Sekitar jam 11.00, semua orang pulang ke rumah masing-masing, terutama para wanita yang ditugaskan untuk memasak di rumah. Namun, masih ada beberapa orang yang tetap bekerja untuk mencapai target yang mereka inginkan.
Xuni melirik sejenak dan melihat Kiki juga akan pulang ke rumahnya untuk istirahat dan makan siang. Dia melihat Kiki masih tetap putih meskipun sudah hampir seminggu bekerja di ladang. Sementara itu, beberapa pemuda pendidikan mulai memiliki kulit coklat akibat sinar matahari.
Lin Xuni juga sebenarnya sama. Kalau saja dia tidak memiliki akses ke mall masa depan, tentu dia juga akan memiliki kulit yang lebih gelap. Dia membeli beberapa produk kecantikan khusus untuk dirinya sendiri, menjaga kulitnya tetap putih.
Namun Xuni masih merasa tidak nyaman ketika melihat Kiki masih tetap putih seperti sebelumnya. Hanya dengan memikirkannya, rasa kebenciannya terhadap Kiki semakin bertambah.
"Hah, aku ingin melihat sampai kapan kau bisa merawat wajah cantikmu itu," gumam Xuni dengan ekspresi sinis.
"Xuni, apakah kau pulang bersama ku ?" Ling Jin menyapa Xuni untuk mengingatkannya bahwa hari ini gilirannya untuk memasak. Meskipun mereka tinggal di rumah penduduk, mereka tetap makan bersama.
Bukan bermaksud mengejek, tetapi tingkat kebersihan di rumah penduduk cukup rendah. Mereka bahkan tidak mencuci tangan sebelum makan.
"Ah, apa ini giliranku sekarang?"
"Hmm, kamu memang pandai memasak, tidak seperti aku yang hanya bisa masak tapi tidak ada rasanya hahaaa ," kata Ling Jin.
"Jangan mengatakan begitu, aku tidak sehebat Kiki yang bisa memasak dengan baik dan dipuji seluruh desa," ujar Xuni sambil tersenyum.
Sebenarnya, Xuni tidak begitu pandai memasak dibandingkan dengan yang lain.Tapi dia rajin menambahkan berbagai bumbu yang membuat masakannya memiliki cita rasa yang khas.
Lin xuni ingin mengambil hati para pemuda pendidikan, terutama Fang Yan. Jadi dia berusaha menambahkan bumbu secara rahasia di dalam masakannya. kata orang untuk mengambil hati laki-laki itu perlu dimulai dari perut.
"Hei, biarkan Kiki dengan kehidupannya. Toh, Kiki sudah menjadi warga desa sekarang".kata Ling jin
Awalnya, Ling Jin memiliki pandangan positif terhadap Kiki, tapi semakin lama dia merasa ada yang aneh. Mengapa Kiki bisa begitu cepat beradaptasi dengan penduduk desa, namun menjauhi pemuda pendidikan?
Dia melihat beberapa kali bagaimana Kiki menjadi sorotan di desa dan itu membuatnya merasa canggung. Padahal dulu dia menyukai Kiki sebagai teman.
Yang tidak diketahui oleh Ling Jin adalah, Lin Xuni selalu membicarakan hal ini ketika mereka berkumpul bersama para pemuda pendidikan. Xuni secara halus membandingkan Kiki dengan para pemuda, menimbulkan keraguan dan perasaan aneh dalam pikiran para pemuda.
Kiki berusaha menghindari pemuda pendidikan, tetapi Xuni terus menyebarkan gambaran negatif tentang Kiki di antara mereka.
Dengan cara ini, pandangan pemuda pendidikan terhadap Kiki semakin tidak stabil dan Xuni terus memperkuat pikiran bahwa Kiki memiliki masalah dengan pola pikirnya.
"Baiklah, pulanglah lebih awal. Aku akan menyusulmu karena masih ada beberapa poin yang harus diambil. Jangan khawatir, siang ini aku akan menyajikan makanan istimewa. Meskipun hanya jagung manis rebus ya hehehe" sebuah jawaban sederhana yang membuat orang berpikir betapa sederhananya sosok Xuni.
