Kereta api berhenti dengan pelan di stasiun, mengeluarkan suara mendesis yang memecah keheningan pagi di desa Qingyuan. Seseorang dengan lantang berteriak melalui pengeras suara, "Peserta Program Pemuda Pendidikan, silakan berkumpul di depan kereta!"
Kiki masih belum on, tapi dia juga berdiri di depan pria yang berteriak tadi.Di perkirakan dia adalah seseorang dari departemen pemuda pendidikan.
Suasana menjadi riuh rendah dan mata semua orang tertuju pada orang yang berdiri di depan peron kereta api, dia segera menyebutkan nama-nama peserta.
"Pertama, kita punya Liu Cheng dari Desa Tianyang, yang akan di tempat kan di Pertanian Sialang."
Liu Cheng yang di sebutkan namanya berdiri dengan percaya diri dan mengangkat tangannya"Hadir!"
"Selanjutnya, Zhang Wei dari Desa Lushan, akan mengikuti provinsi bla bla bla....."
"Hadir!"
"Kemudian, Xi Ximei d pergi ke Desa Qingyuan, provinsi Sichuan , kabupaten leshan."
Xi Ximei atau yang kita tau sebagai Kiki juga berteriak sedikit gugup tapi penuh semangat. "Hadir!"
"Terakhir, Li Ming Tujuan ke Desa Fenghuang, provinsi sichuan ,kabupaten leshan"
"Hadir!"
Beberapa nama lagi disebutkan , rupanya mereka akan menuju tempat yang berbeda-beda.
Ini wajar saja mengingat era pada tahun ini.
Dengan nama-nama telah dipanggil dan kehadiran dinyatakan, suasana semakin terasa hidup. Peserta program pemuda pendidikan,siap untuk perjalanan baru dalam hidup mereka, mempersiapkan diri untuk tantangan dan pelajaran baru yang akan mereka dapatkan.
Hei kata aslinya adalah,pergi menjadi petani.
Kiki belum merasa nyaman tapi justru merasa tegang. saat dia memandangi simbol check-in yang berkedip-kedip di dekatnya, sembari mengamati kereta api yang akan segera berangkat sesuai jadwal. Ia merasa dorongan untuk mencoba nasibnya.
Dia pura-pura berjalan beberapa langkah di depan seraya memegang erat tas pemberian sistim tadi.
Segera ada suara mekanik lagi di telinga nya.
( "Lokasi check-in telah terdeteksi. Biaya untuk melakukan check-in adalah 3 poin. Apakah Tuan Rumah bersedia?")
"Apakah seharusnya aku mencobanya?"
Sistem yang menunggu jawaban
"Ya, masuk"
( "Selamat, Anda berhasil melakukan check-in.")
Kiki merasa sesuatu yang aneh di sekelilingnya, dan tiba-tiba hadiah-hadiah muncul di depannya Secara transparan.
( "Sebagai hadiah untuk check-in,Anda mendapatkan sepeda, tiket kereta api dan tiket sabun")
"Sepeda?"
Di tengah suasana tahun 70-an, sepeda menjadi lambang kemegahan dan status sosial yang khas. Sepeda ini tidak hanya menjadi alat transportasi, tetapi juga melambangkan gaya hidup yang elegan dan mewah. Setiap sepeda memiliki ciri khasnya sendiri, dengan kerangka besar, roda yang kokoh, serta desain yang anggun dan indah.
Banyak orang di tahun ini yang memandang sepeda sebagai simbol prestise dan status. Bagi mereka yang mampu memiliki dan mengendarai sepeda , hal ini sering dianggap setara dengan memiliki kendaraan bermotor di era modern.
Orang yang membeli sepeda biasanya merasa bangga dan terhormat, karena mampu menunjukkan bahwa mereka memiliki daya beli yang cukup.
Perasaan orang yang membeli sepeda di era ini, dapat disamakan dengan perasaan orang modern yang membeli mobil mewah. Mereka merasa di atas rata-rata, terlihat elegan dan mendapatkan pengakuan dari lingkungan sekitar.
