Kiki adalah seorang gadis yang terbiasa dengan rutinitas bangun pagi.Dia membuka mata dengan lembut saat matahari baru mulai merambat di cakrawala. Sudut ruangan tempatnya tidur mulai terang dengan cahaya pagi yang perlahan masuk melalui jendela. Dia sudah mengatur jam biologisnya dengan baik, membuatnya bangun pada pukul 5 pagi seperti biasa.
Tangki air yang telah diaisi sore sebelumnya masih memuat air dalam jumlah yang cukup untuk mandi. Ini adalah salah satu keuntungan dari hidup sendiri jika dibandingkan dia tinggal di tempat pemuda pendidikan.
Orang-orang di tahun 70-an, terutama di pedesaan, tidak umum dalam hal mandi teratur, terutama di musim dingin. Namun bagi Kiki, mandi adalah bagian penting dari rutinitas paginya yang dia tidak akan tinggalkan.
Sebelum memulai aktivitasnya, Kiki menyalakan tungku kayu dengan cermat. kemarin Habibie Fang mengirim sepanci besar sukrinci dan itu tidak bisa dihabiskannya mengingat ukuran perutnya yang kecil.
Jadi masih ada sisa sup lagi, dan ini dimanfaatkan oleh Kiki untuk sarapannya. Kiki memasukan beberapa potongan ubi jalar ke dalam sup kelinci.
"Oh ini adalah hari pertamaku di desa jadi tidak ada waktu untuk memasak nasi"kata kiki di dalam hati.
Dia ingat dalam laci sistem masih memiliki 2 kg beras yang cukup dia makan untuk beberapa hari kedepan.
Tapi persediaan umumnya cukup banyak tapi dia kekurangan bumbu. tidak ada garam bahkan tidak ada minyak di sini.
Jadi Kiki harus puas dengan makan ubi jalar di pagi hari dan berpikir tentang makanan lain di siang hari.
Setelah panci ditengarkan di atas tungku, Kiki menuju ke area yang dia atur menjadi kamar mandi sementara. Dia menggunakan kamar kosong sebagai kamar mandi, dengan tangki air yang dia isi sebelumnya untuk memenuhi kebutuhan kebersihan pribadinya.
setelahnya dia berganti pakaian dengan pakaian kerja. yang dimaksud dengan pakaian kerja adalah pakaian yang akan dia kenakan setiap harinya ke ladang.
Kiki , masih memiliki beberapa potong pakaian yang bagus tapi dia tidak ingin mengotori pakaiannya. Jadi dia memilih sepotong celana panjang berwarna hitam dan atasan berwarna biru tua lengkap dengan topi juga sepatu karet, oh jangan lupa membawa sepasang sarung tangan di kantong celana ,siapa tahu nanti memerlukan itu.
Setelah semuanya Kiki langsung pergi ke dapur lagi dia mengambil panci dan makan dengan lahap semangkuk ubi jalar rebus dengan sup kelinci.
"Ya ini lebih enak jika dimakan dengan panas"
Setelah selesai menyantap makanannya, Kiki duduk sejenak di ambang pintu rumah barunya, merenung tentang apa yang masih kurang dalam lingkungan rumahnya. Pandangannya melayang ke dalam ruangan, mengambil setiap detail yang ada. Dia merasa ada beberapa hal yang perlu diperbaiki dan ditambahkan, seperti beberapa kursi yang layak. Pikirannya membayangkan sejenak betapa nyaman rasanya jika dia bisa menemukan kursi malas yang nyaman untuk diletakkan di luar rumah.
Namun, tiba-tiba, suara keras dari toa di dekatnya menggema melintasi udara, membuyarkan lamunan Kiki. Dia memicingkan mata sejenak, sedikit terkejut oleh kebisingan tersebut. Dan kemudian, sejenak setelah kejutan awalnya, pemikiran Kiki menyadarkan dirinya bahwa suara itu adalah panggilan untuk memulai pekerjaan.
"Ah, itu suara toa," gumam Kiki dalam hati, matanya bersinar dengan tekad. "Ini artinya pekerjaan akan dimulai."
Dia mengingat apa yang telah dia dengar tentang suara toa sebagai pertanda dimulainya aktivitas pertanian di pedesaan. Hari ini adalah hari pertama Kiki benar-benar menjadi seorang petani.
"Oke Kiki, kau juga tidak bisa kembali ke dunia modern jadi bersiap-siaplah dengan karir menjadi petani sejati"kata Kiki berteriak di dalam hati untuk menyemangatkan dirinya sendiri.
