Jormac Seil duduk di meja kantor yang membosankan, matanya terpaku pada layar komputernya yang dipenuhi oleh angka-angka dan grafik-grafik yang tak berarti. Kantor ini, dengan dinding berwarna abu-abu dan meja-meja yang disusun rapi, adalah penjara modernnya. Sebagai seorang pegawai kantoran biasa, Jormac telah terjebak dalam rutinitas yang monoton dan menguras semangat.
Walaupun sering diabaikan, Jormac tetap mengeluh tentang pekerjaannya yang berat pada rekan-rekannya, yang juga terjebak dalam siklus yang sama. Setiap hari, ia merasa seperti sebuah banteng yang diikat dengan rantai, terpaksa menggulung dokumen-dokumen dan melapisi laporan-laporan dengan tanda tangan yang tampaknya tak pernah berakhir.
"Dunia ini begitu terlihat biasa saja," gumam Jormac pada dirinya sendiri, suaranya penuh kebosanan. "Tidak ada yang istimewa di sini."
Namun, di balik kebosanan itu, ada sesuatu yang aneh terjadi pada Jormac. Dia mulai merasa seperti ada sesuatu yang disembunyikan, sesuatu yang tidak biasa, yang mengintai di luar kantor-kantor steril ini. Sementara ia mencoba mengingkari perasaan itu, rasa ingin tahunya semakin tumbuh. Ada misteri yang terpendam, dan Jormac mulai merasa kalau dia lebih tahu dari yang lainnya.
Kemudian Jormac berjalan pulang menuju rumahnya di malam yang gelap. Langitnya tertutup awan dan bintang-bintang semuanya tersembunyi. Suasana malam yang gelap memperkuat rasa kantuk yang telah menghantui Jormac sejak dia meninggalkan kantor. Meskipun hari ini adalah hari yang sama seperti yang lainnya, ada sesuatu yang berbeda dalam angin malam.
Sampai akhirnya, Jormac tiba di depan pintu rumahnya, mencoba mencari kunci dalam saku jaketnya yang berantakan. Tiba-tiba, dua orang berpakaian polisi mendekatinya dengan cepat. Sorot lampu jalan yang samar-samar menerangi wajah mereka yang serius.
"Permisi," ucap salah satu polisi dengan nada tegas, "apa kau tahu sesuatu tentang Spirit Energy?"
Jormac, yang tiba-tiba didatangi oleh kedua polisi ini, tentu saja merasa bingung dan sedikit panik. Dia menatap mereka dengan mata terbelalak, mencoba memproses pertanyaan itu. Tidak hanya itu, dia juga merasa kelelahan karena sehabis bekerja seharian, energinya sudah banyak terkuras.
"Maaf," kata Jormac dengan suara gemetar, "aku tidak tahu apapun."
Namun, bukannya puas dengan jawaban yang diberikan Jormac, polisi itu justru memasang muka marah sambil berkata, "Jangan berbohong! Kau pasti tahu sesuatu, jadi tolong jelaskan di kantor polisi."
Jormac yang dibentak oleh polisi itu pun merasa takut dan panik karena dia benar-benar tidak mengerti kenapa polisi itu bisa marah padanya. Matanya bergerak cepat mencari alasan atau cara untuk menjelaskan dirinya.
Kedua polisi itu semakin mendekat dan menahan lengan Jormac dengan tegas. Mereka merasa amat yakin bahwa Jormac memiliki informasi penting tentang Spirit Energy. Jormac, bagaimanapun, merasa bahwa ini adalah suatu kesalahpahaman besar.
"Dengar," kata Jormac dengan suara gemetar, "aku benar-benar tidak tahu apa-apa tentang Spirit Energy."
Namun, polisi-polisi itu tidak tergerak oleh kata-kata Jormac. Mereka memandangnya dengan penuh kecurigaan dan kebingungan. Ketegangan semakin meningkat saat Jormac mencoba melepaskan diri dari cengkraman mereka. Saat dia memberontak, kedua polisi itu mendorongnya kembali.
"Jangan ganggu kami!" kata salah satu polisi dengan keras.
Namun, daripada menyerah, Jormac terus berjuang. Dia tahu bahwa dia tidak bersalah, dan tidak ingin ditahan tanpa alasan yang jelas. Mereka berjuang sejenak dalam kerumunan yang tegang.
