Kepala desa mengerutkan keningnya dan menyempitkan mata saat mendengar kata-kata Kiki. Wajahnya mencerminkan campuran kejutan dan ketertarikan yang tak terduga.
Kapten Produksi Desa juga menatap dengan ekspresi keheranan. Kapten mengikuti pandangan kepala desa, matanya menyempit ketika fokusnya beralih pada Kiki. Dia secara tidak sadar melambatkan langkah kakinya saat mencermati gadis yang baru saja mengungkapkan pemikirannya.
Sosok gadis yang memakai pakaian lusuh, tanpa tambalan dan menggenggam tas di tangannya. Namun, di antara semua itu, keberaniannya menyuarakan pertanyaan yang tak terduga memberinya aura keunikan yang menarik perhatian.
Sosoknya yang sederhana, tanpa pernak-pernik yang mencolok, menunjukkan bahwa keberaniannya bukanlah sesuatu yang diperankan, melainkan refleksi dari apa yang terdapat di dalam dirinya.
Bagi kepala desa dan kapten, yang terkesan dengan pernyataan tak terduga dari Kiki.
"Oh kamerad...
*Aku xi ximei, tapi panggil saja Kiki kepala desa"
"Oh Kiki,begini ya, pemerintah sudah mengalokasikan rp200 untuk pemukiman pemuda pendidikan. tapi kompensasi ini hanya berlaku untuk satu kali. tidak ada bantahan jika gigi ingin membangun rumah di pedesaan tapi alokasi dana tidak akan dikembalikan artinya kau harus menggunakan danamu sendiri untuk itu" katanya menjelaskan dan dia juga mengatakan sebab dan akibat ketika seorang pemuda pendidikan melakukan hal yang dikatakan oleh Kiki.
Ini artinya sebelah kakinya sudah tertanam di pedesaan dan akan sulit untuknya menjadi warga kota lagi.
"Hem aku.. aku tahu kepala desa.Tapi aku hanya ingin bertanya apakah itu bisa dilakukan dan berapa dana yang diperlukan untuk itu?"kata Kiki.
"Hei gadis, Kenapa kau membuang uang saja. lupakan saja rp200 itu ada hal yang besar, kan "kata seorang wanita separuh baya yang memiliki tubuh kurus namun giginya begitu.
Oh Astaga rupanya kebanyakan warga desa ini tidak pernah gosok gigi kali ya.
Ini menjijikkan.
Wanita tua ini adalah salah satu warga yang menjadi sukarelawan. Kau harus mengerti ,ketika seorang pemuda pendidikan ditempatkan di rumah warga ,bayarannya akan masuk ke dalam kantong sendiri.
Mengenai masalah makan di rumah juga tidak perlu dikhawatirkan karena pemuda pendidikan juga akan mendapatkan bantuan pertama selama 6 bulan kedepan.
Jika beruntung pemuda pendidikan yang menempati rumahmu memiliki koneksi ke perkotaan dan bukankah itu baik untuk keluarga desa.
Tapi wanita tua ini berpikiran aneh, dia memiliki banyak anak laki-laki di rumah dan Itulah kenapa dia bersikeras untuk mengambil pemuda pendidikan perempuan untuk dialokasikan di rumahnya. Siapa tahu dia bisa mendapatkan menantu perempuan dengan gratis.
Bukankah ini membunuh dua burung dengan satu batu.
Pandangan mata kapten yang menusuk membuat mulut nya terkunci lagi dan dia mundur kebelakang.
Kembali kepala desa mana tetap ke arah Kiki dan berkata.
"saat ini penjualan tanah tidak dibenarkan sama sekali tapi jika kau menjadi warga penduduk tetap di pedesaan kau memiliki hak untuk memiliki tanah sendiri.Tapi ini tidak gratis, ada rp200 untuk tanah dan dana ini akan dikembalikan ke kas desa dan akan dibagi-bagikan lagi di ujung tahun. Untuk membangun rumah warga desa bisa membantu tapi kau harus menyediakan makanan.Jadi ada begitu banyak dana yang harus dikeluarkan apa kau sanggup?"
Kiki berpikir sebentar saat ini dia memiliki 1.100 di tangannya dan juga begitu banyak bahan makanan. tapi tidak mungkin untuk dirinya mengeluarkannya tanpa alasan di depan penduduk desa.
Tapi...
" kepala desa tidak adakah rumah kosong yang sudah jadi?"katanya.
"Oh sebenarnya ada dua rumah yang kosong sini. Tapi itu sudah lama kosong dan kupikir tidak bagus untuk gadis sepertimu tinggal"Kata kepala desae lagi.
Ketika tanah sudah dibeli itu bukan artinya milik pribadi suatu hari Jika anda tidak memakainya lagi tanah masih akan dikembalikan ke desa.
Tapi jika kamu cukup pintar, alihkan namanya dan mengatakan itu pengalihan padahal itu juga sebuah penjualan secara diam-diam.
