Belajar memasak

Pemuda tersebut menatap jengah wanita yang menjabat sebagai ibu tirinya yang tengah mengoceh sedari tadi.

"Lo ini ya, kenapa suka sekali berantem sih!."omel lafiza seraya menekan kuat luka lebam di pipi kanan edrick.

"shhh."ringisnya Pelan.

"Sakit kan? Makanya jangan berantem, minimal ajak gue lah, lihat wajah tampan Lo jadi jelek."ucap lafiza melihat wajah Edrick.

ia berbohong! malahan wajah Edrick terlihat lebih tampan dengan wajah yang terdapat lumayan banyak luka.

"Gue gak berantem!."bantahnya karena memang itu kebenarannya, saat ia dalam perjalanan pulang ke rumah ia di hadang oleh sekelompok preman dan berakhir ia di keroyok hingga wajahnya babak belur serta badannya yang juga sakit.

Bayangkan saja satu lawan tiga yang mana badan ketiga preman-preman tersebut sangat besar nan kuat.

Setelah ketiga preman tersebut selesai memukulinya dan mengambil uangnya mereka langsung pergi begitu saja dan edrick menunggu sampe satu jam lalu ia pulang dengan sekuat tenaganya ia mengendari motor nya.

Ia seharusnya ikut menginap bersama Edgar di apartemen kembarannya itu tapi tadi ia memilih untuk pulang sehingga kejadian yang tidak di inginkan nya pun terjadi.

Saat ia Sampai di rumah, edrick sangat  terkejut melihat Lafiza yang tertidur di sofa, ia memilih abai dan melanjutkan jalan menuju kamar nya.

Tetapi saat masuk ke dalam lift entah kenapa ia kembali berjalan ke ruang keluarga di mana ibu tirinya itu berada.

Tanpa perasaan ia membangunkan lafiza dengan cara tak manusiawi yaitu menendang kakinya walaupun tidak keras tapi itu mampu membangunkan gadis itu yang sedang menjelajahi mimpi nya.

Lafiza ingin marah karena edrick membangunkannya tapi tak jadi karena melihat lebam di wajah anaknya itu jadinya ia mengomel karena mengira edrick pergi tawuran karena itu sering terjadi di dalam novel dan tak menutup kemungkinan kalo Erick beneran tawuran.

Selesai mengobati Edrick, lafiza juga membersihkan tubuh pemuda tersebut menggunakan tisu basah, karena kalo dia mandi yang ada luka yang di dapat Edrick di beberapa bagian tubuhnya pasti akan sakit.

Sementara Edrick tertegun, sebegitu perhatiannya lafiza kepadanya walaupun dia terus mengacuhkan gadis itu dan tak menganggap nya ibu tirinya.

Apakah ia bisa menerima lafiza sebagai mommy nya?.

Lafiza mengelus pelan Surai indah edrick kemudian menyelimutinya.

"Tidur Lo, awas kalo gak tidur gue cincang anu Lo."ancam lafiza sambil melototkan matanya tetapi edrick hanya diam saja dengan wajah datarnya yang membuat lafiza berdecak kesal.

"Selamat tidur anak durhaka."ucap lafiza mematikan Lampu lalu pergi dari kamar edrick yang bernuansa abu-abu.

Sementara edrick mendengus mendengar ucapan lafiza yang selalu menyebutnya anak durhaka.

"Semoga Lo jadi mommy terbaik untuk gue sama edgar."lirihnya lalu memejamkan mata.

.....

Pagi-pagi sekali lafiza sudah berada di dapur, ia mencoba belajar memasak dengan dua koki yang sedari tadi menatap nya was-was takut sang nyonya terluka.

"Nyonya bukan begitu cara memotong bawang putihnya!."ucap koki yang bernama Febby dengan sabar mengajari sang nyonya untuk masak.

Lihatlah dapur yang semulanya bersih menjadi kotor akibat lafiza yang sangat brutal saat memasak apalagi saat memotong.

Lafiza mendengus kesal mendengar ucapan koki tersebut, tadi ia hanya iseng-iseng saja mau belajar memasak tapi kedua koki kembar tersebut sangat berisik.

Dua koki perempuan tersebut meringis ngilu melihat sang nyonya yang terus melanjutkan masak walaupun tangannya tergores oleh pisau.

"Nyonya mendingan anda istirahat, biar saya saja yang menyelesaikan nya."ucap kembaran Febby yang bernama fiola.

"Tidak usah, mendingan kalian berdua duduk manis aja."tolak lafiza, walupun tangannya banyak yang tergores dan beberapa plester yang tertempel untuk menutupi lukanya tak membuatnya berhenti untuk belajar masak.

"Feby, fiola, Nanti malam gue juga mau belajar masak lagi supaya gue cepet bisa masak untuk suami dan kedua anak gue."beritahu nya dan keduanya hanya menganggukkan kepalanya pasrah.

Tanpa lafiza sadari sedari tadi jeremy dan kedua anaknya berdiri di depan pintu dapur dan Jeremy menyuruh Febby dan fiola untuk diam agar lafiza tak tau ketiganya ada di sana.

Edgar Sudah pulang dari subuh tadi makanya dia ada di sini.

Jeremy dan kedua anaknya pergi ke meja makan saat melihat lafiza yang sudah selesai memasak.

