BAB 14
Lissa tidak berkedip memperhatikan Jeon yang tengah menyisir rambutnya di depan cermin.
Terlihat indah dan panas dengan tubuh bertel*njang dada.
Kemudian Jeon masuk ke dalam walk in closet, tak lama Jeon kembali dengan kaos putih di tangannya.
Jeon
◾Berjalan menuju ranjang lalu duduk ditepian.
Tanpa kata, Jeon memakaikan kaos yang ada di tangannya pada Lissa yang hanya memakai bra dan underwear saja, kebiasaannya saat akan tidur.
Jeon
Sekarang kau akan tidur bersama seorang pria.
Jeon
Minimal, kau harus memakai baju di bagian atas.
Jeon
◾Mencubit hidung Lissa sekilas lalu berbaring diranjang.
Lalissa
Jadi sekarang kau menganggap dirimu pria di depanku?
Lalissa
Bukan seorang paman jadi-jadian lagi?
Jeon
Justru karena aku pamanmu jadi kau harus bersikap sopan.
Jeon
Jangan selalu menggodaku dengan hampir bertelanjang di setiap saat di depan wajahku.
Lalissa
Karena tujuan utamaku memang menggodamu, Jeon sayang.
Lissa menyapukan lidah pada bibirnya dengan sensual dengan tatapan menggoda pada Jeon.
Jeon
Kemarilah, sudah malam. Kau perlu istirahat.
Jeon merentangkan sebelah tangannya pada Lissa, yang di sambut antusias olehnya dengan langsung menjatuhkan dirinya di dada bidang Jeon yang polos dan penuh otot.
Jeon
◾Memeluk Lissa lalu mengecup keningnya
Jeon
Lissa, ingat perjanjiannya? Hentikan tangan nakalmu atau kita berdua tidur terpisah.
Lissa terkekeh lalu menghentikan gerakan tangan yang mencoba menggoda milik Jeon.
Jeon
◾Mengusap-usap rambut Lissa
Lalissa
◾Mempererat pelukan lalu memejamkan mata.
Jeon
Lissa, kau sudah tidur?
Lissa kembali membuka matanya yang hampir masuk ke alam mimpi.
Jeon
Jangan pernah lakukan lagi.
Jeon
Membiarkan tubuhmu dijelajahi pria dengan sembarangan.
Refleks Lissa mengangkat wajahnya untuk menatap Jeon, yang ternyata pria itu sudah memperhatikannya lebih dulu.
Lalissa
Aku sudah mengatakan. Aku hanya butuh pengalihan darimu.
Lalissa
◾Membenamkan wajah didada Jeon
Lalissa
Kau tidak pernah merasakan cinta yang bertepuk sebelah tangan.
Lalissa
Jadi kau tidak pernah merasakan bagaimana rasanya tersiksa memiliki cinta yang setiap saat di abaikan.
Lalissa
Sedangkan aku sendiri tidak bisa menghentikan cinta itu.
Lissa bisa merasakan jika napas Jeon kini berubah menjadi kasar.
Lalissa
Dan caraku mengalihkan semua itu dengan bersenang-senang,
Lalissa
Entah itu berpesta atau bercumbu dengan seorang pria. Dan itu cukup berhasil.
Jeon
◾Menghela napas berat
Jeon
Tapi sayangi tubuhmu.
Jeon
Aku tidak ingin kejadian Randi terulang kembali.
Lalissa
Kau.... Menyadarinya?
Jeon
Aku sudah terlalu mengenal dirimu atau apapun yang ada di dirimu.
Jeon
Termasuk suaramu. Mana ******* mana ringisan.
Lalissa
◾Mengangkat wajah menatap Jeon.
Jeon
◾Menangkup kedua pipi Lissa
Jeon
Aku tidak ingin ada pria Lain yang melecehkanmu lagi.
Jeon
Itu membuatku khawatir dan takut.
Wajah mereka berdua begitu dekat, sampai hidung keduanya bersentuhan. Jeon dan Lissa saling menatap intens.
Lalissa
Kalau begitu cintai aku. Maka aku akan berhenti.
Lalissa
Kalau tidak bisa, jangan sesekali melarangku.
Lalissa
◾Menyingkirkan tangan Jeon dari pipi
Namun tiba-tiba Jeon menarik pipi Lissa dan mendaratkan sebuah ciuman di bibirnya.
Ini pertama kalinya Jeon mencium Lissa tanpa harus dia goda terlebih dahulu.
Jeon
◾Menarik bibirnya dari Lissa
Jeon
Jika kau benar-benar mencintaiku, kau akan menjaga dirimu demi aku.
Lissa merasakan debaran jantungnya yang sangat tidak beraturan.
Jeon cukup terkejut, karena untuk pertama kalinya Lissa memanggilnya dengan benar, bukan sebuah sindiran seperti yang biasa ia lakukan.
Lissa mendaratkan bibirnya pada bibir Jeon, yang tak ragu dibalas oleh pria itu.
Comments
fafa
keren ini yg ditungguin
2023-10-11
8