Ling jin juga tidak bisa tinggal lama di ladang jadi dia juga kembali ke rumah untuk istirahat.Ohh mereka juga harus mencangkul kebun pribadi bersama-sama seperti yang sudah mereka rencanakan sebelumnya.
Begitu melihat Ling Jin pergi, Juni pun memutuskan untuk bergerak. Namun, ia sengaja mengambil jalan yang berbeda dengan Ling Jin. Dia memilih untuk mengambil jalan memutar, sebuah jalur yang jarang dilalui oleh orang lain.
Di desa ini, "kelas 2" bukanlah istilah dari pendidikan formal, melainkan label yang diberikan pada warga yang dianggap pemalas dan rendah oleh masyarakat. Mereka dianggap sebagai "sampah" masyarakat.
Mungkin dalam istilah modern mereka lebih cocok disebut dengan preman pasar.Dengan begitu,banyak yang enggan untuk berurusan dengan kelompok ini.
Namun, Xuni justru berjalan menuju area ini, karena ia memiliki rencana tersendiri.
" hei cantik, mau pulang?" ucap seorang pemuda dengan baju lusuh dan gigi yang tidak terawat. Penampilannya sangat mengganggu dan menjijikkan bagi Xuni.
Namun, mereka adalah bagian dari rencana Xuni.
Xuni berpura-pura terkejut dan takut, tampak sangat cemas. Tapi semua itu adalah akting yang ia lakukan. "Pergi, jangan ganggu aku. Aku ingin pulang!" ucap Xuni dengan suara yang gemetar.
"Hahaha, boleh-boleh saja pulang. Tapi, hehehe..."
"Kakak kian ,dia cantik . Cocok jadi kakak ipar kita. Tapi kalau kakak kian nggak suka, bisa jadi istriku juga, kok."
"Yah, lumayanlah..."
Pandangan mereka menerawang pada Xuni yang memiliki kulit putih yang kontras dengan kulit mereka. Beberapa pemikiran liar mulai terjalin dalam benak pemuda-pemuda kelas 2 ini.
Meski mereka dikategorikan pemuda kelas 2 atau preman di era modern. Tapi sebenarnya mereka juga memiliki tingkat kesopanan yang tinggi.
Tidak seorang pun dalam kelompok ini berani menyentuh wanita karena hukuman yang mengerikan yang menanti mereka jika melanggar peraturan ini.
Undang-undang begitu ketat tahun ini. Tindakan sederhana seperti menyentuh seorang wanita dapat mengubah seseorang menjadi penjahat Hooligan, dengan hukuman mulai dari kerja paksa hingga hukuman mati.
Jadi siapa yang ingin dihukum mati hanya karena menyentuh wanita yang tidak penting.
"Pergilah, aku akan membayar kalian. Tapi maaf, aku tidak punya uang sekarang. Aku akan pergi mencari Kiki untuk meminjamnya, oke?" ucap Xuni dengan suara gemetar.
"Pemuda pendidikan Kiki? Hahaha, ibuku juga suka padanya sebagai calon menantu. Bisakah kau memperkenalkan kami?" kata Kian, yang tampaknya menjadi bos dalam kelompok ini.
Xuni memberi jarak antara dirinya dan pemuda-pemuda itu, tetapi dalam hatinya ia merasa gembira. Ini bukan pertemuan pertamanya dia berinteraksi dengan mereka. Dalam setiap pertemuan itu, adalah kesempatan xuni untuk mengubah pandangan mereka tentang Kiki.
Tanpa "disengaja" Xuni telah memberikan beberapa saran bagaimana membuat Kiki tertarik pada mereka. Secara halus, ia telah menyinggung tentang usaha yang diperlukan untuk menaklukan Kiki.
