Satu bulan kemudian.
Hubungan Candra dan Harum semakin lama semakin merenggang. Meski Harum mengerjakan tugasnya sebagai istri dengan menyiapkan sarapan, menyiapkan pakaian kerja serta memenuhi kebutuhan biologis Candra dengan baik, tapi soal komunikasi mereka tidak lagi punya waktu intens untuk berkomunikasi.
Tidak ada obrolan hangat sebelum tidur, di meja makan, dan di ruang televisi. Bahkan tidak ada lagi jalan-jalan berdua di akhir pekan, sebulan terakhir ini setiap akhir pekan Harum pasti mengajak Nina untuk ikut mereka jalan-jalan, entah itu ke kota atau sekedar mengunjungi rumah sanak saudara. Padahal mau nya Candra, akhir pekan di habiskan hanya berduaan seperti saat mereka pacaran dulu.
Sedangkan hubungan Candra dan Nina semakin dekat, apalagi pejabat setempat termasuk Candra sering turun memantau kegiatan-kegiatan mahasiswa KKN. Tidak ada lagi rasa canggung antara Candra dan Nina seperti pertama kali mereka bertemu. Seringkali Candra menyapa Nina terlebih dahulu dan Nina tidak canggung untuk mengajak Candra bercanda.
Bukan hanya saat di lapangan saja, tapi saat ada Harum pun sering kali Candra dan Nina asyik ngobrol berdua membicarakan tentang kegiatan KKN.
Melihat keakraban Candra dan Nina, Harum merasa itu hal yang biasa. Harum menganggap Nina adalah adiknya jadi dia malah senang saat melihat Candra dekat dengan Nina. Tak ada pikiran Harum yang aneh-aneh, apalagi Harum tau kalau Candra adalah tipikal pria yang setia dan tidak suka yang aneh-aneh.
💋💋💋
Pukul 04.30.
"Ss..... Ah... Mas, stop Mas berhenti dulu." ucap Harum sambil sedikit meringis kesakitan.
Subuh ini Harum dan Candra sedang melakukan ritual hubungan suami istri. Di tengah-tengah aktifitas mereka, tiba-tiba saja Harum merasa sakit di bagian perut bawahnya.
Candra tidak memperdulikan perkataan Harum dan terus saja menggerakkan pinggulnya di atas Harum.
"Tahan Rum, tanggung udah mau keluar." ucap Candra.
"Mas... ah... sss ** ooop Mas... ah..." rintihan Harum semakin keras, perutnya semakin sakit.
Gara-gara rintihan kesakitan Harum, hasratnya langsung terjun bebas, cepat-cepat Candra mengeluarkan juniornya dari dalam goa kenikmatan, padahal tinggal sedikit lagi juniornya sampai di puncak kenikmatan.
"Kamu kenapa Rum?" tanya Candra sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Harum.
Saat ini pencahayaan di kamar mereka gelap karena mereka tidak menyalakan lampu kamar dan tidak memakai lampu tidur.
"Pe-pe-perut a-aku sss-sa-kit Mas." jawab Harum sambil meringis dan meringkuk memegangi perutnya.
Candra pun beranjak dari tempat tidur dan menyalakan lampu kamar.
Betapa terkejutnya Candra saat melihat goa kenikmatan Harum mengeluarkan darah.
"Kamu haid Rum?" tanya Candra.
Harum memegangi cairan yang keluar dari goa kenikmatannya dan benar saja itu darah.
"Sepertinya gitu. Tapi kok perut ku mules banget yah Mas." jawab Harum.
"Tunggu aku ambil air hangat dulu." ucap Candra. Kemudian cepat-cepat Candra memakai boxer nya lalu keluar dari kamar untuk mengambil air hangat untuk di minum dan untuk di kompres kan ke perut Harum.
Kini Candra sudah kembali ke kamar.
"Ini minum dulu Rum." ucap Candra sambil menyodorkan gelas yang berisi air hangat untuk di minum Harum.
Harum pun meminum sedikit demi sedikit air hangat itu.
"Udah Mas." ucap Harum setelah di rasa cukup.
Candra pun meletakkan gelas itu di atas nakas. Kemudian mengambil baskom yang sudah dia isi dengan air hangat lalu mengompres perut Harum dengan air hangat.
"Gimana udah enakan?" tanya Candra.
Bukannya merasa lebih baik, Harum makin senggugutan.
Harum menggeleng.
"Makin sakit Mas." ucap Harum.
Kemudian Candra melihat goa kenikmatan Harum, darah segar makin banyak keluar dan yang paling membuat Candra melongo ketika ada gumpalan-gumpalan darah yang keluar dari goa kenikmatan Harum.
"Maaaas... aku gak tahan sama sakitnya, ini sakit banget." teriak Harum. Rasa sakit yang Harum rasakan semakin hebat, bukan hanya bagian perut bawah yang keram tapi bagian punggung dan pinggang juga nyeri hebat.
Melihat Harum yang semakin kesakitan, cepat-cepat Candra memakaikan segitiga berenda untuk menutupi goa kenikmatan Harum lalu memakaikan pakaian Harum, kemudian Candra juga memakai baju dan celananya. Takut terjadi apa-apa dengan Harum, Candra pun langsung melarikan Harum ke praktek bidan. Karena mau ke puskesmas, jam segini belum buka dan mau ke rumah sakit jarak rumah sakit dari tempat tinggal mereka sangat jauh. Yang ada di tempat itu hanya praktek bidan dan praktek dokter umum, itu pun tak banyak.
💋💋💋
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 145 Episodes
Comments
GOD BLESS
itu pertanda lampu merah buat mu rum, sebelum terlmbat lbh byk srvis suamimu, jgn penghasilan warung yg pling utama. klo sempt selingkuh suami mu..mewek jg ga ada artiny lgi. toh kmu harum yg salah.
2023-10-21
0
Musniwati Elikibasmahulette
rasakan itu ,pembangkang
ngapain urus warung
lagi penyakitan ,tapi suka lawan suami
ga bersukur bangat punya suami seperti Candra
2023-10-08
0
Rahma Inayah
pendrahn klu gk keguguran.slah harum jg sdh ada kegitan tp gk bs bgi wkt ....apalgi pny suami sempurna pari purna klu gk kuat iman mudh ke goda ..sama wanita di luar sn ..
2023-09-11
0