Part 03

🍂🍂🍂🍂

Pertanyaan yang di ajukan oleh Deva nyatanya tak mendapat jawaban sama sekali dari semua orang yang ada meski gadis itu sempat memaksa agar ada satu di antara mereka yang mau menjelaskan.

"Dee, percaya pada Mami kan?"

Deeva yang menoleh kearah wanita yang selama beberapa tahun ini banyak membantunya itu pun mengangguk pelan, masih ada keraguan yang terselip di hati Deeva dengan kontrak pernikahan yang sungguh sangat mendadak dan mengganjal di poin terakhir yang di bacakan Pak Ibnu barusan.

"Tapi, Mih, ini--," ucap Deeva yang kesal saat Artha memotong ucapannya. Pria tampan yang sepertinya seumur dengannya itu menyodorkan Map dan pulpen agar Deeva segera menandatangani berkas tersebut.

Rasa jengkelnya kian menjadi saat Papa juga terus memaksa dengan mengatakan ia akan buru buru ke kantor polisi untuk mengurus kebebasan sang kakak, Arman.

Deeva yang sudah tak bisa lagi menangis karna rasa kecewanya memilih diam dan dengan kasar mengambil pulpen yang tergeletak diatas sebuah kertas yang terdapat dua tiga materai disana, satu untuk Deeva, satu untuk Papa yang ternyata sudah di tanda tangani sedangkan satu lagi tak bernama. Tebakan Deeva itu pasti untuk calon suaminya kelak.

Dari semua poin yang di baca ulang Deeva, semua nampak masuk akal seolah mereka benar-benar berencana akan menikah, dari sanalah Deeva semakin bingung pasalnya pria itu pasti tahu jika ia bukan wanita baik baik melainkan penghibur di klub malam.

Urusan kontrak pernikahan pun selesai, Papa langsung pergi tanpa pamit apa lagi mengucapkan terima kasih pada putrinya yang sudah di jual demi mendapatkan uang. Di susul oleh Artha dan juga Pak Ibnu.

Kini, di ruangan tersebut tinggal ada Deeva dan Mami. Dua wanita beda umur itu pun saling memeluk karna Deeva kembali menangis.

"Sabar, Dee. Anggap Tuhan sedang mengulurkan tangannya untukmu," ucap Mami yang ikut andil dalam proses kontrak pernikahan anak kesayangannya tersebut.

Sebab, sejak 5 tahun lalu juga Deeva di jual kepada Mami. Wanita itu yang kini bertanggung jawab atas Deeva termasuk pemilihan tamu untuk gadis tesebut.

"Apa Tuhan masih ingat aku? sudah sangat lama aku melupakannya, Mih," kata Deeva, ia yang menghabiskan malam untuk bekerja menemani tamu tentu akan menjadikan siang sebagai waktu untuk beristirahat. Tak ada lagi yang Deeva lakukan kecuali mengejar dunia dunia dan dunia yang sebenarnya tak ia nikmati hasilnya.

Deeva yang merasa dadanya begitu sesak pun hanya bisa memukulinya dan itu langsung di cegah oleh Mami yang tak tega melihat sikap Deeva.

"Jangan sakiti dirimu sendiri, Dee."

"Aku lelah, Mih. Aku tak punya siapapun saat ini," ucap lirih Deeva, tak ada lagi yang mengingat kan nya akan kewajibannya sebagai hamba Tuhan, sedang kedua matanya kini semakin merah dan membengkak karna tak henti mengeluarkan cairan bening.

"Habis ini kamu punya sandaran hati, kamu punya suami dan kamu bisa bawa ibu mu, Dee. Mami percaya kamu akan bahagia, jangan takut ya," balas Mamih yang langsung menghentikan tangis Deeva.

"Mama? ya Tuhan, kenapa aku tak berpikir sampai sana?".

.

.

.

Dua hari kemudian, Di sebuah kamar dalam hotel mewah Deeva di dandani secantik mungkin, ia yang memang sudah cantik terlihat semakin mempesona dengan gaun pernikahannya.

Ya, Deeva berkesempatan memilih baju, riasan, serta aksesori lainnya seperti sepatu, perhiasan dan mahkota di kepalanya. Ia cantik, sungguh bak bidadari padahal hanya seorang kupu kupu malam.

