kalau dia pulang sampai pagi dari club.

"Dih, sejak kapan lo nyiapin ini?" tanya Nada yang kaget karena sejak masuk mobil Tasya mereka tidak membawa apapun.

"Itu selalu gue siapin di mobil, kalau-kalau orangtua gue tiba-tiba balik. Gue juga takut di omelin sama mereka kalau mereka tau gue pergi ke klub dengan pakaian kayak gitu" jelas Tasya menunjuk pakaian yang di kenakan Nada.

Nada menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan sahabatnya ini.

Akhirnya Nada turun dari mobil dan masuk ke restoran.

^^^Nada udah sampai pa, papa dimana?^^^

^^^Nada^^^

Papa duduk di tengah.

Papa

Nada pun menyapu pandangan sekitar, celingak-celinguk mencari keberadaan Lingga dan akhirnya ia menangkap keberadaan Lingga yang duduk berhadapan dengan seorang pria memakai kemeja putih, pria itu memunggunginya. Jadi Nada hanya melihat punggungnya saja. Dan yang pasti itu calon suami yang di katakan Lingga.

Lingga melambaikan tangannya.

Nada berniat membuka blazer yang ia kenakan. Tapi setalah ia mendapati pria itu berbalik dan menatapnya, Nada membelalakkan matanya. Ia terkejut bukan main. Nada masih mengingat jelas wajah itu, wajah pria yang selalu seliweran di benaknya akhir-akhir ini, pria yang menolongnya beberapa waktu lalu.

"Cowok itu?" batin Nada. Nada mengerjap-erjapakan kedua matanya masih tidak percaya. Bukannya membuka ia malah semakin mempererat blazer yang ia kenakan untuk menutupi baju seksinya.

Rasa malu karena mengingat kejadian malam itu membuat Nada ingin menyembunyikan wajahnya. "Kenapa ni cowok ada di sini sih?" batin Nada. Ia pun berjalan mendekat.

Lingga mendelikkan matanya melihat pakaian anaknya yang menggunakan dress pendek, memperlihatkan paha putih mulusnya.

Nada yang memang mengerti ekspresi Lingga hanya tersenyum tanpa dosa.

Belum tau aja papanya kalau di balik blazer yang di kenakan Nada menyembunyikan yang jauh membuat bulu kuduk merinding.

"Nada, duduk sini nak" ujar Lingga menepuk kursi yang ada di sebelahnya.

Nada mengangguk. Ia pun duduk perlahan di sebelah Lingga. Jangan di tanya jantungnya sudah pasti seperti petasan yang meledak-ledak di dalam sana. Hampir saja ia melakukan hal yang bodoh.

Lingga mencubit lengan Nada sangking kesalnya melihat pakaian yang di kenakan oleh Nada, dan Nada hanya menunjukkan cengirannya.

Tapi ngomong-ngomong dimana calon suami yang mau di kenalkan oleh Lingga? Gak mungkinkan cowok ini yang menjadi calon suaminya?

"Saga kenalin ini anak saya Nada. Nada kenalin ini Lettu Saga anggota papa" Lingga memperkenalkan mereka berdua.

Wait, wait. Tadi papa bilang apa? Lettu Saga? Seketika Nada membulatkan matanya menatap Saga yang juga menatapnya, hanya seperdetik saja, setelahnya Saga menundukkan pandangannya kembali.

"Letnan masih ingat Nada kan?" tanya Nada setalah berhasil menguasai dirinya. Padahal sebelum ini katanya dia malu.

Saga mengangangkat kepalanya, seperdetik melirik Nada. "Masih" lalu ia menunduk kembali.

"Kalian saling kenal?" tanya Lingga yang sedikit kaget. Apa dia melewatkan sesuatu disini?

Nada menghadap Lingga yang duduk di sampingnya. "Dia yang nolongin Nada 2 hari yang lalu pa."

Lingga membulatkan matanya, kaget sekaligus tak percaya apa yang di katakan oleh Nada "bener begitu Saga?"

"Siap, benar komandan."

Lingga mengulum senyum, ternyata takdir memang mempertemukan mereka bahkan sebelum Lingga mempertemukan mereka.

2 orang pria datang membawa pesanan mereka berupa steak.

"Jadi bagaimana Nada?" tanya Lingga setelah pramusaji itu pergi. Kini ia mulai memotong steak miliknya.

"Gimana apanya pa?"

"Kamu mau gak di jodohin sama letnan Saga?" Lingga melirik Saga sekilas, semantara yang di lirik masih santai memotong dagingnya.

"Uhuk!!"

Nada tersedak danging yang belum ia kunyah, lalu menatap tajam Lingga yang duduk di sebelahnya dengan wajah yang memerah menahan rasa sakit di tenggorokannya.

"Minum dulu" Lingga dengan santainya memberikan segelas air putih pada Nada dan Nada meminumnya.