"Apakah kau..kau.. berencana mendorongnya ke danau dan melakukan kontak kulit ke kulit untuk memaksa dia menikahimu? Ohh, jangan pernah berpikir untuk melakukan itu. Reputasinya akan hancur dan kamu hanya akan membuatnya takut. Dia adalah gadis yang baik dan bahkan memiliki rumahnya sendiri. Jadi, jangan pernah memikirkan hal seperti itu," kata Xuni berteriak dengan keras, seolah-olah ia takut akan rencana jahat dalam benak pemuda-pemuda itu.
Dia juga berani menarik tangan kian dengan mata yang memerah. gerakan ini benar-benar menunjukkan jika dirinya tidak terima jika sesama pemuda pendidikan akan diberlakukan tidak adil oleh pemuda desa seperti kian.
Tapi tidak ada yang tahu, sebenarnya dia sedang mencuri usia kian dan dia juga tidak peduli satu dengan 10 detik. Bahkan dia rela menghabiskan waktu 10 menit hanya untuk memotong 60 hari usianya.
Sadar jika 60 hari usia kian sudah dicuri, Xuni mundur lagi dan melirik ke arah pemuda lain yang juga memiliki gigi kuning yang menjijikan.
Walaupun itu menjijikkan tapi, usianya sangat menggoda bagi Xuni.
Dengan cepat dia menarik jarinya ke arah pria muda itu dan ikut memohon seperti sebelumnya.
"Tolong jangan lakukan perkara yang tidak baik seperti itu, jangan pernah pikirkan oke"
Cukup 1 menit menyentuhnya dan itu menghabiskan usia pemuda tadi sebanyak 6 hari.
Xuni ingin tertawa dan berteriak betapa kayanya dia sekarang. hanya dalam satu hari saja dia sudah menyimpan begitu banyak poin.
Jadi sebenarnya mencari poin dengan cara ini masih lebih bagus jika anda mencari pahala dan menyebarkan kebaikan.
Xuni yang polos memohon dengan cara itu berpindah dari pemuda 1 ke pemuda yang lainnya. cara dia memohon seperti seseorang yang benar-benar tulus.
Tapi kian merasa hal itu sedikit aneh.
Segera mata Kian, yang memiliki bibir yang hitam menjijikkan, menatap Xuni dengan tatapan tak terbaca.
"Kau punya rencana ini atau kau ingin kami melakukannya dengan sengaja Hem?" tanya Kian, suaranya meresap ke dalam hati Xuni.
"Apa maksudmu? Aku.. aku hanya memberikan nasihat. Kalian tidak boleh melakukannya. Jika tidak, aku akan melaporkan kalian kepada kepala desa," ujar Xuni.
Tanpa menunggu jawaban, Xuni melarikan diri dengan cepat, meninggalkan kelompok pemuda itu. Hanya tawa mereka yang terdengar di kejauhan, seakan merasakan kemenangan mereka.
Namun, setelah jauh dari tempat itu, Xuni melangkah dengan mantap dan tersenyum puas. Dia telah mengirimkan pesan yang dia inginkan.
Selain itu dia sudah mengantongi, hampir ratusan poin hanya untuk hari ini saja.
Mereka semua adalah sampah, jadi tidak apa-apa mati lebih awal. Itu bahkan akan membersihkan negara dengan membiarkan mereka mati lebih cepat.
Tapi pelan pelan, dia pasti akan menarik minat pemuda kelas 2 itu untuk melakukan hal yang bodoh terlebih dahulu.
Yang dipikirkan oleh Xuni benar-benar terjadi .Dia sudah menjebak mereka dalam pemikiran-pemikiran seperti itu sejak dia datang ke desa.
Artinya sudah lebih dari 3 metode yang diluncurkan pada mereka.
Hari ini, bos kian berpikir jika lebih baik memanfaatkan kekayaan gadis kecil itu dibandingkan dengan mengambil resiko menjadi penjahat Hooligan.
Seorang gadis berusia empat belas tahun, hidup sendiri tanpa penjagaan keluarga di desa.
Akan bodoh jika dia tidak memanfaatkan ini .
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 213 Episodes
Comments
Ida Dasiah
xuni kenapa puny ruang jg sih kk
2024-10-08
1
矢kaguyume冬
semangat terus thor
2023-11-26
1