Perasaan kejutan dan sukacita melanda Kiki saat ia menerima hadiah yang tak terduga. Ia merasa seperti nasibnya berubah dalam sekejap dan ia tidak sabar untuk memanfaatkan hadiah-hadiah ini dalam perjalanannya yang baru.
Dia merasa seperti wanita kaya pada tahun ini.
Just ....just.... just....
Kereta api tiba-tiba berubah menjadi arena kekacauan begitu banyak orang berbondong-bondong ingin naik. Kondisinya penuh sesak dan tidak teratur. Orang-orang berdesakan di pintu masuk, berusaha keras untuk bisa masuk sebelum kereta berangkat. Suara riuh rendah dan keributan terdengar di seluruh gerbong, segera suasana di peron berubah kacau.
Di tengah kerumunan itu, suara nyaring terdengar melalui pengeras suara yang datang dari petugas departemen pemuda pendidikan "Pemuda pendidikan, silakan masuk dan mencari tempat duduk sesuai dengan tiket masing-masing. Mohon kerjasamanya untuk memfasilitasi proses naik."
Segera semua nya berusaha keras untuk bisa masuk dengan cara saling dorong.
Kiki juga berusaha melangkah ke dalam kereta api. Namun usahanya terhambat oleh banyaknya orang yang mendorong dan saling berdesak-desakan.
"Ohh gimana cara masuk nya sih "pikir nya dalam hati.
Ia merasakan dorongan dari segala arah, membuatnya harus mempertahankan keseimbangan dengan susah payah.
Untung saja,dia berhasil setelah bersusah payah.Sambil memegang tiket di tangannya, Kiki mencoba untuk menemukan nomor kursi yang sesuai.
Namun, ruang gerbong sudah penuh sesak dengan orang-orang yang bergerak kesana kemari, sehingga sulit bagi Kiki untuk mencari tempat duduk yang benar-benar kosong. Ia harus terus bergerak, menavigasi antara penumpang yang saling berdesakan.
Dalam perjuangannya, Kiki merasa bagaikan terjebak di dalam lautan manusia yang bergerak. Ia merasakan tekanan dan dorongan dari segala arah, namun dia tetap teguh mencari nomor kursi yang sesuai dengan tiketnya. Setelah beberapa usaha, akhirnya Kiki berhasil menemukan tempat duduknya yang sudah diatur sesuai dengan tiketnya.
Segera dia duduk dengan cepat agar tidak ada yang merebut kursinya.
Kiki dalam hati merungut sambil mencoba tetap tenang di tengah kereta api yang kelebihan beban dan panas yang menghujam. "Siapa sangka naik kereta di tahun 70-an akan seberat ini? Beberapa penumpang sudah berdiri berdesakan dan semuanya menyerbu masuk. Udara di dalam kereta terasa pengap, panas terik matahari dari luar masuk tanpa ampun. Ohh Rasanya seakan-akan kita berada di dalam oven yang bergerak."
Dia mencoba menemukan pegangan atau tempat yang bisa dia sandarkan tubuhnya. "Tidak ada tempat duduk yang tersisa. Aku harus menahan diri dengan berpegangan pada pegangan atas, dan mengimbangi setiap guncangan kereta yang membuat kita berdesakan satu sama lain. Apa ini yang dinamakan pengalaman naik kereta api di tahun 70-an?"
Namun, bukan hanya kelebihan beban dan panas yang membuat Kiki merasa tidak nyaman. Dalam beberapa menit saja , Kiki sudah menemukan masalah baru."Oh, bau ini sungguh sulit dijelaskan. Campuran antara bau peluh, bau makanan dan aroma yang entah dari mana datangnya. Bagaimana mungkin ada begitu banyak bau yang bisa bercampur menjadi satu dalam kereta ini?"
Dalam perjalanan pertamanya naik kereta api di tahun 70-an, Kiki merasa dirinya terlibat dalam pengalaman yang benar-benar baru dan penuh tantangan.