"Apa kita bisa menerima dia sebagai mommy kita Ed?."tanya edrick menatap kembarannya yang terdiam.

"Gue gak tau"ucap Edgar, selama ini ia terbiasa hidup tanpa adanya seorang ibu di sisi nya dan kehadiran lafiza yang menjadi ibu tiri keduanya itu menjadi sangat aneh baginya, walaupun tak bisa di pungkiri kalo ia juga membutuhkan sosok ibu.

Jeremy hanya terdiam, ia berharap kedua anaknya menerima lafiza dan memanggil gadis itu dengan sebutan mommy karena memang itu tujuannya menyetujui perjodohan tersebut karena ia tahu kalo kedua anaknya membutuhkan sosok figur ibu walaupun bukan ibu kandung.

Terlihat lafiza bolak balik ke dapur untuk mengambil makanan yang dia masak tadi.

"Ayo makan gue udah laper."ucap lafiza dan ketiganya tak menjawab melainkan langsung memakan sarapan mereka.

Lafiza tersenyum senang, masakannya enak tapi senyumannya luntur saat mendengar ucapan suaminya.

"Lumayan."

Hei apa tadi katanya, lumayan? padahal masakannya enak tapi pria itu malah bilang lumayan, ingin sekali mencekik nya tapi ia takut jeremy mati dan berakhir dia di penjara atau bahkan di hukum mati.

Selesai sarapan sekarang keempatnya sedang berada di ruang keluarga, hari ini hari Minggu dan jeremy tidak ke kantor begitu juga Edgar dan edrick yang libur sekolah.

"Kenapa malah hening sih!."batinnya kesal, berada di antara ketiga Manusia kutub yang sayangnya adalah suami dan anak tirinya membuat lafiza ingin pergi dari sini.

"Om!."panggil lafiza yang membuat pria itu menatap istrinya sambil menaikkan sebelah alisnya, ia Hanya pasrah saja di panggil om oleh gadis itu karena ia juga sadar kalo dirinya pantes di panggil om apalagi umurnya dengan lafiza berbeda jauh.

"Gue mau minta Lo beliin gue motor, pliss!

"ucap lafiza menatap harap ke arah jeremy yang menggelengkan kepalanya.

"Tidak"tolak jeremy sambil menatap tajam istrinya, dia bisa membelikan apa pun untuk lafiza tapi tidak dengan motor karena itu bisa membahayakan gadis itu.

"Ck apa susahnya tinggal beliin gue motor.!"decak lafiza berlalu pergi, dia tak tau mau kemana karena sedari tadi ia terus muter-muter di mansion ini, dia tak tau jalan keluar dari mansion ini di mana saking luasnya.

.....

"Ayo bik tangkap!."seru lafiza di atas pohon apel yang terletak di belakang mansion, ternyata di sana adalah kebun buah yang mana membuat nya sangat senang.

Sedangkan wanita yang di panggil bibi tersebut hanya menghela nafasnya pasrah, padahal sudah banyak buah-buahan yang nyonya nya petik tapi itu tak membuatnya puas.

Lafiza meloncat turun dengan sangat mudah yang membuat pembantu bernama Mona tersebut sangat kaget bukan main.

"Astaghfirullah."ucapnya sambil mengelus dadanya yang berdetak kencang.

"Nyonya jangan manjat di pohon jambu! Itu sangat tinggi!."seru Mona menatap lafiza khawatir.

tetapi gadis itu sama sekali tak mendengar kan ucapan Mona karena ia sudah sangat ahli dalam hal manjat memanjat pohon apalagi pohon jambu, itu baginya sangat mudah karena di dunia nyata ia sering di ajak manjat seperti monyet oleh teman-temannya.

Mona mengehela nafasnya pelan, untung saja sang nyonya tidak kenapa-kenapa, bahkan sekarang gadis itu sedang memakan buah jambu di atas pohon.

Baru saja Mona akan duduk di kursi yang memang sudah di siapkan di sana karena lelah berdiri tapi ia terperanjat kaget mendengar teriakan sang nyonya.

"AAAAAA MONA ADA ULAR!."

Mona melotot kan matanya kaget, ia langsung berteriak memanggil para bodyguard dengan suara kerasnya karena kepalang khawatir dengan sang nyonya.

Karena teriakan Mona yang sangat kencang berhasil membuat semua penghuni mansion tersebut berlari ke tempat di mana ia berada.

"Huaaaa om tolong gue!."pekik lafiza dengan air mata yang mengucur deras, ia phobia sama ular bahkan badannya sudah lemah dan bergetar hebat.

Jeremy terkejut melihat itu, apalagi terlihat ular itu lumayan besar, para bodyguard langsung memanjat pohon untuk menangkap ular tersebut yang hampir saja menggigit lafiza.

Jeremy juga ikutan naik ke atas pohon, untung saja pohon jambu tersebut sangat besar dengan batang pohonnya yang merambat kemana-mana.

Jeremy dengan sangat mudah menggendong lafiza ala koala kemudian turun, ia mengusap lembut punggung lafiza yang bergetar hebat dengan Isak tangis nya.

"Tenang, saya ada di sini."bisik nya sesekali mengecup ubun-ubun istrinya.

Terpopuler

Comments

Septi Ani

Septi Ani

si om sweet bgt...

2023-10-20

3

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!