"Siapa suamiku?" gumam Deeva di depan cermin besar yang memperlihatkan tubuhnya yang tinggi semampai di balut gaun putih yang elegan.

Sedangkan tak ada gambaran atau tebakan di kepala Deeva tentang pria yang akan menikahinya hari ini. Deeva tak habis pikir karna pastinya si calon suami tahu siapa dan apa pekerjaannya.

"Apa--, dia bodoh? jelek, tua, mandul atau bisa jadi Impoten? pasti ada alasan kenapa orang itu menikahiku. Ah tidak, mungkin lebih tepatnya dia membeliku," gumam Deeva lagi, hembusan napas kasar pun ia buang sambil duduk kembali di tepi ranjang yang semua isi kamar ini berwarna putih bersih.

"Ini bahkan pernikahan impianku yang pernah ku doakan bersama---,"

Ceklek.

Pintu kamar terbuka tanpa di ketuk apalagi meminta izin lebih dulu dan itu berhasil membuat Deeva merengut kesal.

"Tuan muda 1 jam lagi akan sampai dan acara pernikahan pun akan segera berlangsung."

"Disini?" tanya Deeva.

"Iya, Nona. Tepatnya di ballroom hotel. Saya harap nona bersiap dari sekarang. Permisi."

Seperti saat datang tadi, wanita barusan itu pun pergi begitu saja, padahal ada beberapa pertanyaan yang ingin di lontarkan Deeva mengenai acara yang akan berlangsung yaitu tentang kedatangan keluarganya termasuk papanya yang seharusnya menjadi wakil nikah sang putri hari ini.

Tapi, Deeva tak ingin juga banyak berharap. Rasa kecewanya cukup sampai kemarin saja. Kini, tak ada dan tak perlu lagi mengandalkan orang lain karena orang terdekat pun nyatanya bisa melakukan hal yang paling menjijikkan seperti menjual seorang anak layaknya barang.

Sedangkan di lain tempat, ada seorang pria tampan rupawan berdiri di depan cermin. Tubuh tingginya sungguh menjadi idaman para wanita balum lagi kekayaan yang ia miliki membuat kaum hawa siap melempar tubuhnya secara cuma cuma sekali pun.

"Masih ku ingat ucapan terakhir ku saat melihatmu, Dee. Kita akan berjumpa lagi di lain waktu, dan di saat itulah aku tak akan melepaskan mu lagi untuk kedua kalinya apa pun yang terjadi."

Senyum terukir di sudut bibir nya mana kala bayangan senyum dan gelak tawa calon istrinya itu terlintas kembali di Ingatan nya.

Tok.. tok. tok..

Suara ketukan pintu membuat sang Tuan Muda menoleh, ia berjalan menuju sofa single setelah mengizinkan orang yang ada dibalik benda bercat putih itu untuk masuk.

"Selamat malam, Tuan. Saya hanya ingin memberi tahu kan jika kita bisa ke hotel sekarang," ucap Artha, yang tak lain adalah asisten pribadi Presiden Direktur.

"Hem, Baiklah." Ia yang tak sabar kembali bangun dan berjalan dengan mantap menuju tempat yang di sebut oleh Artha barusan.

Dengan hanya menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit, mobil mewah sang Tuan Muda akhirnya sampai di balkon sebuah hotel yang semua orang tahu siapa pemiliknya. Disana, sudah ada sebuah meja dan juga beberapa orang pria yang sudah sangat siap mengawali acara dengan ijab qabul terlebih dulu.

"Apa bisa kita mulai sekarang?" tanya seorang penghulu yang langsung mengulurkan ttangannya untuk berjabat tangan.

Dengan suara tegas Pria paruh baya tersebut mengikrarkan janji suci pernikahan yang langsung di ikuti oleh sang calon mempelai pengantin pria.

.

.

.

Sayan terima Nikah dan kawinnya Deevana Binti Markus dengan mas kawin tersebut di bayar, TUNAI...

Terpopuler

Comments

Lilik Juhariah

Lilik Juhariah

akunbaru mampir'

2025-03-28

0

raditha astriani

raditha astriani

saaaahhh...

aku baru mampir sini...

2024-04-13

0

Ragil Saputri

Ragil Saputri

apakah ini pernikahan yg di impikan seorang Deeva bersama......mungkinkah Tuan Mudanya orng yg sama🤔🤔

2024-01-07

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!