Entah pukul berapa sekarang, Nada kembali terbangun dari tidurnya. Ia Mengerjap-erjapkan matanya, melihat kamarnya yang terlihat gelap. Ia meraih nakas di sebelahnya untuk mengambil ponsel di atasnya melihat jam di ponsel.
03:30
Masih dini hari, Nada kembali merik selimutnya lagi. tapi ia terhenti saat melihat ada seseorang yang berdiri di samping tempat tidurnya. Nada sedikit ketakutan, jangan-jangan hantu pikirnya. Nada pun menghidupkan flash di ponselnya, untuk melihat sosok yang berdiri saat itu.
"Om Saga?" pekiknya.
"Hm" Saga hanya berdeham.
"Nada pikir tadi hantu"
Saga berdecak "Pumpung kamu sudah bangun, ayo sholat tahajud bareng, ambil air wudhu sana" ucap Saga.
Nada yang seumur hidup belum pernah sholat tahajud itu pun tanpa protes turun dari atas tempat tidur dan pergi mengambil air wudhu.
Nada menggelar sajadah di belakang sajadah Saga dan memakai mukenah.
Tanpa sadar Saga memandangi Nada yang terlihat begitu indah berdiri di belakangnya. Jantungnya berdegup kencang, kala ia menatap wajah cantik Nada saat menggunakan mukenah.
"secantik inikah wanita yang aku nikahi" batin Saga, ia menarik sedikit ujung bibirnya.
Nada yang sadar sedari tadi di pandangi oleh Saga pun bertanya "muka Nada lucu ya Om pakek mukenah?" tanya Nada.
Saga sadar setelah melamun cukup lama menatap Nada. Saga menggelengkan kepalanya. "Istri saya cantik" lanjutnya.
Pipi Nada merah merona mendengar ucapan suaminya yang mengatakan kalau dirinya cantik.
"Ahh terbang ke langit ke tujuh deh gue" batin Nada.
Mereka akhirnya sholat tahajud barsama, Saga mengimaminya dan Nada menjadi makmumnya. Ini kali pertama mereka menjalankan sholat bersama.
Selesai sholat tahajud, Saga keluar kamar.
"Om mau kemana?" tanya Nada.
"Mau makan" jawab Saga.
Nada membulatkan matanya, karena ini masih sangat-sangat pagi, Saga bilang mau makan?
"Om kelaparan ya? biar Nada masakin" Nada pun berjalan keluar kamar. Tapi Saga meraih lengan Nada untuk menghentikannya.
"Saya sudah masak" ucap Saga.
Nada melongo melihat kelakuan suaminya. "Om uda masak? kapan?"
"tadi" Saga akhirnya duduk di meja makan dan diikuti oleh Nada.
"Om laper banget ya Sampek masak sendiri begini" Nada melihat masakan Saga yang tampak lezat di tas meja makan.
"Saya mau puasa."
Nada kaget. "Om mau puasa apa?" Nada mengingat lalu ini hari Senin "Senin-Kamis?"
Saga menganggukkan kepalanya.
Berkali-kali ia kagum dengan ketaatan suaminya dalam beragama. Ia bahkan semakin jatuh cinta pada Saga.
"Nada ikut puasa deh Om" ucap Nada semangat, sambil mengambil nasi dan menaruhnya ke piring.
"Yakin kamu?"
Nada mengangguk semangat.
"Nada mau jadi orang sabar kayak Om Saga."
Saga hanya tersenyum.
Nada berdoa sebelum makan dan mulai memasukkan makanannya ke dalam mulut.
"Wahh Om pinter masak juga rupanya, masakan Om enak banget" pujinya.
Saga tersenyum melihat Nada makan dengan lahap. "Gak usah banyak omong, udah makan dulu."
_______________________
Saga baru pulang dari masjid, melaksanakan sholat subuh. Ia pun masuk ke kamar melihat istrinya tengah tertidur. Padahal tadi sebelum pergi ke masjid Saga sudah mewanti-wantinya untuk tidak tidur, tapi Nada malah tidur tidak mendengarkan perkataannya.
"Ya Allah uda tidur lagi ni bocah" ucap Saga.
Ia pun menghampiri Nada yang tengah tertidur pulas.
"Nada" Saga membangunkan Nada dengan menepuk punggungnya.
"Hm" sahut Nada yang masih memejamkan matanya.
"Bangun kamu, kan tadi sudah saya bilangin jangan tidur habis sholat subuh. Malah tidur juga kamu!" ucap Saga dengan suar galaknya.
"Ah, aku kan ngantuk Om, biarin aku tidur ya" ucap Nada masih memejamkan mata.
"Gak!! Ayok bangun, kita lari pagi, biar sehat badan kamu tu."
"Males om."
"Nada!"
"Aku kan puasa Om, masak di suruh lari pagi."
"Orang puasa gak harus males-malesan Nada."
"Tapi Nada ngantuk Om" masih belum mau membuka kedua matanya.
Saga yang sudah tidak sabar melihat istrinya itu pun menarik kedua tangan Nada supaya Nada duduk dan bangun dari tidurnya.
"Aih Om Saga!!!" pekik Nada kesal. Karena refleks tubuhnya terduduk setelah tidur ditarik oleh Saga.
"Kan dari tadi saya udah suruh kamu untuk bangun dengan cara baik-baik, tapi kamu tetep ngeyel. Kan jadinya begini."
Nada mengerucutkan bibirnya karena kesal dengan ulah Saga.
Saga pun terkekeh melihat Nada yang sedang kesal sekarang.
"Cuci muka kamu sana, saya ganti baju dulu."
Dengan kesal Nada menuruti ucapan Saga, lalu mengganti pakaiannya dengan pakaian sport dan memakai sepatu.