Semangat... semangat ...semangat...
Tidak tahu apa yang harus dilakukan terlebih dahulu,Kiki berdiri dari ambang pintu dan memutuskan untuk mengambil barang-barang yang sudah dia siapkan. Dia mengunci pintu rumahnya dengan hati-hati, memastikan bahwa semuanya aman.
Di sepanjang jalan, Kiki melihat beberapa penduduk setempat berjalan menuju tempat pertemuan yang ditunjukkan oleh suara toa. Pergerakan mereka serupa dengan dirinya, menandakan bahwa hari ini adalah hari dimulainya kerja di ladang. Di antara mereka, Kiki melihat Bibi Fang. Dia tersenyum pada Kiki, dan segera mereka berbicara lagi.
" Bagaimana keadaanmu hari ini? Sudah nyaman dengan rumah barumu?" bibi Fang baru mengetahui tadi malam tentang kondisi gigi yang langsung membeli rumah kosong.
Tidak ada pemuda pendidikan yang pernah melakukan perilaku yang berani seperti itu. ditambah lagi gadis ini memiliki sebuah keberuntungan yang jarang sekali dimiliki orang-orang lain.
Jadi entah bagaimana bibi Fang menyukai Kiki walaupun mereka hanya bertemu satu kali di atas gunung.
"Halo, Bibi Fang! Ya, aku merasa cukup nyaman. Terima kasih atas sup kelinci nya kemarin."
Mendengar kata sup kelinci beberapa orang segera menajamkan telinga. Kelinci pun adalah daging yang tidak semua orang bisa mendapatkan.
Tapi kenapa bibi Fang mengirimkan kelinci untuk gadis yang baru pertama kali menjajakan kakinya di desa.
ini aneh.
"Oh gadis kecil kau jangan merendahkan diri, lain kali jika kau ingin ke gunung ajaklah bibi atau putra ku, siapa tahu kau bisa menemukan kelinci lain yang pergi untuk bunuh diri hahaha"
"Ah bibi, keberuntungan hanya satu kali, mana mungkin bisa terus menemukan kelinci yang stres begitu, hahaha "
"Eh kelinci yang bunuh diri? apa sih maksudnya?"
"Entah lah..
beberapa orang segera memiliki komentar aneh ketika mendengarkan pembicaraan Kiki dan bibi Fang. bibi Fang tidak mengetahui jika akan ada spekulasi mengenai dia menyangkut kelinci.
Tapi dia ingin membuat hubungan baik dengan Kiki setelah in
"Baiklah. Jika kamu membutuhkan sesuatu, jangan ragu untuk bertanya. Oh ya, sekretaris desa akan memberitahu kita di mana kita akan bekerja hari ini. Setiap petani akan ditugaskan pada lokasi yang berbeda."
"Juga, jangan lupa bahwa setiap kegiatan akan dicatat oleh pencetak skor. Ketika kita selesai, kita perlu melapor pada pejabat skor untuk mendapatkan catatan pekerjaan kita."
Percakapan mereka berlanjut, terutama membicarakan sup kelinci yang Bibi Fang kirimkan kemarin. Saat mereka berbicara, suasana pertanian di sekitar mereka terasa hidup dan penuh semangat.
Tanpa diketahui oleh keduanya, kabar mengenai Kiki yang menemukan kelinci secara tidak sengaja , segera menyebar.
Jadi penduduk yang sedang mengumpul untuk menerima lokasi segera heboh.
Siapakah orang yang cukup beruntung untuk menemukan kelinci yang berniat untuk bunuh diri.
Jadi pembicaraan itu semakin panas saja setiap waktunya dan beberapa mata mengalihkan pandangan mereka kepada Kiki dengan antusias.
Keberuntungan yang bagus.
Pembicaraan mereka hanya terhenti saat kepala desa dan kapten tim tiba di tempat pertemuan. Warga desa mulai berkumpul, dan suasana semakin ramai.
Ketika perangkat desa tiba, suasana yang semula ramai dengan percakapan tiba-tiba menjadi sunyi sepi. Seluruh warga desa berhenti berbicara dan memusatkan perhatian pada kapten tim yang berdiri di tengah mereka.
"Semua orang dengarkan," kata kapten tim dengan suara lantang, memecah keheningan. "Hari ini akan ada beberapa tugas di ladang. Harap perhatikan jadwal dan laporkan jika ada masalah di lokasi." Dia berbicara dengan tekad, memberikan semangat kepada seluruh warga desa untuk menjalankan tugas dengan serius dan tanggung jawab.
