3. Neraka

Suara geraman terdengar jelas nampak tengah mengintai, beberapa nampak waspada dengan suara tersebut. Dan para wanita nampak saling berdekatan satu sama lain.

Di tengah perjalanan tiba-tiba mereka terhenti, saat tiba-tiba sebuah slime kecil muncul. Beberapa nampak takut, dan seorang pria nampak tertawa kecil melihatnya.

"Monster!" Teriak seorang wanita

"Haha! Hanya sebuah slime! Kalian, tenanglah ini hanya slime. Aku pernah memainkan sebuah game, dan dalam setiap game yang ku mainkan, slime adalah mahluk paling lemah!" Ucapnya dengan tenang

Slime tersebut hanya diam menatap, ia tak bergerak selain diam dan terus menatap. Merasa lawan yang mudah pria tadi segera mengambil sebuah ranting yang kuat untuk digunakan sebagai senjata.

"Aku akan membunuhnya! Dengan begitu aku akan menjadi lebih kuat!" Ucapnya dengan bangga berdiri paling depan.

"Hiya!" Teriaknya mengangkat ranting itu sembari mendekat untuk memukul

Plak!

Ranting yang di pukul mendadak lengket di tubuh slime itu, pria tadi nampak kesusahan menariknya. Dan dengan cepat slime tersebut mencair dan menempel di tangan pria tadi.

"Sial menjijikan!" Pekiknya sembari berusaha melepaskan slime itu

Namun tiba-tiba teriakan mulai terdengar begitu keras, beberapa yang melihatnya nampak jijik dan ketakutan setengah mati.

Dimana tangan pria tadi nampak meleleh dan terus dimakan, berkali-kali ia memukul slime itu namun tak kunjung lepas. Bahkan sampai ia mengamuk dengan mengigit nya.

Namun sia-sia, yang ada mulutnya malah ikut meleleh dikarenakan slime yang menempel di wajahnya. Dengan ketakutan ia berlari kearah kerumunan meminta tolong.

"Tol...Loong.." ucapnya sembari memegang kaki seorang wanita

Dengan cepat slime itu membelah tubuh dan menempel di tubuh kedua wanita yang tengah berpelukan karena takut.

"Agh!" Teriak kedua wanita itu yang merasa kesakitan dengan tubuhnya.

Diego yang melihat itu seketika langsung berlari cepat, ia tak ingin ikut terbawa dengan mereka di sana. Dua pria dan dua wanita juga ikut berlari.

Diego berlari kearah barat bersama seorang pria, sementara itu seorang pria berlari kearah timur dengan dua orang wanita bersamanya.

"Kita akan mati!" Teriak seorang wanita yang kelelahan setelah berlari.

"Aku tidak ingin mati! Tidak aku tidak ingin mati!!" Teriak seorang pria yang merasa ketakutan sembari menarik rambutnya.

"Hei tenang lah," seorang wanita menghampiri

Namun dengan cepat pria itu mendorongnya, dan duduk di atas perut wanita tersebut. Dengan kewarasan yang hampir hilang, ia berusaha melecehkan wanita di hadapannya.

"Aku tidak masalah mati! Asal aku merasakan nikmat ini terlebih dahulu!"

"Tidak! Pergi jangan!" Teriaknya

Namun pria tersebut tak perduli dan terus merobek pakaian wanita di hadapannya, tanpa perduli dengan norma kemanusiaan di tengah ambang kematian seperti ini.

Buk!

Pria tersebut terbaring di atas tubuh wanita yang berusaha ia lecehkan, dengan kepala yang mengeluarkan cairan merah membuat hal itu tumpah di wajah wanita yang hendak di lecehkanya.

"Aghh!" Teriaknya sembari segera bangkit.

Sementara itu seorang wanita lagi nampak ketakutan setelah ia membunuh seseorang, yang mana tatapannya begitu ketakutan.

"Haha ... Aku membunuh seseorang..." Lirihnya tertawa sembari menangis.

"Tenanglah! Kau melakukannya karena pria tersebut jahat!" Ucap seorang wanita tadi menenangkan

Namun ditengah kondisi itu suara langkah mendekat, keduanya menatap kearah belakang yang memperlihatkan mahluk berkaki empat, dengan tubuh yang besar.

"Ap-"

WOSHH!

Dua kepala wanita melambung tinggi dan saling memandang satu sama lain, hingga akhirnya dua kepala itu terjatuh, dan menjadi santapan mahluk itu.

***

- Kerajaan Loni

Setelah pemanggilan para pahlawan, kerajaan nampak meriah oleh sebuah pesta besar yang dilakukan kerajaan saat itu.

Semuanya bersorak gembira menyambut dua pahlawan mereka. Pahlawan wanita yang mahir menggunakan pedang karena sebuah anugerah dan bakat.

"Selamat malam, Nona Rose, Gina." Seorang pria dengan setelan rapi mendekat

"Selamat malam juga, Tuan Akeni."

Keduanya memberikan salam juga, salam kepada pria yang telah melatihnya beberapa hari terakhir.

"Sesuai yang dikatakan, seorang pahlawan memang memiliki bakatnya sendiri. Hanya dalam beberapa hari saja kemampuan berpedang kalian bisa sehebat ini!" Puji Akeni

"Anda terlalu berlebihan, Tuan Akeni. Semuanya berkat pelatihan anda?" Jawab Rose

"Benar sekali, sejujurnya saat kami tiba juga belum mengerti apa-apa." Sambung Gina tersenyum

"Hahaha! Pahlawan tetaplah Pahlawan. Dan tetap saja kalian berbeda dengan orang lain, apalagi dengan kemampuan kalian yang belajar cepat menjadikan nilai plus tentunya bukan?" Akeni terkekeh

Gina dan Rose hanya tersenyum. Apa yang dikatakan Akeni memang benar. Karena sejatinya seseorang perlu waktu lama untuk memahami teknik bertarung, apalagi teknik pedang.

Namun di hadapan kedua wanita ini, hal itu bukanlah masalah besar. Karena hanya dalam waktu beberapa hari keduanya sudah sangat mahir dalam menggunakan seni beladiri berpedang.

"Ah ya, kudengar kalian juga akan ikut dalam misi penyerbuan bukan?" Tanya Akeni

Rose mengangguk dan berkata, "tentu, kamu juga perlu pengalaman nyata untuk menjadi lebih kuat lagi!"

"Ya itu bagus, pengalaman adalah guru yang terbaik. Dan kurasa tak akan ada masalah. Karena kalian pahlawan pastinya memiliki berkah perlindungan Dewi!" Jelas Akeni

"Meski kami adalah Pahlawan, tetap saja pengalaman sangat di butuhkan. Terlebih kami juga perlu beradaptasi lagi dengan semuanya." Sambung Gina

Di tengah pembicaraan tersebut, tiba-tiba semua pandangan teralihkan. Seorang wanita cantik tengah berdiri di podium, ia adalah Silvia ratu Kerajaan Loni.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!