15

Tanpa menyadari bahwa Lin Xuni sedang membidiknya, Kiki berusaha menjauh dari potensi masalah. Dia berpikir bahwa dengan memisahkan diri, dia tidak akan lagi menjadi sasaran perhatian. Sebagai pemula, Kiki merasa kesulitan menyelesaikan tugasnya dan harus melanjutkannya di sore hari.

"Bibi Fang Hong, aku akan pulang dan melanjutkannya nanti," kata Kiki kepada wanita yang telah memberinya dukungan.

Bibi Fang Hong memiliki dua anak laki-laki dan dua anak perempuan. Salah satu anaknya sudah menikah, dan yang lainnya adalah seorang prajurit di militer yang jarang pulang. Meskipun demikian, putra militernya mengirimkan uang bulanan kepada bibinya, membuatnya tidak kesulitan secara finansial.

Tetapi, bibi Fang Hong selalu menyimpan sebagian kiriman tersebut, merenung bahwa putranya mungkin akan membutuhkan uang lebih banyak suatu hari nanti. Kiki menyadari ini dari percakapan mereka tadi dan dia merasakan sorotan mata bibi Fang Hong yang terarah padanya.

"hanya orang bodoh yang tidak menyadari niat sebenarnya dari bibi Fang Hong ini mendekatiku," pikir Kiki.

"Aku juga akan pulang cepat, bibi. Tidak ada yang memasak untukku di rumah," ujarnya dengan lembut.

Bibi Fang Hong tersenyum, "Kalau begitu, ayo makan di rumah. Aku hanya perlu menambahkan satu mangkok dan sepasang sumpit hehehe."

Namun, Kiki tetap menolak, "Tidak, bibi. Aku tidak ingin merepotkan."

Bibi Fang Hong mencoba mengajaknya lebih lanjut, tapi Kiki memberikan alasan yang relevan untuk menolaknya. Akhirnya, bibi Fang Hong harus mengalah dan pergi ke rumahnya.

Setelah melihat bibi Fang Hong pergi, Kiki juga mengemas peralatan kerjanya dan bersiap untuk pulang. Meskipun tinggal sendirian, dia ingin merawat perutnya dan mempersiapkan makan siang. Terlebih lagi, dia punya beberapa jam untuk bersantai di rumah.

Sesampainya di rumah, Kiki terkejut melihat beberapa orang sibuk menumpuk lumpur di halaman. "Kepala desa berkata kamu ingin membangun tembok dan sumur dengan bayaran. Jadi kami mengambil waktu istirahat untuk melakukan ini," kata seorang pria separuh baya sambil mengusap keringat dari wajahnya.

Meskipun baru saja selesai bekerja di ladang, pria tersebut tidak pulang ke rumahnya. Alih-alih pulang, dia langsung terlibat dalam pembangunan tembok.

Sekarang semen mahal di kota Jadi mereka menggunakan lumpur yang diambil di sungai. lumpur di sungai bercampur dengan bebatuan kecil sehingga ini bisa mengalami pengerasan dengan tambahan beberapa jerami dan beberapa bahan lain.

Meski demikian mereka juga harus mengambil beberapa pohon kecil di gunung untuk membuat penyangga lumpur tadi agar tidak mudah roboh.

Jadi sebenarnya pembuatan dari tembok ini lebih mengedepankan kekuatan jika dibandingkan dengan uang.

"tidak apa-apa paman, tapi jangan terlalu sibuk juga.Aku tidak mendesak kok" kata Kiki.

Paman yang bicara sepertinya memegang tugas sebagai mandor. Dia mungkin adalah orang yang cukup akrab dengan pekerjaan seperti ini.

Menurutnya, kepala desa telah mengalokasikan dana untuk proyek ini dan memungkinkan mereka bekerja serta membagi hasilnya ketika pekerjaan selesai. Dengan cara ini, pembuatan tembok dan sumur tidak akan mengganggu waktu kerja mereka di lahan pertanian.

"Terima kasih atas kerja kerasnya, Paman. Saya adalah warga baru di sini, harap bantu dan beri tahu saya di masa depan," ucap Kiki dengan sopan.

Pria tersebut tersenyum, "Hehehe, tidak masalah. Jika ada yang perlu, beri tahu Paman. Jika Paman sendiri tidak bisa, Paman akan mencari orang yang bisa melakukannya."