Segera setelah kapten berhenti berbicara, seorang pencatat skor maju ke depan dan mulai menyebutkan tugas-tugas serta nama-nama warga yang akan menjalankan tugas tersebut.
"Zhang Momo, Zhang Cong, Lin Xuni, kalian pergi ke ladang jagung untuk memetik jagung," kata pencatat skor dengan suara yang cukup keras untuk didengar semua orang.
"Qin Sin, Qing Fei Fei, Fang Guyun, Fang Mili, kalian pergi untuk menjemur jagung," lanjutnya, menyebutkan nama-nama lain.
Beberapa nama dan tugas lainnya juga diumumkan dengan cepat dan warga desa segera bergerak sesuai dengan alokasi tugas masing-masing. Di tengah kondisi pedesaan yang mungkin sulit bagi banyak orang, para warga desa berkulit gelap itu mengenakan pakaian lusuh yang penuh dengan tambalan, namun semangat mereka terpancar dari mata dan sikap mereka.
Tugas Kiki juga segera diumumkan: "Xi Ximei, Fang Hong, Kong Lijun, kalian pergi untuk mencabut gulma." Kiki, yang masih baru dalam lingkungan ini, melihat Bibi Fang memberikan isyarat ke arah tertentu. Tanpa ragu, Kiki mengikuti isyarat tersebut dan memulai langkahnya menuju tugasnya.
Di sekitarnya, warga desa dengan semangat dan tekad tinggi mulai bergerak sesuai dengan tugas yang telah diberikan. Mereka bekerja dengan cermat, meskipun pakaian lusuh mereka mungkin tidak memadai untuk menghadapi pekerjaan pertanian yang berat. Namun, semangat kerja keras mereka , menunjukkan dedikasi mereka terhadap ladang yang merupakan sumber kehidupan mereka.
Kiki dengan cepat menemukan timnya karena seorang bibi yang ramah menariknya dengan lembut dan mengatakan bahwa mereka akan bekerja bersama. Dengan senyum, Kiki mengangguk sebagai tanggapan dan mengikuti bibi tersebut menuju lokasi yang sudah ditentukan. Mereka bergabung dengan beberapa warga lain yang juga diberi tugas yang sama.
Sampai di lokasi, Kiki melihat gulma dan ilalang yang tumbuh subur. Dia sedikit bingung karena dia tidak dilengkapi dengan alat untuk mencabut gulma. Peralatan pertanian harus mendapatkan persetujuan dari pihak atas dan tidak semua orang mendapatkannya, terutama bagi yang baru datang seperti Kiki.
Bibi yang menemani Kiki melihat kebingungannya "Tidak masalah. Kami akan mengajarimu cara mencabut gulma dengan tangan kosong," kata bibi itu sambil memberi semangat.
Mereka mulai bekerja dengan hati-hati, bibi itu menjelaskan teknik yang baik dan benar kepada Kiki. Dia menunjukkan cara menghindari luka pada tangan saat mencabut gulma yang akarnya mungkin kuat.
Kiki berkonsentrasi keras saat dia merasakan tanah di bawah kuku jarinya dan tangan yang bekerja keras mencabut gulma. Namun, ketika gulma akhirnya berhasil dicabut, Kiki kehilangan keseimbangannya dan jatuh ke tanah dengan bokong terlebih dahulu. Tidak ada yang membantu, tetapi tawa riang memenuhi udara karena warga desa yang lain menonton kejadian tersebut.
Hahaha.. hahaha
"Ah, maaf aku payah hehehe," kata Kiki malu sambil berusaha bangkit dari tanah.
Bibi itu membantu Kiki berdiri sambil tertawa. "Jangan khawatir,. Itu hal biasa Semua orang pernah mengalami hal serupa di awal-awal."
Merasa agak canggung, Kiki bergabung dengan tawa mereka. Meskipun sedikit tersandung di awal, semangat Kiki tidak tergoyahkan.
Pada akhirnya Kiki menemu , ritmenya dalam mencabut gulma dan dia berhasil mengejar kecepatan warga.
Mencabut gulma adalah hal yang mudah tapi jika dilakukan Anda akan menemukan kesulitannya.
Pinggangmu mungkin patah setelah melakukannya setengah hari.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 213 Episodes
Comments
Silvia
crazy up dong thor...
2023-08-23
2