4. Tanpa Malam

"Ada Goa!" Teriak pria di samping Diego

Diego ikut menoleh, keduanya segera berlari menuju arah Goa itu, berharap tempat itu bisa dijadikan perlindungan dari para monster yang bisa saja menyerang mereka.

Tap tap tap

Keduanya segera berlari masuk menuju dalam Goa, yang di dalamnya terlihat terang oleh aliran air panas yang berwarna kuning terang itu.

Sambil berjalan hati-hati keduanya masuk, sembari melihat sekeliling dengan penuh waspada. Takut jika di dalam goa tersebut terdapat mahluk lain juga.

"Syukurlah kita selamat," ucapnya sembari mengusap dadanya lega

Diego mengangguk sembari menatap sekelilingnya penuh dengan rasa penasarannya. Terlebih dengan air berwarna kuning yang mengeluarkan sinar terang.

"Ngomong-ngomong, siapa nama mu?" Tanya pria itu pada Diego

"Diego," jawabnya singkat

"Nama ku, Chen! Kuharap kita bisa akrab setelah ini." Sembari menjulurkan tangannya

Diego membalas jabatan tersebut, ia mengangguk tersenyum tipis. Mau bagaimana pun ini lebih baik dari pada tidak ada orang sama sekali.

"Hei bukankah kau terlalu kurus?" tanya Chen sembari berjalan masuk lebih dalam

"Hm, tentu saja karena aku orang miskin" jawab Diego tanpa merasa tersinggung

"Hehe, maaf tentang itu. Kurasa kau tidak sendiri, aku juga sama. Aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan bekerja sebagai penulis, namun sayang hasilnya sangat buruk." Curhatnya

"Kurasa kita yang mendapatkan cahaya hitam, adalah orang-orang yang buruk." Jelas Diego

"Kau benar, aku yakin mereka yang lain juga nasibnya tidak beda jauh dengan kita."

Keduanya berhenti di sebuah ruangan yang terlihat cukup luas. Apalagi dengan area yang cukup terang, namun demikian nampak jelas keduanya saat ini tengah kelaparan.

"Hai tidak kah kau merasa lapar? Tanya Chen

"Sedikit, lagi pula aku sudah terbiasa tidak makan." Balas Diego

"Hah ... Meski kita selamat dari monster diluar, nampaknya kita akan tetap mati karena kelaparan," ucap Chen dengan raut pasrah

Diego hanya diam tak menjawab, ia merasa ada benarnya juga. Untuk apa ia lari dari monster jika ujung-ujungnya akan tetap mati karena kelaparan yang melanda.

"Apa sebaiknya kita berburu?" Tawar Diego

Chen yang mendengarnya seketika menatap Diego tak percaya, ia tertawa terbahak-bahak mendengarnya.

"Kau bercanda? Yang ada kita malah di buru!" Jelas Chen

"Tapi setidaknya kita sudah berusaha, dari pada kita harus mati karena kelaparan. Bukankah lebih baik mati karena perlawanan?" Jelas Diego serius

"Nanti kita pikirkan, lebih baik saat ini kita istirahat terlebih dahulu." Sambung Chen yang di susul anggukan kepala Diego

***

Ditengah istirahat Diego terbangun saat mendengar sesuatu yang berisik, dan saat dilihat ternyata Chen yang nampak sedang membuat sesuatu.

"Kau bangun, lihat aku membuat sesuatu!" Ucap Chen

Ia memperlihatkan sebuah tombak yang ia buat dari ranting dan batu, yang mana batu tersebut cukup tajam yang di ikat menggunakan akar dari goa.

"Apakah ini mampu membunuh monster?" Tanya Diego ragu

"Ini lebih baik, dari pada kita mati tanpa bisa melawan" jelas Chen

Chen memberikan satu tombak untuk Diego, dan satu lagi untuknya. Chen juga menjelaskan jika air di hadapan mereka merupakan air yang sangat panas.

Bahkan batu pun dapat dibuat hancur olehnya, dan itulah yang di gunakan oleh Chen untuk menajamkan batu yang digunakan untuk membuat tombak.

