Lafiza mengernyitkan dahinya bingung saat melihat tingkah aneh Jeremy saat ia bangun dan pria itu terlihat sangat lesu seperti tak ada semangat hidup.
Ada apa dengannya, apakah pria itu sakit tetapi saat lafiza akan menghampirinya Jeremy langsung pergi seakan-akan sedang menghindarinya dan itu membuat lafiza jengkel lalu ia pergi ke dapur untuk membantu maminya yang sedang masak.
"Mi aku bantu masak"ucap lafiza berdiri di samping maminya yang membuat daiva terkejut akan kehadiran tiba-tiba anak sulungnya itu.
"Emangnya kamu bisa masak?"tanya daiva ragu.
"Ya biasalah mi, aku udah belajar masak setiap hari di rumah suami aku dan ya aku bisa masak"ucap lafiza yang membuat daiva mengacungkan jari jempolnya.
"Bagus, mami bangga sama kamu"ucap daiva menatap lembut anaknya dan lafiza tersenyum mendengar ucapan sang mami.
"Tapi untuk sekarang kamu gak boleh bantu mami, mendingan kamu ke meja makan tunggu di sana sekalian panggil suami, papi, kakak, Abang dan cucu-cucu mami"ucap daiva.
Lafiza menurut dan langsung pergi ke lantai dua dan ia lebih dulu membangunkan Fabiola.
Lafiza langsung masuk tanpa mengetuk pintu dan saat masuk matanya melotot kaget melihat Fabiola yang tidur di tengah-tengah antara edrick dan Edgar dan terlihat Fabiola memeluk edrick dan satu kakinya lagi dia taruh di kaki Edgar, wah Fabiola Menang banyak ini.
Lafiza mengambil bantal yang terjatuh di lantai kemudian melempar bantal tersebut tepat mengenai wajah Fabiola yang sedang tertidur nyenyak, ya gimana gak nyenyak coba orang tidurnya dengan dua cowok, mana tampan lagi.
"Buset apaan tuh yang nimpa wajah paripurna gue"ucap Fabiola langsung terduduk di kasur dengan mata yang buka tutup akibat terkejut.
"Bangun kak. Sarapan, di suruh sama mami, bangunin juga dua anak gue soalnya gue mau bangunin yang lain dulu"ucap lafiza berlalu pergi dan Fabiola langsung membangunkan dua ponakannya yang ganteng.
"Masyaallah tidur aja Lo berdua ganteng banget, pen gue perkosa eh salah pen gue halalin"gumam Fabiola menatap kagum paras keduanya.
Sementara lafiza sudah membangunkan Papinya dan sekarang giliran Caesar, tetapi ia tak tau dimana kamar Caesar dan mencarinya di lantai dua, lafiza melihat ada kamar di paling pojok dan pintunya berwarna hitam beda dari pintu yang lain berwarna gold, apakah itu kamarnya Caesar?.
Lafiza langsung mengetok pintunya dan tak ada sahutan dari dalam atau pintu yang akan di buka, i ia langsung saja masuk kedalam walaupun itu disebut tidak sopan ya mau gimana lagi soalnya kan di suruh sama mami buat bangunin caesar sarapan.
Saat masuk ke kamar, lafiza memejamkan matanya untuk menikmati harum kamar dari Caesar yang sangat menenangkan.
Lafiza membuka matanya dan melihat Caesar yang tidur dengan posisi tengkurap.
"Caesar bangun Lo"ucap lafiza menepuk pundak Caesar agar pria itu bangun tetapi tidak ada tanda-tanda akan bangun, lafiza sekali lagi menepuk pundak Caesar tetapi hasilnya sama.
"Nih orang tidur kayak simulasi jadi jenazah"gumam lafiza menatap kesal pria itu.
Baru saja ia akan menggeplak punggung Caesar dengan kuat agar sang empu terbangun tapi tiba-tiba Caesar membalikkan badannya Dengan mata yang mulai terbuka secara perlahan.
"Kenapa Lo masuk kamar gue tanpa seizin gue?"tanya Caesar dengan datar yang membuat lafiza merapatkan bibirnya karena aura yang di keluarkan Caesar berhasil membuat nya tak bisa membuka mulut.
"Gue tanya sekali lagi kenapa Lo masuk ke kamar gue tanpa seizin gue?!"tanya Caesar menatap tajam lafiza.
"KALO DI TANYA ITU JAWAB! LO PUNYA MULUT KAN BUAT JAWAB PERTANYAAN GUE? LO GAK BISU KAN!"bentak Caesar yang membuat lafiza terkejut dan mengepal kan tangannya.
"Gue cuma mau bangunin Lo doang buat sarapan di suruh sama mami, gue udah ketok pintu tapi Lo gak bangun-bangun makanya gue masuk, seharusnya Lo gak perlu berlebihan kayak gini sampe bentak-bentak gue, Lo gak punya hak buat bentak gue soalnya Lo bukan siapa-siapa gue"ucap lafiza berlalu pergi dari kamar Caesar yang terdiam mendengar ucapan lafiza.
"Seharusnya gue seneng dengar ucapan terakhirnya karena itu yang mau gue denger dari dulu tetapi kenapa rasanya sakit ya"lirih Caesar kemudian pergi ke kamar mandi.
Sesudah keluar dari kamar Caesar, lafiza menepuk keras dadanya yang terasa sakit mendengar bentakan Caesar tadi.
"Anj kenapa rasanya sesakit itu"lirih lafiza, ia yakin kalo itu perasaan pemilik tubuh bukan dirinya.
