🍂🍂🍂🍂🍂
Acara pernikahan yang bisa di katakan sederhana itu pun akhirnya berakhir dengan makan malam, sebagian sudah kembali ke kamar masing-masing termasuk sang pengantin baru.
Tak ada obrolan panjang kali lebar antara Aga dan Deeva karna masih fokus pada kerabat dan keluarga yang tak henti memberi selamat dan doa
Seperti saat ini, keduanya bergegas keluar Ballroom Hotel menuju Lift yang akan mengantar mereka ke lantai 17, dimana kamar pasangan itu berada. Dengan tangan saling menggenggam Aga terus tersenyum bahagia begitu pun dengan Deeva meski lebih merasa ke malu dan salah tingkah.
Seperti saat ini, keduanya bergegas keluar Ballroom Hotel menuju Lift yang akan mengantar mereka ke lantai 17, dimana kamar pasangan itu berada. Dengan tangan saling menggenggam Aga terus tersenyum bahagia begitu pun dengan Deeva meski lebih merasa ke malu dan salah tingkah.
Ceklek
Pintu di buka oleh Aga yang langsung mempersilahkan istrinya untuk masuk lebih dulu, kamar tidur yang terlihat mewah dengan kasur penuh hiasan membuat Deeva lekas membalikkan tubuh tinggi semampainya.
"Aku tak pantas mendapatkan ini semua, Ga," ucap lirih Deeva seakan ia sedang di tampar oleh kenyataan.
"Jangan bicara seperti itu, Dee. Jangan ungkit masa lalu lagi karna kini sudah jelas aku bersamamu," jawab Aga yang sudah jauh lebih dekat bahkan menangkup wajah cantik sang istri dengan kedua tangannya yang di rasa Deeva begitu hangat di pipi.
"Maafkan aku, Ga. Aku sudah memberimu luka begitu hebat." hati Deeva langsung mencelos saat SyahRaa menceritakan bagaimana keadaan adiknya selama beberapa tahun terakhir ini, tepatnya saat Deeva benar-benar pergi ke luar kota usai kelulusannya.
Air mata yang jatuh ke pipi buru buru di hapus oleh Aga, kini si bayi ganteng itu tak lagi takut dan segan untuk bersentuhan karn ada lebel halal untuk mereka berdua, tak seperti dulu yang membayangkannya saja sudah membuat Aga bergidik ngeri karna ingat dengan ancaman PanDa dan Ibun nya jika sampai putra bungsu nya itu melakukan hal di luar batas.
"Kamu milikku, Deeva," bisik Aga yang untuk pertama kalinya menarik pinggang ramping istrinya.
Ia bawa tubuh wanita yang sudah di halalkan nya itu ke dalam pelukkan, ia dekap dengan cukup erat sampai Deeva merasa cukup sesak.
"Apa ini Aga yang ku kenal?" tanya Deeva yang kebingungan sebab rasanya hanya satu rupa tapi beda sikap.
Masih jelas di ingatannya bagaimana si bayi gantengnya itu sangat manja hingga Deeva kadang tak kuat untuk tidak menggoda saking gemasnya. Tapi, lihat lah kali ini.
Aga yang sekarang jauh berbeda dengan Aga yang dulu dimana untuk duduk bersebelahan dengan jarak satu jengkal ia sudah lari duluan.
"Hem, kamu pikir ada berapa Aga? cukup aku yang paling ganteng," jawabnya dengan suara yang lebih matang di banding 4 tahun lalu.
"Bayi gantengku tak seperti ini," jawab Deeva.
Aga yang terkekeh malah langsung mengangkat tubuh Deeva, ia gendong ala bridal style menuju ranjang pengantin mereka. Deeva yang awalnya kaget malah tergelak. Sungguh, ia bahkan lupa kapan terakhir kali tertawa lepas seperti ini.
Di baringkannya tubuh Deeva dengan pelan lalu Aga pun melakukan hal yang sama dengan merebahkan tubuhnya juga di sisi sang istri.
Kini keduanya sama sama terlentang dengan tatapan ke arah langit langit kamar.
"Sejak kapan kamu menemukanku, Ga?" tanya Deeva.