"Hm, apa kita bisa memancing monster itu agar terjatuh kedalam air panas ini?" Pikir Diego

"Bisa, hanya saja itu terlalu sulit untuk kita lakukan. Aku ragu kita masih selamat sebelum bisa membuatnya mati." Jelas Chen yang nampak ragu

Sementara itu keduanya berjalan keluar goa, dan diam sejenak di mulut goa menatap langit, Chen nampak merasa aneh sedari tadi.

"Ada apa?" Tanya Diego bingung

"Sepertinya disini tidak ada yang namanya malam!" Ucap Chen sembari melihat sekelilingnya

"Hm? Dari mana kau tau?"

"Lihat jam tangan ku! Angka sudah menunjukan pukul sembilan malam, yang harusnya hari sudah gelap."

Diego nampak setuju dengan pendapat Chen, ada benarnya rasanya. Mengingat keduanya sudah beristirahat selama berjam-jam, namun hari masih tetap sama seperti sebelumnya.

"Malam hari hanyalah mimpi di sini," jelas Chen

Sementara itu dari kejauhan suara raungan terdengar, bahkan sampai suara dentuman juga ikut terdengar. Yang mana suara tersebut seperti suara pertarungan.

"Ayo kita lihat!"

Diego mengangguk dan segera berlari mengikuti arah suara itu.

***

- Arena Latihan

KRANG! KRANG! KRANG!

Jack melesat beberapa kali, ia melayangkan serangan kuat kearah pria di hadapannya yang merupakan seorang pelatih.

"Sesuai yang di harapkan, kemampuan beradaptasi pahlawan tak bisa diremehkan!" Puji Lean

"Yah, apa yang kami dapat tak lebih dari berkah Dewi, haha!" Balas Jack sambil mengayunkan kapak di tangannya

"Memang benar, terlebih teman pirang mu itu..."

Lean terdiam sejenak melihat Willy yang tengah berlatih seorang diri. Di hadapannya terdapat lubang besar akibat serangan dahsyat yang ia berikan.

"Aku tak mengerti bagaimana bisa dia sekuat itu? Padahal kita datang secara bersamaan?" Tanya Jack ikut menatap

"Kurasa bukan sekedar kekuatan. Dari awal saat melihat Tuan Willy, aku bisa tau jika ia merupakan orang pintar. Sedari awal saja dia sudah bisa mengeluarkan kekuatanya?"

Flashback On

"Hm jadi begitu, intinya para pahlawan bisa mengeluarkan kekuatan sihir bukan?" Tanya Willy setelah mendengar penjelasan Lean

"Ya, dan bukan hanya pahlawan. Para kesatria juga bisa, mereka adalah orang-orang yang memiliki status di bawah Pahlawan."

'Mereka?'

"Hooh, bukankah itu keren! Seperti dalam video game saja!" Senang Jack nampak bersemangat

Willy terdiam sejenak, matanya menatap intens pada telapak tangannya saat ini sembari memikirkan sesuatu.

"Ngomong-ngomong, bagaimana caranya menggunakan kekuatan?" Tanya Willy penasaran

"Soal itu, cukup mudah untuk sekelas pahlawan. Cukup bayangkan saja, apa yang menjadi kekuatan dominan mu? Ya, meski hal tersebut juga tak bisa dibilang mudah karena perlu-"

*Trashh!

Cahaya terang keluar sekejap, dan tepat di tangan Willy sebuah tombak muncul. Membuat Lean yang melihatnya cukup terkejut akan hal itu.

"A-apa!? Bagaimana bisa kau mengeluarkan kekuatan mu semudah itu?"

"Cukup di bayangkan?" Willy memiringkan kepalanya

"Aku tau tadi mengatakan itu. Namun, tetap saja untuk pahlawan baru Sepertinya akan sedikit sulit?" Jelas Lean membuat alis Willy terangkat

"Wow!! Bagaimana tadi!" Jack juga ikut melakukan hal yang sama

Namun berbeda dengan Willy, hal serupa tidak terjadi selain suasana hening antara ketiganya.

"Eh? Kenapa tidak muncul?"

"Ya ... Terkadang untuk seseorang seperti mu butuh sebuah pemicu. Mungkin kau adalah pahlawan tipe senjata?"

Flashback Off

"Yah itu terlalu seru. Mengeluarkan senjata tanpa perlu membawanya?" Ucap Jack menghela! Nafas

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!