Kiki merasa senang melihat respons positif dari orang-orang ini. Pria itu kemudian menambahkan, "Kalau begitu, hati-hati saja di sini. Kita saling bantu."

Senang melihat rasa pengertian dan kerja sama dalam komunitas ini, Kiki merasa kagum dengan cara kerja orang pedesaan. Mereka bekerja keras dan memiliki semangat yang tinggi, bahkan dengan bayaran yang cukup rendah.

Tidak ingin mengganggu mereka, Kiki kembali ke rumahnya.

Kiki ingin menjamu makanan ringan untuk para pekerja yang membantunya membuat tembok. Begitu memasuki dapur, dia melihat beberapa persediaan yang diterima dari kantor desa semalam.

Meskipun Kiki memiliki beras, dia tidak ingin terlalu mencolok.Jadi Kiki memutuskan untuk menggunakan ubi jalar yang umum di desa sebagai makanan ringan untuk para pekerja.

Dengan cepat, Kiki mengambil beberapa kilogram ubi jalar, mengupasnya dan mengukusnya di atas tungku. Dia juga mulai merebus bulir jagung di panci lain.

Sambil menunggu ubi jalar dan jagung matang, Kiki memutuskan untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian, sementara pakaian kerjanya yang kotor dijemur di luar untuk dipakai lagi ketika dia akan pergi ke ladang sore hari.

Untuk menyempurnakan hidangan, Kiki ingin menambahkan daun bawang. Namun sayangnya, kebun pribadinya belum di olah sama sekali . "Hmm, mungkin saya bisa meminjam segenggam daun bawang dari rumah Kepala Desa," pikir Kiki.

Rumah kepala desa hanya berjarak beberapa langkah dari rumah Kiki. Istri kepala desa sedang di rumah menjaga cucu-cucunya, jadi dia dengan ramah menyambut Kiki. "Bibi, saya ingin meminjam segenggam daun bawang, apakah itu mungkin?" tanya Kiki dengan sopan.

"Oh, tentu saja, ambil saja tanpa perlu membayar," kata istri kepala desa sambil tersenyum. Di desa ini, hampir setiap penduduk memiliki lahan pribadi untuk menanam tanaman sendiri.

Mereka tidak kekurangan daun bawang di rumah.Tapi makanan adalah hal yang berharga di negara ini termasuk juga di desa Qingyuan.

tidak ada orang yang mau memberikan barang-barang mereka secara gratis. Orang juga tidak bisa membeli karena takut dengan anggapan sebuah spekulasi.

Jadi di sini Kiki mengatakan meminjam bukan meminta atau pun membeli. Artinya dia akan mengembalikannya jika memiliki kemampuan.

Bibi kepala desa mengajak Kiki kelahan pribadinya dan menarik beberapa daun bawang seledri dan juga terong.

Kiki awalnya menolak tapi pada akhirnya dia menerimanya dan berpikir untuk mencari alasan untuk mengembalikan kebaikan ini.

Jadi ketika Kiki kembali ke rumahnya tangannya sudah penuh dengan beberapa hal lagi.

Tiba di dapur kebetulan ubi jalar dan bulir jagung sudah matang.

Kiki dengan cekatan menghancurkan ubi jalar yang sudah direbus menjadi bubur, lalu mencampurnya dengan beberapa tepung gandum dan bulir jagung yang juga sudah direbus. Dia dengan lincah meracik daun bawang dan seledri untuk ditambahkan pada adonan.

Karena minyak menjadi barang mahal tahun ini, Kiki memutuskan untuk menggunakan sisa sup kelinci daripada air putih sebagai cairan adonan. Itu akan memberikan pancake ubi jalarnya aroma yang menggoda dengan tambahan cita rasa daging.

Tanpa ragu, Kiki menuangkan adonan ke dalam wajan panas, menghasilkan suara desisan yang menggugah selera. Tidak butuh waktu lama, aroma harum mulai merayap keluar dari dapur. Para pekerja yang sedang sibuk di halaman merasa tergoda oleh aroma tersebut, dan mereka mengangkat hidung mereka sambil bertanya-tanya apa yang sedang dipersiapkan oleh gadis itu di dapur.

"Bau apa itu? Terasa seperti makanan yang enak sedang dimasak," tanya salah seorang pekerja.

"Benar, sungguh menggugah selera," sahut pekerja lainnya.