Kini tatapan Nada beralih pada Saga yang masih dengan santainya memotong steak miliknya dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Dia bahkan tidak membalas tatapan Nada.

"Memangnya... Letnan Saga... Mau sama Nada?" tanya Nada ragu-ragu.

"Kalau Saga sih udah setuju, tinggal kamu nih gimana?" ucap Lingga. Mata Nada kembali membola, ia kembali menatap wajah datar Saga.

Saga sama sekali tidak menatapnya sejak tadi, terlihat bahwa ia tidak tertarik sama sekali dengan Nada. Tapi mengapa Saga mau-mau saja menerima perjodohan ini?

Saga kesal sendiri melihatnya.

"Tapi Nada masih terlalu muda pa, kuliah Nada juga baru di mulai, masih jauh dari kata selesai" ucap Nada.

"Setelah menikah lanjut kuliah juga bisa, Saga juga setuju aja. Tapi itu juga tergantung kamu, papa gak akan maksain kamu kok. Kalau kamu gak mau juga gak papa" mulutnya ngomong gak papa, tapi kakinya di bawah meja menendang-nendang kaki Nada.

Emang ni bapak satu minta di tukerin Choki-choki ke Indomart.

"Katanya gak mau maksain tapi buat acara makan malam begini? Apa lagi ini main tendang-tendang kaki segala? Terus lagi nih cowok gantengnya ya Allah. Mana bisa gue nolak" batin Nada.

"Emmm... Kalau boleh tau letnan Saga umurnya berapa?" tanya Nada malu malu.

Kayak punya malu aja lo Nada.

Saga sudah siap menyantap steaknya, kini ia mengelap mulutnya dengan sapu tangan.

"30" singkat, tepat, dan padat ucapan Saga.

Ngomongnya irit banget ya Allah!!

Nada yang mendengarnya pun benar-benar tercengang. Bukan hanya karena Saga terlalu irit berbicara, tapi mereka juga terpaut usia 10 tahun. Dan lagi nih muka cowok satu gak kayak Om-om, tapi kayak anak ABG.

"Ajhussi rasa oppa oppa dong nih" Batin Nada.

"Gimana Nada? Apa kamu mempermasalahkan umurnya?" tanya Lingga.

"Gak pa" jawabnya "wong ganteng gini mau umurnya 50 tahun juga gue gak bakalan nolak" lanjutnya membatin.

"Jadi kamu mau?" tanya Lingga lagi.

Kini Nada mengangguk mantap dan senyum Lingga kembali mengembang selebar alam semesta. Hiya...

"Bagaimana kalau acara pernikahannya 2 bulan lagi, papa pikir itu cukup untuk mempersiapkan semuanya."

Saga mengangguk setuju dengan keputusan Lingga. Sementara Nada hanya diam, mengatur detak jantungnya yang siap-siap akan meledak. Bahkan rasa malunya tadi sudah menghilang, berubah menjadi rasa gugup.

"Nanti jangan lupa kamu sampaikan sama orangtuamu di kampung ya ga" ucap Lingga mengingat keluarga Saga yang berada di Medan "urusan di kesatuan biar saya yang urus" lanjutnya.

"Siap komandan."

Lingga akhirnya meninggalkan mereka berdua di restoran, memberikan waktu dan ruang untuk mereka berbicara.

Kembali perasaan gugup sekaligus malu itu menguasai Nada, orang yang seliweran di benaknya selama beberapa hari ini kini duduk di hadapannya. Bahkan akan menjadi suaminya kelak.

Ya Allah mimpi apa si Nada semalam?

Kecanggungan sangat terasa disana. Saga sedari tadi hanya diam dan menunduk, berusaha menjaga pandangannya dari fitnah. Semantara Nada dengan gamblangnya memandang wajah Saga tanpa merasa berdosa.

"Jangan menatap saya seperti itu, saya bukan mahramnya kamu" suara berat Saga memecah keheningan itu.

Nada berdeham untuk menetralkan dirinya, lalu ia mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.

"Masih ngeselin aja nih cowok" batinya.

Mereka kembali terdiam, suasana kembali hening.

"Om gak mau ngomong?" tanya Nada, ia sudah sedikit kesal dengan Saga yang sejak tadi hanya diam membisu. Tidak ada inisiatif untuk berbicara.

Wait, wait. Nada tadi manggilnya apa? Om? Dia manggil Saga om?! OMG Nada setua itukah Saga dimatamu?

Saga bahkan membulatkan matanya mendengar Nada memanggilnya dengan panggilan 'om'.

"Emang muka saya setua itu sampai di panggil Om sama nih bocah?" Saga membatin.

Sampai di asrama nanti dia harus bercermin.

Saga sekilas melirik, lalu mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Ia menegakkan tubuhnya "saya gak tau harus ngomong apa sama kamu."