Baru beberapa saat Kiki duduk, seorang gadis yang kebetulan duduk di sampingnya segera berbicara dengan lama.
"Hai, maaf mengganggu. Saya melihat Anda juga naik kereta dengan program pemuda pendidikan?"
"Iya, benar"jawab Kiki singkat.
"Ohh , kalau bisa tahu ke mana tujuanmu?"
"Oh aku di provinsi sichyan,kabupaten leshan ,desa Qingyuan hehehe "
"Hebat! Tujuan kita sama. Nama aku Ling jin, aku juga pergi ke Provinsi Sichuan, Kabupaten Leshan, Desa Qingyuan."
Kiki terkejut ketika dia menyadari sudah bertemu dengan seseorang yang akan dimungkinkan di tempat yang sama dengan dirinya. ini artinya dia harus mulai beradaptasi dengan mereka. tapi sebenarnya gadis di depannya ini baik-baik saja kok. "Senang berkenalan, kamerad Ling,nama ku ,xi ximei, panggil aku Kiki hehe ."
"Tentu! Mari aku perkenalkan pada beberapa orang lain yang juga ikut program ini."
Ling jin memperkenalkan beberapa orang lain yang ikut program pemuda pendidikan. Mereka semua tersenyum dan ramah.
"Inilah Xu ana , ke Provinsi Sichuan, Kabupaten Leshan tapi ke Desa Tianyang. Ini hanya beberapa kilometer saja dari desa Qingyuan kira hahaha "
"Hai aku Kiki, salam kenal "kata Kiki dengan senyum.
"Senang bertemu denganmu, Kiki."
"Halo, Kiki. Selamat datang di kelompok kami."
"Senang berkenalan dengan kalian semua"
Meskipun merasa sedikit kelelahan setelah perjalanan panjang dan situasi di dalam kereta yang tidak nyaman, Kiki tetap mampu tersenyum ramah dan menyambut dengan hangat setiap orang yang diperkenalkan oleh Ling jin.
"Kiki, izinkan aku memperkenalkanmu pada Fang. Dia juga ikut ke desa Qingyuan seperti kita." kata Ling jin , reaksi nya agak memerah ketika dia memperkenalkan pria itu pada Kiki.
Ah jelas bas sesuatu di sini.
"Senang berkenalan, Fang..em."
Fang yang mengangguk singkat tanpa ada indikasi untuk melanjutkan percakapan mereka"Halo."
Walaupun Fang yang menjawab dengan sopan, namun aura dinginnya tak terbantahkan. Kiki mencoba untuk bersikap ramah, tetapi merasa ada jarak emosional yang sulit ditembus.
"Eh tunggu dulu, Fang? Fang apa tadi?"
"Hehehe ini fang yang, panggil dia kakak fang hehe"
Deg...
Jika tidak salah, Fang yang adalah pahlawan pria yang akan di rampok oleh pahlawan wanita.Di buku pertama, Kiki seharusnya memiliki hubungan dengan pria ini.
Tapi mengingat kejadian yang akan berlaku , Kiki jadi ingin mundur badan kabur dengan langkah kaki seribu.
Fang yang,tampaknya lebih tertarik pada buku yang dipegangnya daripada berbicara dengan yang lain. Kiki mencoba untuk mengatasi rasa canggungnya, tetapi ada sesuatu dalam keheningan Fang yang mempengaruhi suasana di sekitarnya.
Kiki merasa seperti terperangkap dalam bingkai waktu, matanya membeku dan senyumnya tiba-tiba membeku. Dia merasa seperti tidak bisa lagi menggerakkan tubuhnya atau berbicara dengan alami. Yang bisa dia lakukan hanyalah mempertahankan senyum palsu yang terasa begitu kaku dan tidak nyaman. Pandangan matanya terpaku pada Fang, tetapi hatinya merasa tertekan oleh kecanggungan yang mendalam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 213 Episodes
Comments
☠zephir atrophos☠
🗿
2023-12-09
0
Choco
pertama
2023-10-25
1