"Kenapa hidungku mencium aroma daging?"

beberapa pekerja yang tidak berbicara jelas menelan air liur mereka masing-masing.

mereka semua adalah orang-orang yang sudah melalui pengalaman kelaparan selama 3 tahun yang mengerikan.

jadi masing-masing orang begitu menghargai yang disebut dengan makanan.

Apapun yang mereka telan, wajib disyukuri dan tentang apakah makanan itu enak atau tidak,itu adalah hal yang kedua.

Tapi aroma yang mereka cium hari ini adalah sesuatu yang menggelitik perut mereka.

Menciumnya saja sudah membuat perut itu berteriak.

Sementara itu, Kikin tidak tahu dia sudah mengundang bencana . Dia dengan penuh konsentrasi mengawasi pancake ubi jalar yang mulai matang di wajan.

Setelah menciptakan pancake yang lezat dari adonan yang dimasaknya, Kiki merasa senang. Sambil mengamati para pekerja di luar jendela, ia dengan hati-hati menghitung mereka. Terciptalah rencana, di mana setiap pekerja akan mendapatkan dua pancake.

Namun, meskipun sudah memberikan pancake kepada semua pekerja, Kiki masih memiliki beberapa pancake tersisa. Dengan tulus, ia memutuskan untuk mengirimkan pancake-paancake tersebut sebagai ungkapan terima kasih atas bantuan daun bawang yang diberikan sebelumnya kepada kepala desa.

Ketika tiba di halaman, Kiki meletakkan keranjang penuh pancake dengan penuh perhatian. Ia menyapa paman yang bertugas sebagai mandor dengan ramah. "Paman, aku tidak punya banyak barang di rumah, tetapi aku ingin berbagi makan siang dengan kalian. Tolong terima makan siang dari saya," ucap Kiki. Tanpa menunggu jawaban dari mandor, Kiki pun berlari kecil dan bergegas menuju rumah kepala desa.

Dia tidak memperdulikan pandangan para pekerja yang mengikuti setiap langkahnya dengan rasa penasaran. Namun wajah mereka berubah saat mereka mendapati dua keping pancake ubi jalar di tangan masing-masing.

Mata mereka hampir terpaku pada pancake yang mereka genggam erat. Warna cokelat keunguan dari pancake ubi jalar itu terlihat begitu menggoda, dan harum semerbaknya membuat perut mereka berdentang lapar. Dengan tangan gemetar karena kegembiraan, mereka membawa pancake ke bibir mereka, hampir tidak sabar untuk menggigitnya.

Saat gigitan pertama mereka, mereka merasakan kejutan. Aroma yang menguar dari pancake itu mirip dengan aroma daging yang lezat, padahal mereka tahu tidak ada daging di dalamnya. Rasa manis dan legit dari ubi jalar berpadu dengan sentuhan jagung manis yang lembut.

Beberapa pekerja tidak bisa menyembunyikan kekagumannya terhadap Kiki. "Luar biasa, dia benar-benar tahu cara membuat makanan yang menggugah selera," kata salah satu dari mereka. "Siapa sangka pancake ubi jalar bisa seharum ini dan terasa seperti ada daging di dalamnya," tambah pekerja lain.

Seorang pekerja yang duduk di sampingnya berkomentar, "Kiki adalah gadis muda yang luar biasa. Dia benar-benar pandai berinteraksi dengan warga desa dan menghargai kerja keras kami. Ini adalah tindakan yang sangat mulia."

Sambil mengunyah pancake dengan penuh nikmat, seorang pekerja lain berkata ."Aku yakin, jika Kiki memiliki masa depan yang cerah di desa ini. Kami harus mendukungnya sepenuhnya. Dia pantas mendapatkan semua bantuan yang kami bisa berikan."

Di rumah kepala desa, suasana ramah dan penuh tawa terasa saat Kiki memberikan pancake sebagai tanda terima kasih.

Bibi kepala desa bahkan bertanya bagaimana cara Kiki membuat pancake ini.

Kiki tidak lama di rumah kepala desa,dan dia pulang setelah nya untuk menunggu waktu pergi ke lapangan lagi.

Mana Kiki tahu, jika kisah pancake rasa daging nya membuat namanya kembali di sebut kan di desa sebelum gelap.