Sama seperti sekarang ada dua hunian yang tidak ditinggali lagi oleh pemilik lamanya. Mereka sudah mengembalikan rumah itu ke pihak desa dan bernegosiasi sedikit agar mendapatkan sejumlah bayaran ketika rumah itu dijual.
"Oh tidak apa-apa Kepala desa, Hem berapa harganya aku bisa membayarnya sekarang" kata Kiki lugas."Tapi jika uangku tidak cukup bisakah aku menggantinya dengan tiket?"
"Eh ini...dua rumah ini, satu harganya 700 dan yang lain adalah 600. mengenai tiket itu masih harus dibicarakan lagi.Tapi tiket apa yang kau punya sekarang?"
uang sangat menarik di era ini tapi tiket juga sama menariknya dengan uang. nama lu begitu kepala desa tidak yakin jika gadis di depan ini memiliki banyak tiket yang diinginkan oleh warga desa.
"Oh begini kepala desa ayah tidak memiliki banyak uang tapi dia memiliki simpanan tiket yang cukup. Aku tidak tahu harus membelanjakan ke mana tiket ini jika tidak punya uang.Jadi jika bisa aku ingin menukar tiket ini dengan rumah.Oh aku punya tiket sepeda, tiket kain ,sabun, garam Ohh, aku bahkan punya tiket jam kalau kepala desa mau sih"kata Kiki dengan suara merendahkan dan tapi juga tetap mengatakan jika ayahnya itu pelit.
dia secara lugas menyebutkan beberapa tiket yang menurutnya memang ada di laci sistem.
Begitu dia membuka mulut semua warga desa menajamkan telinga dan memerah dengan cepat.
"Oh apa kau punya tiga sepeda? tapi kenapa kau menjualnya alih-alih akan membeli sepeda di masa depan?"
"Oh ayahku mendapatnya secara acak dari teman-temannya sebelum aku pergi tapi sebenarnya dia sudah membelikan aku sepeda kok sepeda juga akan sampai dalam dua atau tiga hari lagi jadi tiket sepeda pasti akan sia-sia kan"kata kiki dengan mata yang polos.
"Eh sw..sepada? kau juga memiliki sepeda?"
"Hem apakah sepeda tidak boleh dipakai di desa ini?"Kata Kiki yang lagi-lagi mengedipkan matanya dengan polos.
"Ohh ti.. tidak..
"kamerad,aku akan membeli tiket sepedamu ya, mari hitung sebagai 300?"
"Ohh aku ingin tiket jam apakah bisa 50 saja?"
"Oh kain, aku butuh tiket kain, tapi aku tidak punya uang bisakah aku menggantinya dengan jagung manis?"
Tiba-tiba saja semua orang maju untuk mengatakan jika mereka menginginkan tingkat-tingkat tersebut.
Ketika seseorang akan menikah sepeda sangat diperlukan Begitu juga dengan jam tangan sebagai mahar .
yang bertanya tentang tiket sepeda dan tiket jam tentu adanya adalah sekretaris yang menginginkan itu sejak nama tapi orang harus antri ketika ingin mendapatkan tiket sepeda.
Sekarang sudah ada tiket yang sudah jadi di depannya Jadi kenapa dia harus menunda-nunda lagi.
Kiki yang awalnya malu-malu tiba-tiba berdiri dengan kokoh dan berubah menjadi sales tiket.
"Ohh baik, bibi yang manis aku akan memberimu kain Tapi tolong kirimkan aku jagung manis ya nanti, hehe.
"Hei kakak, siapapun ingin tiket Ayo maju tidak jika tidak ada uang tidak apa-apa, tapi jika ada uang kirimkan kepada kepala desa ya aku perlu untuk membeli rumah hahaha"
Dia melelangnya dan akhirnya mendapatkan lebih dari harga rumah yang dia pikirkan.
Kepala desa yang awalnya tidak optimis dengan pemuda pendidikan sekarang tidak bisa berkata dan bahkan terkesan menganga lebar.
Kiki mengaku sebagai gadis yang tidak disukai di rumah tapi alih-alih uang dia membawa begitu banyak tiket.
Tapi siapa yang peduli itu jika dia harus berebutan untuk mendapatkan tiket sepeda.
Seorang Kepala desa tapi tidak memiliki sepeda itu namanya bohong. Dia memiliki begitu banyak anak laki-laki di rumah dan masing-masing juga harus berganti-gantian untuk menaiki sepeda yang hanya satu di rumah.
Jadi apa salahnya berebutan tiket sepeda hari ini hahaha.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 213 Episodes
Comments
Ririn Santi
auto jd petugas lelang hahaha...
2025-01-25
0
Ida Dasiah
kiki buka toko tiket sepedah aja/Grin/
2024-10-08
0
Krislin Meeilin
woo ceritanya begus sekali👍👍👍👍
2023-09-01
3