14. Desa Ama

Hampir setengah jam keduanya berjalan, melewati hutan yang lebat dan begitu rindang. Selama perjalanan Diego nampak tersenyum lebar sembari melihat sekelilingnya.

Melihat Diego yang tersenyum seketika membuat Ellen penasaran, apalagi Diego terlihat seperti orang yang sudah lama tidak keluar rumah.

"Ngomong-ngomong, Diego. Dari mana tempat asal mu?" Tanya Ellen memiringkan kepalanya

"Tempat? Hmm, aku sudah tidak memilikinya." Jawab Diego

Ellen mengangguk paham mendengarnya, ia pikir Diego adalah seorang korban perang, dimana akibat perang tempat tinggalnya hancur dan tak layak tinggal.

"Jadi bagaimana sekarang? Apa kau punya tujuan?" Tanya Ellen

"Tujuan? Oh! Tujuan ku membunuh De-" Diego seketika menghentikan ucapannya, ia tak ingin melanjutkan itu mengingat orang-orang begitu mengagungkan para dewa dan dewi.

"Membunuh siapa?" Tanya Ellen penasaran

"Eh ... Itu membunuh para iblis!" Seru Diego semangat

Ellen terkekeh mendengarnya, ia merasa apa yang Diego ucapkan itu lucu. Soalnya manusia biasa yang tak mendapatkan berkat akan kesulitan membunuh iblis.

"Ada apa?" Tanya Diego

"Begini, aku tau kau begitu semangat. Namun membunuh iblis, itu terlalu berlebihan dan untuk melakukannya kau perlu mendapatkan berkat para dewa dewi!" Jelas Ellen

"Berkat? Untuk apa hal itu?"

"Tentu saja untuk melawan para monster dan iblis, namun jangan khawatir, meski dirimu tidak menerima berkat, kau akan bisa membunuh monster jika terus berlatih!" Ucapnya memberikan semangat

"Haha! Jadi begitu, baiklah terimakasih aku akan berjuang!" Jawab Diego

Setelah beberapa saat perjalanan, tidak jauh di hadapan mereka terdapat sebuah desa yang terlihat begitu indah dengan bentangan rumput luas.

Diego berdecak kagum melihatnya, matanya membulat bahagia setelah sekian lama akhirnya ia menemukan kehidupan manusia, tidak seperti sebelumnya yang hanya ada monster dan mahluk aneh.

"Ini!" Ucap Ellen sembari memberikan koin gambar tengkorak milik Diego

"Ah! Aku hampir lupa dengan benda ini!" Pekik Diego terkejut

"Syukurlah aku mengambilnya tadi," Ellen segera mengikat koin itu di ganggang pedang milik Diego

"Hm?" Bingung Diego

"Agar tidak hilang lagi." Jawab Ellen

Diego hanya tersenyum mendengarnya, keduanya segera berjalan menuju desa tempat Ellen tinggal. Desa Akan tempat yang indah dan bersih.

Dua orang penjaga langsung menyambut kepulangan Elle, mereka menyapa sambil tidak luput memandang Diego.

"Selamat datang kembali Ellen! Lalu siapa pria di samping mu?" Tanya penjaga

"Namanya Diego, dia korban perang. Sementara itu tempat tinggalnya sudah tidak ada lagi!" Jelas Ellen dengan raut sedih

'Apa! Korban perang?' kejut Diego dalam benaknya

"Sungguh malang sekali, kalau begitu masuk lah. Dan jangan lupa untuk menemui kepala desa terlebih dahulu." Usul penjaga yang di jawab anggukan kepala oleh Ellen

Diego segera berjalan mengikuti langkah Ellen, beberapa sorot mata nampak memandang kearah Diego.

Bagaimana tidak dengan jubah kekecilan, hal itu sudah pasti akan menjadi pusat perhatian orang-orang, ditambah beberapa orang nampak tertawa kecil melihatnya.

Perjalanan keduanya pun segera terhenti, saat keduanya tiba di sebuah rumah yang tak lain adalah tempat tinggal Ellen.

**TOKO JAHIT**

Diego berjalan masuk mengikuti langkah Ellen, sementara itu Ellen segera menaruh beberapa barang bawaannya di belakang.

"Tunggu, aku akan menjahitkan baju untuk mu." Ucap Ellen berjalan menuju mesin jahitnya

"Maaf merepotkan..."ucap Diego sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Ellen hanya tersenyum menjawabnya, ia segera melakukan pekerjaannya agar segera bisa mengantarkan Diego ketempat kepala desa, tentunya untuk memberitahu tentang Diego yang akan tinggal sementara

***

"Bagaimana?" Tanya Ellen memandang postur tubuh Diego

"Sangat cocok!"

Diego berulang kali menatap dirinya pada sebuah cermin, pakaian yang cocok sepertinya baginya. Baju lengan panjang hitam, dan celana panjang abu-abu

Meski baju yang Diego gunakan agak ngepres hingga membuat lekukan ototnya terlihat, namun hal itu bukan masalah. Apalagi kain baju tersebut begitu elastis dan tidak menghalangi gerakan Diego.

"Lalu ini, aku membuat sabuk agar kau bisa menentang pedang mu di punggung."

Diego tersenyum dan tidak lupa berterima kasih, mengingat sebelumnya ia hanya menggunakan akar untuk menenteng pedang di punggungnya.

"Terimakasih Ellen, suatu saat aku akan membalasnya!" Ucap Diego

"Baiklah, lebih baik kita segera menuju tempat kepala desa. Ingat, kau perlu meminta izin terlebih dahulu!" Ajak Ellen

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!