Terpopuler

Comments

Ririn Santi

Ririn Santi

pada dasarnya hatinya mmg baik jd akan menghasilkan kebaikan jg

2025-01-25

0

Krislin Meeilin

Krislin Meeilin

👍👍👍👍👍

2023-09-01

1

lihat semua
Episodes
1 1
2 2
3 2
4 4
5 5
6 6
7 7
8 8
9 9
10 10
11 11
12 12
13 13
14 14
15 15
16 16
17 17
18 18
19 19
20 20
21 21
22 22
23 23
24 24
25 25
26 26
27 27
28 28.
29 29
30 30
31 31
32 32
33 33
34 34
35 35
36 36
37 37
38 38
39 39
40 40
41 41
42 42
43 43
44 44
45 45
46 46
47 47
48 48
49 49
50 50
51 51
52 52
53 53
54 54
55 55
56 56
57 57
58 58
59 59
60 60
61 61
62 62
63 63
64 64
65 65
66 Draft
67 67
68 68
69 69
70 70
71 71
72 72
73 73
74 74
75 75
76 76
77 77
78 78
79 79
80 80
81 81
82 82
83 83
84 84
85 85
86 86
87 87
88 87
89 89
90 90
91 91
92 92
93 93
94 94
95 95
96 96
97 97
98 98
99 99
100 100
101 101
102 102
103 103
104 104
105 105
106 106
107 107
108 108
109 109
110 110
111 111
112 112
113 113
114 114
115 115
116 116
117 117
118 118
119 119
120 120
121 121
122 122
123 123
124 124
125 125
126 126
127 127
128 128
129 129
130 130
131 131
132 132
133 133
134 134
135 135
136 136
137 137
138 138
139 139
140 140
141 141
142 142
143 143
144 144
145 145
146 146
147 147
148 148
149 149
150 150
151 151
152 152
153 153
154 154
155 155
156 156
157 157
158 158
159 159
160 160
161 161
162 162
163 163
164 164
165 165
166 166
167 167
168 168
169 169
170 170
171 171
172 172
173 178
174 174
175 175
176 176
177 177
178 178
179 179
180 180
181 181
182 182
183 183
184 184
185 185
186 186
187 187
188 188
189 189
190 190
191 191
192 192
193 193
194 194
195 195
196 196
197 197
198 198
199 199
200 200
201 201
202 202
203 203
204 204
205 205
206 206
207 207
208 208
209 209
210 210
211 211
212 212
213 the last episode
Episodes

Updated 213 Episodes

1
1
2
2
3
2
4
4
5
5
6
6
7
7
8
8
9
9
10
10
11
11
12
12
13
13
14
14
15
15
16
16
17
17
18
18
19
19
20
20
21
21
22
22
23
23
24
24
25
25
26
26
27
27
28
28.
29
29
30
30
31
31
32
32
33
33
34
34
35
35
36
36
37
37
38
38
39
39
40
40
41
41
42
42
43
43
44
44
45
45
46
46
47
47
48
48
49
49
50
50
51
51
52
52
53
53
54
54
55
55
56
56
57
57
58
58
59
59
60
60
61
61
62
62
63
63
64
64
65
65
66
Draft
67
67
68
68
69
69
70
70
71
71
72
72
73
73
74
74
75
75
76
76
77
77
78
78
79
79
80
80
81
81
82
82
83
83
84
84
85
85
86
86
87
87
88
87
89
89
90
90
91
91
92
92
93
93
94
94
95
95
96
96
97
97
98
98
99
99
100
100
101
101
102
102
103
103
104
104
105
105
106
106
107
107
108
108
109
109
110
110
111
111
112
112
113
113
114
114
115
115
116
116
117
117
118
118
119
119
120
120
121
121
122
122
123
123
124
124
125
125
126
126
127
127
128
128
129
129
130
130
131
131
132
132
133
133
134
134
135
135
136
136
137
137
138
138
139
139
140
140
141
141
142
142
143
143
144
144
145
145
146
146
147
147
148
148
149
149
150
150
151
151
152
152
153
153
154
154
155
155
156
156
157
157
158
158
159
159
160
160
161
161
162
162
163
163
164
164
165
165
166
166
167
167
168
168
169
169
170
170
171
171
172
172
173
178
174
174
175
175
176
176
177
177
178
178
179
179
180
180
181
181
182
182
183
183
184
184
185
185
186
186
187
187
188
188
189
189
190
190
191
191
192
192
193
193
194
194
195
195
196
196
197
197
198
198
199
199
200
200
201
201
202
202
203
203
204
204
205
205
206
206
207
207
208
208
209
209
210
210
211
211
212
212
213
the last episode

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!