"Ya ngomong apa aja Om, kan Nada... Ehm! Calon istri Om" astaga ternyata Nada benar-benar sok pemalu, lihatlah dia baru mengatakan apa? Dengan entengnya dia mengatakan kalau dia calon istri Saga.

Astagfirullah Nada.

Mendengar perkataan Nada Saga mengangkat sebelah alisnya.

"Om" panggil Nada tiba-tiba.

"Hm" Saga hanya berdeham.

Cuma dehem aja dunia Nada seakan jungkir balik. Suara dehemannya terlalu candu dan berhasil memporak-porandakan hati Nada.

"Om kenapa mau di jodohin sama aku?" tanya Nada berhasil menguasai perasaannya.

Saga termenggu sejenak sebelum ia benar-benar membuka suara. "Orangtua saja di kampung selalu ribut nyuruh saya buat cari calon istri dan menikah, mereka khawatir karena usia saya itu gak muda lagi. Terus komandan Lingga datang menawarkan perjodohan untuk anaknya ke saya. Saya juga butuh. Ya saya terima tawaran berliau."

Nada tercengang mendengar ucapan Saga, bukan hanya karena ia menerima perjodohan ini karena butuh tapi ternyata pria ini bisa berbicara panjang kali lebar seperti ini.

Apa Nada harus sujud syukur karena ini?

"Jadi Om terpaksa gitu mau di jodohin sama Nada?"

"Gak" dia balik lagi ke mode cuek.

"Ngeselin banget nih cowok. Syukur gue gak jadi tumpengan karena tadi sempet denger dia bicara panjang lebar. Eh, malah balik ke jawabnya singkat, tepat, dan juga padat. Syukur ganteng. Kalau gak udah gue bawa ke Indomart gue tukar sama Chiki" batin Nada geram.

Masih asik membatin tiba-tiba Saga memanggilnya. "Nada."

Buset nama Nada meluncur indah keluar dari mulut sama Saga.

"Ah, rasanya gue mau terbang" batin Nada.

Segera ia menguasai dirinya dan menyembunyikan perasaan yang berlebihan itu supaya tidak kelihatan oleh Saga. Bisa bahaya nanti kalau Saga tau dia punya perasaan pada letnan satu ini.

"I-iya" jawab Nada.

"Jawab saya dengan jujur" pintanya "apa kamu benar-benar siap menikah dengan saya?"

Nada menatap Saga yang bertanya padanya. Saga menatap bunga yang ada di atas meja mereka.

Dari sejak pertama kali Nada bertemu dengan Saga. Nada sudah jatuh sejatuh-jatuhnya pada pria itu. Ia sudah menyukai Saga sejak pandangan pertama. Dan entah memang takdir dan jodoh, mereka kembali di pertemukan dengan cara perjodohan. Mana mungkin ada kesempatan yang hanya datang sekali ini Nada lewatkan begitu saja. Hanya untuk menjadi istri Saga kan, Nada akan benar-benar siap dengan itu.

"Kalau Nada siap, kenapa om?" bukannya menjawab Nada malah balik bertanya.

"Apa kamu siap menikahi pria yang gak jadi milikmu sepenuhnya?"

...Visual Saga Bimantara...

...Visual Nada queenza rahadi...

Terpopuler

Comments

DozkyCrazy

DozkyCrazy

😁😁😁

2024-11-14

1

Erna M Jen

Erna M Jen

visual ceweknya kurang cantik.