"Aku tak pernah kehilanganmu, Dee. Kamu selalu disini," jawab Aga sambil meraih tangan Deeva untuk ia letakkan di atas dadanya yang ternyata sedang berdegup lumayan kencang.
"Aku tak pernah pergi seperti yang kamu minta, aku hanya sedikit menepi dan mundur beberapa langkah selama ini," lanjutnya lagi yang kini kedua tatapan mereka akhirnya bertemu.
"Kamu tahu semua tentangku? pekerjaanku? kehidupanku dan juga keluargaku?" tanya Deeva yang di jawab anggukan kepala oleh Aga.
"Aku tahu semua, aku bahkan tahu kapan saja kamu menangis. Kenapa? kenapa tak bilang padaku? apa karna aku bayi gantengmu, hem?" tanya balik Aga.
Saat tahu alasan kenapa Deeva pergi, Aga tak henti merutuk dirinya sendiri. Ia merasa tak bisa di andalkan oleh Deeva karna hanya di anggap bocah kemarin yang tak tahu apa apa. Hingga ia berjanji pada dirinya sendiri kelak harus menjadi yang bisa di banggakan oleh Deeva, Aga ingin menjadi tempat untuk menumpahkan segala rasa dan masalah yang wanita itu sedang alami tanpa terkecuali.
"Dan kamu masih mau denganku? aku bukan wanita baik baik, Ga! ini akan sangat memalukan untukmu terutama keluargamu kelak, kamu seakan sengaja menaruh kotoran di wajahmu dan juga orang tuamu. Apa kata mereka nanti jika tau seorang AgaSyah beristri kan kupu kupu malam?" tanya Deeva, bahkan perkara cinta saja rasanya ia tak di beri keadilan oleh Tuhan dimana ia di tempatkan sebagai Aib.
"Pertanyaanmu tak ada jawabannya. Bukankah kamu juga harusnya tahu jika cintaku tanpa alasan dan karena?" timpal balik Aga.
Akan sulit jika bicara dengan orang yang cintanya sudah jatuh tersungkur jungkir balik guling guling ke dasar hati yang paling yang dalam.
Semua tetap terlihat indah dan terbaik, tak perduli orang berkata apa yang jelas ia nyaman dan bahagia. Selagi tak menyusahkan apalagi merugikan pihak lain.
"Aku hanya takut kamu menyesal di kemudian hari, Ga. Tolong, ku mohon pikirkan lagi ya," pinta Deeva, cinta tak harus memiliki dan itu tekadnya pada Aga saat terjun ke dunia malam.
"Aku akan jauh lebih menyesal jika tak bisa bersama mu. Bisa kita mulai dari awal?"
Aga menarik tubuh Deeva untuk ia peluk, wajah yang tak berjarak membuat Aga ingin melakukan hal yang selama ini hanya ia dengar dari para sepupunya. Percaya atau tidak, otaknya kini kian tak beres dan sudah tercemar hal mesum tentang ritual di atas ranjang dengan berbagai gaya mulai dari Slow motion hingga Angin ****** beliung yang bisa meluluh lantahkan area peperangan.
"Aga--, mau apa?" tanya Deeva yang mulai panik saat paras tampan rupawan itu kian dekat.
"Mau yang enak enak," jawab Aga sambil tersenyum.
Ia mainkan hidung Deeva dengan hidungnya hingga kedua mata mereka sama-sama terpejam.
Satu detik dua detik tak ada sentuhan yang di harapkan oleh Deeva hingga ia kembali membuka kedua matanya.
"Ga--, kok malah nangis?" tanya wanita itu karna langsung merasa bingung. Ia pikir, Aga akan segera mencium bibirnya tapi ternyata daging kenyal milik suaminya tak kunjung juga mendarat. Yang Deeva temukan hanya cairan bening di pelupuk mata Aga dan tangan yang memang ada di punggungnya.
"Aga, kenapa?" tanya ulang Deeva yang mulai panik.
.
.
.
Ini gimana? Resleting gaunnya susah di turunin, ih!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 32 Episodes
Comments
raditha astriani
sedih banget beliau
2024-04-13
0
Ida faridah
🤦♀️bkin orang keder aja
2024-01-05
1
Bundanya Pandu Pharamadina
Aga 🤦♀️🤣
2023-12-18
0