15. Sementara

Diego mengangguk setuju, mau bagaimana pun ia juga perlu meminta izin pada kepala desa, apalagi Diego berniat tinggal di desa tersebut sedikit lebih lama.

"Baiklah, ayo kita menuju tempat kepala desa!" Ucap Diego segera menenteng pedang di punggungnya.

"Hm! Tapi lebih baik kau tinggalkan saja pedang mu, tenang saja desa sangatlah aman!"

Diego menurut ia segera menaruh pedangnya, lagipula ia percaya dengan yang Ellen katakan. Meski rasanya sedikit aneh saat berpisah dengan pedangnya, mengingat kehidupan Diego yang sebelumnya penuh bahaya.

Sembari berjalan menuju tempat kepala desa, Ellen tidak lupa berhenti sejenak di sebuah toko roti kecil. Ia membeli dua untuknya dan Diego.

"Makanlah, sepulang nanti aku akan masakan yang lebih enak!" Ucap Ellen

"Terimakasih, maaf jika terlalu merepotkan mu..."

"Tenang saja, lagipula kau orang baru, dan aku tau gimana keadaan mu selama di luar." Ucapnya menatap wajah Diego

Namun sebelum kembali melanjutkan perjalanan, Ellen mengajak Diego di sebuah toko untuk merapikan penampilan Diego yang terlihat begitu tidak terurus.

"Apa yang akan kita lakukan?" Tanya Diego

"Merapikan penampilan mu agar lebih baik, nanti kau bisa di anggap penjahat dengan penampilan seperti ini." Ucap Ellen menatap wajah Diego yang gondrong dan penuh janggut

"Ah, baiklah kalau begitu"

Diego pun pasrah dan segera masuk, di dalam terdapat seorang wanita yang akan mulai merapikan penampilan Diego, ia tersenyum ramah menyambut pria di hadapannya.

"Apa kau telah membawa seorang suami?" Goda Wanita itu pada Ellen

"Jangan terlalu jauh pemikiran mu, aku hanya membantunya!" Balas Ellen memalingkan wajahnya

Wanita tersebut hanya tersenyum, ia segera memulai pekerjaannya, dimulai dari menggunting rambut Diego yang sudah sangat panjang, lalu disusul dengan menghilangkan janggut dan kumis Diego.

Hampir dua puluh menit lamanya, sementara itu Ellen hanya duduk di sebuah kursi yang disediakan sembari menunggu Diego selesai.

Wanita tersebut keluar dari sebuah ruangan, sembari mengusap keringat di wajahnya dengan senyuman manisnya

"Apa sudah selesai?" Tanya Ellen

"Ya, dan dia sangat tampan!" Ucap wanita tersebut sembari meminum sebuah air di gelas

Diego pun keluar dari balik tirai yang hal itu membuat Ellen terdiam sejenak, apa yang Ellen lihat kali ini begitu berbeda dengan yang ia lihat sebelumnya.

Bahkan setelah Diego membersihkan semua bulu di wajahnya, ia jauh terlihat lebih muda dan lebih baik dari sebelumnya. Yang bahkan penampilannya sebelumnya terlihat seperti seorang penjahat.

"Apa ada yang aneh?" Tanya Diego melihat Ellen diam

"Eh! Tidak, baiklah sebaiknya kita segera pergi!" Ucap Ellen gelagapan

Ellen segera berjalan keluar terlebih dahulu, setelah ia selesai dengan membayar dan di susul dengan Diego yang segera keluar

***

Di halaman rumah yang terlihat indah, Diego begitu kagum dengan arsitektur bangunan serta halaman yang terlihat begitu indah di matanya.

"Mari, kita harus menemui kepala desa." Ajak Ellen

Keduanya segera berjalan, namun berhenti sejenak di hadapan dua penjaga. Ellen memberitahu penjaga tentang Diego yang ingin tinggal di desa sementara waktu

"Baiklah, kepala desa ada di dalam," ucap penjaga mempersilahkan

Keduanya segera masuk menuju ruang tengah, yang dimana keduanya harus menunggu lagi saat seorang asisten berjalan pergi untuk meminta izin.