"Yuk Om" ucap Nada.
Saga pun mengunci pintu rumah, mereka akhirnya mulai berjalan beriringan. Udara pagi hari begitu segar untuk di hirup, begitu juga embun pagi yang menyentuh wajah Nada begitu menyegarkan. Nada pun menyapa beberapa tetangganya yang tengah berkegiatan di depan rumah mereka masing-masing.
Baru 15 menit Nada berlari dia sudah kelelahan, padahal sedari tadi dia hanya berlari kecil. Sedangkan Saga masih tetap semangat dengan lari paginya. Nada pun berhenti mengatur nafasnya yang terengah-engah.
"Kenapa? Capek?" tanya Saga yang juga berhenti tidak jauh dari Nada.
Nada hanya mengangguk.
"Ya uda jalan aja."
Nada pun melangkah menghampiri Saga yang berada tidak jauh darinya dan mereka pun berjalan beriringan menuju lapangan yang berada di lingkungan kesatuan. Saga memasukkan kedua tangannya kesaku.
Di tengah perjalanan, mereka bertemu segerombolan tentara yang tengah berlari. Pemimpin mereka memberi hormat kepada Saga, Saga hanya menganggukan kepalanya. Nada sampai memutar badannya saat segerombolan tentara itu melewati mereka. Ia kagum melihat tubuh tegap, walaupun wajah mereka masih kalah jauh gantengnya dari Saga, tapi masih lumayan ganteng lah semua.
Saga memperhatikan istrinya yang masih memandangi para juniornya itu.
"Biasa aja ngeliatnya, bukan mahram kamu itu."
Nada pun langsung menatap Saga.
"Ciee cemburu" ledeknya.
"Siapa juga yang cemburu sama kamu? Saya hanya memperingatkan kamu, bukan cemburu."
Nada langsung cemberut mendengar ucapan Saga, di pikirnya Saga itu cemburu padanya.
Nada membuang pandangannya dengan kesal.
"Kamu lari duluan ke lapangan, nanti saya nyusul" ucap Saga, setelah itu pergi meninggalkan Nada.
Nada tambah kesal mendengar ucapan Saga. Walaupun kesal ia masih berusaha menuruti ucapannya. Ia pun pergi ke lapangan, melihat banyak orang yang beraktivitas disana.
"Pagi buk Saga" sapa seorang wanita, yang suaranya terdengar tidak asing.
"Eh mbak Ajeng!"
Ajeng pun menghampiri Nada yang sedang berjalan santai di pinggir lapangan.
"Sendirian aja Nad?"
"Gak mbak, itu sama mas Saga" Nada menunjuk Saga yang sedang bersama para segerombolan juniornya tadi, entah apa yang tengah ia bicarakannya dengan mereka.
"Pasti lagi marahin junior-junior itu dia" tebak Ajeng.
"Apa salah tentara-tentara itu mbak, sampai dimarahi mas Saga?"
Ajeng hanya menggidikkan bahunya.
"Mbak sendirian juga kesini?" Nada mengalihkan pembicaraan.
"Gak, tu sama mas Gibran dan juga anak-anak" tunjuk Ajeng ke suaminya yang sedang mengajari kedua anak kembarnya bermain sepeda.
"Anak mbak kembar?"
"Iya."
"Wahh gak repot tu mbak cowok dua-duanya lagi"
"Ya repot, tapi namanya kita perempuan ya harus bisa ngurusnya."
Nada mengangguk setuju dengan ucapan Ajeng.
"Mbak Ajeng uda lama tinggal di sini?"
"Lumayan Nad, sejak pengantin baru seperti kamu, sampai sekarang."
"Wahh uda lama dong mbak, kenapa gak sewa rumah aja mbak? Mbakkan juga kerja?"
"Gak deh Nad, enakan disini, rumah di kasih, gak bayar. Bisa lebih hemat juga, uangnya yang harusnya untuk bayar sewa rumah, bisa di tabung untuk masa depan anak-anak"
Nada mengangguk setuju.
"Mbak seneng jadi ibu Persit??"
"Emm ya seneng si Nad, cuma kadang gak juga. Kita harus mengerti dan dukung pekerjaan suami. Itulah tugas kita. Kadang-kadang kalau mbak ditinggal tugas sama mas Gibran, ya takut juga. Tapi mau bagaimana? Semua pekerjaan ada resikonya, mau dia tentara, petani, pedagang, pengusaha, presiden sekalipun, semua ada resikonya. Maut itu bisa terjadi kapan aja, tanpa memandang apa profesinya. Maut itu urusan Allah, gak ada yang tau. Jadi saya harus kuat kalau mas Gibran ninggalin saya tugas"
"Wahh mbak Ajeng hebat deh, aku harus banyak belajar ni sama Mbak."
"Mama ayo pulang, Zahran sama Zayn mau berangkat sekolah" salah satu anak Ajeng yang masih berumur 5 tahun menghampiri mereka.
Ajeng menganggukkan kepalanya.
"Ya uda Nad, saya pulang dulu ya. Anak-anak mau sekolah, mas Gibran juga harus berangkat kerja."
"Iya."
Nada memandang langkah Ajeng yang beranjak darinya. Nada melanjutkan larinya, dan tiba-tiba Saga sudah berada di sampingnya ikutan berlari kecil.
"Om abis ngapain tadi? lama banget."
"Lagi ada urusan sama anak-anak" masih melanjutkan larinya dengan wajah datar tetap memandang ke depan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
guntur 1609
saha marahi anggotanya. gara2 si nada perhatikan anggota saga yg lagi berlari
2025-02-01
1
Heny Janitasari
🙄🫠
2024-05-28
1
Kosong
Ya ellah itu orang apa batakoo
Datar akat keg papan tripleks
2024-03-02
2