Tetapi, ketika Jormac berusaha untuk melepaskan diri lagi, salah satu polisi itu, dengan ekspresi yang penuh ketidaknyamanan, mengambil alih kendali. Dia meraih sebuah peralatan non-mematikan yang mereka bawa dan menggunakannya untuk menenangkan Jormac dengan lembut, tidak dengan cara yang merugikan. Jormac merasa bingung, pusing, dan akhirnya pingsan.
Beberapa jam kemudian, Jormac terbangun dengan perasaan yang aneh. Matanya perlahan-lahan membuka, dan saat kesadaran mulai kembali, dia menyadari bahwa dia tidak berada di kantor polisi. Lingkungannya tampak seperti sebuah kantor polisi, tetapi ada sesuatu yang aneh. Orang-orang yang dia lihat tidak mengenakan seragam kepolisian; sebaliknya, mereka tampak seperti orang-orang biasa yang memandangnya dengan tatapan tajam.
Seorang pria yang tidak dikenal duduk di depannya, memandanginya dengan tatapan yang menusuk. Mereka berdua duduk dalam sebuah ruang yang seperti ruang interogasi, dengan satu meja di antara mereka. Jormac merasa dadanya terasa sesak, dan dia merasa ketidaknyamanan yang tak terlukiskan.
"Kau sudah bangun?" tanya pria tersebut dengan nada dingin, seolah-olah dia telah menunggu ini dengan sabar.
Jormac yang merasa terikat dan bingung, bertanya dengan gemetar, "Dimana aku? Kenapa aku diikat seperti ini?!"
Namun, pria itu hanya diam, tatapannya tak berubah. Sesaat setelah Jormac bertanya, tiba-tiba pria itu mengangkat tangan kanannya dengan cepat dan memegang kepala Jormac, lalu menghempaskannya ke meja. Perasaan sakit yang tiba-tiba menghantam Jormac, dan dia merasa kehilangan kendali atas situasi ini.
Pria tersebut berbicara dengan suara yang penuh kemarahan, "Jangan bertanya balik, sialan!". Kemudian pria itu memandang Jormac dengan keras, "Beri tahu semua yang kau tahu!" katanya dengan nada mendesak.
Jormac masih merasa bingung, rasa sakit di kepalanya belum mereda, dan dunia di sekitarnya terasa semakin tidak masuk akal. Dia mencoba berbicara, tetapi kata-kata terjebak di tenggorokannya. Dia hanya terdiam, matanya mencoba memproses semua yang telah terjadi sejak dia dibangunkan di tempat ini.
Semua yang dia alami sejauh ini begitu tidak masuk akal. Mengapa dia berada di ruang interogasi dengan orang-orang yang bukan polisi? Mengapa mereka ingin tahu tentang Spirit Energy? Dan mengapa mereka menganiayanya?
Tapi pertanyaan terbesar adalah, mengapa dia, seorang pegawai kantoran biasa, terlibat dalam semua ini? Jormac terus merenung, mencoba mengingat apa yang mungkin bisa menjelaskan situasinya. Tapi pikirannya masih berputar-putar dalam kebingungan, dan dia belum memiliki jawaban apa pun.
Sementara itu, pria itu masih menatapnya dengan kesabaran yang tipis, menunggu jawaban yang tidak kunjung datang.
Pria itu mengerutkan kening dengan frustrasi ketika Jormac tidak memberikan jawaban. "Tidak bisa menjawab, ya?" katanya dengan nada sinis. Namun, Jormac tetap terdiam, merenung dalam kebingungannya yang mendalam.
Pria itu akhirnya kehilangan kesabaran. Dia menganggukkan kepala pada salah satu bawahannya dengan isyarat, menyuruhnya untuk mengambil tindakan. Bawahan itu dengan hati-hati mendekati Jormac, menariknya dari kursi, dan menyeretnya keluar dari ruang interogasi.
Jormac merasa terkejut dan panik. Dia mencoba berteriak bahwa dia tidak bersalah dan tidak tahu apa-apa, tetapi kata-katanya hilang dalam hiruk-pikuk. Beberapa tawanan lain di lorong-lorong penjara itu melihat dengan tajam ketika Jormac, yang masih bingung dan marah, diseret masuk ke dalam sel.
Pintu besi berat terkunci dengan erat di belakangnya, dan dia mendengar suara tawa sinis dari para tahanan yang lain. Jormac kini merasa seperti terjebak dalam mimpi buruk yang nyata, dan kebingungannya semakin dalam. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, mengapa dia diinterogasi, atau mengapa dia tiba-tiba dipenjara bersama dengan para tahanan lainnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 21 Episodes
Comments
Sir Fitz
kesian tiba-tiba dipenjara
2023-09-23
1