Lafiza beralih ke dalam kamar nya untuk menyuruh Jeremy ke bawah karena pria itu sudah bangun.
Terlihat jeremy sedang memangku laptopnya dengan wajah datar yang menghiasi wajah tampannya.
"Mas"panggil lafiza pelan dan Jeremy langsung menutup laptopnya dan berdiri menghmpiri lafiza.
"Ke meja makan buat sarapan"ucap lafiza dan langsung pergi dari situ karena mood nya benar-benar buruk gara-gara Caesar dan juga Jeremy yang selalu menghindar darinya.
Saat akan menggapai pintu lafiza tiba-tiba mendapatkan pelukan yang erat dari Jeremy kemudian pria itu membalikkan badan istrinya agar membalas pelukannya tetapi lafiza sama sekali tak membalasnya.
"Aku gak mau pergi"lirih Jeremy sambil mengecup ubun-ubun lafiza.
"Emangnya kamu mau pergi ke Mana?"tanya lafiza heran.
"Aku di suruh ke jepang sama papa buat ngurusin perusahaan yang sedikit bermasalah"ucap jeremy lesu.
"Ya kamu pergi lah ke sana"ucap lafiza yang membuat jeremy berdecak kesal karena ucapan istrinya.
"Masalahnya aku di sana mungkin sebulan atau gak lebih, aku gak mau ninggalin kamu sendirian di sini"rengek Jeremy, ia mana bisa tahan gak ada istrinya di sampingnya, apa ia harus membawa lafiza juga ikut tetapi Jeremy Langsung menggelengkan kepalanya karena ia tak mau istrinya kelelahan di sana hanya untuk menemaninya berkerja dan tidak ada orang yang lafiza kenal di sana.
"Kamu kok kayak anak kecil gini mas"ucap lafiza dan Jeremy tak peduli dengan ucapan istrinya dan langsung saja ia menggendong istrinya ala koala ke meja makan sambil terus mengecup pipi istrinya dengan lembut.
Sesampainya di meja makan ternyata mereka semua sudah di sana kemudian jeremy mendudukkan lafiza di kursi sebelahnya.
"Romantis kali lah kalian berdua, ntar gue juga gitu lah sama dua ponakan gue"ucap Fabiola menatap edrick dan Edgar yang hanya diam saja.
"Kasian di kacangin sama anak gue"ucap lafiza terkekeh dan mereka semua mulai sarapan dengan tenang.
Setelah sarapan, chayton pergi ke kantor di temani sang istri karena dia sangat tak bisa jauh dari istrinya dan si kembar pergi ke sekolahnya.
Tiba-tiba Jeremy mendapatkan telpon dari asistennya dan setelah selesai menelpon wajah Jeremy terlihat sangat kesal kemudian menghampiri istrinya yang berada di kamar.
"Sayang aku harus pergi sekarang, tapi aku juga gak mau pergi ninggalin kamu"rengek Jeremy yang membuat lafiza mengehela nafasnya pelan.
"Kamu harus pergi, ntar kalo udah pulang aku janji bakalan habisin waktu aku buat kamu, bila perlu kita pergi liburan berdua saja supaya tidak ada yang ganggu"ucap lafiza agar nanti Jeremy gak kepikiran terus tentang dirinya saat pergi karena lafiza tau kalo Jeremy Sudah level bucin ke dirinya tetapi ia tak boleh sombong atau kege'eran oke, harus tetap slayyy.
Jeremy tersenyum senang mendengar itu kemudian memeluk istrinya erat dan setelah beberapa menit berpelukan lafiza melepas pelukannya dan mengecup pipi suaminya.
"Semangat kerjanya di sana, jangan nakal sama awas aja kalo kamu Deket sama cewek lain di sana aku bakalan pergi jauh sampe kamu gak bisa nemuin aku"ucap lafiza bercanda tetapi Jeremy menanggapinya serius dan memeluk lafiza lagi.
"Mana mungkin aku Deket sama wanita lain sementara aku aja udah ada istri yang sangat aku cintai"ucap Jeremy mengecup beberapa kali kening istrinya dengan penuh kasih sayang.
Lafiza menganggukkan kepalanya, ia percaya kepada Jeremy yang tak akan berbuat macam-macam karena Jeremy bukan tipe orang yang suka selingkuh.
"Apa aku harus ikut ngantar kamu ke bandara?"tanya lafiza dan Jeremy menggelengkan kepalanya.
"Gak usah mendingan kamu di rumah aja, Nanti kamu lelah, lagian justin sebenar lagi sampai sini"ucap Jeremy dan lafiza menganggukkan kepalanya.
"Oh iya mas aku boleh gak nginep di sini sama anak-anak sampe beberapa hari kedepan? Soalnya kalo di rumah kamu aku kesepian "ucap lafiza.
"Rumah aku rumah kamu juga, apapun milik aku semuanya milik kamu juga sayang"ucap Jeremy.
"Iya. Boleh kok asalkan kamu senang dan nyaman"lanjut Jeremy menatap lembut istrinya dan tak lama kemudian terdengar suara bell yang berbunyi dan itu adalah Justin.
Jeremy memeluk istrinya sebentar dan mengecup kening nya.
"Kamu jaga diri baik-baik di sana ya mas"ucap lafiza dan Jeremy mengangguk sambil mencium kening lafiza sekali lagi, ia tak di perbolehkan Jeremy untuk ikut ke luar karena takut lafiza terpesona melihat Justin, mengingat pertemuan keduanya saat di kantornya saat itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments