Part 02

🍂🍂🍂🍂🍂🍂

"Ada yang mencariku?" tanya Deeva yang menunjuk dirinya sendiri, ia lalu menoleh ke arah Megan yang mengangkat sedikit bahunya.

"Iya, cepat ke lantai dua, di kamar nomer 11," ucap pria itu lagi.

Deeva hanya mengangguk pelan, bukan cepat ke tempat yang di beri tahunya barusan ia malah duduk kembali yang kini di ikuti oleh sahabatnya.

"Yang nyari lo siapa?" tanya Megan.

"Gak tahu, padahal Mami tuh tahu kalau gue gak suka kalau langsung masuk kamar kaya gini," jawabnya, ada nada kesal yang jelas sekali ter dengar oleh Megan yang hanya bisa mengusap punggung Deeva dengan pelan agar wanita itu tak lagi gusar.

Deeva bukan seperti para wanita penghibur lainnya di klub malam yang paling mewah di kota ini, ia berbeda karna tak terjun langsung ke bar mencari mangsa, melainkan ia cukup duduk manis di ruangan VVIP untuk menemani karaoke atau sekedar minum saja.

Tapi, tak semua pria hidung belang bisa bersamanya, Deeva bisa memilih siapa yang akan di temaninya untuk menghabiskan malam, pilihannya dalam bekerja meraup pundi pundi uang yang tak sedikit semakin lama justru semakin membuat para tamu penasaran tentang siapa yang akhirnya bisa menaklukkan hati dan tubuh Deeva setelah 4 tahun ia menjadi Ratu di Red Diamonds Club.

Klub malam yang semua tahu jika tamunya bukan orang sembarangan karna minimal yang datang kesana adalah mahasiswa anak para pejabat setempat, sedangkan sisanya tentu para pengusaha dalam berbagai bidang.

"Temui saja dulu, tak perlu ada yang di takutkan, Dee." ujar Megan yang meyakinkan sahabatnya jika semua aan baik baik saja, lagi pula Mami tak mungkin gegabah mengambil keputusan untuk anak kesayangannya tersebut.

"Baiklah, aku kesana dulu, aku titip barangku ya, Gan." Dengan rasa penasaran dan pasrah, Deeva akhirnya bangun dan bergegas ke ruangan yang katanya sudah ada orang yang menunggunya.

Helaan napas berat mengiringi langkah kaki malas Deeva, ia yang berada di lantai tiga memilih turun dengan tangga biasa karrna tak ada alasan untuknya buru buru menemui orang tersebut.

"Aku lelah Tuhan," ucap lirih Deeva, ia rindu masa 5 tahun lalu yang hanya sibuk dengan urusannya sendiri tanpa memikirkan hutang, cicilan dan juga keluarganya yang kini menumpahkan semua masalah ke pundaknya.

Jika tak ingat dengan Mama, ingin rasanya Deeva membawa wanita itu pergi jauh dan cukup tinggal berdua saja, tak apa jika hanya bisa makan sehari dua atau tiga kali asal kan hari harinya damai.

"Apa ada orang di dalam?" tanya Deeva pada dua orang yang sedang berjaga di depan pintu yang tertutup rapat, pastinya tak sembarangan orang boleh amsuk ke dalam sana.

"Ada, Nona. Mereka sedang menunggu Anda," jawab salah satu dari penjaga tersebut yang memakai pakaina serba hitam.

Deeva mengernyitkan dahi, mendengar kata mereka tentu bukan satu orang yang ada di dalam sana sedangkan ia tak bisa menebak sama sekali.

"Mungkin ada Mami juga" bathin Deeva meski rasanya ia tak yakin, ada perasaan aneh yang menjalar dalam hati gadis malang itu namun sialnya tak bisa ia jabarkan.

Deeva masuk ke dalam ruangan tersebut setelah di buka kan pintunya, ia yang baru berjalan tiga langkah langsung berhenti saat ada 4 orang sedang duduk dio satu meja dengan 2 orang diantaranya yang tak ia kenali.

"Duduk dekat Mami sini, Dee," titah wanita yang memiliki rambut panjang pirang.

"Iya, Mih." Deeva duduk disebelah Mami yang tersenyum padanya.

Deeva bertahan sekian lama karna memang wanita itu sangat baik, ia tahu betul bagaimana Deeva selama ini yang hanya di jadikan mesin uang oleh ayah dan kakak laki lakinya, Mami juga yang membantu Deeva mendapatkan tamu tamu baik hingga anak itu menjadi anak kesayangannya karna bukan hanya lasihan tapi juga jelas sangat menguntungkan.

"Ada apa ini?" tanya Deeva, ia melirik ke arah satu pria yang tak lain adalah papanya sendiri. Perasaan yang tak enak itu semakin kacau saat dua orang lainnya menatap tajam ke arah Deeva.

"Kakakmu ada di kantor polisi, ia kedapatan mencuri sebuah mobil dan korbannya pun meninggal karna di tikam juga oleh Arman," jelas papa.

Deeva tak kaget, ia mansih nampak santai karna hal itu sudah biasa, entah hukuman apa yang akan membuat sang kakak jera untuk tidak terus menerus berurusan dengan polisi.

"Jika ingin membebaskannya, silahkan. Tapi tolong jangan libatkan aku," ucap Deeva.

Ia yang ingin bangun dari duduknya langsung di cegah oleh Mami dan itu membuat Deeva semakin tak paham.

"Duduklah dulu, kita bicara baik baik ya," pinta Mami yang mau tak mau membuat Deeva kembali menghempaskan boKongNya di samping wanita tersebut.

Tatapannya tajam ke arah Papa yang dengan santainya mengatakan jika ia tak perlu berbuat apa apa untuk hal tersebut, jika benar begitu bukan kah seharusnya ia tak ada di ruangan ini.

Namun, rasa kesal dan dongkol itu teralihkan saat Deeva melihat dua orang yang ada di depannya. Mereka yang tengah mengatur posisi duduknya seakan bersiap untuk bicara hal penting.

"Perkenalkan Nona Deeva, saya Artha dan ini Pak Ibnu. Kedatangan kami kemari tentu bertujuan untuk membantu keluarga Nona Deeva. Ini adalah bukti transfer sejumlah uang yang sudah di kirim ke rekening Ayah Anda, Pak Markus," jelas Pria dewasa dan tampan tersebut.

Deeva yang tak paham tentu mencari jawaban dari Sang Ayah karna deretan angka yang tertera barusan itu tak sedikit jumlahnya bahkan rasanya akan banyak sisa jika hanya untuk menebus kakaknya saja di kantor polisi.

"Kan sudah Papa bilang, kamu tak perlu melakukan apapun, cukup ambil pulpen itu dan tanda tangani berkas yang sudah Papa kita sepakati," ucap Papa seperti tanpa dosa.

"Berkas apa?" tanya Deeva.

"Ini, Nona. Nona Deeva bisa baca lebih dulu sebelum menandatanganinya," sambung Artha sambil menyodorkan sebuah Map.

"Kontrak pernikahan?!" pekik Deeva tak percaya saat membuka Map tersebut, ia yang baru membaca awalnya saja sudah di buat lemas hingga serasa tak bertulang.

"Ya, Nona. Sebagai ganti dari uang yang kami berikan Nona Deeva harus bersedia menikah dengan Tuan Muda kami," ucap Artha lagi yang di sebelahnya adalah Pak Ibnu yang tak lain adalah seorang pengacara.

Deeva yang jelas menolak memohon pada papanya untuk mengembalikan uang tersebut tapi pria itu jelas lebih tegas menolak permintaan putrinya, ia tak perduli meski Deeva kini menciumi kaki yang katanya bagi sebagian anak perempuan itu adalah cinta pertamanya.

Deeva di angkat oleh Mami yang merasa tak tega, ia mencoba menenangkan gadis itu dalam pelukannya. Dan, disaat tangis Deeva mereda ia pun di minta untuk segera tanda tangan karna semua itu tak bisa di batalkan.

Deeva yang masih terisak hanya bisa mendengarkan secara pasrah saat Pak Ibnu membaca isi kontak pernikahannya dengan orang yang jelas tak di kenalnya tersebut.

Satu persatu poin di utarakan oleh pria tersebut hingga Deeva memotongnya saat di poin ke 8.

.

.

.

Tunggu, kenapa aku tak boleh hadir saat ijab qabul berlangsung?

Terpopuler

Comments

Nunik Wahyuni

Nunik Wahyuni

bapaknya devaaa keturunan Dajjal udh mati rasa....ksh kopi sianida aja Deeva bpk loe tuch....ambil mama mu bawa kabur hdp berdua ....biarkan bpkmu dan Arman di penjara hdp msg msg aja 🙈🙈🙈

2024-01-17

3

Ragil Saputri

Ragil Saputri

astaghfirullah paaaak pak....anak perempuan sebiji Lo jual.....ish ish iiiiish....bapak gelo

2024-01-07

0

Bundanya Pandu Pharamadina

Bundanya Pandu Pharamadina

Bapak lucknut🤭🤔

2023-12-18

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!