"Kepala desa ada di ruangannya, kalian boleh masuk" ucap asisten itu dengan sopan dan ramah

Diego dan Ellen segera masuk, dimana saat itu terlihat seorang wanita tua tengah duduk di meja kerjanya. Tangannya sembari memegang sebuah pena, dan matanya terlihat ramah menyambut kedatangan keduanya.

"Selamat siang, Nyonya Bell" Ellen memberikan salam

Wanita tersebut tersenyum ramah sekaligus mempersilahkan keduanya untuk duduk, ditambah pandangannya sedikit terkejut saat melihat pria tinggi besar di samping Ellen.

"Apa kau datang kemari, untuk membicarakan pernikahan mu, Ellen?" Tanya Bell tersenyum

"Tidak! Bukan itu, alasan Saya kemari untuk meminta izin, yaitu pria di samping saya." Ucap Ellen sembari menatap Diego

"Nama Saya Diego Costa, Nyonya." Ucap Diego

"Hm! Jadi kau ingin tinggal di desa sementara? Dari mana asal mu?" Tanya Bell lagi

"Dia kehilangan rumahnya saat perang, nyonya Bell." Jelas Ellen sebelum Diego

"Ah ... Sungguh pria yang malang, aku mengerti. Kalau begitu kau boleh tinggal sementara waktu."

"Terimakasih Nyonya!" Senang Diego tersenyum

"Ngomong-ngomong, apa kau seorang kesatria?" Tanya Bell yang melihat postur kekar Diego

"Tidak, ada apa memangnya Nyonya?"

"Kukira kau seorang kesatria, dikarenakan beberapa hari terakhir desa sedang tidak aman." Jelas Bell

"Tidak aman? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Bell

"Ya begitulah, beberapa hari terakhir di perbatasan desa selalu terjadi penyerangan, ditambah hal itu dilakukan oleh beberapa kelompok utusan"

"Hmm ... Kalau begitu, aku bisa mengurusnya untuk mu" ucap Diego yang membuat Ellen dan Bell terkejut

"Diego! Itu berbahaya, apalagi para utusan merupakan orang-orang yang telah mendapatkan berkat dari dewa kegelapan!" Jelas Ellen

"Berkat? Bukankah yang mendapatkan berkat hanya para pahlawan?" Tanya Diego kembali

"Tidak hanya pahlawan, selain pahlawan pun juga bisa mendapatkan berkat"

Diego diam sejenak mencerna maksud Bell dan Ellen, padahal yang Diego kira hanya para pahlawan saja yang mendapatkan berkat, rupanya selain pahlawan juga bisa.

"Seperti yang kau tau, dewa kegelapan dan dewa cahaya dari dulu selalu bertarung. Keduanya bertarung untuk merebut dan menguasai dunia di bawah kekuasaan mereka. Dewa cahaya akan menguasai dunia dengan kebajikan dan kebahagiaan, namun Dewa kegelapan adalah sebaliknya" ucap Bell dengan raut serius

"Namum hal itu tidaklah segampang kedengarannya, karena Para Dewa kegelapan menggunakan orang-orang sebagai pion, bahkan para monster sendiri kebanyakan berasal dari Dewa kegelapan. Dan untuk mencegah hal itu para Dewa cahaya berusaha melawan, namun karena kalah jumlah hal itu membuat Dewa cahaya kesusahan"

Bell segera berdiri ia berjalan menuju rak buku di belakangnya, ia mengambil dan memilihnya lalu segera duduk kembali memperlihatkan sesuatu pada Diego.

"Karena kalah jumlah akhirnya Dewa cahaya memutuskan untuk menggunakan manusia, hal itu tentunya untuk menambah kekuatan mereka. Dan tentunya para manusia bersedia untuk bertarung di sisi Dewa cahaya, namun..."

Ellen dan Bell nampak sayu, seakan cerita itu adalah hal yang paling tidak ingin mereka dengar

"Ada apa?" Tanya Diego

"Mahluk dari dunia lain!"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!