2024-10-15

1

Heny Janitasari

Heny Janitasari

❤️

2024-05-28

1

lihat semua
Episodes
1 "Yang penting baik agamanya"
2 Pahlawan
3 "Bukan cuma ganteng, Soleh lagi"
4 "Ajhussi rasa oppa-oppa"
5 "Pria yang gak bisa jadi milikmu sepenuhnya"
6 "Om Saga galak!!"
7 Calon suami
8 Ijab kabul
9 pedang pora
10 "karena itu hak saya"
11 Makmum
12 Transparan
13 Kesiangan
14 Bocil
15 Bukan sekedar pelepas nafsu
16 Hujan
17 Dokter ganjen
18 "Kalau mau kasih stempel tu disini "
19 Piyama dinosaurus
20 "Lewat satu detik kamu tidur di luar"
21 Kelewat sempurna
22 "Saya gila karena kamu"
23 Tamu bulanan
24 Mendapat tugas
25 Saingan terberat itu negara
26 Semua pekerjaan memiliki resikonya masing-masing
27 Berangkat
28 MERIANG!!
29 Sementara menjanda
30 Dikejar babi hutan
31 Bertemu kembali
32 Bincang-bincang
33 "Buat baby"
34 saingan bocil
35 roti sobek bertebaran
36 Aisyah
37 Manja
38 Pamit
39 Tanpa Om Saga
40 Tanah longsor
41 "Saya menemukanmu"
42 Trauma
43 Pertama dan terakhir
44 Kerja keras
45 Tugas darurat
46 Rumah sakit
47 Siuman
48 Cobaan
49 kentang
50 Ibu-ibu tidak beradab
51 Godaan
52 "Kamu milik saya "
53 Warteg
54 Ibadah subuh
55 Pelatihan
56 Kacang ijo sialan!!!
57 kabar bahagia
58 Para saudara
59 lagi-lagi
60 pelepasan
61 Kue putu
62 Wisuda
63 Kembali
64 Demi boneka beruang
65 Saga selingkuh?
66 Tidak terduga
67 Kehilangan
68 Penyesalan
69 Kekal abadi
70 Mulai koas
71 Suapan cinta
72 Teringat kembali
73 Terciduk
74 Cemburu melanda hati
75 Begal
76 Perkara cincin
77 Latihan
78 Latihan 2
79 Bandara
80 BOOM!!
81 Gugur pahlawan
82 Cahaya yang telah pergi
83 Nasehat Lingga
84 Gemas pingin punya satu
85 Cerita baru
86 UKMPPD
87 misi
88 Kabar bahagia dan kabar buruk
89 Misi penyelamatan
90 Seperti mimpi
91 Vitamin dari buk dokter
92 Perkara mangga muda
93 Hari bahagia Tasya
94 'Ndut'
95 Bintang iklan obat nyamuk
96 Kontraksi palsu
97 Pesawat hilang kontak
98 Dikira masuk angin
99 Detik-detik
100 Tiba disaat yang tepat
101 Hadirnya
102 Bapakable
103 Ketinggalan di masjid!
104 BIMANTARA SQUAD
105 Story Bimantara squad
Episodes

Updated 105 Episodes

1
"Yang penting baik agamanya"
2
Pahlawan
3
"Bukan cuma ganteng, Soleh lagi"
4
"Ajhussi rasa oppa-oppa"
5
"Pria yang gak bisa jadi milikmu sepenuhnya"
6
"Om Saga galak!!"
7
Calon suami
8
Ijab kabul
9
pedang pora
10
"karena itu hak saya"
11
Makmum
12
Transparan
13
Kesiangan
14
Bocil
15
Bukan sekedar pelepas nafsu
16
Hujan
17
Dokter ganjen
18
"Kalau mau kasih stempel tu disini "
19
Piyama dinosaurus
20
"Lewat satu detik kamu tidur di luar"
21
Kelewat sempurna
22
"Saya gila karena kamu"
23
Tamu bulanan
24
Mendapat tugas
25
Saingan terberat itu negara
26
Semua pekerjaan memiliki resikonya masing-masing
27
Berangkat
28
MERIANG!!
29
Sementara menjanda
30
Dikejar babi hutan
31
Bertemu kembali
32
Bincang-bincang
33
"Buat baby"
34
saingan bocil
35
roti sobek bertebaran
36
Aisyah
37
Manja
38
Pamit
39
Tanpa Om Saga
40
Tanah longsor
41
"Saya menemukanmu"
42
Trauma
43
Pertama dan terakhir
44
Kerja keras
45
Tugas darurat
46
Rumah sakit
47
Siuman
48
Cobaan
49
kentang
50
Ibu-ibu tidak beradab
51
Godaan
52
"Kamu milik saya "
53
Warteg
54
Ibadah subuh
55
Pelatihan
56
Kacang ijo sialan!!!
57
kabar bahagia
58
Para saudara
59
lagi-lagi
60
pelepasan
61
Kue putu
62
Wisuda
63
Kembali
64
Demi boneka beruang
65
Saga selingkuh?
66
Tidak terduga
67
Kehilangan
68
Penyesalan
69
Kekal abadi
70
Mulai koas
71
Suapan cinta
72
Teringat kembali
73
Terciduk
74
Cemburu melanda hati
75
Begal
76
Perkara cincin
77
Latihan
78
Latihan 2
79
Bandara
80
BOOM!!
81
Gugur pahlawan
82
Cahaya yang telah pergi
83
Nasehat Lingga
84
Gemas pingin punya satu
85
Cerita baru
86
UKMPPD
87
misi
88
Kabar bahagia dan kabar buruk
89
Misi penyelamatan
90
Seperti mimpi
91
Vitamin dari buk dokter
92
Perkara mangga muda
93
Hari bahagia Tasya
94
'Ndut'
95
Bintang iklan obat nyamuk
96
Kontraksi palsu
97
Pesawat hilang kontak
98
Dikira masuk angin
99
Detik-detik
100
Tiba disaat yang tepat
101
Hadirnya
102
Bapakable
103
Ketinggalan di masjid!
104
BIMANTARA SQUAD
105
Story Bimantara squad

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!